
Selama dua minggu Widya dan Satria tinggal dirumah Anggi, membuat hubungan mereka kian dekat.
Widya melihat Satria sedang dalam mood yang baik lalu mendekati suaminya yang kini sedang duduk di taman belakang rumah Anggi
"Mas, aku mau nanya sesuatu yang sifatnya pribadi, aku harap mas bisa jujur sama aku"
"Mau nanya apa sayang? kayanya serius banget? sini duduk di pangkuan mas" Ucap Satria menarik Widya duduk di pangkuannya.
Satria mengelus perut Widya yang semakin membesar, sudah hampir delapan bulan usia kehamilan Widya, dan sebentar lagi Widya akan melahirkan
"Mas, bagaimana perasaan mas sama Anggi? jawab jujur"
Satria menatap manik mata hitam Widya, terkejut dengan pertanyaan istrinya, ia tak menyangka Widya akan mengutarakan isi hatinya, menanyakan perasaan dirinya dengan Anggi.
satria bingung dengan apa yang akan di jawabnya, pasalnya, ia juga tidak mengetahui dengan pasti bagaiman perasaannya kini dengan Anggi, terlebih saat melihat Anggi terluka.
Perasaan dulu saat belum mengetahui kondisi Anggi, Satria yakin bahwa ia sudab tidak mencintai Anggi lagi, namun ketika ia melihat dengan mata kepala sendiri betapa menderitanya Anggi, Satria timbul rasa ingin melindungi Anggi dan merasa sedih dan marah melihat Anggi yang terluka.
Satria masih bingung apa yang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
apakah ini hanya sekedar rasa prihatinnya? Atau masih ada rasa di sudut hatinya yang berusaha ia kubur.
Satria berusaha bersikap tenang di hadapan Widya, ia tak mau Widya salah paham dan sakit hati mengetahui suaminya sendiri ragu dengan perasaannya
"Sayang, untuk apa kamu menanyakan pertanyaan konyol ini?
Aku suamimu. Aku hanya mencintainkamu seorang, ada pun perasaan mas sama Anggi hanya rasa simpatik aja, gak lebih"
"mas berkata jujur?
"Sejak kapan mas bisa bohong sama istri mas yang paling cantik ini" ucap Satria menyubit hidung bangir Widya
Sepanjang pernikahan mereka, Satria memang tidak pernah berbohong walau sekalipun.
Selalu berusaha membahagiakan dirinya dan tidak pernah mengeluh
"Sekarang kamu puas dengan jawaban mas?"
Widya menganggung malu
__ADS_1
"Sudah mau jadi ibu masih saja pencemburu" ledek Satria
"Maaaasss, aku boleh minta satu hal gak? "
"Minta lah, selama mas bisa, mas akan lakukan apapun yang istriku minta"
"Mas kasian dengan Anggi kan, ingin melindungi Anggi, nikahi dia mas, aku rela" ucap Widya membuang mukanya, agar Satria tidak melihat Air matanya yang jatuh
"Sudah berapa kali aku bilanh, buang semua pikiran mu itu. Aku hanya akanenikahi kamu satu selamanya" ucap Satria menggemertakan giginya karena kesal dan kecewa Widya berfikiran seperti itu
"Jika kami sayang kami, maka kamu akan melindungi kami. lagi pula aku hanya meminjamkan kamu sementara waktu hinhha suami Anggi tidak mengganggu Anggi.
Aku percaya kamu juga tidak akan jatuh hati pada Anggi berdasarkan penuturanmu" ucap Widya berjalan meninggalkan Satria yang terpaku menahan perasaannya campur aduk, ada rasa kecewa karena Widya sudah menginjak-injak harga dirinya dan ada rasa takut ia tak bisa memgendalikan perasaannya jika terus berada dekat dengan Anggi.
"Ah Widya, wanita seperti apa kamu sebenarnya? mengapa senjak masuk dalam hidupmu aku seperti manusia bodoh" ucap Satria mengacak-acak rambutnya
Keesokan harinya
Satria sedang merapihkan pakaiannya kedalam koper, hari ini ia dan Widya memutuskan pulang kerumah karena Anggi sudah sembuh walau belum seratus persen.
__ADS_1
Tiba-tiba Satria mendengar suara keributan di luar kamarnya, suara Prapti dan Widya yang berteriak-teriak marah.
Satria bergegas keluar kamar, ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya, Widya