
Tia lalu berlari mendekati Satria yang hendak membuka pintu mobilnya
ia sungguh merasa kasian dengan Satria, pria sempurna yang dikhianati oleh sahabat nya itu
" Satriaaa....
Setiap kejadian ada sebab, setiap perbuatan ada ganjaran yang harus di bayar.
Sabar dan berserah diri. Allah punya rencana di balik itu semua" ucap Tia menepuk punggung Satria
Walau Satria tak mengerti maksud ucapan Tia, namun satu hal yang ia pahami bahwa ia harus berbaik sangka dengan sang pencipta walau apapun yang terjadi.
"Thanks ya Tia, loe emang sahabat yang baik"
"Aku gak cukup di katakan baik, maafin ya, aku harap kamu gak menyalahkan aku"
"Gak Tia, apa yang di lakukan Widya gak ada sangkut pautnya sama loe, gue pamit dulu mau kerumah Evi"
"Sat, ...."
"Ya??? "
"Hati-hati di jalan" ucap Tia mengalihkan pembicaraan, ia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu yang bisa Satria cari sendiri kebenarannya, namun ia terlalu takut mengatakannya
"Pasti" ucap Satria meninggalkan rumah Tia
Tia masih berdiri mematung menatap kepergian suami sahabatnya itu, ia tak tahu apakah dengan menyembunyikan fakta bahwa Widya meninggalkan Satria untuk hidup bersama Bobby adalah keputusan yang benar, atau justru keputusannya salah.
Lamunan Tia buyar kala pinggangnya di peluk mesra dari belakang oleh suaminya, Aris
"Sayang kamu mengagetkanku saja"
"Kamu pasti merasa bersalah sama Satria? "
"Iya, aku merasa sangat bersalah pada pria itu, aku tak memiliki keberanian untuk berterus terang.
Widya sungguh keterlaluan sekali membuat pria yang baik hati itu menderita, bukan sekalian dia bunuh diri saja, biar tidak menyusahkan"
"Psttt sayang jangan berkata seperti itu, tidak baik. Bagaimana pun Widya adalah sahabatmu"
"Tapi mas, kelakuan dia membuatku sangat muak, dan aku sudah melupakan persahabatan kami sejak aku tahu ia hamil anak Bobby"
"Sebagai sahabat kamu sudah beruang kali menasehati, namun akhirnya ia malah masih saja memilih jalan yang salah, sekarang semua adalah tanggung jawab dia untuk menebusnya.
Biarkan Widya menjauh dari pria itu, menurut mas lebih baik sakit hati sekarang namun seiring waktu akan sembuh, jika Widya masih bersama dengan dia maka akan banyak kesalahan-kesalahan lainnya yang akan Widya lakukan, termasuk berbohong tentang ayah biologis anaknnya"
"Apa yang kamu katakan ada benarnya mas"
"Tentu sayang, kita doa kan saja Satria kuat dan tabah menjalani semua dan Widya bertaubat dari semua dosa nya"
__ADS_1
"Amiiinnnn" ucap Tiaa meng- amini ucapan suaminya
"Sekarang ayo masuk, sudah mau hujan, angin kencang, nanti kamu masuk angin" ucap Aris menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam rumah
Sementara itu di kediaman Anggi
Seorang laki-laki bertubuh kekar masuk kedalam ruang kerja di mana Anggi sedang duduk dan menunggu nya
"Sore Anggi"
"Sore Brams, silahkan duduk"
Brams lalu duduk di depan Anggi menunggu wanita ini menyampaikan maksud memanggilnya datang tiba-tiba
Brams adalah orang kepercayaan Anggi, Ia juga sahabat Anggi.
Brams bertugas mencari informasi penting berkaitan dengan perusahaan atau seseorang.
Ia menghandle beberapa anak cabang perusahaan, selain itu ia juga yabg mengatur keselamatan Anggi saat berada di luar rumah, Brams akan menempatan beberapa orang kepercayaan nya untuk menjaga Anggi
Kejadian tempo hari yang membuat Anggi cidera parah karena perbuatan mantan suaminya, karena posisi Brams sedang berada di luar negeri mengurus kantor cabang yang bermasalah di sana.
"Begini, kamu tentu tahu jika aku sudah menikah lagi dengan pria yang sudah memiliki istri" ucap Anggi pelan menatap sahabatnya itu
"Tentu saja aku tahu" jawabnya singkat
Bram membuka amplop cokpat yang di sodorkan oleh Anggi, lalu membaca nya.
"Mba Widya meninggalkan rumah semalam, pasti akan lebih mudah bagimu mencari informasi nya ,.dan satu lagi, rahasiakan ini dari siapapun termasuk suamiku.
Aku mau tahu alasan kepergiannya di saat usia kandungannya sudah mendekati masa persalinan, aku menaruh curiga jika ia memang sudah merencanakan ini semua, pasalnya semua ada yang janggal"
"Aku mengerti"
"Satu lagi, aku mau kamu mengirim anak buah kamu untuk mengikuti mas Satria, lindungi ia dari kejauhan"
"Apa kamu sebegitu cinta nya pada lelaki itu?"
"Brams kami sudah tahu jawaban pertanyaanmu, bagaimanapun kini mas Satria telah menjadi suaminku"
"Aku menyesal telat menjadikan mu istriku setelah kamu lepas dari baji**n itu"
"Kamu tahu pasti bahwa aku sudab menganggapmu saudaraku Brams, perasaan tak bisa dipaksakan"
"Tapi suamimu baru saja menelantarkanmu, aku mengetahui semua Nggi, jangan kira kamu bisa menyembunyikannya dariku"
"Brams, dia melakukannya karena sedang panik, istrinya pertamanya sedang hamil besar dan sudah bulannya, lalu tiba-tiba menghilang"
"Itu tidak bisa dijadikan suatu alasan menerantarkan istri yang lainnya, jika ia berkomitmen menikahi wanita lain menjadi istrinya maka ia harus bisa bersikp adil dan melindunginya, bukan malah mengabaikan istri yang bersama nya untuk berlari mencari istrinya yang lain"
__ADS_1
"Please Brams, aku tidak punya tenaga untuk membahas itu.
Aku tahu kamu menyayangiku, tapi aku sudah bersuami Brams, bagaimana pun buruknya ia adalah suamiku"
"Kamu terlalu lemah lembut sehingga lelaki dengan mudah menindasmu"
"Brams" ucap Anggi lirih menatap Brams dengan wajah sayu, Anggi belum makan sejak ia kembali ke rumah
"Ah **** bagaimana aku bisa mencari wanita lain jika kau selalu membuatku kawatir" dumel Brian mengangkat tubuh Anggi
Anggi hendak memprotes namun rasanya mulutnya kaku"
Prapti yang melihat Brams mengangkat Anggi buru-buru lari menghampiri Brams
"Buatkan teh hangat dan bawakan makan ke kamar" perintah Brams tegas.
dengan setengah berlari Prapti menjalankan perintah Brams, tak lama kemudian ia masuk ke kamar Anggi
nampak Brams dengan penuh perhatian menggosokkan minyak angin ke punggung Anggi.
Brams dan Anggi memang seperti adik kakak, walau Prapti tahu Brams sangat mencintai Anggi. Ia merasa kasian pada Brams yang selalu setia mendampingi Anggi hingga ia tak sempat memiliki kekasih.
"Terima kasih, nanti kalau butuh sesuatu aku akan panggil kamu" ucap Brams meraih nampan berisi bubur dan teh hangat.
Bram membantu Anggi duduk bersandar, lalu menyuapi nya dengab telaten
"Terima kasih" ucap Anggi lirih
"Sudah seharusnya aku merawatmu"
"Maaf kan aku Brams"
"Maaf? untuk? "
"Aku wanita jahat yang tidak bisa melihat kebaikan dan cintamu"
"Hahaha, Anggi Anggi Aku sudah belajar mengikhlaskan mu, namun aku geram saat ini melihat keadaanmu.
Bagaimana aku bisa mencari kakak ipar buatmu, jika kamu selalu saja menggangguku" goda Brams
Anggi meneterkan air mata, hatinya terasa ada yang hilang, namun ia tak tahu mengapa
"Hei apa karena aku ingin mencari kakak ipar untukmu membuatmu cemburu hingga menangis? " goda Brams lagi
Anggi memukul pelan dada bidang pria di depannya itu, pria sempurna namun Allah tidak mengetuk hatinya untuk mencintai pria itu walau Anggi berusaha mencintainnya, tapi pada akhirnya ia hanya menganggap Brams kakak.
Anggi memeluk Brams dan menangis. ia meluapkan semua emosi nya dalam dekapan Brams
"Menangislah jika memang bisa membuatmu lebih baik" bisik Brams sambil membelai rambut Anggi
__ADS_1