
Sudah sepuluh hari Kinar mencari pekerjaan, namun selalu gagal karena yang mereka butuhkan yang berpengalaman, sedang dia? kuliah saja belum selesai.
Bagaimana bisa ia memiliki pengalaman kalau kesempatan saja mereka tidak berikan.
”Huh, rumah sakit ataupun perusahaan farmasi,alat medis semuanya tak ada satupun yang menerimaku, apa aku harus bekerja diluar pengetahuanku ya? Sementara mama butuh secepatnya uang, dan kondisi papa??? kalau aku menghubungi kakek Ridwan dan kakek Bagus, bisa-bisa mama dan papa marah besar padaku, Ya Tuhan, aku harus bagaimana????” Kinar mengusap kasar wajahnya karena frustasi
Kinar sejak satu jam lalu menepikan kendaraannya di pinggir jalan, tatapannya kosong menatap kearah lalu lalang kendaraan yang hilir mudik di depannya, hingga akhirnya senyumnya mengembang
"Aku sepertinya bisa dapat pekerjaan jika aku mendatangi mall itu, tak mengapa jadi pelayan toko atau apapun asalkan menghasilkan uang dan halal.
Persetan dengan gengsi, gengsi tak membuatku kaya” gumam Kinar mengepalkan tinjunya membulatkan tekadnya.
Ia lalu membawa kendaraannya masuk kedalam mall tersebut dan mulai bertanya-tanya pekerjaan.
Sementara perusahaan Satria diambang kehancuran, orang yang dia percaya selama ini justru menggelapkan dana perusahaan, ini yang membuat Satria makin down. Anggi berusaha menyelamatkan perusahaan suaminya dengan menyuntikkan dana dari perusahaan yang ia miliki, namun tetap saja tak bisa membuat kondisinya normal. Satria dengan langkah tertatih masuk ke kantor dan membereskan semua kekacauan yang di buat oleh orang kepercayaannya itu.
ia juga berusaha melakukan jalur hukum untuk mengejar si tersangka, namun tanpa di duga, tak ada celah kesalahan sedikitpun, semuanya legal di mata hukum.
Sepertinya orang itu sudah mempersiapkan rencana jauh-jauh hari dengan matang dan terperinci.
Hariawan, atau yang kerap dipanggil Hari adalah orang kepercayaan Satria, bahkan hubungan mereka sudah seperti saudara sendiri, namun tega -teganya berbuat jahat pada Satria.
Nasi sudah menjadi bubur, Satria hanya bisa ikhlas, jerih payah almarhum kakeknya tetap harus di pertahankan bagaimanapun kondisi keuangan mereka.
Satria merasa amat bersalah jika sampi perusahaan almarhum kakeknya gulung tikar.
Kinar yang mendengar kejadian itu juga ikut marah dan sedih, namun ia lebih kasian pada papanya, pasti Satria orang yang amat terpukul dengan kejadian itu.
Kinar berusaha menghibur papanya, ia akhirnya memilih membantu papanya di kantor karena kondisi Satria yang baru pulih pasca kecelakaan tempo hari.
Siang itu Kinar baru bisa keluar makan siang, bahkan sudah tidak bisa dikatakan siang lagi, perutnya sudah melilit minta di isi, terlebih lagi sejak pagi ia belum makan apapun, hanya segelas juice buah buatan mamanya yang mengisi lambungnya
Kinar berjalan ke sebuah restoran cepat saji, memesan makanan dan memakannya dengan cepat, ia harus segera kembali ke kantor papanya karena pekerjaan sudah menumpuk.
Setelah selesai Kinar langsung meninggalkan restoran cepat saji tersebut, namun langkahnya terhenti ketika pandangan matanya menangkap seseorang yang tak asing baginya, Mariska
Wanita paru baya itu sedang duduk di sudut taman yang memang berada di lingkungan perkantoran, sepertinya ia sedang menangis.
Awalnya Kinar ingin mengabaikannya, namun tiba-tiba teriak seseorang meminta tolong terdengar, sehingga ia berhenti dan menengok ke arah wanita tersebut.
Pandangannya jatuh pada tubuh Mariska yang tergeletak di lantai
__ADS_1
Kinar berlari menghampiri Mariska, ia langsung memeriksa denyut nadi Mariska dan menelpon pihak rumah sakit.
Ia juga melakukan pertolongan pertama, rupanya Mariska mengalami serangan jantung untuk ke dua kalinya, pertama saat di pemakaman dan ini kedua kalinya.
Mobil Ambulance tiba, Kinar langsung ikut di dalam mobil ambulance, ia memegang tangan Mariska dengan panik,
Sesampainya di rumah sakit tim medis langsung membawa Mariska untuk di tangani, sedang Kinar menunggu dengan was-was di luar ruangan.
Dua jam sudah Kinar berada di sana, ia lupa untuk kbali ke kantor.
Kinar ingin memastikan terlebih dahulu Mariska di tani oleh anaknya, baru ia akan kembali ke kantor.
Ponsel Kinar berbunyi...
Papa Callling.....
Kinar menekan tombol terima telepon, terdengar nada khawatir di ujung telepon
”Assalamu'alaikum, sayang kamu kemana saja? papa sampai khawatir karena papa telepon ke ponselmu tidak diangkat-angkat, apa yang terjadi????”
"Maaf pa, Kinar Silent tadi jadi gak dengar papa telepon.
”Apaaa??? apa terjadi sesuatu padamu nak?? apa kamu baik- baik saja?mengapa tidak kasih kabar papa?
katakan dirumah sakit mana? papa akan segera kesana"cerocos Satria panik mengira terjadi sesuatu pada putrinya
"Pa, tenang pa.
Kinar baik-baik saja.
Kinar hanya tak sengaja bertemu dengan Tante Mariska dan beliau terkena serangan jantung.
Kinar membantunya membawa kerumah sakit”
"Alhamdulillah, papa kira kamu kenapa-napa.
Bagaimana keadaan beliau nak?"tanya Satria pelan
”Sudah ditangani pa, tapi belum siuman, Kinar mohon maaf ya pa gak bisa kembali ke kantor. Biar pekerjaan Kinar besok Kinar kerjakan” ucap Kinar merasa bersalah
”Gak perlu khawatir sayang, kamu temani saja Bu Mariska, pulang jangan terlalu malam ya”
__ADS_1
"Baik pa, makasih.
Assalamu'alaikum”
”Wa'alaikum salam”
Panggilan telepon berakhir
Kinar menghela nafasnya pelan, ia memijit pelipisnya yang terasa berat.
Hidupnya sedang rumit dan kini ia berada disini demi rasa kemanusiaan.
Kinar tak bisa mengabaikan Mariska begitu saja, terlebih Mariska sosok yang hangat dan baik hati, seperti mamanya.
Kinar merasa kasian pada wanita paruh baya itu, walau hidup berkecukupan dan memiliki anak, namun Kinar bisa melihat ia merasa kesepian .
Kinar sudah menghubungi kedua anak Mariska,namun ponsel Dimas tak aktif dan hanya si bungsu yang ponselnya aktif dan kini sedang menuju ke rumah sakit ini setelah mendapat kabar dari Kinar.
Setengah jam kemudian anak bungsu Tante Mariska tiba. Damar berkeringat dan terlihat sangat panik, sepertinya dia berlari untuk menuju ke ruangan ini, nafasnya pun tersengal
"Kak Kinar, bagaimana Mama???? "tanya Damar
”Tante Mariska mengalami serangan jantung, ini sudah yang kedua kalinya.
Dokter sudah menangani beliau, sekarang Tante Mariska masih terlelap tidur”ucap Kinar
”Apa yang dokter katakan kak, bagaiman kondisi mama? ”
”Ini adalah serangan jantung yang kedua kalinya, dokter menyarankan agar jangan sampai Tante Mariska tertekan dan stres yang bisa menyebabkan beliau terkena serangan jantung yang ke tiga kalinya karena akan fatal akibatnya”terang Kinar membuat Damar lemas, ia memegang bangku di dekatnya agar tak terjatuh.
Kinar menghampiri Damar yang mulai menangis tanpa suara, Kinar memeluk Damar yang seperti adiknya sendiri itu.
”Istighfar, serahkan semuanya sama Allah” bisik Kinar lirih.. Damar hanya mengangguk lemah, ia merasa sangat terpukul dengan keadaan mama nya.
Menjelang Maghrib ponsel Dimas baru bisa di hubungi, rupanya asistennya sengaja menonaktifkan ponselnya karena ada klien penting. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum pernikahannya tiga hari mendatang.
Damar terdengar emosi dan memarahi kakaknya di dalam panggilan teleponnya.
Tak butuh waktu lama Dimas tiba dengan wajah pucat. ia langsung menuju rumah sakit begitu Damar menelponnya.
Dimas tak memperhatikan berapa banyak telepon dan pesan singkat, ia hanya ingin sampai di rumah sakit secepatnya melihat keadaan mamanya.
__ADS_1