
Kinar kecil juga lebih dewasa dari usia nya, ia tak pernah menangis walaupun beberapa hari lalu terjatuh sampai berdarah, membuat Anggi malah khawatir dengan kejiwaan Kinar, ia sampai berkonsultasi dengan dokter yang menangani tumbuh kembang Kinar
Kinar kecil juga sudah bisa mandi sendiri dan berpakaian , walau ada seorang baby sitter yang membantunya, ia lebih suka melakukan semuanya sendiri.
Seorang gadis kecil yang terpaksa harus dewasa karena keadaan.
harusnya usia 2 tahun 5 bulan adalah usia anak masih manja dan tak tahu apa-apa, namun Kinar berbeda.
Berkat Terapy kini Kinar sudah bisa mengucapkan beberapa kata dengan jelas, walau semua jauh dari yang di harapkan , namun perkembangannya perlu diacungi jempol
Ridwan sudah sampai di rumah, ia langsung menuju dapur dimana bau harum rendang menggoda perutnya yang keroncongan, dan Satria mengekor di belakangnya, Satria mengucapkan salam dan langsung mencium punggung tangan kakek dan neneknya, dan pandangannya tertuju pada dua gadis kecil yang sedang bermain.
iya
Kinar yang belum pernah melihat Satria langsung berlari sambil menangis menuju Anggi yang sedang memasak, untuk pertama kalinya ia memanggil mama pada Anggi.
Kinar bersembunyi di balik tubuh Anggi sambil menutupi wajahnya dengan pakaian yang Anggi kenakan
Dengan lembut Anggi menggendongnya , Kinar mendekap Anggi erat, membenamkan wajahnya di bahu Anggi
”Sayang itu papa Satria, ayo salaman sama papa”ucap Anggi membujuk Kinar, namun Kinar malah makin mengeratkan pelukannya, tubuhnya bergetar karena ketakutan, mungkin trauma masa lalunya belum hilang
”Kinar ini papa sayang”ucap Satria lembut, Kinar tetap bersembunyi di bahu Anggi
”Mengapa anak ini sepertinya ketakutan melihatku? ap yang terjadi dengan Kinar?" tanya Satria memandang semua orang yang berada di ruangan itu
”Kinar hanya perlu adaptasi, aku harap kamu bisa bersabar, nanti aku km ceritakan semuanya"ucap Anggi pelan, ia berusaha menenangkan Kinar yang masih ketakutan dengan tubuh yang gemetaran
”Jadi anak imut ini?"tanya Satria beralih melihat baby Aisya yang berceloteh riang sambil memegang mainannya
"Ia dia Aisya anak kita" ucap Anggi tersenyum
Satria lalu mengangkat Aisya, dan langsung memeluk dan menciumi pipi gembok Aisya
__ADS_1
"Ohhh sayang papa, kamu cantik dan imut sekali, papa gemes"ucap Satria menciumi pipi Aisya berkali-kali membuat balita itu tertawa lepas, mungkin karena geli saat kumis Satria menyentuh pipi gembul Aisya
”Kumismu membuat dia geli mas, sebaiknya kamu bersihkan dirimu dulu, nanti bisa bermain dengan Aisya lagi”ucap Anggi pelan, karena ia tak mau Satria salah paham.
Namun di luar dugaan, Satria meletakkan Aisya setelah menciumnya kembali, ia membelai kepala Aisya, dan mencium keningnya, ada setetes air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Papa mandi dulu ya, Aisya sama mama dan kakak”ucap Satria lalu pamit menuju kamar Anggi, entah mengapa kakinya membawa ia langsung ke kamar Anggi, bukan ke kamar yang dulu ia tempati dengan Widya, membuat semua orang menatap tak percaya, ada senang dan rasa sedih yang menjadi satu
"Kek, sepertinya memang ingatan Satria yang terganggu, namun kata hatinya yang menuntunnya ketempat yang seharusnya berada”ucap Ayu menitikkan air mata
"Semoga ingatannya kembali dan kalian bisa berkumpul kembali”ucap Putu memandang Anggi yang terlihat berkaca-kaca karena bahagia
"Insha Allah kek, Anggi hanya berharap mas Satria sembuh dan dapat kembali seperti sedia kala, namun masalah kami akan kembali atau tidak semua Anggi serahkan pada mas Satria”ucap Anggi pasta
”Nak, kamu juga berhak bahagia, jangan memendam semuanya sendiri karena terkadang kita perlu mengungkapkan ap yang kita mau dan kita rasakan, karena tidak semua orang itu peka nak”ucao Ayu lembut
"Nek, Anggi tahu nenek mau Anggi bahagia, namun kita tidak bisa memaksakan kehendak kita, kalaupun pada akhirnya kami memilih berpisah, kami akan tetap bersama membesarkan Aisya, karena prioritas hidup Anggi adalah Aisya dan Kinar, Anggi tak mau karena keegoisan Anggi membuat mereka tak merasakan kasih sayang dari seorang papa, walau Kinar sebatang kara, ia juga punya hak di cintai dan di sayangi”ucap Anggi
”kek....”Ayu ingin memprotes namun Putu memberi isyarat pada Ayu untuk diam
”Apapun keputusan kalian kakek akan mendukung, namun kakek berharap kalian bersama lagi, memperbaiki rumah tangga kalian demi Aisya, namun jika pada akhirnya kalian memilih jalan maaing-masing kakek tak bisa berbuat apa-apa karena itu hidup kalian, tapi percayalah, kakek selalu mendukung keputusanmu” ucap Kakek membelai rambut Anggi
”Terima kasih kek, nek, Anggi sayang kalian " Anggi memeluk kedua kakek dan neneknya itu
Tanpa mereka sadari, seseorang menguping pembicaraan mereka, orang itu tak lain adalah Satria yang belum masuk ke kamar mandi, ia ingin menanyakan handuk, namun ia tak sengaja mendengar pembicaraan mereka, Hingga ia menghentikan langkahnya, dan memilih berdiri di belakang pintu.
”Jadi benar Anggi adalah istriku??? lalu bagaimana Widya?? Bagaimana aku bisa menikahi Anggi, sementara aku telah memiliki Widya, laku-laki macam apa aku ini sebenarnya??????” Satria termangu diam, ekor matanya menatap sebuah bingkai foto berukuran besar terpajang di dinding kamar Anggi, Foto pernikahan dirinya dan Anggi, di foto tersebut terlihat ia sangat bahagia, membuat Satria menelan Saliva nya sendiri.
"Dia memang istriku” gumam Satria berjalan mendekat dan memandang lekat foto tersebut.
Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki mendekat, Satria buru-buru berjalan menuju kamar mandi, ia langsung menutup pintu kamar mandi perlahan
Pintu kamar terdengar di buka, lalu lemari di buka
__ADS_1
”Mas, apa kamu sudah selesai mandi? maaf aku lupa memberikan handuk padamu, aku taruh di kasur ya beserta pakaianmu sudah ku siapkan
”Terima kasih Anggi, aku belum selesai mandi”teriak Satria dari dalam kamar mandi
”Baik mas”ucap Anggi segera keluar dari kamar mandi, lalu ia bergegas menata hidangan yang ia masak di meja makan.
Tak lama kemudian Satria keluar sudah berganti pakaian, kumis dan jenggotnya pun sudah habis di cukur, kini wajahnya terlihat lebih fresh
Satria langsung menuju Aisya yang sedang dalam gendongan Anggi
”Boleh aku menggendongnya?"tanya Satria ragu
Anggi langsung menyerahkan Aisya pada Satria, entah mengapa Aisya terlihat sangat bahagia, seolah tahu dan mengenali siapa pria yang menggendongnya yang tak lain adalah papanya sendiri, ia terus berceloteh lucu, seakan sedang bercerita pada Satria
”Sayang maafkan papa ya, maafkan papa karena melupakanmu, papa janji akan menyayangi n melindungi kamu dan mamamu”ucap Satria lirih membuat Anggi memalingkan wajahnya, ia menangis bahagia
”Mama, mama”ucap si Kinar kecil dengan wajah sedih karena melihat Anggi menitikkan air mata
"Sayang, mama baik-baik saja, jangan sedih ya”ucap Anggi menggendong Kinar dan mencium pipi gadis kecil ini yang sudah mulai berisi
”Dede, dede” racau nya melihat Aisya dalam gendongan Satria
”Itu papa Satria, Kinar panggil papa” ucap Anggi lembut
Nampak Kinar ragu, namun ia sudah tak takut lagi dengan Satria, ia dengan malu-malu memanggil Satria
”Papa....”ucap Kinar lirih
Satri tersenyum, ia menghampiri Kinar, menyerahkan Aisya pada neneknya dan mengulurkan tangan pada Kinar.
Kinar menatap Anggi seolah meminta persetujuan, setelah Anggi mengangguk, Kinar baru menjulurkan tangannya pada Satria
Sungguh pemandangan yang membuat semua orang bahagia dan haru, namun Anggi sudah berubah pikiran, ia tak akan memberitahu jati diri Kinar yang sesungguhnya pada Satria, membiarkan Satria berfikir jika Kinar anaknya dengan Widya, itu lebih baik, dan semua orang menghormati keputusan Anggi.
__ADS_1