Suami Sewaan

Suami Sewaan
Keputusan Kinar II


__ADS_3

Kinar sudah berada di depan sebuah ruangan, ia menyapa suster dan memberitahukan suster tersebut bahwa ia sudah punya janji dengan dokter Nugraha, dokter yang menangani Anggi.


Suster langsung mempersilahkan Kinar masuk ke dalam ruangan dokter Nugraha


”Siang om”sapa Kinar memanggil dokter Nugraha yang merupakan teman om dari papanya, Kinar memanggil nya papa Ridwan.


”Masuk sayang, tumben ada apa nih kamu mau ketemu om di rumah sakit?”tanya Nugraha langsung.


Ia senang dengan kunjungan Kinar karena keluarga mereka yang sudah dekat sehingga ia sudah menganggap Kinar anaknya sendiri.


”Itu om, masalah mama” ucap Kinar lirih


"Kenapa dengan Anggi? apa dia mengalami sesak nafas? kenapa om gak di hubungi?”cecar Nugraha


”Om tenang dong, mama baik-baik saja, namun Kinar sudah tahu semua om, bahwa ginjal semakin hari, semakin memburuk” ada kesedihan di nada suara Kinar, Kinar berusaha menahan air matanya yang seakan ingin meloncat keluar


”Sayang om ikut prihatin dengan kondisi mamamu. Om sudah berusaha dengan maksimal, kamu gak usah khawatir ya sayang” Nugraha berusaha menenangkan Kinar


”Om gak usah menutupi semua dari Kinar, Kinar sudah gede om, Kinar harus tahu kondisi mama. Kinar takut om, Kinar....”Kinar tak mampu meneruskan kalimatnya, hatinya amat sakit membayangkan kondisi kesehatan mamanya


Dengan lembut Nugraha memeluk Kinar, membuatkan gadis muda itu menangis


”Setelah tangis Kinar reda, Nugraha meminta suster membawakan teh hangat untuk Kinar dan memberikan pada Kinar.


Kinar meneguk teh hangat itu, menghilangkan sesak di hatinya sedikit


”Maafkan Kinar om, Kinar terbawa perasaan"ucap Kinar malu setelah perasaannya mulai tenang


"Gak apa-apa sayang, om sudah menganggap kamu anak om sendiri, kamu gak perlu sungkan.


Om tahu kamu ingin menemui om pasti ada yang ingin kamu sampaikan kan???”tebak Nugraha


”Om, biarkan Kinar jadi pendonor mama. Kinar mohon om tes ginjal Kinar apakah cocok dengan mama ” ucap Kinar menatap serius pada Nugraha


Nugraha terhenyak dengan perkataan Kinar, namun beberapa saat kemudian ia tersenyum


”Kinar dengar apa kata om ya nak.


apa Kinar yakin dengan keputusan Kinar? om akan menjelaskan resiko dan kemungkinan yang terjadi padamu jika kamu masih bersikukuh ingin mendonorkan ginjal mu.


Sebaiknya kamu pikirkan masak-masak setelah mendengar penjelasan om”

__ADS_1


"Om Kinar sudah tahu konsekuensi yang akan Kinar terima, om pasti lupa jika Kinar kuliah di kedokteran” potong Kinar ingin segera melakukan tes demi menyelamatkan nyawa mamanya


Nugraha mendesah pelan, matanya sayu, sedih membayangkan masa depan Kinar nantinya jika ginjalnya cocok dengan mamanya


”Sebagai seorang dokter, Om harus profesional, namun sebagai seorang om sekaligus ayah, om harus mengingatkanmu kembali, demi kebaikanmu nak”


”Kinar mohon om, tekad Kinar sudah bulat” Nugraha melihat bahwa kemauan Kinar sudah tak bisa di ubah lagi, ia hanya menggeleng pelan


”om tebak, pasti Satria gak tahu kamu kesini kan?" tanya Nugraha yang di balas senyum canggung Kinar sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal


”Om akan melakukan pemeriksaan ginjal mu apakah cocok sebagai pendonor atau tidak, namun kamu harus mempunyai izin dari orangtuamu sebagai wali nya”


menatap serius Kinar


”Om, biarkan Kinar periksa dulu baru beritahu papa ya???, ya om???, please” ucap Kinar memohon


Dengan berat hati Nurgaha meluluskan permohonan Kinar, walau sebenarnya ia juga tak ingin di salahkan oleh kelurga besar Kinar, namun melihat kesungguhan Kinar, Nugraha tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya berdoa semoga hasilnya tidak sesuai, agar Kinar tidak harus mendonorkan ginjalnya dan membuang masa depannya dengan satu ginjal.


Akhirnya hari itu Kinar melakukan serangkaian test untuk memastikan kecocokan ginjal nya dengan Anggi.


Ia berulang kali mengucapkan terima kasih pada dokter Nugraha dan berjanji akan memberitahu papanya stelah hasilnya keluar.


Rumah sakit ini diberikan pada Ridwan, sedang perusahaan yang berada di Jakarta di berikan kepada Satria, papanya.


Om Bagus mendapatkan bagian perusahaan di bidang pariwisata dan perhotelan di Bali.


Walaupun rumah sakit itu milik keluarganya, Satria masih tetap akan membayar biasa Anggi walau tak sepenuhnya. ia tak mau membebani biaya perawatan Anggi begitu saja hanya karena ia keponakan pemilik rumah sakit ini.


Ridwan berulangkali menolak, namun Satria bersikeras, sehingga Ridwan hanya bisa menuruti kemauan keponakannya itu, ia berkordinasi dengan dokter di rumah sakitnya agar hanya membebankan setengahnya saja.


Sejak Anggi di diagnosa gagal ginjal, Ridwan kerap kali bolak balik ke Indonesia untuk memastikan kesehatan Anggi yang sudah dia anggap adiknya sendiri itu.


Lama kelamaan Anggi tak enak hati karena merepotkan Ridwan yang kini menetap di luar negeri bersama anak dan istrinya.


Dokter Nugraha tidak memberitahu prihal pemeriksaan Kinar karena Kinar yang memintanya, Kinar sendiri yang akan menyampaikan hasil pemeriksaan test kecocokan donor ginjal untuk mamanya saat hasil itu keluar.


Satu Minggu telah berlalu, Dokter Nugraha sedang duduk di meja kerjanya, ekspresinya tidak bisa diungkapkan, ada senang dan sedih sekaligus.


Senang karena pada akhirnya Kinar tidak bisa mendonorkan ginjalnya, sedih karena ia ikut prihatin akan kesehatan Anggi yang kian menurun.


Tak lama kemudian pintu ruangannya di ketuk dan masuklah suster memberitahu kedatangan Kinar.

__ADS_1


Wajah Kinar berbinar senang, ia masuk dengan senyum lebar di wajahnya karena sangat berharap hasilnya sesuai dengan harapannya


”Pagi om, apa hasilnya sudah keluar?"tanya Kinar tak sabaran


”Duduklah dulu, apa kau kesini hanya untuk hasilnya, apa kau tidak merindukan om?” ucap Nugraha merajuk membuat Kinar tertawa terkekeh


"Ih om lebay, baru juga seminggu yang lalu ketemu. bagaimana kalau nanti Kinar traktir makan siang?”tanya Kinar


”Siang nanti om ada jadwal operasi, next time ya, tapi harus mau”ucap Nugraha


”Siap om,jadi....bagaimana hasilnya?” tanya Kinar dengan penuh harap dan cemas


”Maaf Kinar” ucap Nugraha menyerahkan amplop coklat di depannya pada Kinar


Dengan tangan bergetar Kinar menerima amplop tersebut dan mulai membacanya


”Kinar menutup mulutnya dengan tangan, ia menangis tertahan, membuat Nugraha ikut sedih, ia mengelus puncak kepala Kinar berusaha menenangkan Kinar yang terlihat shock, harapannya untuk membantu mamanya hancur begitu saja


”Dengan apa lagi Kinar bantu mama om, mama sangat kesakitan” ucap Kinar tersedu-sedu


”Om mengerti nak, tapi memang hasilnya kamu tidak cocok, kita tidka bisa memaksakannya ” hibur Nugraha


Kinar hanya bisa menangis tak tahu harus melakukan apa, hatinya terlalu kecewa. Wanita yang selama ini merawatnya, menyayangi dan mencintainya dengan sepenuh hati seperti mamanya sendiri kini sedang kritis dan ia tak bisa melakukan apapun, sakit.


Satu jam kemudian tangis Kinar reda, ia hanya diam dengan pandangan kosong.


"Nak, jangan seperti itu, om tahu kamu sangat menyayangi mamamu, namun kenyataannya tak sesuai harapanmu, kamu harus ikhlas. masih ada cara lain membantu mamamu nak, berdoalah agar ada pendonor yang mau mendonorkan ginjalnya pada mamamu dan sementara itu kita juga harus terus berdoa agar kesehatan mamamu stabil, jangan tampaknya kesedihanku di depan mamamu.


Mamamu butuh support dari orang-orang yang ia cintai" Kinar hanya mengangguk lemah, ia tak ingin menjawab apapun, ia hanya ingin sendiri saat ini.


Setelah pamit dari ruangan dokter Nugraha, ia melajukan kendaraannya menuju pemakaman, tempat ibu kandungnya di makamkan, entah mengapa langkahnya membawa ia ke tempat ini.


Kinar jongkok di sisi pusara mamanya, Widya Hapsari...


"Ma , Kinar datang ma”ucapnya serak


”Mama tahu, Kinar gak pernah menyesal di lahir kan dari rahim mama, Kinar bangga sama mama.


Saat ini perasaan Kinar kacau ma, mama Anggi sedang sakit keras dan Kinar gak bisa melakukan apapun, rasanya sangat sakit ma, hati ini seperti di tusuk seribu jarum.


Mama, bukan maksud Kinar ingin membuat mama iri, namun Kinar gak punya tempat untuk curhat, Kinar sedih ma, apa yang harus Kinar lalukan sekarang” ucap Kinar lirih sambil mengelus batu nisan Widya.

__ADS_1


__ADS_2