Suami Sewaan

Suami Sewaan
Sadar


__ADS_3

”Sayang apa dia sudah bangun?" Tanya Irine yang baru saja tiba dengan membawa plastik tenteng di tangannya


"Iya, dia tak mau berkomunikasi denganku, namun ia sudah berhenti menangis”


”Kasian anak ini mas, dia mungkin trauma, kekerasan membekas di pikirannya. Langkah yang terbaik adalah kita harus berikan ia Terapy dan bawa ke rumah sakit tumbuh kembang anak, harusnya anak seusianya sudah berjalan dan berbicara, namun dari penuturan Anggi, anak ini belum berbicara dan berjalan”ucap Irine


”Apa Anggi menghubungimu?”tanya Ridwan


”Iya, dia memintaku kesini karena kwatir kamu tidak bisa menangani anak ini saat bangun”ucap Iron menjulurkan tangannya meminta Ridwan menyerahkan Kinar padanya, awalnya Kinar ragu, namun Ridwan meyakinkannya, mereka lalu duduk, Irine membawakannya beberapa makanan kecil untuk Kinar, membuat wajah gadis kecil itu berbinar senang


”Aku titip Kinar, Bagus akan pulang kerumah mengecek keadaan rumah sekaligus Anggi, apakah kamu bisa?” tanya Ridwan pada tunangannya itu


"Iya mas, serahkan Kinar padaku, aku juga harus belajar merawat anak kecil kan?” ucap Irine dengan wajah merona merah


"Harus , karena nanti kita akan memiliki anak yang banyak”goda Ridwan berbisik di telinga Irine


”Kau saja yang melahirkan"dengus Irine kesal yang di balas tawa Ridwan


Ridwan lalu meninggalkan Irine dan Kinar, ia perlu melihat keadaan Satria


Sesampainya di ruang ICU, ruangan itu sudah ramai dengan beberapa suster dan dokter, Ridwan setengah berlari mendekati, perasaannya tak karuan, ia takut terjadi sesuatu dengan ponakannya itu, karena sejak operasi, Satria belum juga siuman


”Dok, bagaimana keadaan keponakan saya? tanya Ridwan begitu dokter Krisno keluar dari ruang ICU


” Pak Satria beberapa saat lalu menggerakkan tangannya, sehingga kemungkinan ia sadar dari koma semakin besar, namun saya tidak mengerti mengapa ia belum juga bangun. Melihat reaksinya ia sudah lewat masa kritisnya” Terang dokter Krisno


”Apa kita perlu lakukan sesuatu yang bisa membuatnya bersemangat hidup lagi dok?” tanya Ridwan


”Mungkin ini ada kaitannya dengan kejadian sebelum kecelakaan, yang membuat pak Satria ingin menguburnya. Tapi menurut saya kita perlu konsultasi dengan psikiater demi kesembuhan pak Satria”


” Baik Dok, terima kasih” ucap Ridwan sebelum dokter Krisno pergi

__ADS_1


Sepanjang hari Ridwan menunggu di sisi tempat tidur Satria, berharap keponakannya itu menunjukkan respon saat ia di sana, berbicara, namun nihil


Keesokan harinya


Anggi sudah sampai di rumah sakit pagi-pagi seperti kemarin, ia di temani Bagus.


Terlihat Ridwan tertidur di Sofa ruang tunggu, Bagus mendekati kakaknya tersebut, sementara Anggi masuk ke dalam ruang ICU


”Assalmu'alaikun mas, kamu masih saja tertidur , apa kamu masih betah berbaring sementara anak-anak menunggu kamu pulang?" ucap Anggi seolah memarahi Satria


”Bagunlah mas, aku janji tak akan pergi lagi dari masalah. Apa kamu tidak mau melihat Aisya? dia anak kita walau kamu akui atau tidak, ia anakmu dan aku. Satu lagi , gadis kecil cantik anak mba Widya, kamu pasti penasaran kan?” tanya Anggi sambil menatap Satria


Tiba-tiba jari Satria bergerak seolah merespon apa yang di katakan oleh Anggi, awalnya Anggi tak menyadari, ia terus berceloteh hingga akhirnya tangannya menyentuh jari Satria


Ia tertegun sejenak, memastikan apakah ia tak salah, setelah beberapa saat kemudian kelopak mata Satria mengerjap-ngerjam, alisnya bertautan seakan menahan sakit


Anggi berteriak kegirangan tanpa sadar


"Subhanallah mas Satria"pekiknya girang, lalu berlari memanggil suster jaga.


”Apa anda merasa pusing pak Satria? ” tanya dokter Krisno


”Kepala saya serasa mau pecah dok, sakit sekali dan pandangan saya tidak jelas, apa yang terjadi pada saya?”tanya Satria sambil meringis menahan sakit


”Saya belum bisa memastikan pak, kita perlu beberapa pemeriksaan lanjutan, mengenai mata bapak seiring waktu bapak juga akan melihat jelas, ini semua karena bapak baru saja terbangun dari koma


”Terima kasih dok”


”Saya akan memberikan obat pereda sakit, sebaiknya bapak banyak beristirahat dulu karena kondisi bapak masih lemah, kalau begitu saya permisi” ucap dokter Krisna lalu pergi


Satria baru teringat jika ia bermimpi Anggi, di dalam mimpinya ia melihat Anggi menggandeng satu gadis kecil dan satunya lagi ia bawa dalam gendongan.

__ADS_1


Anggi memanggilnya untuk mengikuti , Satria berlari mengejarnya, namun Anggi terus berjalan sambil melambaikan tangannya.


Saat Anggi semakin jauh, Satria berlari sekuatnya, ia berteriak sekencang kencangnya hingga akhirnya ia membuka mata dan berada di ruangan serba putih


Ia juga mendengar seseorang memanggil namanya, namun kepalanya yang berdenyut-denyut membuatnya kembali memejamkan mata hingga dokter memeriksanya ia berusaha membuka matanya


”Mas,. Ya Allah, Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga mas, kamu tidak tahu betapa khawatirnya aku”ucap Anggi menitikkan air mata bahagia


”Anggi? kamu kah itu? ”Tanya Satria, ia mengucek matanya beberapa kali, namun hanya bayangan samar


yang ia lihat


”Ini aku mas, jangan menakuti aku lagi mas, please, aku takut, mengapa kamu tidak mengenaliku? apa kamu sudah tidak mau kenal denganku?” Isak Anggi pecah


Ia mengira Satria tak mau mengenalnya lagi, hatinya hancur, namun ia masih bersyukur setidaknya bisa melihat laki-laki yang amat di cintai nya sudah lepas dari maut


"Sayang, mas bukan tidak mau mengenalmu atau tidak kenal lagi kamu, tapi.... tapi mas tidak bisa melihat dengan jelas”ucap Satria membuat Anggi terkejut


Anggi melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Satria, tak ada reaksi seperti orang dengan mata normal, Satria tidak berbohong, membuat jantung Anggi seakan berhenti berdetak


”Ya Allah, cobaan apa lagi yang kau berikan pada mas Satria? apa yang sebenarnya terjadi? ”Anggi menggigit bibir bawahnya, ia tak tahu harus berkata apa


Tiba-tiba Ridwan muncul dan melihat apa yang di lakukan Anggi, ia lalu mendekati Satria untuk melihat kondisi Satria


”Satria ini kakak, boleh kakak memeriksa mu sebentar?" tanya Ridwan


Satria terdiam, ia sebenarnya menaruh dendam pada Ridwan karena membawa kabur istrinya dan menyembunyikannya. Namun kali ini ia harus membuang rasa kesalnya, karena ia juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan matanya


Satria mengangguk pelan. Ridwan mendekati Satria dan mulai memeriksa dengan detail, terlihat wajah Ridwan berubah muram


"Apa yang terjadi dengan mataku? apa ini bisa sembuh? katakan sejujurnya!!!!” teriak Satria karena Ridwan hanya diam

__ADS_1


”Aku perlu beberapa test untuk memastikannya, kesimpulan ku adalah, kamu hanya mengalami kebutaan sementara karena benturan keras di kepalamu


Namun kamu gak perlu khawatir, sekarang teknologi sudah canggih” ucap Ridwan


__ADS_2