
Satria menjerit dan meraung, ia memangis kencang setelah membaca surat Anggi
Surat yang membuka matanya betapa Anggi sangat terluka dan menderita selama ini di sisinya, betapa Anggi sangat mencintainya, semuanya yang membuat Satria terpuruk dalam rasa bersalah
Satria memukul kaca di meja riang Anggi hingga hancur berkeping-keping, baginya sakit di tangannya tak seberapa di bandingkan luka yang ia torehkan pada istri sirihnya itu
Ia terlalu bodoh menyia-nyiakan wanita yang seperti berlian itu, mengabaikannya, bahkan yang paling keji menuduhnya berselingkuh
Satria mengutuk dirinya sendiri atas semua kebodohan yang ia lakukan, ia menyesali semuanya, sangat menyesal
Satria masih memegang dengan erat pesan terakhir dari istri sirihnya itu, ia mengacak-acak dan menarik rambutnya sendiri karena frustasi
"Anggi maafkan mas sayang, maafkan mas" ucapnya lirih sambil menangis
"Mengapa kamu meninggalkan mas? kenapa semua wanita yang aku cintai meninggalkan diriku, kenapaaaaaaaaa" Satria berteriak-teriak seperti orang yang hilang akal
Ia menangis, berteriak sambil menghancurkan apa saja yang ada di kamar itu
Prapti yang panik awalnya mauemghubungi Anggi, namun mengingat perlakuan Satria pada Anggi, Prapti membatalkannya
Ia hanya berdiri terpaku di depan pintu kamar Anggi, bingung dengan apa yang akan ia lalukan
"percuma berteriak sekuat kau maupun tak akan membuat Anggi kembali, bahkan sampai nangis darahpun, Anggi tak akan kembali.
Sekaramg kau baru menyesal dan minta maaf? kemarin kemana saja saat Anggi terluka dan merasa terhina kau tuduh selingkuh, dimana maaf itu? aku lebih puas melihatmu menderita, sekarang kau rasakan apa yang Anggi rasakan dulu" ucap Prapti memandang sinia dengan senyum mengejek, ia berjalan menuju kamarnya dengan tenang, seolah tak terjadi apapun di rumah itu
Bagus yang baru saja masuk ke dalam rumah dibuat terkejut dengan suara pecahab kaca dari kamar Anggi, ia sudah bisa menebak jika kini tengah kehilangan istrinya
"Ckckckck setelah pergi baru kehilangan, saat di sisi kau sia-siakan" ucap Bagus bergumam lirih, ia lalu menuju kamar Anggi seolah tak tahu apa-apa
__ADS_1
"Satria? kenapa kamu? apa yang terjadi? " tanya bagus berjalan mendekati Satria yang terlihat berantakan
"Dia meninggakanku, Dia pergi karena kesalahanku, mengapa semua meninggalkan aku? " teriak Satria menangis
Bagas terdiam, ia kemudia menghampiri Satria yang terlihat sangat terpukul
"Sebaiknya kamu tenangin dulu pikiran kamu" ucap Bagas pelan mencoba membujuk Satria
Ia berjalan mendekati meja di sudut kamar, lalu menuangkan segelas air putih dan menyodorkannya pada Satria
"Minumlah, tenangkan dirimu, emosi tak akan menyelesaikan masalah.
kita obati dulu tanganmu, lalu kita cari Anggi" ucap Bagus tenang
Ia sebenarnya kasian dengan keadaan Satria saat ini, namun ia berfikir jika Satria layak mendapatkannya
"Kemana Anggi pergi?" ucapnya lirih seorlab berbicara pada dirinya sendiri
Bagus tidak berkata apa-apa, ia hanya melirik sekilas, lalu kembali membalut luka Satria
"Kak, kemana ya Anggi, aku harus menemukan Anggi, akh mau minta maaf" ucap Satria menatap Bagus, ia lebih nyaman memanggil Bagus dengan panggilan kakak di bandingkan om, karena usia mereka yang terpaut hanya beberapa tahun
"Sudah coba hubungi ponselmya belum? "
"Sudah kak, gak aktif" ucap Satria menghela nafas
"Coba hubungi temannya, dia dekat dengan siapa" usul Bagus
Satria nampal berfikir keras, ia teringat Brams , Satria langsung bangkit dari duduknya
__ADS_1
"Brams, ya Brams, pasti Anggi sekarang dengannya aku akan memcarinya, ayo kak tunjukkan jalannya" ajak Satria menarik tangan Bagus
"Apa kamu tidak belajar dari pengalaman? kamu sudah menuduh istrimu berselingkuh dengan Brams dan sekarang kamu menuduh Brams yang membawa Anggi, ckckck, tidakkah kejadian ini menyadarkanmu jika apa yang kamu tuduhkan membuat banyak orang terluka?" Bagas berusaha menahan Satria
"Gue mau lihat dengan mata kepala sendiri jika Anggi di sana atau gak" ucap Satria berjalan keluar kamar
"Praptiiiii, Praptiiiiiii" teriak Satria kencang, membuat Prapti yang sedang di dapur berjalan tergopoh-gopoh menghampirinya
"Iya pak? "
"Antar saya kerumab Brams, sekarang!!!" perintah Satria
"Buat apa bapak mau kerumah pak Brams?" tanya Prapti bingung
"Kamu banyak tanya ya, ya mau lihat apakab Anggi disana atau gak? atau kamu juga membantu Anggi untuk membohongi saya? Prapti menatap Bagus yang menggeleng, ia seolab meminta Prapti untuk tidam berdebat dengan Satria saat ini
"Saya cuma mau bilang satu sama bapak, Bu Anggi dan pak Brams sudah tidak mau bertemu, mereka tidak mau bapak salah paham, Bu Anggi meminta pak Brams menjauhinya demi bapak, tapi jika bapak memaksa sebentar saya ganti pakaian" ucap Prapti berjalan menuju Kamarnya
Satria menatap Bagas, ia tak mengerti mengapa Prapti berkata demikian
"Waktu Anggi hilang, Brams menemukannya di jalanan dan untungnya ada seorang polisi dan ibu tua pemilik warung yang menolong Anggi dan membujuknya pulang, waktu itu Anggi menolam diantar pulang oleh Brams dan memilih diantar pulang naik sepeda motor tua pak polisi, semua ia lakukan karena tak mau kamu salab paham.
Malah Anggi meminta Brams jangan menemuinya lagi demi menjaga rumah tangganya denganmu, tanpa kamu tahu itu keputusan terberat Anggi karena Brams sudah seperti kakak bagi Anggi.
Mereka sudah kenal selama bertahun-tahun.
Jika Anggi ingin berselingkuh darimu,tidak perlu menunggu sampai ia menikah denganmu karena Brams sudah mencintai Anggi sejak lama, namun Anggi hanya menganggap Brams sebagai kakak, tidam lebih dan kurang, ia hanya mencintaimu dulu dan kini sampai kamu menyakitinya" Bagus sengaja menekankan kalimat terakhir, agar Satria tahu jika ia sangat salah menilai hubungan murni Anggi dan Brams
"Tapi aku tetap harus memastikan apakah Anggi di sana atau gak" ucap Satria kekeh, mereka lalu menuju apartemen Brams
__ADS_1