
"Sejak kapan Widya memiliki banyak uang membeli ini semua? kwitansinya sebulan sebelum aku dan Anggi menikah? dan apa ini? bukti transfer ke Bobby Atmaja? siapa pria ini? mengapa Widya menyembunyikan dariku, dan ini bukan sekali saja ia mentransfer uangnya kepada orang yang sama, yang aku tahu Widya tak memiliki kerabat lagi, siapa sebenarnya lelaki ini?" tanya Satria lirih
ia kemudian membuka laci meja rias di bawahnya, tangannya merogo kedalam dan mendapatkan sesuatu di sana, sebuah liontin dengan ragu Satria membuka liontin tersebut
Foto dirinya dan Widya di dalam sana, Satria lalu mencoba mengambil foto itu dari liontin tersebut, namun ia malah terdiam dengan bola mata yang membulat sempurna, melihat foto di balik foto dirinya dan Widya
"Siapa pria yang bersama Widya? mengapa mereka terlihat sangat intim? buat apa dia masih menyimpan foto itu saat ia sudah menikah denganku, Widya,,,,,
Semakin hari semakin ku tak mengerti kamu, wanita macam apa yang aku cintai ini? " ucap Satria meremas foti dalam liontin itu
Satria keluar dari kamar nya, ia merasa nafasnya sesak saat berada di sana, terlalu banyak kejutan yang ia terima hari ini
Terlalu banyak yang Satria tidak ketahui tentang istrinya itu, seolah ia tak pernah mengenal Widya secara pribadi, saat usia pernihakan mereka sudah empat tahun, namun ia seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa
"Apa lagi yang kau sembunyikan dariku Widya" gumam Satria memandang pintu kamar yang dulu ia trmpati bersama Widya
Satria lalu berjalan menuju meja makan, nampal Prapti sudah menghidangkan nasi goreng dan teh hangat
"Maaf pak, cuma nasi goreng yang cepat" ucap Prapti menuangkan air putih di sebelah teh hangat
"Prapti bisa saya minta waktumu sebentar saja" ucap Satria
"Iiiya pa" Prapti sudab kwatir jika Satria akan bertanya tentang Anggi, pasalnya ia tak panfai berbohong, takut ia salah bicara
"Saya mau tanya tentang Widya, apa kamu menemukan kejanggalan sebelum saat ia meninggalkan rumah? " tanya Satria sambil meneguk teh manisnya
"Huh apa-apaan dia, bukan mencari mba Anggi malah sibuk sama wanita pembohong itu" gerutu Prapti dalam hati
"Prapti? " ulang Satria, membuyarkan lamunan Prapti
"Saya sudah mengatakan semuanya pak, termasuk dia kasih saya perhiasan katanya kenang-kenangan"
"Bukan itu yang saya tanyakan, apa kamu pernah melihat gerak gerik aneh Widya? " tanya Satria lagi
"Uhmm saya pernah memergoki bu Widya keluar rumah tergesa-gesa saat bapak tak ada, lalu... " Prapti tak meneruskan kalimatnya, ia terlihat ragu antara mengatakan dan tidak
__ADS_1
"Apa kamu pernah melihat dia bertemu dengan seseoranv atau menerima telepon secara sembunyi-sembunyi? " tanya Satria dengan wajah serius, ia berharap jawaban Prapti berbeda dengan dugaannya, namun ia harus kecewa karena Prapti mengangguk pelan tanda ia membenarkan dugaan Satria
Satria menghela nafas, dadanya sesak, ia merasa terlalu bodoh
"Prapti ambil dan lihatlah, apakah pria dalam foto ini adalah pria yang sama, yang Widya jumpai? " tanya Satria sambil menyodorkan foto kecil pada Prapti
Prapti nampak ragu, namun ia akhirnya meraih foto yang di sodorkan kepadanya
Ia membuka dan terkejut
"Dari ekspresiku, aku tak perlu jawaban darimu lagi, ternyata begitu, wanita itu sudah membodohiku" gumam Satria lirih
"Maafkan saya pak"
"Tidak, kamu tidak salah apa-apa Prapti, terima kasih.
Harusnya aku menyadari ini lebih awal, sehingga aku tak menyakiti istri yang sholeha seperti Anggi, aku pria bodoh yang mengejar angin namun mengabaikan pakaian yang menutupi, membuatku nyaman, karena Angin itu membuatku hancur" ucap Satria lirih penuh penyesalan
"Jika memang Allah takdirkan kalian bersatu lagi, suatu saat kalian pasti akan bersatu, Prapti hanya mau bilang sama bapak, semangat dan terus mencari mba Anggi walau di manapun ia berada, tunjukan ketulusan bapak mencintai mba Anggi dan penyesalan atas semua kelakuan bapak di masa lalu, mba Anggi orang yang sangat mencintai bapak, walau ia pergi kini, namun saya yakin ia masih mencintai bapak" ucap Prapti memberi angin segar pada Satria ia seolah mendapat suplemen di saat staminanya drop
Satria lebih malu pada dirinya sendiri yang terlalu bodoh dan naif.
Walau ia belum menemukan kebenaran tentang kepergian widya, namun ia sangat yakin jika kepergian Widya ada sangkut pautnya dengan pria dalam liontin itu
Melihat beberapa bukti ditangannya, ia yakin bahwa hubungan Widya dan pria itu tak sesederhana terlihat, pasti ada yang tersembunyi di sana, dan Satria harus siap menerima kenyataan itu
Prapti meninggalkan Satria yang makan sambil menangis, ia tersenyum kecut dan berjalan menuju kamarnya
"Kehilangan seseorang yang dicintai memang pahit, namun saya harap ini menjadi pelajaran berharga buat anda pak Satria" gumam Prapti menengok lagi ke arah Satria sebelum ia menjauh
Keesokan paginya
Prapti terkejut melihat Satria yang tidur di sofa sambil memeluk foto Anggi, ia terlihat sangat mengenaskan, mungkin semalaman Satria menghabislan waktu sambil minum dan memandang foti istri sirihnya m, sambil menyesali diri
"huh, bukan semangat mencari malah terpuruk, dimana semangat yang tadi malam?" ucap Prapti menggelengkan kepalanya, ia berjalan menuju dapur untul membuat sarapan
__ADS_1
Matahari belum tinggi, namun halaman rumah Anggi kedatangan sebuah mobil dan turunlah Bagus, lalu ia meregangkan otot-ototnya yang tegang setelah perjalanan tadi
Bagus lalu mengetuk pintu, tak lama keluarlah Prati yang mengenakan celemek, tanda ia sedang masak di dapur
"Mas Bagus, pagi-pagi sudah sampai, mau dibuatkan sarapan apa? " cerocos Prapti, entah mengapa sejak kejadian tempo hari, hatinya terua bergetar jika dengan lelaki ini
"Apa saja ok, tolong buatkan teh hangat buat saya ya, oh ya, bagaimana dengan kakimu? apa sudah baikkan?" tanya Bagus lembut, Prapti hanya bisa menganggukan kepalanyanya karena suaranya seolah tercekat dintenggorokan dan wajahnya bersemu merah, ia buru-buru berjalan menuju dapur agar Bagus tidak melihat perubahan wajahnya
Bagus tersenyum lebar, ia sangat senang melihat wajah malu-malu Prapti
"Ah gadis itu sangat manis saat melihatnya malu-malu begitu" ucap Bagus pelan, ia berjalan masuk dan langkahnya berhenti di sofa yang terletak di ruang keluarga, dan mengeryirkan alisnya memandang Satria yang terlihat tak karuan
"Ah anak ini baru saja ku tinggal sehari, sudah sekacau ini, ckckckckc" ucap Bagas duduk di samping Satria
Prapti datang dengan membawa segelas teh hangat dan kue yang ia bukan kemarin sore
"Mas minum dulu teh nya"
"Baik, makasih Prapti, oh ya tolong bawakan satu lagi ya, gak usah manis karena yang buatnya udah manis" ucap Bagus mengedipkan sebelah matanya membuat Prapti berlari dengan wajah merona
"Bagun jagoan, apa segitu saja teladmu menemukan Anggi? sungguh kakak kecewa" ucap Bagus menepuk keras pipi Satria, membuat Satria mengerjapkan mata beberapa kali dan berusaha duduk
"Kakak kapan datang? " tanyanya parau khas orang bangun tidur
"Ah kau tidak bisa membuatku tenang, baru kutinggal sehari sudah kacau begini" gerutu Bagus malah merebahkan tubuhnya
"Kak, aku mau tanya informasi terbaru tentang Widya" ucap Satria tiba-tiba
"Hah tumben Satria tidak mengatakan istri saat memanggil nama Widya, ia terlihat emosi dan tertekan, apa mungkin ia sudah tahu kebenarannya? " gumam Bagus dalam hati
"Aku ingin memastikan sesuatu yang mengganjal pikiranku, sebelum aku fokus mencari Anggi" ucap Satria seolah tahu apa yang Bagus pikirkan dalam hati
"Aku menduga Widya telah membodohiku selama ini" ucap Satria menatap Bagus, lalu ia tertawa dingin melihat ekspresi Bagus
"Aku duga kau sudah tahu kebenarannya kan kak? melihat ekspresi wajahmu yang tak terkejut sama sekali" ucap Satria marah pada dirinya sendiri, ternyata ia benar-benar buta karena cinta palsu, atau obsesinya selama ini
__ADS_1