Suami Sewaan

Suami Sewaan
Kenyataan


__ADS_3

Bagus dan Satria sudah sampai di parkiran sebuah apartemen, Satria nampak ragu, ia menatap bagunan beringkat itu sambil menghela nafas mengumpulkan keberanian diri, dalam pikirannya ia takut akan menemukan Anggi disana


"Ayo turun" ucap Bagus menepuk punggung Satria serasa bangkit keluar dari mobilnya, sementara Satria masih terlihat ragu


"Kalau kamu memiliki kecurigaan di hatimu, bukankah ini yang kamu mau? turun dan lihatlah kebenarannya" ucap Bagus langsung pergi meninggalkan Satria yang masih diam termangu


Satria yang melihat Bagus sudah menjauh segera keluar dari mobil dan berlari menyusul Bagus


Mereka menaiki lift dan menekan lantai apartemen tujuan mereka, hingga sampailah mereka di depan pintu apartemen Brams


"Ketuklah" perintah Bagus pada Satria, sementara Bagus hanya berdiri sambil menyembunyikan tangannya dalam saku celananya


Ting Tong, Ting Tong


suara bell apartemen Brams berbunyi dan tak lama keluarlah seorang wanita cantik memakai apron, sepertinya ia sedang memasak


"Assalamu'alaikum Kanza"


"Wa'alaikum kak Bagus, ayo, ayo masuk, mas Brams nya masih tidur" ucapnya ramah


Bagus lalu masuk di ikuti oleh Satria yang terlihat bingung, berusaha mencerna keadaan


"Mas ini siapa kak? " tanya Kanza melihat Satria dengan menaikkan alisnya sebelah, pasalnya karena penampilan Satria yang berantakan sehingga membuat Kanza aneh


"Oh ya, kenalkan dia suami Anggi" ucap Bagus merendahkan suaranya di akhir kata , membuat Satria melirik sekilas dengan pandangan tak senang kearah Bagus, namun Bagus pura-pura tak melihat.


Bila saja Bagus harus jujur, ia juga kecewa dan ada sedikit rasa benci di hatinya pada Satria karena sudah membuat Anggi menderita, namun sebagai om nya, ia tak mau egonya mengalahkan logikanya, terutama papanya, Putu sudah memberi tugas penting padanya untuk selalu berada di samping Satria, jika tidak, Bagus lebih senang sibuk mengurus bisnis yang ia bangun sendiri bersama rekan kerjanya


"Oh suaminya kak Anggi, maaf ya maa, waktu kalian nikah Kanza lagi berlibur, kak Anggi juga gak kasih tahu" ucap Kanza


"Ya" Satria hanya menjawab singkat, ia masih bertanya-tanya siapa wanita cantik ini?, mengapa ia berada di apartemen Brams?


Kanza kembali dari dapur, ia membawa minuman dan cemilan


"Diminum mas, kak, Kanza bangunin mas Brams dulu ya" Bagus mengangguk sambil tersenyum, lalu Kanza meninggalkan mereka menuju kamar Brams


"Kakak tahu kamu pasti bertanya-tanya siapa wanita tadi kan? dia calon istri Brams, mereka akan menikah dua bulan lagi"ucap Bagus sambil menyeruput kopi susu buatan Kanza


"Dia sudah punya tunangan tapi masih saja mendekati istriku" geram Satria, membuat Bagus menggelengkan kepala


"Egomu sudah mematikan logikamu" ucap Bagus sinis lalu berjalan menuju toilet, nampak sekali jika Bagus biasa bertandang kerumah Brams, ia juga tahu letak toilet dalam apartemen ini

__ADS_1


Tak lama kemudian Kanza keluar, ia menghampiri Satria


"kak Bagus mana? " tanya Kanza mengedarkan pandangan


"Toilet" jawab Satria acuh tak acuh


"Kenapa kak Anggi gak diajak mas?, sudah lama gak bertemu sama kak Anggi, terakhir kali mas Brams cuma kasih kabar kalau kak Anggi sakit, apa sekarang baik-baik saja? " cerocos Kanza


"Ya, apa kau tidak keberatan Anggi dekat dengan Brams? " tanya Satria memicingkan matanya menyelidik


Tiba-tiba tawa Kanza menggema membuat kening Satria berkerut


"Dengar ya kak, maa Brams itu sudah menganggap kak Anggi adiknya, ya walau aku tahu dulunya kak Brams pernah suka tapi di tolak terus dan aku itu tadinya sekertaris di perusahaan kak Anggi, makannya aku tahu semua tentang mereka.


Karena aku mau menikab jadi mas Brams memintaku resign.


Oh ya selamat ya, mas Brams senang sekali kemarin bilang kami sebentar lagi akan punya ponakan, bahagia akhirnya kak Anggi menemukan kebahagiaannya dengan kak Satria, pria yang selama ini kak Anggi cintai" mata Kanza berbinar-binar Ketika bercerita, tak ada keraguan dan kebohongan disana membuat Satrka meragu apakah tujuannya kesini adalah benar


"Darimana kamu tahu pria yang di cintai Anggi? " selidik Satria


"Dia sih cuma bilang jika takdir tak adil padanya, ia dipisahkan dari pria yang telab mengambil semua cintanya dan terpaksa menikahi pria lain karena keadaan, dan waktu kak Anggi sudah pisah dengan suaminya, kak Anggi mengatakan jika ia berdoa di pertemukan dengan pria itu, pria cinta pertama dan terakhir nya, dan itu mas, karena kak Anggi hany mencintai mas dari dulu hingga kini" ucap Kanza tersenyum


"Kanza tinggal dulu ya mas, masih masak di dapur, maaf ya Kanza banyak bicara" ucapnya lalu berjalan menuju dapur


Tak lama Brams keluar dari kamarnya


"Mau apa loe kesini" tanya Brams sengit langsung mengibarkan bendera perang


"Gue cuma mau nanya dimana Anggi" ucap Satria


Brams berjalan cepat kearah Satria, ia meraih kerah baju Satria dengan nafas memburu karena emosi


"Bag**t loe ya, udah gue bilang jangan sakitin Anggi lagi, loe bikin dia menderita, kenapa loe masih cari dia? seandainya gue yang bawa dia pergi, gue gak akan memberitahu suami brengsek kaya loe" Teriak Brama lalu mendaratkan bogem mentah kearah Satria


Buuuuuggghhhhh


"Loe udah nuduh dia berselingkuh sama gue sampai hamil, loe juga gak ngakuin anak itu anak loe, sedang dia cuma setia sama loe, makluk apa loe sebenarnya? loe lebih hina dari binatang" teriak Brams murka


Buuuuugghhhh


Sebuah bogem mentah kembali mendarat ke wajah Satria

__ADS_1


"Masss Brams hentikan, jangan kau teruskan mas, dia bisa mati" teriak Kanza berusaha meredakan amarah Brams, calon suaminya


"Biarkan dia mati, hidup pun hanya jadi sampah, ciiiihhh" Brams meludah, ia merasa jijik melihat Satria


"Sabar bro, jangan pake emosi gak menyelesaikan masalah" Bagas yang baru saja selesai dari toilet mencekal tangan Brams yang ingin menghajar kembali Satria, sementara Satria hanya diam saja


"Mengapa kau tidak memberitahuku jika Anggi pergi?, kenapa bro?" Tanya Brams yang kini memegang tangan Bagus


"Karena kami juga baru tahu hari ini saat kami pulang kantor" jelas Bagus


" Siapa, dengan siapa adikku itu pergi? katakan!!!, aku harus mencarinya, dia pasti sedang sedih dan putus asa karena baj***an itu" ucap Brams menatap Satria dengan muak


"Aku tak tahu pasti, tapi menurut pembantunya dia pergi memeriksakan kandungan bersama kak Ridwan"


"Ridwan ya, pasti Ridwan yang membawanya, Kanza mana ponselku, cepat ambilkan" perintah Brams pada kekasihnya itu


Kanza setengah berlari menuju kamar Brams dan kembali dengan ponsel di tangannya


Brams segera menghubungi Ridwan, namun alisnya menaut, karena ponsek Ridwan maupun Anggi tidak aktif, ia terus mencoba dan mencoba lagi


"Oh sh*** kemana kak Ridwan membawanya? apa kau tahu kemana kakakmu membawanya?? " tanya Bagus yang di balas gelengan kepala Bagus


"Kakek, kakek pasti tahu, aku akann menanyakan pada mereka" Brams kemudian menghubungi Putu


"Hallo Assalamu'alaikum" terdengar suara Putu diujung telepon


"Wa'alaikum salam, kek maaf Brams mengganggu istirahat kakek, Brams boleh bertanya sedikit? "


"Oh Silahlan cu, mau tanya apa? " tanya Putu


"Begini kek, apa Anggi beberapa hari ini menghubungi kakek atau mengatakan sesuatu, misalnya akan menyusul kakek di Bali? "


"Tidak cu, kenapa pertanyaanmu aneh, apa yang terjadi dengan Anggi? Katakan!! " terdengar Putu mulai curiga maksud pertanyaan Brams


Tiba-tiba Satria merebut ponsel Brams,


"Kek, ini Satria, apa Anggi disana? katakan dengan jujur kek, Satria mohon" ucap Satria berharap Putu bisa berkata jujur


"Dasar cucu kurang ajar, apa yang kamu lakukan lagi sehingga membuat cucu mantu kakek pergi dari rumah, jika terjadi sesuatu pada Anggi dan cicit dalam kandungannya, kakek tidak akan memaafkanmu"


**Tut .... Tut.... Tut....

__ADS_1


Panggilan berakhir**....


__ADS_2