
Satria dan Baron sedang berbicara langkah kedepan yang akan mereka lakukan, dari kejauhan Anggi setengah berlari menghampiri Ridwan dan dokter Baron
"Bbbagaimana kondisi anak saya dok? " tanya Anggi terbantah-bantah
"Alhamdulillah anak ibu sudah melewati masa kritisnya, ...
namun kami masih memantau perkembangannya dan Kinar akan menjalani prosedur pemeriksaan untuk memastikan kondisi semuanya baik-baik saja”ucap Baron menjelaskan
"Terima kasih dok, terima kasih” ucap Anggi menyeka air matanya senang
Lalu Anggi pamit masuk ke dalam ruangan ICU, melihat putri kecilnya masih tertidur, ia juga dapat sedikit lega karena operasi berhasil dan Kinar sudah akan di pindahkan ke ruangan rawat biasa.
Satria yang tak menyadari kedatangan Anggi masih saja menggenggam tangan kecil Kinar. Sesekali terlihat ia menyeka air matanya
”Mas, maafkan aku telah menyembunyikan fakta bahwa Kinar bukan anak mu, pada awalnya aku ingin mengatakannya, namun kini melihat kau seperti ini, aku takut kau membenci kami, aku dan Kinar butuh kamu mas”Anggi tertegun, merasa dilema di hatinya
Sebagian dirinya merasa bersalah namun sebagian lagi membenarkan tindakannya.
pertentangan batin yang membuatnya tak bisa tidur nyenyak karena di dera rasa bersalah
”Sayang, sejak kapan kamu datang, mengapa aku tak tahu kamu disini?” tanya Satria begitu membalikkan badannya melihat Anggi menangis
Satria lalu menghampiri Anggi, menenggelamkan kepala Anggi di dadanya yang kekar, ingin memberikan ketenangan dan kenyamanan pada wanita yang amat di cintai nya itu, namun Satria malah bingung, bukan reda tangisan Anggi makin kencang, membuatnya menepuk-nepuk punggung Anggi, membiarkannya menumpahkan perasaannya
"Menangislah jika kamu ingin menangis, jangan menahan tangis mu dah berlagak kamu kuat, ada aku, ada aku yang akan selalu berada disisimu”ucap Satria lembut membelai rambut Anggi. tangis Anggi makin sedih
”Andai, andai kau tahu apa yang aku lakukan padamu, membohongimu, apa kamu akan tetap dan akankah masih seperti ini mas? maafkan akau” lirih Anggi dalam hati, ia memeluk Satria erat seakan enggan melepaskannya lagi membuat senyum Satria merekah bahagia karena Anggi seolah menerima ia kembali
"Papa, mama” lirih suara seorang gadi kecil membuyarkan kedekatan mereka, keduanya melepaskan pelukannya dan menengok kesumber suara
Minat menatap keduanya bergantian, lalu menyunggingkan senyum polos
”Kinar juga mau ikutan di peluk”ucapnya lirih sambil membentangkan tangannya menatap Satria dan Anggi
Keduanya saling berpandangan sesaat, lalu bersamaan memeluk Kibar
”Anak papa mau di peluk juga ga, ngiri?”goda Satria yang memeluk Anggi dan Kinar
Kinar tersenyum bahagia, kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan dulu, kebahagiaan memiliki orangtua lengkap dan kasih sayang keduanya yang tak pernah ia dapatkan dari Widya ataupun Bobby
”Maaf Bu, pa, Dede Kinarnya mau pindah kamar dulu ya, harap di rapihkan barang-barang bawaan Deden kinarnya "ucap seorang suster yang terlihat canggung, mungkin sudah beberap saat ia berada di sana dan tak seorangpun menyadari
__ADS_1
Anggi buru-buru melepas pelukannya, wajahnya merona merah karena malu, jelas-jelas Satria memang memeluk Kibar dan dirinya , namun ia juga menciumi Anggi beberapa kali juga di pipi dan kening Anggi
Satria hanya tertawa dalam hati melihat Anggi yang malu-malu, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menunjukkan perasaannya dan membayar sedikit demi sedikit kesalhannya, walau ia yakin semua tak cukup untuk menebus kesalahannya
Sore itu, Kibar di pindahkan ke ruangan rawat biasa, ia juga sudah menjalani beberapa pemeriksaan dan dengan berat hati Anggi pamit pulang, walau awalnya Kibar tak mau ditinggal oleh Anggi, namun setelah Anggi membujuk dan mengatakan bahwa adiknya Aisya butuh asi , akhirnya Kinar memperbolehkan Anggi pulang, sementara Satria juga kembali ke apartemennya , sekalian mengantar Anggi pulang, setelah itu ia pulang ke apartemennya, mandi dan mengganti baju, lalu kembali lagi ke rumah sakit.
Beberapa hari kemudian
Kondisi Kibar berangsur-angsur mulai membaik, ia juga sudah bisa berjalan beberapa langkah , ia ingin segera pulang dan bertemu dengan Aisya. Kibar rindu dengan adik nya itu
”Papa, Kapan kita pulang? Kinar kangen dedek”rengek Kinar selesai menjalani Terapy
”Kinar kangen ya sama Dede Aisya?”tanya Satria mengikat rambut panjang Kinar dengan telaten
”Uh hum” gumamnya sambil mengangguk kecil
“Nanti papa tanyakan sama om dokter ya, Kinar sudah bisa pulang apa belum?" ucap Satria memberi pengertian anaknya
Keesokan harinya,
Ridwan dan tim yang menangani Kinar datang untuk mengecek kondisi Kinar, sejak Kinar siuman, keesokan harinya mereka memindahkan Kinar ke rumah sakit milik keluarganya, dimana Ridwan adalah kepala rumah sakitnya.
”Pap Ridwan, om dokter, Kinar udah sembuh kan? jadi Kinar boleh pulang dong” cerocosnya pada Ridwan dan beberapa dokter yang menangani Kinar
*Iya pa, pasti Dede Aisya cari-cari Kinar”ucapnya dengan mimik wajah serius
”Besok Kinar boleh pulang, tapi ingat masih harus cek up dan gak boleh cape-cape dulu”ucap Ridwan pelan
”Yea yea, papa Ridwan yang terbaik”ucap Kinar mencium pipi Ridwan membuat Satria memanyunkan bibirnya kesal karena merasa diabaikan Kinar
”Tuh, papa Satria kamu ngiri cuma papa Ridwan yang dapat ciuman Kinar” goda Ridwan pada Kinar
sementara semua dokter sudah meninggalkan ruangan, kini tinggal mereka bertiga
”Papa Satria juga terbaik”
"cup" sebuah kecupan mendarat di pipi Satria membuat mereka semua terkekeh senang
Keesokan harinya
Pagi ini, Kinar sudah di perbolehkan pulang, Anggi sejak subuh tadi sudah memasak di dapur, membuat makanan kesukaan Kinar, ia sangat bersyukur akhirnya Kinar bs berjalan lagi dan kembali kerumah
__ADS_1
Mobil yang mereka kendarai tiba di rumah, Anggi, Putu dan Ayu menyambut kedatangan Kinar
Tak lupa juga Prapti yang menggendong Aisya kecil
Kinar langsung turun dari mobil tanpa menunggu papanya, ia berlari ke pelukan Anggi
"Mama, Kinar kangen”teriaknya girang
Lalu memeluk buyutnya, Putu dan Ayu, menghadiahkan kecupan kecil di pipi keduanya
Matanya berbinar senang tak kala Aisya seolah tak mau kalah, ia berteriak kegirangan melihat Kinar
”Na na na”ucapnga berceloteh
Kinar menghampiri Aisya dan langsung memeluk Aisya, namun Aisya yang melihat perban di kepala Kinar langsung menariknya, beruntung Prapti menghalau cengkraman tangan Aisya
Kinar merasa kesakitan namun tak memukul adiknya hanya berkata lirih
”Adek kepala kakak sakit”ucapnya lirih
”Maafin adek ya kak, adek masih kecil gak tahu”ucap Anggi langsung mengelus pelan perban di kepala Kinar
”Kinar gak sakit kok ma, cuma dikit ucapnya walau terlihat matanya berkaca-kaca, justru Angi yang menangis
”Mama jangan nangis, yang sakit kan Kinar, Kinar aja kuat”ucapnya bangga,membuat Anggi menghapus air matanya dan menghujani ciuman di pipi Kinar
”Mama tahu kamu kuat dan mama bangga sama kamu sayang”ucap Anggi
Ayu lalu mengajak semua orang masuk, sebelum masakan di meja dingin. mereka sekeluarga makan dengan riang gembira
Setelah makan, Kinar dan Aisya di bawa Prapti bermain di kamar Kinar, sambil Kinar istirahat
Sementara Ridwan kembali ke rumah sakit , sedang Bagus masuk kerja
Ayu dan Putu menyusul Prapti ke kamar Kinar, mereka sangat rindu dengan cicit angkat mereka.
Kini tinggal Anggi dan Satria, keduanya masih tetap diam, seolah mencari kata-kata yang tepat untuk membuka percakapan
”Mas makasih”ucap Anggi lirih
”Tak perlu berterima kasih, sudah kewajiban ku merawat dan menjaga Kinar, DIA ANAKKU"ucap Satria seolah menggaris bawahi kata anak, membuat Anggi menelan ludahnya sendiri karena terkejut
__ADS_1
Anggi menatap wajah Satria, seolah mencari sesuatu yang salah disana, namun wajah Satria datar, tak berekspresi