
Kinar berjalan gontai keluar dari komplek pemakaman, ia tertegun ketika pandangan matanya tertumpu pada seseorang yang terlihat tiduran di pusaran seseorang, awalnya Kinar mengira orang tersebut sedang meratapi kepergian orang terkasihnya, namun melihat posisi orang tersebut Kinar menduga jika wanita setengah baya itu sedang tidak baik.
Kinar segera melangkah mendekatinya dan benar dugaannya jika wanita paruh baya ini pingsan, serangan jantung
Kinar dengan sigap melakukan pertolongan, ia juga mencari obat yang biasa di minum si ibu, kebetulan ia selalu membawa minuman di tas nya, ia segera membantu si ibu meminum obatnya dan memindahkan si ibu di tempat yang lebih nyaman.
Kinar sudah menghubungi ambulance dan beberapa saat kemudian datanglah mobil Ambulance, Kinar ikut duduk dalam mobil ambulance tersebut sampai rumah sakit
Dokter Nugraha yang melihat Kinar datang dengan Ambulance langsung pucat pasi karena mengira Kinar membawa Anggi, namun begitu melihat Kinar turun dengan seseorang yang tidak ia kenal, Nugraha langsung lega, namun ia masih memiliki pertanyaan dalam hati.
Dokter Dimas yang merupakan rekan Nugraha langsung memeriksa kondisi pasien , setelah semua aman baru dokter Dimas menjelaskan kodisi kesehatan wnaita tersebut.
”Jadi Om Dimas?, apa sudah baik-baik saja?" tanya Kinar khawatir
"Sudah, sekarang biarkan beliau istirahat, beliau hanya kelelahan dan banyak pikiran yang memacu kerja jantungnya lebih keras.beruntung kamu cepat menolongnya” ucap Dimas mengelus kepala Kinar
”Makasih om” ucap Kinar tersenyum lebar.
Ia memang banyak mengenal dokter di rumah sakit ini, selain karena ia adalah cicit pemilik rumah sakit ini, ia juga sejak kecil sering diajak Ridwan ke rumah sakit ini karena sejak kecil ia menunjukkan minatnya pada dunia medis sehingga Ridwan dengan senang hati mendorong dan mensuport minat anak keponakannya itu.
"Jadi Kinar, kamu sudah bisa jelaskan pada om, siapa wanita paruh baya itu?"tanya Nugraha begitu dokter Dimas telah pergi
"Jadi tadi aku ke makam om, nyekar,, terus gak sengaja lihat si ibu pingsan, ya gitu deh terusan nya sampai om tahu sendiri"ucap Kinar santai
"Kinar, om tahu kamu sedang tertekan dan sedih saat ini, namun percayalah om selalu ada buat kamu. Insha Allah mamamu akan baik-baik saja" ucap Nugraha menepuk lembut punggung Kinar
"Makasih om"ucap Kinar berusaha menyunggingkan senyum nya
"Kita hanya bisa berdoa ada orang yang mau mendonorkan ginjalnya untuk mamamu, dan untuk itu butuh biaya yang tidak sedikit.
om tahu kalian tidak mau menyusahkan Ridwan lagi, tapi menurut om Ridwan harus tahu kondisi Anggi, walau bagaimanapun kalian salah saudara. Om yakin Ridwan pasti akan bantu"
"Om, please jangan kasih tahu kakek Ridwan, please. papa dan mama gak mau terus menyusahkan kakek Ridwan. kalau om perduli dengan kelurga kami, om jangan pernah kasih tahu kakek Ridwan”ucap Kania menangkup kan tangannya ke depan memohon.
Nugraha menghela nafas, ia tak mengerti jalan pikiran Satria dan Anggi, padahal mereka merupakan cucu pemilik rumah sakit ini, namun mereka bersikeras tetap membayar walau tidak seluruhnya dan Nugraha hanya bisa pasrah.
__ADS_1
”Baiklah, tapi om tidak akan janji, jika keadaan di luar kendali, om akan memberitahukan Ridwan" ucap Nugraha
"Terima kasih om”
”Ya sudah, om balik keruangan dulu, kamu hubungi keluarga pasien, dan ingat jangan pulang malam-malam”
"Siap bos" ucap Kinar mengedipkan sebelah matanya
Nugraha meninggalkan ruang perawatan sambil menggeleng pelan, kini tinggal Kinar dengan wanita paru baya yang ia tolong beberapa waktu lalu itu
Ketika ia membalikkan badan, ternyata wanita itu sedang menatapnya dan tersenyum
”Alhamdulillah Tante sudah sadar? bagaimana keadaan Tante? apa yang sakit?"tanya Kania lembut, namun wanita itu hanya tersenyum dan menggeleng pelan
”tante, nama aku Kinar, boleh Kinar minta nomor telepon kelurga Tante untuk mengabarkan keadaan Tante"
”Mariska” ucap wanita tersebut menyodorkan tangannya berkenalan, Kinar membalas uluran tangan Mariska
”Kinar tante, oh ya mana telepon anak Tante atau suami Tante"ucap Kinar
”Suami Tante sudah lama meninggal” ucap Mariska sedih
”Tak apa sayang, suami Tante sudah meninggal sejak anak-anak masih kecil”ucap Mariska menjelaskan
”kalau begitu nomor telepon anak Tante saja" ucap Kinar
” Aku gak punya anak, walaupun punya mereka anak tak berbakti"ucap Mariska kemudian menangis.
Kinar menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia bingung harus bersikap bagaimana, dan apa yang anak Tante Mariska lakukan sehingga membuatnya bersedih
Kinar memeluk Mariska berusaha menenangkannya, setelah beberapa saat akhirnya Mariska tenang, Kinar akhirnya tetap tinggal menemani Mariska , ia menyuapi dan menemani Mariska mengobrol apa saja, rupanya Mariska orang yang suka ngobrol hingga tak terasa waktu sudah menjelang sore
”Tante, maaf Kinar harus pulang, Kinar takut mama sama papa cari-cari Kinar”ucap Kinar tak sampai hati meninggalkan Mariska, wajah Mariska langsung murung begitu tahu Kinar akan pulang
”Besok Kinar janji kesini lagi Tan"ucap Kinar kemudian membuat wajah Mariska. langsung senang
__ADS_1
"Baik sayang, hati-hati di jalan” ucap Mariska. lalu Kinar pamit, mencium punggung tangan Mariska dan sebelum pulang ia menitipkan Mariska apada suster dan meninggalkan nomor teleponnya jika tiba-tiba membutuhkan dirinya untuk memberitahukan keadaan Mariska
Sesampainya di rumah Anggi melihat mamanya sedang duduk di kursi roda menatap taman di depan halaman rumah
”Mama, kok di luar sendirian? Aisya mana?" tanya Kinar celingak celinguk
”Ais sedang ada tugas kampus, Rey, belum pulang entah kemana adikmu itu, sedang si kembar belajar kelompok di rumah temannya, mama sendirian"ucap Anggi tiba-tiba membuat Kinar merasa bersalah
”Maafkan Kinar ya ma, tadi Kinar menunggui seorang ibu yang terkena serangan jantung, ia gak punya keluarga”
"Lalu bagaimana keadaan ibu itu?” tanya Anggi berubah serius
”Alhamdulillah ma, Kinar tepat kasih pertolongan pertama terus Kinar bawa kerumah sakit”
”Alhamdulillah, mama bangga sama dokter kecil mama”ucap Anggi mencubit hidung Bangir putrinya
"Ayo ma kedalam, mama mau Kinar buatkan juice atau mau makan buah potong?” tanya Kinar memeluk manja mamanya
”Uh mama mau juice buatan anak kesayangan mama dong, sama itu kak, kita dah lama gak ngobrol di teras belakang, mau ya temenin mama”
”Apa sih yang gak buat ratuku"ucap Kinar meniru gaya papanya membuat mereka tertawa bersama
Kinar mendorong kursi roda Anggi, ia memang tak boleh terlalu lelah, sehingga ia membatasi diri untuk berjalan.
Dua gelas juice dan se toples cemilan sudah siap dibawa di meja teras belakang, mereka lalu berbincang tentang banyak hal, terkadang di selingi oleh gelak tawa
Kinar menatap sedih mamanya, ia merasa tak berguna tidak bisa membantu mamanya.
”Ma, Kinar mohon teruslah sehat dan panjang umur, Kinar sayang banget sama mama” ucap Kinar dalam hati, tak terasa air matanya meleleh, ia buru-buru menghapus air matanya karena ia tak mau terlihat cengeng di depan mamanya
”Ma, boleh gak Kinar peluk mama??” tanya Kinar penuh harap
”Haha sayang, sejak kapan kamu perlu izin peluk mama, sini sayangku”ucap Anggi merentangkan tangannya
”Ma, Kinar sayang mama"ucapnya lirih
__ADS_1
”Mama juga sayang kakak”ucap Anggi tersenyum, menepuk nepuk punggung putrinya
"Tuhan, Aku Mohon, berikan kesembuhan untuk mama hamba, hamba mohon, walau hidup hamba harus menjadi jaminannya hamba ikhlas. tolong jangan renggut mama dari sisi hamba Ya Allah” doa Kinar dalam hati. ia menggigit bibirnya agar Anggi tak tahu jika ia menangis dalam pelukannya.