
Widya masuk ke dalam kamarnya, ia mendengar suara air shower kamar mandi.
Widya duduk di tepi tempat tidur.
Ia terdiam, sejujurnya hatinya kini terasa di iris sembilu saat Satria mengatakan jika ia calon suami Anggi, walau itu yang dia inginkan, tetap saja hatinya terasa sakit hingga tak sadar ia menitikkan air mata
Terdengar suara pintu kamar mandi di buka, Widya buru-buru menghapus air matanya.
Satria terkejut melihat Widya sudah duduk di tepi kasur, menatap dirinya sambil tersenyum
"Sayang, mengapa kamu tidak mengetuk pintu kamar mandi? pasti kamu nunggu lama ya? " tanya Satria menghampiri Widya
"Aku baru saja masuk kok sayang, kamu gak apa-apa kan sayang? apa ada yang luka? " tanya Widya memeriksa keadaan Satria.
"Aku gak kenapa-napa sayang" ucap Satria menarik Widya dalam pelukannya
Widya hanya diam. ia mencium segarnya aroma sabun mandi, Widya mengeratkan pelukannya
__ADS_1
Satria mengangkat wajah Widya lalu ******* bibir sexy Widya, ******* yang awalnya pelan kini penuh nafsu.
Ciuman Satriapun kini merambat ke leher jenjang Widya
Widya mendesah menikmati sentuhan suaminya, membuat Satria makin bergairah
Ia membuka pakaian Widya dan tangannya mulai menjelajah dua bukit kembar Widya yang membengkak seiring usia kehamilannya
"ssssssshhh sayang, jangan , sudah keluar air susu" ucap Widya mengingatkan Satria yang sedang memainkan lidahnya disana.
kini Widya sudah tanpa sehelai benangpun. sejak kehamilannya bertambah, tubuh Widya menjadi lebih berisi, membuat Satria makin bergairah melihatnya, tanpa banyak bicara Satria menanggalkan kimono nya lalu langsung menyatukan tubuhnya, mereka saling mendesah dan memuaskan hasrat masing-masing, Satria akan terus menyalurkan hasratnya hingga waktu menunjukkan Sore hari.
Satria memandangi wajah istrinya yang damai dalam dalam tidur, wajah cantiknya dengan nafas yang naik turun teratur.
"Ah, apa yang aku katakan tadi, aku harap Widya tidak mendengar perkataanku tadi dengan Andy. Aku terlalu mencintai Widya dan tak ingin menyakitinya, walau ia sudab memberikan izin menikahi Anggi demi keselamatan Anggi, namun aku merasa ini tak adil untuknya"
Satria bangkit lalu menuju kamar mandi dan tak lama terdengar suara gemiricik air shower.
__ADS_1
Setelah selesai mandi dn berpakaian, Satria menuju dapur, menyiapkan makan untuk Widya dan membawanya ke kamar
Sementara dj kamar Anggi
"Prapti, apa bu Widya dan pak Satria masih di rumah atau mereka sudah pamit? "
"Masih bu, tadi saya melihat pak Satria membawa nampan berisi makanan untuk bu Widya sepertinya. Mereka belum keluar kamar semenjak pagi tadi. dan baru keluar setelah sore hari dan seperti nya habis ehmm" ucap Prapti sambil tertawa kecil
"Huss, nanti kedengeran orangnya gak enak, namanya suami istri wajar saja" ucap Anggi memperingatkan Prapti
"Bu Anggi masih ada yang di perlukan? atau mau minum sesuatu? "
"Enggak Prap, aku masih kenyang. Kamu istirahat aja"
"Nanti kalau butuh apa-apa panggil Prapti aja ya bu" ucap Prapti lalu meninggalkan kamar Anggi
"Ah mengapa ucapan Prapti mengiang-ngiang di telingaku? mengapa aku merasa sakit dan cemburu mendengar itu. melihat keintiman mereka?
__ADS_1
Tuhan, ampuni aku, sepertinya otakku sudah gila, mengharapkan seseorang yang bukan hak ku" Anggi mengela nafas panjang
"Lebih baik aku tidur daripada pikiranku gak karuan seperti ini" gumam Anggi berusaha memejamkan matanya