Suami Sewaan

Suami Sewaan
Tak Berharga II


__ADS_3

”Kak, aku merasa laki-laki paling bodoh di dunia ini. Aku dibutakan oleh cinta, yang kukira cinta namun adalah ambisi memiliki seseorang, hingga aku tak sadar wanita itu tak pernah mencintaiku dan aku selalu berfikir dan mengatakan pada diriku, cinta akan datang jika aku tulus padanya.


hingga saat Anggi datang, cinta pertamaku yang membuat ku tak bisa melupakannya.


Aku menekan perasaan itu dalam-dalam , karena aku hanya ingin setia dengan wanita yang telah ku nikahi, aku tak mau ingkar janji dan membuatnya kecewa karena memilihku menjadi suaminya, namun karena permintaannya pula aku terpaksa menikahi Anggi” Satria semakin menundukkan kepalanya, air matanya tak terasa menetes


”berkali-kali aku menolaknya, dengan alasan cinta. Namun ternyata ada alasan ia menerimanya, semata-mata hanya karena materi, baginya, aku tak berarti apa-apa, pengorbananku tak berarti apa-apa.


Wanita itu menjual ku demi sejumlah kekayaan, saat ku mencoba setia,hingga akhirnya aku jatuh cinta kembali pada Anggi dan dia meninggalkanku pergi dengan membawa anak dan harta yang di perolehnya.


Kau tahu kak, aku hanya suami sewaan , apakah aku punya hak mempertahankan Anggi? katakan kak!!!!!!” Satria menarik rambutnya sendiri, terisak


"Sebaiknya kamu tenangkan dirimu dulu, lalu pikirkan apa yanv mau kamu lakukan selanjutnya, apa kamu masih berniat mencari wanita itu atau bagaimana? itu semua kembali padamu, kakak akan membantumu selama kakak mampu" Bagus menepuk punggung Satria. Ia paham bagaimana perasaan ponakannya itu kini, bagaimana hancurnya perasaan Satria setelah mengetahui kebenarannya dan itu belum semua yang ia tahu


"Aku masih harus mencari Widya untuk menemukan anakku, dan kemudian menemukan keberadaan Anggi.


Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Anggi" Satria menatap kosong kedepan, terbayang semua kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan dulu pada Anggi dan semakin kuat ia berniat untuk memperbaikinya


"Aku pasti akan membantumu, sekarang tenangkan pikiranmu, besok kita mulai pencarian lagi" ucap Bagus pelan


Sepanjang malam, Satria tak bisa memejamkan matanya memikirkan betapa kacau nya rumahtangga nya selama ini, hingga akhirnya ia tertidur di sofa dalam kamarnya


Hari sudah siang, namun Satria belum keluar dari kamarnya, sementara Bagus sudah berangkat kerja sejak pagi


Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas siang, Satria membuka matanya dan merasa seluruh tubuhnya sakit akibat ia tertidur di sofa.


Satria merasa kepalanya berdenyut sakit, ia memijit pelipis nya pelam, berharap bisa meredakan sedikit sakit di kepalanya.


Kamarnya pun penuh puntung rokok berserakan di lantai.

__ADS_1


Satria berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin, untuk sekedar mengusir wajah lelahnya yang kurang tidur.


Kemudian Satria berjalan keluar kamar menuju ruang makan, nampak Prapti sedang sibuk memasak di dapur dengan mbok Ijah, pembantu rumah Anggi


"Pak Satria mau saya siapkan makan sekarang? tanya Prapti


"Nanti saja sekalian makan siang, saya belum lapar.


Tolong buatkan saya segelas kopi, jangan manis-manis" ucap nya singkat, lalu berjalan menuju ruang kerja


Satria menghampiri meja kerja yang terletak di ruangan tersebut, lalu menghempaskan bokoknya di kursi kerja Anggi, ia memejamkan matanya, pikirannya terus berputar


Terdengar ketukan pintu, lalu tak lama kemudian Prapti masuk dengan membawa nampan beriai kopi hitam peaanan Satria


"Kopinya pak"


"Terima kasih Prapti.


"Sudah sejak pagi tadi, mas Bagua berpesan jika ia akan berada di kantor group PA dan baru kembali ke kantor pak Satria sore hari" ucap Prapti


Satria nampak menghentika. kegiatannya, biasanya Bagus hanya akan ke perusahaan yang kakeknya berikan jika ada urusan penting, namun kali ini ia tak mengatakan apa-apa padanya


"Baiklah, terima kasih.


Oh ya tolong panggilkan mbok Ijah ke ruangan ini, saya perlu berbicara dengan beliau"


"Baik pak" ucap Prapti lalu pamit keluar dari ruangan itj, terlihat Prapti sedang berfikir keraa, mengapa Satria memanggil mbok Ijah ke dalam ruangan itu, dan pikirannya tertuju pada satu nama, Widya


"Ah pasti menyangkut wanita itu, biarkan saja, toh cepat atau lambat semua akan kebongkar" gumam Prapti berjalan santai mencari keberadaan mbok Ijah

__ADS_1


Setelah beberapa saat,


Mbok Ijah nampak ragu, ia berdiri di depan pintu ruang kerja, Mbok Ijah sudah tahu maksud Satria memanggilnya, ia tak bisa menutupi lagi jika ia tahu fakta bahwa Widya pergi dengan laki-laki lain, namun ia tak akan mengatakan apapun jika tidak di tanya


Mbok Ijah mengumpulkan keberaniannya, ia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, lalu tangannya mengetuk pintu ruang kerja


Terdengar sahutan dari dalam ruangan tersebut, dan mbok Ijah pun masuk ke dalam


ruang kerja


"Silahkan duduk mbok Ijah" ucap Satria seraya berjalan menuju sofa yang berada di dalam ruangan tersebut


Mbok ijah pun duduk di sofa sesuai perintah Satria, sedang Satria duduk di depan mbok Ijah


"Saya ingin menanyakan sesuatu pada mbok Ijah, apa mbok mengetahui sesuatu prihal Widya?, maksud saya apa ada yang Widya lakukan atau katakan pada mbok terdengar aneh? " Satria sengaja memperhalus kalimatnya agar mbok Ijah tak merasa sedang di introgasi


Mbok Ijah terdiam lama, lalu ia meminta izin keluar dari ruangan itu sebentar, tak lama kemudian ia kembali dengan membawa kotak , lalu menyerahkannya pada Satria


"Apa ini mbok? " tanya Satria. bingung, walau ia bs menebak bahwa ada benda berharga di dalamnya


"Buka aja, pak Satria akan tahu nanti" ucap mbok Ijah


Perlahan Satria membukanya dan ia tertegun, iai dalam kotak iti sesuai apa yang ia pikirkan dalam hati tadi


"Itu semua yang diberikan oleh ibu Widya beberapa waktu lalu sebelum ia pergi, beliau meberikan ini semua pada saya beberapa sudah saya jual waktu cucu saya lahiran dan harus operasi" ucap mbok Ijah merasa tak enak


"Tak apa mbok, saya tidak perduli dengan apa yang ia sudah berikan, itu sudah menjadi hak mbok Ijah, saya hanya mau bertanya apakah ada yang janggal, maksud saya... " Satria tidak meneruskan ucapannya karena ia bingung bagaimana menyampaikan ucapannya pada mbok Iyah


"Maksud pak Satria apa ibu Widya bertingkah aneh? " sela mbok Ijah mengerti arah pembicaraan Satria

__ADS_1


"Kurang lebih begitu mbok" ucap Satria menggaruk kepalanya yang tak gatal


__ADS_2