Suami Sewaan

Suami Sewaan
Anggi Yang Malang


__ADS_3

Widya duduk di teras, ia memikirkan bagaimana caranya agar suaminya mau menikah kontrak dengan Anggi.


Widya beberapa kali menghela nafas karena otaknya buntu. Ia tak menemukan cara yang akan berhasil.


Tiba-tiba Widya loncat kegirangan, ia tak menyangka otaknya encer juga. Sesaat kemudian ia tersadar saat seorang ibu-ibu yang melintasi rumahnya berteriak ngeri melihat seorang ibu hamil yang loncat-loncatan layak anak gadis dapat telepon dari kekasihnya.


Widya lalu masuk ke dalam rumahnya sambil mengelus perutnya yang membuncit


"Maafkan mama sayang, mama sampai lupa kalau ada kamu didalam perut mama" gumam Widya


Widya berdiri di depan cermin lalu mulai merias dirinya, setelah selesai ia mengganti pakaiannya dan meraih tasnya. lalu segera memberhentikan taxi.


Setelah satu jam akhirnya Widya sampai di tempat yang dituju, lalu ia bergegas turun lalu menuju gerbang sebuah rumah mewah


Seorang sekuriti menghampirinya


"Siang bu, ada yang bisa saya bantu? " tanya si sekuriti ramah


"saya mau bertemu dengan Anggi, saya temannya" ucap Widya sambil tersenyum


"Maaf siapa nama ibu, biar saya sampaikan pada bu Anggi, ibu duduk dulu sebentar" ucap security yang merasa kasian melihat Widya yang sedang berbadan dua


Security tersebut terlihat menghubungi rumah utama lalu beberapa saat kemudian dia kembali


"Silahkan bu masuk, bu Anggi sudah menunggu di dalam” ucapnya sopan sambil mempersilahkan masuk,security itu mengantar Widya sampai depan pintu, mengetuk pintu rumah "


Anggi ternyata keluar dari dalam rumah utama, ia melambai-lambaikan tangannya ke arah Widya


"Wid kenapa datang gak kasih kabar sih, kan bisa kamu jemput dan gak harus nunggu di pos satpam kan kamu bisa kabari aku" cerocos Anggi sambil memeluk Widya


"Aku cuma mampir karena kebetulan lewat dekat rumahmu" ucap widya berkilah


"Ayo masuk" ajak Anggi memegang tangan Widya masuk kerumahnya.

__ADS_1


Namun pandangan mata Widya terfokus pada wajah Anggi yang lebam dan terlihat bibirnya juga bengkak, pecah


"Anggi, wajahmu kenapa? siapa yang melakukannya? " tanya Widya memperhatikan wajah dan bibir Anggi yang lebam dan sobek


"Ah aku tadi kurang hati-hati sehingga aku terjatuh dari kamar mandi" ucap Anggi membuang muka takut Widya tahu jika ia berbohong


namun bukan Widya namanya jika ia tak bisa mengendus kebohongan Anggi


"Katakan yang sejujurnya padaku, Siapa b*ji*gan itu? " ucap Widya dingin menatap tajam Anggi sambil memegang tangan Anggi


"Sudahlah Wid, aku sedang tak ingin membahasnya" kilah Anggi berjalan namun Widya menarik tangan Anggi lalu Anggi menjerit kesakitan


"Maafkan aku Anggi, aku gak tahu tanganmu cidera" ucap Widya panik dengan wajah bersalah, sementara mata Anggi memerah karena kesakitan


"Gak apa-apa bukan salah kamu" ucap Anggi pelan


"Sekarang aku mohon sama kamu cerita siapa manusia yang gak punya hati itu sehingga membuat kamu seperti ini" pinta Widya menatap Anggi yang menundukkan kepalanya.


Anggi masih tetap terdiam menundukkan kepalanya, ia mulai menangis sesegukan


Anggi makin menundukkan kepalanya, ia menangis lebih kencang hingga bahunya terguncang-guncang,


Widya yang iba lalu memeluk Anggi


"Dasar manusia keji, kita laporkan dia ke kepolisian, biar dia tahu rasa" ucap Widya marah


"Jangan Wid, mama mertuaku masuk rumah sakit, aku gak mau beliau tambah sakit karena masalah antara aku dan mantan suamiku" ucap Anggi menahan Widya


"Baiklah jika itu yang kamu mau, mba tolong ambilkan air es dan obat luka lebam" pinta Widya pada pembantu Anggi.


Widya meminta Anggi membuka bajunya untuk mengoleskan obat, dan ketika baju Anggi terbuka Widya terpekik ngeri


Tubuh Anggi yang mulus kini penuh luka seperti bekas cambukan dan lebam di sekujur tubuhnya, di pergelangan tangan dan kakinya terdapat bekas seperti bekas di ikat tali, membiru

__ADS_1


Widya terduduk lemas, ia baru pertama kali melihat seorang wanita di siksa seperti ini, darahnya mendidih karena marah, dan ia merasa sangat prihatin dengan Anggi. Widya mulai menitikkan air mata, ia menangis dan memeluk Anggi.


Ia memang sudah mendengar jika mantan suaminya punya kelainan orientasi sex, namun melakukan penyiksaan yang tidak manusiawi, sungguh Widya tidak menyangka sama sekali akan separah ini. Widya merasa sangat bersalah telah berfikir buruk pada Anggi, nyatanya Anggi hidup tersiksa, sungguh hidup dalam neraka


"Wid, sudah jangan menangis, aku gak apa-apa" ucap Anggi berusaha menenangkan Widya, namun tangis Widya makin pecah. mereka berdua berpelukan


Setelah beberapa saat akhirnya tangis Widya reda, ia meminta Anggi berbaring terungkap.


Widya sebenarnya ingin memanggil dokter, namun Anggi melarangnya, ia tak mau masalahnya jadi panjang jika ada orang yang tahu.


Widya meminta pembantu Anggi membelikan beberapa obat-obatan yang bisa membantu pemulihan Anggi.


Untungnya apotik dekat dengan perumahan Anggi sehingga Widya segera memberikan obat untuk luka-luka di sekujur tubuh Anggi yang sebelumnya sudah di bersihkan Widya.


Anggi menahan sakitnya, ia tak mengeluh atau berteriak. namun wajah Anggi pucat dan berkeringat dingin. Anggi mengigit bibitnya yang masih bengkak untuk menahan sakit yang teramat menusuk saat di beri antiseptik maupun saat di obati.


Widya memberikan antibiotik dan penghilang sakit kepada Anggi, sehingga beberapa saat kemudian Anggi akhirnya tertidur dengan posisi telungkap


"Ya Tuhan, mengapa ada wanita yang sekuat dan sebaik Anggi harus merasakan penderitaan seperti ini?" gumam Widya merasa sangat kasian. sesama wanita ia ikut merasakan penderitaan yang di alami Anggi


Widya memandangi wajah cantik Anggi yang terlihat pucat.


pembantu Anggi yang bernama Tinah menyuguhkan segelas teh hangat pada Widya


"Makasih ya bu Widya sudah merawat bu Anggi, saya gak tega melihat keadaan bu Anggi" ucap Tinah mulai menangis


"Sudah menjadi kewajiban saya sebagai teman. Apakah Anggi sering mengalami hal seperti ini? "


"Iya bu, sebenarnya selama ini bapak selalu menyiksa bu Anggi, namun kali ini yang terparah, ya walau sebelumnya juga pernah sampai di rawat sih, tapi buat luka di tubuh bu Anggi ini yang paling parah.


semenjak mereka bercerai bapak sudah gak bisa menyiksa bu Anggi lagi, baru hari ini bapak datang dan menyiksa bu Anggi karena memaksa bu Anggi untuk menandatangani surat rujuk" papar mba Tinah


Widya mengangguk mendengarkan pemaparan mba Tinah. selepas kepergian mba Tinah, Widya mengambil beberapa foto luka yang terdapat pada tubuh Anggi dan wajahnya.

__ADS_1


Kini pemikiran Widya berubah, ia memang akan meninggalkan Satria, dan ia berfikir akan membiarkan Anggi menikah dengan suaminya dan menjadi istri kedua, bukan karena ia butuh uang, namun pintu hatinya di ketuk oleh penderitaan Anggi, jika saja dia di posisi Anggi, ia tak akan kuat seperti Anggi.


untuk biaya masa depan anaknya, ia bisa pikirkan nanti


__ADS_2