
Satria memijat tangan Istrinya yang sebelumnya di genggam Anggi sangat keras, nampak kini rangan Widya agak bengkak.
Satria lalu mengompres tangan istrinya tersebut dengn air hangat.
lalu mengoleskan dengan salep yang di berikan oleh Dokter Harun
"Sayang apa besok gak apa-apa kamu menjalani training untuk perawatan Anggi? apa gak sebaiknya kita mencari orang saja untuk menggantikan kamu? aku benar-benar kawatir"
"Mas, aku besok buka kerja keras mas, cuma melihat bagaimana agar pada saat Prapti istirahat aku bisa menggantikannya sebentar.
Aku tahu mas kawatir, tapi aku benar-benar baik-baik saja. mas percaya sama aku ya"
Widya masih melihat keraguan di wajah suaminya.
Ia bangkit dan mengecup kening suaminya. Satria reflek memeluk perut buncit Widya dan menciumnua
"Nak, papa titip mamamu ya, kamu di dalam jangan nakal ya, mama lagi banyak kerjaan, nanti kalau gak nakal, papa akan tengokin kamu hehhe"
"Ih apa sih mas ngaco ngomongnya" ucap Widya mencubit hidung bangir suaminya
"Mas, aku bahagia menikah dengan kamu.
Aku bahagia di cintai kamu.
Aku bahagia menjadi wanitamu, istrimu dan ibu darj anak-anakmu.
mas, jika suatu saat aku pergi, berjanjilah jangan benci aku, apapun itu, percayalah Aku sangat mencintaimu" ucap Widya sungguh-sungguh menatap mata indah suaminya dengan manik hitam yang jernih
"Jangan berbicara macam-macam.
Kamu gak akan kemanapun. Aku gak akan membiarkan kamu pergi dari hidupku.
__ADS_1
Aku sangat mencintai kamu.
Aku tak bisa hidup tanpamu sayang"
Satria mengecup seluruh wajah istrinya lalu memeluknya.
mereka berpelukan erat seperti tidak ingin terpisahkan lagi.
bulir air mata Widya jatuh.
Ia kini baru menyadari, jika Satria adalah laki-laki yang sangat dia cintai.
Widya merasa damai dalam pelukan suaminya, ia enggan melepaskan pelukannya
Satria menangkup wajah Widya, alusnya berkerut mendapati istrinya yang menangis
"Sayang kamu kenapa? apa ada yang sakit? bagian mana cepat katakan pada mas.
"Aku menangis karena tak rela meninggalkanmu mas,
Aku menangis karena cintaku padamu yang datangnya terlambat
Aku menangis karena membayangkan hidupku tanpamu, tanpa belaian tanganmu, tanpa senyummu, tanpa tubuh hangatmu yang mendekapku, tanpa cintamu yang menghias hariku.
Aku menangis karena saat perpisahan kita semakin dekat dan aku merasa gila karenanya" ucap Widya dalam hati.
Widya makin terhanyut dalam pikirannya dan tangisnya kian kencang. Ia memeluk erat tubuh Satria membuat suami nya makin bingung
"Sayang kamu kenapa katakan sama mas" ucap Satria mengelus rambut panjang Widya dengan penuh kasih sayang
"Aku ingin memelukmu selamanya mas, biarkan aku seperti ini" ucap widya lirih
__ADS_1
Satria membiarkan istrinya menangis menumpahkan segala isi hatinya, ia hanya diam sambil membelai rambut Widya
Setelah hampir satu jam menangis akhirnya Widya berhenti menangis.
"Apa kamu sudah puas menangis?
sekarang kamu tiduran dulu, mas akan membuatkan kamu sesuatu yang menyegarkan" ucap Satria melangkah meninggalkan kamarnya menuju dapur.
Satria langsung berkutat dengan bahan makanan dan dalam satu jam sudah siap.
Prapti berpapasan dengan Satria dan tersenyum melihat laki-laki itu masak di dapur dan membawa baki makanan menuju kamarnya.
"Apa bu Widya baik-baik saja pak? tanya Prapti
"Widya hanya sedikit kelelahan saja, kami akan makan di kamar"
"Apa ada yang bapak perlukan, biar nanti saya antar ke kamar"
"Tolong ambilkan air putih saja, Istri saya kalau malam suka minta minum"
"Baik pak, nanti akan saya antar. Permisi"
ucap Prakti sambil berjalan menuju dapur
Satria meneruskan langkahnya menuju kamarnya, disana Widya sedang duduk menantinya.
Satria dengan telaten menyuapi tom yam sea food kesukaan Widya dan segelas es teh manis.
Tak lama kemudia Prapti mengetuk pintu membawakan mereka air putih
mereka lalu beristirahat setelah lelah seharian
__ADS_1