Suami Sewaan

Suami Sewaan
Depresi


__ADS_3

Putu membuka matanya,. ia merasakan kelopak matanya bengkak, tiba-tiba ia teringat sesuatu dan bangkit, mencabut selang infus yang tertanam di tubuhnya


”Ayu.... astaghfirullah Ayu....” ucap Putu teringat keadaan istrinya


"Pa, istirahat dulu pa, papa yang sabar dan ikhlas ya” ucap Bagus dengan suara parau .


Tak berbeda dengan papanya, mata Bagus sembab karena terlalu lama menangis


”Papa mau lihat mamamu, antarkan papa menemui mamamu” ucap Putu yang seakan belum bisa menerima kenyataan kepergian wanita yang paling ia cintai.


”Pa, mama sudah pergi menghadap Illahi, papa harus kuat dan ikhlas menerima semua. ini yang terbaik buat mama pa, kini mama sudah tidak merasakan sakit lagi” Bagus berkata sambil berurai air mata


"Deg" tubuh Putu lunglai, ternyata ini bukan mimpi, betapapun ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini tidak nyata, namun kenyataannya memang Ayu sudah meninggal dunia, meninggalkan dirinya sendiri.


Tiba-tiba putu menangis lirih , ia merasa hancur.


Bagus mendekati papanya dan memeluknya, kepergian Ayu merupakan pukulan terberat bagi keluarga mereka.


terlebih papa nya yang amat mencintainya istrinya itu.


jasad Ayu sudah masuk ke dalam mobil ambulance, Putu langsung masuk ikut dalam mobil Ambulan, memandangi wajah istrinya yang pucat namun senyuman itu seolah mengatakan


”Aku telah bebas dari sakit dan kini aku bahagia”


Puti tak henti-hentinya istighfar, melihat senyum di wajah almarhumah istrinya, ia merasa jahat jika tak merelakan dan mengikhlaskan Ayu.


Sesampainya di kediaman rumah Anggi sudah banyak karangan bunga berjejer dari para relasi bisnis dan tenda serta bendera kuning sudah terpasang


Putu turun dari ambulance mengiringi jasad istrinya dengan lemah, pandangan matanya kosong, seolah ikut pergi bersama istrinya.

__ADS_1


Banyak relasi yang mengucapkan bela sungkawa, namun Putu hanya diam membisu, tak mengucapkan satu patah katapun, ia hanya berusaha tersenyum walau dalam hatinya hancur berkeping-keping.


Pemakaman Ayu di percepat, karena seluruh keluarga sudah berkumpul sehingga Putu merasa harus di segerakan demi kebaikan almarhum istrinya.


pemakaman berjalan lancar, satu persatu pengantar jenazah sudha meninggalkan pemakaman, kini tinggallah keluarga besar mereka, menanti Putu yang masih duduk terdiam menatap gundukan tanah basah di mana istrinya beristirahat untuk selama-lamanya


Puti sudah tidak menangis, ia hanya menatap kosong ke dapan sambil memegangi Nisa istrinya


”Pa, kita harus pulang, hari sudah mulai sore, papa juga harus istirahat,"bujuk Ridwan pelan


"Nak, apakah mamamu sekarang senang?” tiba-tiba Putu mengatakan hal membuat semua orang terkejut


Anggi duduk di samping kakeknya, ia mengelus punggung tua itu dan berucap lembut


”Kek, ikhlaskan nenek pergi. nenek tidak lagi merasakan sakit dan tajamnya pisah bedah lagi. percayalah, Allah maha tahu segalanya. Nenek pasti tidak mah kakek seperti ini. Nenek sangat mencintai kakek” ucap Anggi parau, ia berusaha menahan air matanya agar tak merembes keluar.


”Sekarang kita pulang yu kek, besok kalau kakek rindu nenek bisa datang lagi, Anggi akan temani kakek”ucap Anggi Putu mengangguk lemah, Anggi membantu putu bangkit dan menuntunnya berjalan meninggalkan meninggalkan pemakaman dengan langkah terseok, seolah tak rela meninggalkan pemakaman itu


Anggi membuatkan teh hangat untuk semua keluarga, ia menghapus air matanya melihat kakeknya yang masih terlihat terpukul.


Dibandingkan dengan semua orang, kakeknya lah yang paling merasa kehilangan sosok Ayu. Seorang wanita tegar dan penuh kasih sayang, yang telah mendampingi hidupnya selama lebih dari lima puluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga.


Tak lama kemudian Hujan deras turun, seolah ikut merasakan kesedihan yang mereka rasakan


”Kek, teh nya di minum dulu” tegor Anggi yang melihat kakeknya hanya terdiam


”Nak, kasian nenekmu pasti kedinginan, hujan lebat di luar, ia pasti kedinginan dan kesepian di sana sendirian. sementara kita berkumpul bersama"ucap Putu serak, air matanya menetes membasahi pipinya


”Kakek..." Anggi langsung memeluk Putu, ia juga merasakan hal yang sama , Anggi membiarkan putu menangis pelan , biarlah menangis sekarang, agar esok tak ada tangis lagi.

__ADS_1


Putu pamit istirahat di kamarnya, semua keluarga cemas, mereka takut Putu akan berbuat sesuatu yang di luar nalar karena kehilangan istrinya, namun Anggi menggeleng, ia yakin kakeknya pria yang kuat dan beriman.


Di dalam kamar Putu memeluk foto istrinya, memeluknya sambil meringkuk di ranjang yang kini terasa luas dan hampa tanpa kehadiran istrinya, tak terasa karena kelelahan akhirnya Putu tertidur


Di dalam tidurnya Puti bermimpi bertemu dengan Ayu, istri yang sangat iya cintai


”Sayang, itukahb kamu, mengapa kamu kejam sekali meninggalkanku sendirian di dunia ini???” tanya Putu yang melihat Ayu sedang duduk di sebuah ayunan terbuat dari rotan


"Hei Teddy bear ku tersayang, aku tak pernah suka meliahmu menangis. wajahmu buruk sekali ketika menangis" ucap Ayu berseloroh


”Aku tak pernah meninggalkanmu, aku selalu ada dalam hatimu. biarkan aku pergi. aku sudah tak kuat lagi menahan sakit. Sekarang aku bebas dari rasa sakit itu"


"Tapi bgaimn dengan diriku??? "tanya Putu


"Ah Teddy bear ku tersayang, teruskan lah hidupmu, aku akan selalu bersamamu. biarkan aku pergi. aku bahagia disini, lihat.,"tunjuk Ayu mengarah sebuah pasangan yang sedang bergandengan tangan menuju ke arah Ayu


” Sehat-sehatlah kamu sayang, aku selalu mencintaimu selamanya” ucap Ayu mengecup kening suaminya dan pergi sambil menggandeng tangan putri dan mantunya yang sudah lama meninggal


Suara gemuruh petir membangunkan Putu dari tidurnya, rupanya ia bermimpi bertemu dengan istri dan putrinya serta mantunya, mereka orangtua Satria. terlihat mereka sangat bahagia.


Putu tersenyum kecut, dalam mimpinya Ayu memanggilnya Teddy bear, julukan yang biasa Ayu ucapkan ketika suaminya merajuk saat awal mereka menikah


”Aku ikhlas sayang, pergilah dengan tenang”ucap Putu memandang hujan yang mulai reda.


Putu kembali tidur, ia meletakkan foto istrinya di samping tempat tidurnya,


Ia memandangi foto wanita didalam sana lekat-lekat, hingga akhirnya ia kembali tertidur


Satu bulan sudah sejak kepergian Ayu, namun suasana duka masih menyelimuti keluarga tersebut dan Hampir satu bulan itu pula Putu tak pernah absen mengunjungi makan istrinya, ia seringkali terlihat berbicara sesuatu lalu pergi, seolah ia melaporkan segala kegiatannya pada makam yang bisa berbicara itu.

__ADS_1


Ridwan, Bagus dan Satria merasa tertekan dengan sikap Putu, mereka sangat khawatir dengan keadaan putu. Walau putu dari luar terlihat sehat, namun mereka yakin Putu hanya berusaha tegar di depan anak dan cucunya, jauh di dalam hatinya ia rapuh karena kepergian matahari hidupnya, Ayu.


__ADS_2