Suami Sewaan

Suami Sewaan
Ayu II


__ADS_3

Ayu terbangun dari tidurnya, ia menyentuh samping tempat tidurnya, kosong tak ada Putu berbaring di sana.


Ayu membuka matanya dan mencari suaminya, namun Putu tak ada dalam kamar itu.


Ayu turun dari kasur, ia melihat suaminya sedang berbicara dengan seseorang dengan suara setengah berbisik


Ayu juga mendengar ia memanggil nama Ridwan, Ayu menduga jika suaminya saat ini sedang menerima telepon Ridwan atau mungkin juga suaminya yang menelpon Ridwan.


Ayu lalu berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin untuk menyegarkan wajahnya sekaligus mengusir rasa ngantuk ya.


Ayu ingin tidur, namun ia tak ingin Ridwan datang dan memeriksanya, cukup ia menyusahkan suami dan anak-anaknya, Ayu tak mau terus menerus membuat orang-orang yang ia cintai Khawatir.


Ayu memandangi wajahnya di depan cermin, terlihat pucat dengan kantong mata menghiasi wajah cantiknya yang sudah di penuhi keriput.


Ayu memoles tipis bedak di wajahnya, berusaha menutupi wajahnya yang pucat, lalu memoles tipis lipstik di bibir mungilnya.


Ayu kembali memandang bayangannya pada cermin, kini terlihat lebih baik di banding beberapa saat lalu.


Ayu menyadari ada yang tidak beres pada dirinya, namun ia berhenti memikirkannya, ia hanya ingin hidup tenang tanpa medis dan mengkonsumsi obat, cukup ia bertahun-tahun mengkonsumsi obat, ia lelah dengan semua itu.


Ayu mencoba tersenyum, memotivasi dirinya sendiri, ia kini memiliki tenaga karena mendengar Ridwan akan tiba, ia sangat merindukan Ridwan dan Bagus.


Kedua putranya itu kini sibuk dengan urusan masing-masing, terutama Bagus yang sedang menantikan anak pertama mereka.


Ayu amat sangat bahagia di kelilingi anak, cucu dan cicitnya serta suami yang mencintainya.


Putu terkejut ketika masuk kamar, ia tak menemukan istrinya, Puti berjalan menuju kamar mandi, baru saja ingin mengetuknya, Ayu keluar dari kamar mandi dengan wajah segar.


"Sayang, mengapa kamu terbangun? dan kamu mau kemana??"tanya Putu heran melihat Ayu berdandan


" aku tidak mengantuk lagi. Aku merasa putra kita akan datang.


Apa aku tak boleh bersolek karena aku sudah tua sehingga jelek?" Rajuk Ayu cemberut


Puti menangkap wajah Ayu dan mencium kening istrinya itu


”Bagiku kamu wanita tercantik di dunia, wanita hebat dan luar biasa, aku bangga memilikimu dalam hidupku”


”Gombal" ucap Ayu menahan senyum, ia selalu bahagia mendengar ucapan penuh cinta Putu, Pria yang ia nikahi berpuluh-puluh tahun lalu tetap memperlakukannya dengan penuh cinta, cintanya pada Ayu tak lekang oleh waktu


”Serius sayang, Aku pria paling beruntung di dunia" ucap Putu memeluk istrinya membuat hati Ayu berbunga-bunga


”Aku mau masak makanan kesukaan Ridwan, dia pasti rindu masakan mamanya"ucap Ayu melepas pelukannya

__ADS_1


”Apa kamu melupakan suamimu ini jika anakmu ada, huh" protes putu membuat Ayu tersenyum


"Tentu saja aku juga akan memasakkan makanan favorit suamiku tercinta” ucap Ayu mencubit hidung mancung Putu.


”Itu baru istriku" ucap Putu cengengesan


Mereka lalu berjalan beriringan menuju dapur.


Putu sangat senang menunggui istrinya masak, ia akan seperti juri mengoreksi masakan istri nya, Ayu hanya meracik bumbu dan dibantu oleh pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah Anggi.


Siang ini Anggi dan anak-anaknya tidak akan pulang untuk makan siang, bisa di pastikan mereka akan kembali saat senja, sehingga Ayu sengaja masak hanya beberapa porsi.


Satu persatu masakan tersaji di meja, Putu tak bisa menahan liurnya, ia ingin segera makan, namun Ayu melarangnya.


Tak lama kemudian Ridwan datang dengan membawa istri dan anak mereka Farel.


Mata Ayu berbinar senang, mereka obat bagi Ayu.


Ayu menyambut kedatangan mereka, Hanya kurang satu menu lagi dan Putu melarang Ayu kembali ke dapur, merkea lalu berbincang-bincang di ruang keluarga sambil menunggu menu terakhir selesai di masak.


"Kemana Satria dan Anggi ma, pa??? kok sepi banget anak-anak gak ada?” tanya Ridwan yang baru menyadari kodisi rumah yang lenggang.


Biasanya akan terdengar gaduh karena ulah anak-anak Satria dan teriakan Anggi karena mengawasi empat anak mereka yang masih membutuhkan perhatian Anggi.


Terkadang Kinar membantu Anggi mengawasi adik-adiknya yang super aktif dan saling menjailli satu dengan lainnya


Terkadang salah satu menangis karena bertengkar, namun hanya beberapa menit mereka kembali akur.


sungguh menggemaskan.


”Owh keponaknmu membawa anak-anaknya berenang, setelah itu ke wahana bermain”


”Apa Satria tidka bekerja pa? tumben ia punya waktu luang” tanya Ridwan penasaran.


pasalnya Satria sangat terkenal pekerja keras, ia kerap kali membawa pekerjaannya pulang untuk di selesaikan


Dan Ridwan menjulukinya Gila kerja.


"Ada kejadian di balik itu. beberapa hari lalu Kinar pulang menangis, ia mengadu jika di sekolahnya ia sering di bully.


Teman-teman sekelasnya mengatainya anak pungut. sebab itu Kinar sedih dan mengurung diri.


”Astaghfirullab, terus pa...

__ADS_1


Apa masalahnya sudah selesai? "tanya Ridwan penasaran


Hari itu juga keponakanmu itu langsung menghubungi guru wali kelas Kinar dan melaporkan kejadian itu.


Satria meminta izin guru wali kelas Kinar bahwa Kinar tidak akan masuk kelas beberapa hari


Satria khawatir Kinar akan trauma.


Kamu tahu sendiri bagaimana Kinar menjalani terapinya sampai ia bisa kembali hidup normal seperti anak-anak kebanyakan.


Namun trauma di dalam diri Kinar tidak serta Merta hilang.


Kinar masih memiliki rasa Trauma, ketika di taman kanak-kanak saja gurunya pernah berkonsultasi pada Anggi memberitahu jika Kinar sulit berinteraksi dengan teman-temannya, ia sangat tertutup dan pendiam.


menginjak sekolah dasar pun Kinar masih sulit berinteraksi, namun bisa di katakan lebih baik.


Ia bisa berinteraksi walau masih terbatas” terang Putu panjang lebar


"Ridwan mengerti kekhawatiran Anggi dan Satria.


Tak mudah bagi anak sekecil itu bertahan dan bangkit dari traumanya.


Ridwan mengacungi jempol pada Anggi dan Satria yang telaten merawat dan mendidik Kinar sehingga kini Kinar memiliki rasa percaya diri dan bisa bangkit dari traumanya walau tak bisa hilang begitu saja”


"Kakek setuju padamu nak.


Walau bagaimana pun Kinar harus tahu jati dirinya sebenarnya


dari mana dia berasal dan orangtuanya yang sesungguhnya.


Namun untuk saat ini, kita harus menyimpannya rapat-rapat samapi saat nya tiba”ucap Putu


”Ya pa, Ridwan setuju dengan pemikiran papa"


”Pa, kakak Kinar mana? tanya si bungsu farel


"Kak Kinarnya lagi berenang.


Farel mau berenang? tanya Ridwan berjongkok di depan putranya, mensejajarkan tubuhnya dengan Farel


”Mau pa, mau" teriaknya melompat-lompat


"Kalau mau berenang kaya kak Kinar, farel harus makan.

__ADS_1


Pak dokter aja suruh Farel makan biar gak di enjus pake jarum suntik"ucap Ridwan sedikit menakuti anaknya


__ADS_2