Suami Sewaan

Suami Sewaan
Pulang II


__ADS_3

"Bila kamu menolak bapak akan sangat kecewa, anggap saja bapak mengantar putri nya pulang, jangan lihat seragam yang bapak pake jika kamu canggung"


Anggi terlihat bingung, ia menatap bu Kar yang mengangguk.


Akhirnya Anggi pun mengangguk setuju


"Bu, Anggi pulang dulu ya bu, lain kali Anggi main lagi, masakan ibu enak banget, Anggi sampe kekenyangan"


"Tentu saja, ibu tunggu. Sekarang kamu pulang dan istirahat ya, ingat pesan ibu"


"Baik bu"ucap Anggi mencium punggung tangan bu Kar, ia lalu mendekati pak Sardi yang sudah menunggunya di pinggir jalan, dengan membawa sepedah motor kesayangannya


Tiba-tiba sebuah mobil hitam menepi dan keluarlah seorang pria yang langsung mendekati Anggi


"Anggiiii... " panggil si pria yang terlihat lega karena melihat keberadaan Anggi


Anggi menoleh ke arah sumber suara dan melihat Brams yang lihat panik sekaligus senang karena menemukan dirinya


"Mas Brams? " ucap Anggi pelan


Bu Kar dan pak Sardi saling memandang, mereka seolah melemparkan pertanyaan pada tatapan mereka, lalu keduanya memandang Anggi secara bersamaan


"Bu, pak, kenalkan dia mas Brams sahabat Anggi yang sudah seperti saudara laki-laki bagi Anggi" ucap Anggi memperkenalkan Brams pada bu Kar dan pak Sardi


Brams tersenyum kecut, ia sadar posisinya tak akan pernah lebih dari seorang kakak di mata Anggi, namun ia kini bisa sesikit bernafas lega karena sudah menemukan keberadaan Anggi setelab beberapa saat yang lalu ia seperti orang gila mencari Anggi hingga menelusuri jalan raya.


Brams juga menyebar anak buahnya untuk mencari keberadaan Anggi di beberapa rumah sakit, kawatir jika Anggi mengalami kecelakaan karena kondisi kejiwaan Anggi yang sedang down saat ini.


"Mas, kamu pulang lah lebih dahulu.


Aku baik-baik saja, biar pak Sardi yang mengantar ku" ucap Anggi tiba-tiba membuat Brams terkejut, pasalnya ia hanya melihat pak Sardi dengan motor tua nya saja, Brams sangsi akan keselamatan wanita tersebut


"Tapi... apa kamu yakin? " ucap Brams sangsi, ia ragu-ragu membiarkan pak Sardi mengantar Anggi dengan sepedah motor tua nya


"Mas, aku baik-baik saja, percaya lah.

__ADS_1


sebaiknya mas pulang dan istirahat.


Aku tak mau mas Satria salah paham lagi akan hubungan kita, walaupun diantara kita tidak ada hubungan apapun" ucap Anggi dengan suara sedikit bergetar , ia tak tega menyakiti perasaan Brams, namun ia merasa harus menegaskan batasan antara dirinya dan Brams menjadi garis lurus yang tidak abu-abu lagi.


Walau mereka memang tak ada hubungan apapun, namun kedekatan mereka akan di salah artikan oleh siapapun yang melihat nya, terlebih Brams tak bisa menyembunyikan tatapan penuh cinta nya pada Anggi


"Maafkan aku sudah membuatmu sepertj sekarang ini" ucap Brams tiba-tiba membuat Anggi makin merasa bersalab pada pria ini"


Bu Kar dan pak Sardi berjalan meninggalkan mereka berdua karena sepertinya mereka butuh privasi


Anggi mendekati Brams, hati nya serasa hancur melihat Brams terluka.


Pria ini mencintainnya sejak lama, memberikan perhatian, melindungi nya. namun berpapun kerasnya Anggi berusaha mencintai Brams, rasa itu tidak pernah lebih dari kasih sayang nya pada seorang kakak


"Brams, aku menyayangimu seperti kakak ku, aku tak bermaksud menyakiti hatimu, maaf kan aku" ucap Anggi menghapus air mata yang keluar dari mata nya yang indah


"Jangan menangis, aku tak sanggup melihat mu bersedih, tolong jangan menangis.


Aku akan menuruti apapun yang kamu minta.


"Brams, aku selalu berdoa suatu saat kamu bertemu dengan seseorang yang sempurna untukmu, aku selalu berdoa untuk itu" ucap Anggi mulai terisak


"Sayang nya bagiku kamulah wanita sempurna itu, biarkan aku mencintaimu dengan caraku. melihatmu bahagia walau tak bersamaku, itu lah cara ku menunjukkan besar nya cintaku padamu" gumam Brams dalam hati. Bram berusaha tersenyum tipis, walau hatinya terasa di cabik-cabik


"Terima kasih" ucap Anggi memeluk Brams erat.


Laki-laki yang sudab menemani nya dalam suka dan duka, namun kini Anggi harus menjaga jarak dengan nya demi rumah tangga nya dengan Satria.


Brams menghapus air mata Anggi, ia mencoba berlapang dada dan tak mau Anggi kawatir pada dirinya


"Sekarang kamu pulang dan istirahatlah, berjanjilah padaku seberat apapun masalahmu, jangan kamu lakukan hal seperti tadi lagi, kamu membuat aku gila karena mencarimu.


Jika kamu ingin menemuiku, kamu tahu di mana kamu bisa menemukan ku.


Berjanjilah hidup bahagia, dengan begitu aku bisa tenang melepaskanmu" ucap Brams lembut

__ADS_1


Anggi tak bisa berkata apapun, ia hanya mengangguk pelan, tak mampu berkata apa-apa, air mata nya seakan tak bisa di bendung, Anggi memeluk Brams erat seolab tak rela melepaskan nya


Setelah beberapa saat akhirnya tangis Anggi reda, Brams dengan telaten merapihkan rambut Anggi dan menghapus air mata wanita itu


"Kau kalau menangis jelek sekalj, bagaimana aku bisa menyukaimu, pasti kau sudah mengguna-gunaiku" ucap Brams berseloroh sambil memanyunkan bibir nya


Anggi akhirnya terkekeh geli melihat tingkah Brams


"Aku memang mengguna-gunai mu, apa kau puas? " ucap Anggi masih tertawa


"Ternyata kamu wanita yang kejam" jawab Brams


"Sudah sekarang kamu kembali, kakek dan nenek pasti kawatir padamh, jangan lupa memberi kabar padakh jika kau sudah sampai rumah" ucap Brams mengelus puncak kepala Anggi, layaknya seorang kakak mengelus adiknya


"Siap bos, aku pulang dulh ucap Anggi memeluk Brams sekilas lalu berjalan mendekatk pak Sardk, mereka lalu berboncengan membelah kemacetan ibu kota menuju rumah Anggi


Sementara Brams masih terpaku menatap kepergian Anggi


"Ibu bangga padamu nak, ibu yakin kamu mencintai Anggi sangat besar hingga rela melepaskan dia bahagia dengan pria yang dincintai nya" ucap bu Kar memecah lamunan Brams


"Mencintai tanpa memiliki itu sakit bu" ucap Brams tersenyum getir"


"Ibu tahu rasanya itu, kah laki-laki hebat, suatu saat akan mendapatkan wanita hebat sebagai pendamping hidupmu" ucap bu Kar menepuk pelan bahu Brams


"Semoga saja bu" ucap Brams tak yakin bisa jatuh cinta lagi, bu Kar hanya tersenyum, ia bisa melihat rasa tak percaya pada diri Brams


"Tidak ada yang tidak mungkin nak, jika Allah menghendaki terjadilah maka terjadi lah.


Allah maha membolak balikkan hati manusia" ucap bu Kar bijak


"Apa kau sudi mampir dan minum kopi di gubuk wanita tua ini? " tanya bu Kar lagi


"Tentu, kebetulan aku tak tahu apa yang akan ku lakukan saat pulang nanti"


"Jangan berharap gubuk ku seindah cafe, itu hanya tempat kopi kelas bawahan" bu Kar menerangkan, ia kwatir Brams tidak nyaman menikmati secangkir kopi di kios nya

__ADS_1


"Yang utama itu rasa kopi nya bu, aku juga pernah merasakan hidup susah, ibu tak perlu kwatir aku tak nyaman" Brams berusaha tersenyum, ia memang tak memiliki tujuan lagi, Brams enggan pulang ke apartemen nya, selain itu Anggi sudah menceritakan prihal bu Kar padanya walau sekilas, Ia menerima tawaran bu Kar sebagai rasa terima kasih karena berkat beliau Anggi bersedia pulang, selain itu saat ini Brams butuh teman bicara.


__ADS_2