Suami Sewaan

Suami Sewaan
Hilang Akal II


__ADS_3

Anggi terbangun dari tidur nya, ia langsung melangkah keluar kamar nya mencari keberadaan suaminya


Prapti yang melihatnya langsung berlari menghampiri Anggi


"Ibu lebih baik di kamar aja, biar saya bawakan makan dan minun ke kamar"


"Saya belum lapar, kemana suami saya? Apa sudah ada kabar mengenai mba Widya? "


"Belum bu, bapak masih belum pulang sejak pagi tadi, dan belun ada kabar mengenai bu Widya"


Terlihat Anggi menghelan nafas berat


"Apa sebelumnya mba Widya menunjukkan sesuatu yang mencurigakan, ah maksud saya gerak geriknya atau apa saja yang bisa menjadi alasan kepergiannya"


"Sebenar nya sih ada bu, sebentar" ucap Prapti berjalan menuju kamar nya dan tak lama kemudia ia kembali dengan membawa kotak perhiasan


Prapti menyerahkan kotak di tangannya pada Anggi


"Apa ini? " tanya Anggi bingung menatap Prapti


"Itu di berikan bu Widya.


waktu itu bu Widya bilang kalau kalung itu kenangan-kenangan dari beliau, saya sudah menolak tapi bu Widya memaksa.


Bu Widya juga meminjamkan rumah nya untuk fi tempati mbok Ijah dan anak nya"


"Mengapa kamu tidak memberitahu saya?"


"Maaf bu, saya gak kepikiran kalau itu penting" ucap Prapti menundukkan kepala merasa bersalah


"Apa ada hal lain yang kamu tahu atau menjadi petunjuk kemana mba Widya pergi? "


"Anu bu, sejak ibu sama bapak pergi, ah sebelum malah kurang lebih sebulan lalu saya sering memergoki Widya menerima telepon secara sembunyi-sembunyi dan saat ibu dan bapak bulan madu bu Widya lebih sering nerima telepon terus pergi.


Kamar bu Widya waktu itu ada travel bag di samping tempat tidurnya beberapa buah, saya pikir itu buat nanti persalinan karena saya buka baju-baju bayi isinya"


"Arggghhhhh mengapa kamu tidak beritahu saya sebelumnya Prapti??? " teriak Anggi frustasi, banyak kejanggalan namun ia sendiri mengabaikannya.


Widya juga memberi ia kenang-kenangan berupa gelang tangan, dan ia tak menaruh curiga sedikitpun padanya, bagaimana ia bisa memarahi Prapti ?

__ADS_1


Mereka berdua sama-sama tak tahu apa-apa


"Prapti saya minta maaf, saya tidak bermaksud menyalahkan kamu" ucap Anggi


"Gak apa-apa bu, harusnya saya lebih teliti lagi"


"Gak Prapti, kita sama-sama tidak menduga akan hal ini. kamu tolong hubungi Brams sekarang" ucap Anggi menuju ruang kerja nya


Sementara di luar sana


Satria awalnya mendatangi tempat yang biasa Widya kunjungi, berharap ia akan menemukan istrinya di sana.


mendatangi rumah sahabat Widya satu persatu untuk mencari keberadaan Widya


Sejak pagi Satria belum makan, lapar dan haus ia hiraukan, dipikirannya hanya satu, harus segera menemukan Widya.


Hingga mereka sampai di kediaman Tia dan Aris sahabat Widya yang baru menikah sebulan lalu.


Satria nampak ragu-ragu, ia merasa tak enak mengganggu pengantin baru, namun keinginan untuk menemukan istrinya lebih kuat.


Tok tok tok


"Satria? ada apa loe tumben ke rumah gue? "


"Siapa sayang?? "tanya Aris dari dalam rumah


"Satria mas"


"Hei Bro, ayo masuk" ucap Aris menarik tangan Satria


"Sorry, gue buru-buru, gue cuma mau nanya kalian lihat Widya gak? "


"Widya? lah emang kemana istri loe bro? " tanya Aris bingung


"Widya pergi dari rumah semalam dan sampai kini gak ada kabar"


"Astaghfirullah, kemana si Widya tuh mana lagi bunting gede" ucap Aris dengan logat betawi kentalnya


"Hus mas, hamil" ucap Tia menyenggol tangan Aris

__ADS_1


"Emang Widya gak ada bilang apa gitu sama kamu? " tanya Tia lembut, ia sangat tahu jika Satria sangat mencintai Widya sahabatnya itu, namun sepanjang yang Tia tahu Widya tidak mencintai Satria, sehingga ada rasa iba melihat kondisi Satria saat ini yang terlihat terpukul dengan kepergian Widya


"Gue lagi di bali sama Anggi" ucap Satria lirih


Mereka tidak mengetahui jika Satria menikah sirih dengan Anggi, karena pernikahan mereka hanya kerabat dari Anggi dan dokter Brian yang hadir, sedang sahabat Widya tak seorangpun yang hadir karena permintaan Widya.


"Anggi? "


"Ah sudah lah ceritanya panjang, tolong kabari aku jika kalian melihat Widya, aku sangat kwatir dengan keadaan nya dan anak dalam kandungan nya"


Tia mendekati Satria dengan segelas air di tangannya karena melihat bibir Satria yang mengering, pasti pria ini sudab seharian mencari Widya


"Minum dulu air ini, sekawatir apapun kamu sama Widya, ingat kesehatanmu sendiri, bagaimana kamu bisa mencarinya jika kamu sakit" ucap Tia lembut


"Terima kasih Tia" ucap Satria mengambil air minum yang di berikan Tia lalu meneguk nya hingga tak tersisa


"Loe sebaiknya makan dulu sama kita, baru terusin pencarian loe, apa yang Tia omongin benar.


Kita boleh panik tapi otak kita harus tetap dingin" ucap Aris menambahkan


"Terima kasih atas tawaran kalian tapi gue perlu kesatu tempat lagi, gue mau ke rumah Evi"


Tia masuk ke dapur dan kembali dengan membawa kotak makan berisi roti


"Kalau kamu gak mau makan disini, setidaknya bawa ini sebagai pengganjal perutmu, kami akan mengabarkan jika kamu punya info mengenai Widya. " ucap Tia lagi


"Gue cabut dulu ya, terima kasih" ucap Satria melangkah meninggalkan rumah Tia


Tia lalu berlari mendekati Satria yang hendaj membuka pintu mobilnya


ia sunggu merasa kasian dengan Satria, pria sempurna yang dikhianati oleh sahabat nya itu


" Satriaaa....


Setiap kejadian ada sebab, setiap perbuatan ada ganjaran yang harus di bayar.


Sabar dan berserah diri. Allah punya rencana di balik itu semua" ucap Tia menepuk punggung Satria


Walau Satria tak mengerti maksud ucapan Tia, namun satu hal yang ia pahami bahwa ia harus berbaik sangka dengan sang pencipta walau apapun yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2