
"Sebenarnya....” Nugraha diam lama, terdengar helaan nafasnya
”Kinar mohon om”
”Sebenarnya siang tadi mamamu tak sadarkan diri, om langsung meluncur ke rumahmu, Kinar, kita sudah tak bisa menunda lagi operasi mamamu atau prosentase keberhasilannya menurun.
Apapun yang terjadi operasi itu harus segera, bulan ini juga” ucap Nugraha lirih.
”Mamaaaa” pekik pelan Kinar, ia menangis jatuh terduduk.
Disini ia merawat orang lain, sedang mamanya sendiri tak sadarkan diri ia tak tahu, anak macam apa dia.
Dan operasi itu, Ah Kinar sungguh tak tahu harus apa
”kinar, Kinar, sayang???? kamu masih disana?
Kamu dimana biar Gerald menjemputmu nak” ucap Nugraha panik
”Kinar gak apa-apa om, Kinar akan usahakan agar mama secepatnya di operasi, Kinar pergi dulu, assalamu'alaikum” ucap Kinar mengakhiri panggilannya
Ia menangis menutupi wajahnya, pikirannya langsung teringat perkataan Mariska.
Kinar setengah berlari langsung menuju ruangan dimana Mariska dirawat
Kinar menerobos masuk begitu saja membuat Damar dan Mariska terkejut dan menatap heran melihat Kinar Yaang ngos-ngosan dan wajahnya yang pucat
"Tante, Kinar perlu bicara sama tante” ucapnya langsung tak menghiraukan tatapan heran Mariska dan Damar.
Mariska memberi kode pada Danar untuk keluar.
Damar bangkit dan meraih air mineral di atas meja kalau menyerahkannya pada Kinar yang masih mengatur nafasnya.
Terlihat Kinar kehabisan nafas karena berlari, apapun itu Damar yakin hal yang akan di sampaikan Kinar sangat penting sehingga ia kembali ke ruangan mamanya dengan berlari
"Minum dulu air ini dan tenangkan diri loe"ucap Damar menyerahkan gelas mineral kepada Kinar dan berjalan keluar, tak lupa ia menutup pintu kembali.
Kini tinggallah Mariska dan Kinar
Mariska membiarkan Kinar menetralkan nafasnya dulu dan meminum air yang di berikan Damar.
Kinar berjalan menuju sisi tempat tidur Mariska dan menggenggam tangan Mariska
"Tan, Apa tawaran Tante beberapa saat lalu masih berlaku??” tanya Kinar menundukkan kepalanya
Ia merasa berat membuat keputusan ini, namun mamanya sudah tidak bisa menunggu lagi.
Sebenarnya keluarga papanya sangat kaya, hanya mengeluarkan beberapa ratus juta bukan masalah, namun kedua orangtuanya sudah memperingatkan Kinar agr jangan terus menyusahkan mereka
”Nak, apa yang membuatmu berubah pikiran cepat? bukankah kamu bilang butuh waktu?” tanya Mariska lembut membuat Tangis Kinar pecah hingga tubuhnya terguncang hebat
Mariska sadar jika ini menyangkut mamanya, i sangat tahu jika Kinar sangat menyayangi mamanya, di beberapa ceritanya Mariska bisa menangkap betapa Kinar sangat mencintai mereka, terutama mamanya
__ADS_1
Mariska hanya bisa memeluk Kinar, membiarkan ia menumpahkan semua kesedihannya, hingga beberapa saat kemudian Kinar sudah bisa menguasai perasaannya
”Apa ini berhubungan dengan mamamu nak?” tanya Mariska hati-hati
Kinar meneteskan air matanya, ia mengangguk pelan
”Baiklah, apa yang bisa Tante lakukan untukmu???”
”Tante Kinar mohon, beri Kinar uang , Kinar bersedia menikah dengan Dimas” ucap Kinar lirih
”Baiklah, berapa kamu mau?” tanya Mariska
”Lima ratus juta Tante, jika Tante merasa keberatan, Tante katakan saj mau kasih Kinar berapa, sisanya Kinar hutang, nanti Kinar bayr cicil dari Tante” ucap Kinar takut-takut, karena ia tak yakin Mariska kan memberikan uang sesuai nominal yang ia sebutkan
”Tante akan memberikan kamu Enam ratus juta, tapi apakah kamu yakin akan menikah dengan Dimas?”
”Yakin Tante, ini Kinar cuma butuh lima ratus Tan" ucap Kinar bingung.
Alih-alih berkurang malah Mariska menambahkan uang yang akan dia berikan sebagai kompensasi menikah dengan Dimas.
”Pernikahan akan Tante undur Dua minggu lagi dengan alasan kesehatan Tante.
Dua hari lagi Tante akan keluar rumah sakit, dan hari yang sama Tante akan datang melamar mu secara resmi pada kedua orangtuamu.
sisany Tante serahkan padamu bagaimana kamu menjelaskan pada orangtuamu" ucap Mariska
Kinar masih terdiam, ia tak tahu harus berkata apa
”Bukan begitu Tan, tapi...” Kinar terlihat ragu sejenak
" Katakanlah, Tante akan mendengarkan”
” Sebenarnya keluarga Satria bukan ayah dan ibu kandungku, aku cuma nak asuh mereka"ucap Kinar menggigit bibirnya, tak terasa air matanya jatuh
"Lalu kepada siapa kami harus melamar mu ?” Mariska bisa melihat kesuraman di mata Kinar, ia menduga latar belakang gadis ini tak sesimpel kelihatannya
”Mama dan papa Kinar sudah meninggal. Tinggal kakek dan nenek serta om Kinar.
Tapi Tante, Kinar mau Tante juga datang melamar pada papa dan mama.
mereka orangtua bagi Kinar. maaf jika Tante berkenan, dan Kinar mohon"
"Tentu saja sayang, kamu atur waktunya dan masalah waktu pernikahanmu harus bulan ini juga”
"Baik Tante, terima kasih, Kinar pamit, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam, oh ya Kinar terima kasih kamu sudah menyelamatkan Tante dan keluarga Tante.
mengenai uang yang 100 juta itu bisa kamu gunakan untuk membeli semua keperluan mu menikah nanti.
Kinar terbengingy kemudian mengangguk pelan, ia mencium punggung tangan Mariska lalu berjalan pelan keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Lututnya serasa lemas, secara tak langsung ia sudah menjual dirinya pada keluarga Mariska
Di luar ia bertemu dengan Damar yang memang sudah menantikan dirinya, Damar tersenyum , Damar tahu maksud kedatangan Kinar
”Aku akan antar kamu pulang”ucap Damar
”Enggak usah Damar, aku bisa pulang sendiri, lagian siapa yang akan menunggui mamamu”
”Kondiai mama sudah baik, tak perlu khawatir.
Mengetahui kamu bersedia jadi mantunya, aku yakin besok juga ia sudah minta pulang, tunggu sebentar” ucap Damar masuk kedalam kamar rawat
Kinar tertegun mendengar perkataan Damar, ia tak mengerti maksud ucapan Damar, tak lama kemudian Damar keluar, mereka lalu berjalan menuju parkiran basemen rumah sakit.
Selama perjalanan Kinar lebih memilih diam, menatap kosong ke luar jendela.
Hatinya hampa, begitu berat keputusan yang ia ambil.
Dengan menikahi Dimas ia sadar kebebasannya akan hilang, ia tak bisa mengejar cita-citanya jika suaminya melarang, bahkan bertemu orang-orang yang ia sayangi pun akan berkurang waktunya
berkali-kali Kinar menghela nafas, Damar berkali-kali juga melirik tanpa berkata apa-apa.
Damar sadar apa yang Kinar lakukan subgguhy berat baginya
”Terima kasih"ucap Damar tiba-tiba
”Untuk???” tanya Kinar mengerutkan alisnya
"Untuk mau menjadi menantu mama, untuk pertolonganmu pada mamaku, untuk semuanya terima kasih” ucap Damar menatap sekilas pada Kinar, kemudian fokus pada jalanan di depannya
”Tak perlu berterima kasih, aku melakukannya ikhlas, kecuali...
Aku tak perduli pandangan mu tentangku, yang jelas aku butuh uang itu” ucap Kinar pelan menatap jalanan di depannya
”Aku tahu alasanmu, tetap aku harus berterima kasih.
kamu Dewi penolong keluarga kami” ucap Damar tersenyum
”Dewi penolong? Dewi penolong palsu, please damar jangan buat aku tertawa”
”Aku tak sedang tertawa, aku serius” ucapan Damar terdengar serius
”Terserah” Kinar menutup matanya, ia merasa tertekan
"Haruskan aku memanggilmu kakak ipar? ah rasanya tak enak tapi jika nama saja mama pasti akan memarahiku" gerutu Damar
Kinar masih diam tak menjawab
”bagaimana jika Kiki, ah seperti merk buku, atau inar? jeleknya ah aku harus panggil apa? ada saran? " celoteh Damar
Kinar mau marah, namun lucu, ia lebih baik memilih diam membiarkan pemuda itu ngomong sendiri.
__ADS_1
ah Damar sosok pemuda yang menyenangkan, andai saja calonnya seperti dia Kinar juga tak kan tertekan sekali, nyatanya calonnya kalau seperti kayu dan satu lagi arogan.