
"Kak, aku mau tanya informasi terbaru tentang Widya" ucap Satria tiba-tiba
"Hah tumben Satria tidak mengatakan istri saat memanggil nama Widya, ia terlihat emosi dan tertekan, apa mungkin ia sudah tahu kebenarannya? " gumam Bagus dalam hati
"Aku ingin memastikan sesuatu yang mengganjal pikiranku, sebelum aku fokus mencari Anggi" ucap Satria seolah tahu apa yang Bagus pikirkan dalam hati
"Aku menduga Widya telah membodohiku selama ini" ucap Satria menatap Bagus, lalu ia tertawa dingin melihat ekspresi Bagus
"Aku duga kau sudah tahu kebenarannya kan kak? melihat ekspresi wajahmu yang tak terkejut sama sekali" ucap Satria marah pada dirinya sendiri, ternyata ia benar-benar buta karena cinta palsu, atau obsesinya selama ini
"Aku tak bisa berbohong lagi, aku sudahtahu, namun jika ku katakan saat itu, kamu tak akan percaya padaku.
Atau mungkin kau malah akan berbalik menuduhku yang tidak-tidak, jadi biarlah kebenaran itu kembali padamu" ucap Bagus
"Apa yang kau tahu selama ini kak, katakan" teriak Satria tak sabar
"Apa kau bisa tenang sedikit, kemarahan tak menyelesaikan masalah, belajarlah dari hal yang terjadi sebelumnya" ucap Bagus lalu bangkit dan melangkah menuju ruang kerja, tak la kemudia ia kembali dengan beberapa lembar foto
Satria melihat foto itu satu persatu, tak terlihat Widya yang ketakutan atau tertekan, ia seperti biasa tak terjadi apa-apa, padahal jika melihat dari tanggal di foto, Widya saat itu sudah meninggalkan Satria
"Wanita ini, apa yang sebenarnya terjadi, apa... ?"
Satria berhenti di salah satu foto yang memperlihatkan Widya sedang berada di sebuah rumah sakit dengab seorang pria yang wajahnya tak asing
"Pria ini teman Widya, apa hubungan Widya dengan pria ini? "gumam Satria dalm hati
"Apa kau punya info dimana dia berada? " tanya Satria datar
"Apa kau akan mencarinya lagi? " tanya Bagus bingung
"Aku akan mencarinya untuk yang terakhir kali, aku ingin tahu apa alasan dia meninggalkanku.
Semuanya nampak begitu mencurigakan, aku ingin memastikan sesuatu yang mengganggu hatiku"
"Aku tak tahu pasti di mana, karena tempat ia tinggal berpindah-pindah, dan sepertinya ia sudah melahirkan dua bulan lalu" ucap Bagus
__ADS_1
"Baik kak, terima kasih" ucao Satria lesu
"Sebaiknya kita sarapan dulu, biar pikiran kita jernih, setelah itu kita pikirkan langkah kedepannya" ucap Bagus berjalan menuju makan
Satria berjalan mengikuti Bagus menuju meja makan, mereka sarapan tanpa bersuara, sibuk dengan pikiran masing-masing
Keeaokan harinya
Bagus sudah jalan kantor pagi-pagi sekali karena menuju perusahaannya sendiri
Satria baru saja bangun tidur, ia tak bisa memejamkan mata semalam memikirkan Widya dan Anggi
Satria berjalan lesu kearah meja makan, meneguk kopi pahit yang sudah di siapkan Prapti, ia juga langsung menyantap nasi goreng di depannya
Pikirannya terus berputar memikirkan Widya dan semua hal yang mencurigakan baginya
"Prapti" panggil Satria ketika Prapti melintas di depannya
"Apa kau tahu sesuatu yang lain tentang Widya? "
"Maksud bapak? " tanya Prapti tidak mengerti
"Sebentar" Prapti berjalan ke kamarnya dan kembali lagi dengan membawa kotak perhiasan di tangannya
"Ini adalah perhiasan yang di berikan oleh ibu Anggi, salah satu nya saya yakin adalah milik mba Anggi, namun entah memgapa ada di tangan bu Widya, apa bapak tahu jika bi Ijah kini tinggal di rumah bapak yang dulu? bi Ijah juga mendapat cinderamata berupa kalung klo gak salah" ucap Prapti mencoba mengingat-ingat
"Rumah? sejak kapan rumah itu milik Widya? itu rumah yang kami kontrak, dari mana ia mendapatkan uang? " tanya Satria seolah bertanya pada dirinya sendiri
"Sebaiknya bapak mencari sendiri, mungkin bapak akan menemukan sesuatu di kamar mba Anggi, saya permisi" ucap Prapti misterius
Satria yakin Prapti tahu sesuatu yang ia tak ketahui, dengan bergegas ia menuju kamar Anggi, membuka meja rias Anggi dan lemari Anggi, namun ia tak menemukan apapun di sana
Satria duduk di tepi ranjang, ia sedang berfikir keras, apa maksud ucapan Prapti
Tiba-tiba Satria bangkit, ia berjalan menuju ruang kerja Anggi dan mulai mencari sesuatu yang bisa ia jadikan bukti
__ADS_1
ia menemukan sebuah brankas di dalam meja kerja Anggi
Selama ini ia hanya beberpa kali masuk, itupun hanya untuk mengerjakan tugas kantornya, segingga ia tak pernah sekalipunengutik-utik atau memperhatikan ruang kerja itu
Satria mencoba memasukkan tanggal lahir Anggi, angka acakq sampai tanggal mereka dulu pacaran, Satria juga memasukkan tanggal lahirnya namun hasilnya sama brankas tetap tak terbuka
Satria terlihat putus asa namun penasaran, ia lalu memasukkan tanggal pernikahannya dengan Anggi
C**rekkkk**
Pintu brankas terbuka, Satria segera membuka dan melihat isi dalam brankas
Anggi menyimpan uang dolar beberapa tumpuk, mas batangan murni di rak selanjutnya dan ada beberapa. dukumen dalam map disana
Satria mengeluarkan map tersebut dan membukanya
Surat bukti kepemilikan saham di beberapa perusahaan dan yang membuat alisnya berkerut, perusahaan itu milik Anggi, perusahaan tempat dulu ia bekerja, ternyata Anggilah pemiliknya, lalu beberapa sertifikat tanah dan bangunan dan map terakhir, Satria menghela nafas, ia tak menyangka jika Anggi sangat kaya namun ia terlihat sangat sederhana, malah perusahaan tempatnya bekerja dulu yang ia tahu adalah milik Daniel, namun kenyataannya itu milik Anggi
Satria tidak mengerti mengapa Anggi malah menyembunyikan itu semua, ia tak ingin seorangpun tahu bahwa ia adalah pemiliknya
Satria menghempas map terakhir, ia menduga bahwa map itu juga sama surat kekayaan Anggi, hingga map itu jatuh dan surat di dalamnya berserakan di lantai
Satria memijik kepalanya yang berdenyut, ia tak menyangka istri-istrinya menyimpan rahasia di belakangnya, hingga sudut matanya menangkap sesuatu disana
"Hah, apa ini surat bermaterai? " ucap Satria lirih
Satria memungut kertas yang berserakan itu yang lebih menarik perhatiannya adalah sebuah lembar bermaterai seperti perjanjian
Satria mulai membacanya dan matanya membulat sempurna dengan gigi yang bergemulutuk dan rahang keras karena menahan marah, ia kemudian meraih beberapa kertas lagi yang berserakan bersama surat perjanjian itu, amarahnya bertambah, matanya menajam penuj kebencian.
Satria meraih beberapa surat terakhir dan membacanya, kemudian meremasnya seolah bisa membuat amarahnya sesikit reda
"Sial, sialan kamu Widya, apa sebegitu tak berartinya aku buatmu hingga kau tega melakukan ini?
Kurang apa aku selama ini?
__ADS_1
Aku tahi kamu tak pernah cinta tulus padaku, tapi apakah harus berbuat seperti ini?
wanita sialaaaaannnn, istri dajal, aku ternyata sudah buta karena cinta yang salah,mengapa kau tega padaku??, mengapaaaaaaaa?? " teriak Satria marah, mengamuk menghancurkan apa saja diruangan itu meluapkan kekesalannya