
Satria berpamitan dengan istrinya, ia dan Brian menuju ke kepolisian yang menangani kasus Andy, ditangan Brian sudah ada setumpuk bukti berikut visum luka yang di derita oleh Anggi beberapa saat lalu.
Widya memandangi kepergian mobil Satria dari jendela kamarnya. kini ia harus bahagia atau sedih, ia tak tahu.
Widya sebenarnya sudah mengintip keluar pintu saat Satria membopong tubuh telanjang Anggi dan beberapa saat kemudian Prapti membawa segelas air dan keluar dari kamar Anggi, namun Satria????
hampir dua jam lamanya tidak keluar dari kamar Anggi.
pikiran Widya tak karuan melayang kemana-mana, walau bagaimanapun Satria adalah seorang pria, melihat tubuh telanjang Anggi dengan body yang menggiurkan siapapun akan nafsu, tak terkecuali Satria, suaminya.
Widya tak tenang dalam kamar, ia tak tahu harus bagaimana, apakah ia harus menyusul suaminya ke kamar Anggi, atau tetap diam di kamar, Widya sangat cemburu melihat suaminya perduli dengan Anggi, bukankah ini yang ia inginkan??? Mengapa ia harus cemburu jika ia sendiri yang mengumpankan suaminya untuk Anggi???
Melihat kondisi waktu Anggi di bawa dan tingkah Anggi yang menciumi Satria dengan buas, Widya dapat mengira-ngira apa yang selanjutnya terjadi pada Anggi dan suaminya, walaupun pada kenyataannya tidak seperti dalam angan Widya, namun siapapun akan berfikiran sama jika di hadapkan pemandangan seperti itu.
Hati Widya terasa sakit ketika melihat Satria kembali ke kamarnya dengan beberapa tanda bekas kecupan di lehernya.
Widya pura-pura tidak melihatnya, hatinya terasa panas dan ingin rasanya ia ingin marah pada Saturia, namun ia tak berdaya dan berpura-pura tak mengetahui apapun
"Mas Satria, akhirnya kamu akan menikah dengan Anggi, dan kalian sudah mengkhianati ku dengan berhubungan badan sebelum aku pergi. Aku sudah menduga jika mas Satria masih memiliki perasaan pada Anggi, tapi ia....” gumam Widya dalam hati
Widya menutup wajahnya dan menangis.
__ADS_1
setiap detik ia merutuki d kesalahannya telah berkhianat pada Satria, jika saja saat itu ia setia dan menjaga kehormatannya hanya untuk suaminya mungkin kini ia adalah istri paling bahagia di muka bumi ini. karena memiliki suami sempurna seperti Satria
Karena terlalu lama menangis Widya 9 akhirnya tertidur karena kelelahan.
Prapti yang mengetuk pintu kamar Widya dan tak mendengar jawaban mencoba menghubungi Satria, sejak kejadian hingga sore hari ini Widya tidak keluar dari kamarnya, membuat Prapti khawatir dengan keadaan Widya di dalam sana
Satria yang mendapat telepon dari Prapti langsung menuju ke kediaman Anggi, mengendarai kendaraannya seperti orang kesetanan, tujuannya satu ingin segera bertemu segera dengan istrinya, Widya.
Sedangkan Brian terpaksa menaiki taxi menuju rumah sakit.
Anggi sedang duduk di ruang tamu menanti kedatangan Satria, Ia ingin mengucapkan terima kasih atas pertolongan Satria, namun begitu Satria tiba, Satria langsung menuju kamar Widya tanpa menghiraukan panggilannya, Satria datang dengan wajah panik dan setengah berlari menuju kamar Widya, terlihat sekali jika Satria sangat Khawatir dengan kondisi Widya, Satria sangat mencintai Widya membuat Anggi sedih
Anggi diam mematung menatap punggung Satria yang menjauh, hatinya terasa sakit, ia menangis dalam diam
Aku sadar aku hanya bagai bayang-bayang bagimu, aku tak pernah kau anggap, jika saja mba Widya tak memintamu untuk menolongku, apakah kamu masih mau datang menolongku???"Gumam Anggi menghapus air mata nya
Prapti yang melihat Anggi menangis mendekati Anggi menepuk bahunya lembut berusaha menghiburnya
"Maklumi aja bu, pak Satria kan sedang khwatir dengan kondisi istrinya karena bu Widya kan lagi hamil, jadi wajar saja kan?????
tapi percayalah bu, pak Satria juga cinta ibu, namun kini bu Widya lebih butuh pak Satria dibanding ibu.
__ADS_1
ibu percaya deh sama saya, pak Satria juga peduli sama ibu, ibu yang sabar ya "ucap Prapti menepuk punggung majikannya
"Ngomong apa sih kamu Prapti, mata saya itu kemasukan debu" kilah Anggi
"Prapti tahu kok, ibu cemburu sama bu Widya dan beranggapan ibu gak berarti buat pak Satria, tapi asal ibu tahu ya, waktu ibu dalam pengaruh obat dan kondisi ibu yang kaya gitu deh, pak Satria bilang sayang ibu kok, dan dari cara dia memandang dan memperlakukan ibu, Prapti yakin pak Satria juga cinta ibu.
Pak Satria pria yang bertanggung jawab dan lembut, saat ini prioritasnya adalah Bu Widya, bukan berarti ia tak cinta ibu, ia cinta ibu”
"Sok tahu kamu, sudah sana siapkan makan buat mas Satria dan Widya" ucap Anggi yang merasa hatinya tenang, ia takut Prapti melihat jika kini ia tersenyum lega. ucapan Prapti membuka pikirannya jika memang saat ini Satria memilih bersama Widya, bukan karena Satria tidak mencintainya, namun karena sat ini Widya lebih membutuhkan mas Satria dari pada dirinya
"Mas aku akan sabar menerima semua asal kamu bisa di sisiku. Aku mencintaimu calon imam ku" gumam Anggi menatap lurus kamar Widya dan menyentuh bibirnya sambil tersenyum membayangkan ciuman mereka beberapa waktu lalu.
Prapti yang melihat dari kejauhan kini lega majikannya sudah bisa tersenyum kembali setelah sekian lama dalam penderitaan, senyum itu karena cinta Satria, Anggi memiliki gairah hidupnya lagi setelah sekian lama mati.
Anggi berjalan menghampiri Prapti yang masih Mesam mesem, pandangan matanya berkeliling ke penjuru dapur mencari apa yang bisa membuat pembantunya itu terus tersenyum
"Kamu kenapa? sakit??? dari tadi aku lihat kamu senyum-senyum sendiri”ucap Anggi menyentuh kening Prapti
"Prapti gak sakit Bu, Prapti senang sekarang ibu sudah bisa tersenyum lagi seperti dulu”
"Siapa yang senyum, kamu salah lihat.
__ADS_1
Sudah cepat bawa makanan mereka ke kamarnya
"Siap bos" ucap Prapti cekikikan lalu berjalan menuju kamar Widya