Suami Sewaan

Suami Sewaan
Terkejut II


__ADS_3

"Perlu Satria bantu kek? "


"Gak usah, kamu kembali saja pada istrimu, dia pasti kehausan ucap Kakek yang melihat Satria membawa dua kaleng Soft drink


Putu lalu berpura-pura berjalan, lalu ia membalik kan badan memastikan tanda lahir yang Ayu katakan, Putu terkejut, ternyata apa yang dikatakan istrinya benar adanya, ia merasa tak bertenaga dan hampir jatuh, ia memegang meja di sampingnya yangembuat Vas bunga diatasnya terjatuh dan pecah


Satria sontak menoleh ke sumber suara dan mendapato Putu yang lemas tak bertenaga.


Satria lalu berlari dan membawa Putu duduk di bangku yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Tiba-tiba terdengar suara bell pintu, Satria lalu bergegas membukakan pintu


Dua orang laki-laki berdiri di depan pintu, satunya terlihat sepertj seorang dokter karena membawa tas dokter


"Malam mas, pak Putu nya ada? "


"Ada, anda siapa ya?"


Saya dokter pribadi Pak Putu, perkenalkan nama saya Ridwan" ucap laki-laki yang bertubuh tinggi, mengulurkan tangannya


"Satria " ucap Satria singkat


"Bagus, asisten pribadi pak Putu" ucap Bagus mengulurkan tangan yang di sambut Satria


Satria lalu mempersilahkan mereka masuk langsung menuju pak Putu yang masih terlihat lemas duduk di bangku


"Bagus tolong bantu saya mengangkat pak putu ke kamarl ucap Ridwan memberi perintah.


Bagus lalu mengkat tubuh Putu seorang diri dikarenakan Bagus memiliki tubuh layak nya seorang binaragawan.


Setelah sampai kamar, terlihat Ayu yang terkejut melihat suami nya di bopong masuk, Ridwan langsung menenangkan Ayu dan menjelaskan jika suami nya hanya kelelahan


Ridwan meminta semua orang keluar dari kamar, kini tinggal dirinya dan kedua suami istri tersebut


"Bagaimana kondisi kami? "tanya Putu setelah Ridwan memeriksa kedua nya.


"Bapal dan Ibu jangan terlalu lelah dan banyak berfikir. Kalian hanya terkejut, mungkin ada sesuatu yang membuat emosi kalian tidak stabil"


"Kamu lihat pemuda tadi nak? bisa jadi itu keponakan mu"


"Satria maksud bapak? apa bapak yakin dia anak kak Mela? "


"Ibu mu yang melihat tanda lahir yang sama persis seperti tanda lahir yang di miliki keluarga bapak turun temurun"


"Tapi itu saja tidam menjamin jika anak itu anak kak Mell pak"


"Itu lah kenapa kami minta kamu datang, selain memeriksa kami, bapak sama ibu mau kamu memeriksa Satria"


"Apa bapak mau kita lakukan tes DNA? "


"Hanya itu yang membuat kita yakin dia anak kakakmu atau bukan" timpal Ayu menambahkan


"Kalau begitu, Ridwan akan dapatkan sample Satria dulu.


"Terima kasih nak"


"Ibu gak usab berterima kasih sama Ridwan, sudab kewajiban Ridwan berbakti sama ibu dan bapak"


Setelah itu Ridwan meminta Bagus masuk dan merundingkan rencana mereka untuk mendapatkan DNA Satria tanpa sepengatuan si pemiliknya


Sementara Anggi dan Satria terlihat cemas menunggu kabar dari dokter Ridwan

__ADS_1


"Apa perlu kita jujur saja pada mba Anggi.


Pasti mba Anggi akan membantu bapak" ucap Bagus


mereka lalu sepakat memanggil Anggi ke dalam kamar


"Kakek, nenek, apa kalian baik-baik saja? mengapa dokter lama sekali memeriksa kalian? " ucap Anggi langsung menangis.


Ia takut kakek dan nenek nya pergi sepertj kedua orangtuanya


"Cucuk nenek, jangan menangis. Kami baik-baik saja. kami hanya sedikit shock.


Anggi, kamu sudan tahu kisah kami kan?


Bisakah kami meminta sedikit bantuanmu?" Tanya Ayu dengan muka berharap


"Katakan saja nek, selama Anggi bisa, pasti Anggi bantu"


"kek" ucap Ayu menyenggol tangan suami nya


"Begini, kami minta kamu membawakan kami rambut suami mu itu"


"Rambut? untuk? " tanya Anggi bingung


Kakek Putu lalu membuka baju kemeja nya, ia lalu berbalik badan, sehingga kini punggung renta kakek terekspos di depan Anggi, membuat Anggi makin tidak mengerti memandang Ayu meminta penjelasan


"Kamu lihat tanda lahir di bahu kanan kakek?


Tahi lalat yang membentuk segitiga.


Setiap keturunan keluarga gede pamungkas buyut kakek, pasti memiliki tanda lahir itu termasuk kakek dan anak kakek"


"Lali hubungannya apa dengan mas Satria? apa??"


"Ya Tuhan.... "


"Maukah kamu membantu orangtua ini nak? Kami hanya memiliki asa yang hampir pudar.


Kami sangat berharap, sebelum kami menutup mata, masih bisa melihat cucu kami yang hilang"


"Kakek jangan berkata begitu, Anggi akan menolong kakek. Anggi tahu mas Satria sejak masih sekolah menengah pertama hinggan SMA.


Mas Satria hidup sebatang kara.


Kakek dan nenek sehat terus dan Anggi percaya Allah tidak pernah tidur


Allah akan mengabulkan doa kakek dan nenek" ucap Anggi


"Makasih cucu ku" ucap Ayu memeluk Anggi


Keesokan hari nya


Satria mandi lalu menyisir rambutnnya, ia juga mencukur jenggot yang mulai tumbuh di wajahnya, semalam mereka habis video call dengan Widya untuk mengetahui kondisi Widya.


Setelah rapih, Satria bergegas memakai sepatu kets nya lalu keluar kamar untuk lari pagi, itu memang sudah menjadi kebiasaan Satria sejak dulu.


Anggi segera mengambil tissu bekas Satria potong rambut, disana ada beberapa bekas rambut nya dan ia juga mengambil rambut yang terdapat pada sisir.


"Apa gosok gigi juga ya? tapi nanti mas Satria curiga? " ucap Anggi memutar otaknya.


Tiba-tiba ia menjentikkan jarinya dan tersenyum lebar

__ADS_1


ia memgambil sikat gigi baru lalu menggunakannya, setelah itu di letakkan di tempat yang sama seperti sikat gigi yang telah diambilnya.


"Xixixi, jangan ciuman aja mau, tapi sikat gigi juga harus mau ya mas" ucap nya cekikika. sendiri.


Anggi lalu bergegas menuju kamar kakek, neneknya.


Di dalam Kamar Ayu dan Putu menanti dengan cemas, hingga Anggi muncul dan membawa plastik berisi rambut dan sikat gigi Satria


"Banyak sekali? "


"Biar lebih akurat, semoga aja cocok ya kek, Anggi berdoa untuk kalian"


"Makasih sayang" ucap Ayu memeluk cucu angkatnya.


Ayu dan Putu juga berharap seperti yang Anggi katakan, namun Putu sebelumnya meminta Ayu agar jangan berharap terlalu tinggi dan harus menerima apapun hasilnya nanti.


Tiba-tiba ponsel Anggi berbunyi


Anggi merogoh kantong celana nya dan melihat siapa yang menelpon


Prapti calling........


"Hah, tumben mba Prapti telepon pagi-pagi begini? ada apa ya? " tanya Anggi masih menerka-nerka


"Angkat saja, mungkin itu penting" ucap Putu


"Kek, nen, maaf Anggi angkat telepon dulu ya" ucap Anggi yang di balas Anggukan kecil kakek dan nenek nya


Sampai luar kamar panggilan terputus, Anggi hendak masuk lagi ke kamar kakek nya.


Baru saja ia memegang handle pintu, ponselnya berbunyi kembali


Prapti calling.....


"Assalamu'alaikum, ya mba Prapti ada apa? "


"Bbbu... bu Widya gak ada di kamar" ucap Prapti sambil menangis


"Mba Prapti tenang dulu ya, mungkin mba Widya jalan-jalan di depan.


Apa mba sudah cek seluruh rumah? "


"Sudah bu, ini malah kami bertiga sudah cari kemana-mana tapi tidak ketemu juga"


"Mba Widya kemana kamu" gumam Anggi dalam hati


"Bu, bu kami harus bagaimana? "


"kapan terakhir kalian lihat mba Widya? "


"Semalam aja masih ada bu, malah habis dipijit, pas tadi pagi saya mau antar makan, malah bu Widya ga ada di mana-mana, gimana dong bu?" Prapti makin sesegukan


"Apa.... Ah tidak mungkin dia melakukan itu" gumam Anggi menggelengkan kepala beberapa kali, menghalau pikiran buruk yang melintas di kepalanya


"Mba Prapti tenang, coba mba ke kamar mba Widya, buka lemari pakaian nya" ucap Anggi menggigit bibir nya takut apa yang dipikirkannya benar


"Astaghfirullah, bu, bu " teriak Prapti


"Prapti jangan hanya menangis katakan ada apa? kamu membuat saya takut setengah mati" teriak Anggi panik


"Baju bu Widya kosong bu, hanya beberapa pakaian saja yang masih di sana.

__ADS_1


Pakaian si kecil juga gak ada beserta koper-koper yang kemarin saya lihat ada di depan lemari"


"Apaaaaa?? " Anggi terkejut, ia berteriak dan langsung tak sadarkan diri. beruntung Bagus yang sejak tadi ada tak jauh dari tempat Widya berlari menyelamatkan tubuh Widya yang roboh hendak menghantam ubin.


__ADS_2