
Anggi makin membenamkan wajah nya di dada Satria
perasaan nyaman yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya di dalam pernikahannya dengan Andy, Perayaan nyaman, merasa terlindungi.
Yang ia rasakan selama menikah dengan Andy justru perasaan tertekan, kesal, marah, benci dan terkekang, Anggi sangat menderita selama menikah dengan Andy karena Andy posesif dan kerap kali memukulnya jika ia melakukan kesalahan di matanya.
Satria masih membelai rambut Anggi.
hati nya teriris melihat orang yang berarti di hidupnya terluka
walau Anggi tak menjelaskan secara detail, Satria hanya dapat menduga-duga, jika Anggi tidak bahagia di pernikahan nya selama ini,ditambah luka-luka lebam di sekujur tubuh Anggi sudah cukup menjawab semuanya, betapa Anggi sangat menderita.
perasaan ingin melindungi Anggi muncul dalam diri Satria, namun ia bingung harus bagaimana, ia tak mau istrinya salah paham dan rumah tangganya hancur, ia sangat menyayangi Widya, ia tak ingin menyakiti Widya.
"Satria makasih untuk semua nya. aku pamit dulu" ucap Anggi menghapus air mata nya.
satria membantu Anggi bangun. tubuh Anggi sedikit terhuyung.
"Aku antar kamu pulang, dan aku gak mau kamu tolak" tegas Satria memapah Anggi keluar dari restoran
Sementara tanpa mereka sadari sedari tadi ada seseorang yang terus mengawasi dan mengabadikan kejadian di depan mata nya, orang tersebut tersenyum licik dan terus membidik sasaran di depannya, ia mem videokan momen dimana Satria dan seorang wanita, hingga sampai saat Satria membantu memapah Anggi dan mereka menaiki kendaraan Satria. orang tersebut tertawa dengan licik nya
"Kali ini gue sangat beruntung.
kalo bukan gara-gara maag gue kambuh terus makan di sini, enggak mungkin gue dapat sesuatu yang menarik seperti ini, sesuatu yang bisa buat Widya nurutin semua mau gue, tinggal bagaimana rencana berikut nya harus gue jalankan biar lancar. hahahhaa" tawa si pemuda yang tak lain adalah Bobby kekasih Widya
Bobby lalu pergi meninggalkan restoran itu sambil terus tertawa bahagia seperti mendapatkan lotre
Sementara di tempat lain....
Widya nampak sedang menunggu suaminya pulang, ia menatap lurus ke depan pintu berharap suaminya segera pulang, namun yang di tunggu tak kunjung datang.
"Mas Satria kemana sih? kok belum pulang-pulang juga?" Widya terus melirik jam di dinding ruang tamu nya, tidak biasanya Satria pulang terlambat, jikapun ia lembut, Satria tidak pernah lupa memberi kabar Widya, namun hari ini Satria pulang telat tanpa kabar.
Entah sudah berapa kali dia mondar-mandir mengintip gorden ruang tamunya, namun sosok yang ditunggunya tak menampakkan batang hidungnya juga.
__ADS_1
Wajah Widya langsung masam, pasal nya sudah sejak siang tadi Widya sudah mempersiapkan masakan special untuk Satria.
Widya Sampai rela menghabiskan waktunya di dapur demi memasak walau terkadang di selingi mual muntah karena hormon kehamilannya yang tanpa ia sadari kini ia sedang hamil.
Widya merasa aneh dengan tubuhnya, ia merasa tak enak badan dan mudah lelah, ia juga merasa mual muntah dan penciumannya menjadi sangat tajam,seluruh badannya terasa sakit dan yang paling terlihat *********** membengkak
Tiba-tiba Widya teringat sesuatu, ia langsung berjalan menuju kalender meja di ruang tamu,dia terperanjat, matanya membulat sempurna hampir keluar karena menyadari sesuatu
"Astaga!!!! bulan ini sudah mau habis dan aku belum juga halangan??? harus nya akhir bulan kemarin aku halangan, jangan-jangan??? gak, gak mungkin, jangan sampai terjadi, geleng kepala Widya.
Widya mulai panik dan berlari ke kamarnya,ia bergegas mengganti baju dan menyambar tas nya pergi menuju apotik dekat rumah, ia merasa harus memastikan sesuatu atau dia bisa mati karena penasaran sekaligus takut.
Setelah membeli test pack widya langsung pulang.
sesampainya di rumah, Widya langsung menuju toilet dan melakukan test melalui test pack yang ia beli tadi, beberapa saat kemudian hasilnya muncul.
Test pack di tangannya terjatuh,ia jatuh terduduk di kloset duduk dalam kamar mandi itu, tubuhnya tak bertenaga, nyawanya seakan melayang setelah melihat hasil yang tertera pada test pack itu.
Widya memandang nanar ke arah test pack yang menunjukan 2 garis merah, positif, ia hamil anak Bobby.
Widya mulai menangis panik,Nia memgigit bibit bawahnya karena tak tahu harus bagaimana
arggggghhh aku gak mau pisah dengan mas Satria. jujur aku mulai menyukainya, dia pria paling baik yang mencintaiku dengan tulus, sial aku baru menyadari sekarang saat semuanya sudah terlambat, sial, sial.
Bobby sialan, ini semua gara-gara bobby"
Widya memaki dirinya sendiri sambil menangis
Widya bingung bagaimana menyampaikan berita kehamilannya, jika ia mengatakannya sekarang, Satria pasti akan curiga dan tak percaya, ia akan tahu jika dirinya sudah berselingkuh.
Widya mengigit jari tangannya sambil berfikir keras, hingga akhirnya Widya bangkit, ia bergegas menghubungi Erna sahabat nya
"Erna hik hik hik... " Widya langsung menangis
"loe kenapa Wid? ada apa? kenapa loh nangis??? cerita pelan-pelan sama gue, tenangin diri loe, ambil nafas, hembuskan perlahan, ya lagi, lagi" ucap Erna di ujung telepon
__ADS_1
"Gue hamil Er.... dan gue bingung" suara Widya putus asa
"loh kenapa bingung kan punya laki. loe bingungin apaan coba???" tanya Erna bingung dengan ucapan Widya
"Masalahnya ini anak Bobby" ucap Widya lirih, namun Erna masih bisa mendengarnya
"whaaatttt?????... gila loe.
mampus dah kalo si Satria ampe tau" suara panik Erna di ujung telepon
"Sttt Erna loe jangan teriak-teriak kek itu gue mau minta tolong sama loe. Gue mau gugurin anak ini mumpung masih kexil" ucap Widya setengah berbisik
"Ah loe gila Wid, Benar-benar gila, loe sama.bobby sama-sama gila.
Loe udah punya suami tapi masih aja sama bobby
terus sekarang hamil anak Bobby, loe mau gugurin???
gila... gue gak mau ikutan dosa Wid.
sorry kali ini gue gak bisa bantu loe.
Gue selama ini udah berdosa sama suami loe karena nutupin kelakuan bejat kalian.
Sekarang???????
Enggak, ngak Wid., Gue bener-bener gak mau ikut campur urusan loe lagi, sorry." ucap Erna
Tut Tut tut
panggilan berakhir
Erna memutuskan panggilan sepihak, Widya memanggil-manggil Erna namun panggilan telepon sudah berakhir.
Widya berteriak kesal, kini ia tak tahu harus bagaimana lagi, Erna harapan terakhirnya untuk keluar dari masalah ini, namun Erna memilih angkat tangan, Widya merasa kesal marah dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Widya tidak bisa menyalahkan Erna, walau bagaimanapun selama ini Erna sudah banyak membantunya berbohong, sekarang kesalahannya sangat fatal sehingga kini ia menuai apa yang ia tabur. menyesal, kata menyesal yang kini ia rasakan
Widya justru merasa sangat ketakutan akan kehilangan Satria, saat ia masih bisa kembali ia malah terus melangkah jauh, saat ia terjatuh malah ia menyesal, semua sudah terlambat tak ada jalan untuk kembali.