
Sepeninggalan Putu Ridwan masih duduk diam di tempatnya, ia mencerna kata-kata papanya.
memang ia juga menyadari jika mamanya itu kurang sehat, ia bisa melihat mamanya menutupi wajah pucat nya dengan bedak, namun mata jeli dokter tak bisa di kelabui.
Tiba-tiba punggung Ridwan di tepuk seseorang yang tak lain adalah adiknya sendiri, Bagus
"Ngapain loe kak malam-malam bengong kaya sapi ompong, kena usir kak Irine loe ya? tanya asal Bagus
sontak membuat Ridwan kesal dan melotot tak senang
"Sotoy” ucapnya singkat
Ridwan sedang tidak ingin meladeni ocehan Bagus
kepalanya berdentum memikirkan mamanya.
”Serius nanya” ucap Bagus cemberut
”Gur males soalnya loe orangnya ga asik kalo di kasih tau rahasia"ucap Ridwan lalu meneguk air mineral di tangannya
"Loe mah gitu kak, males gue" ucap Bagus menuang air minum di gelas lalu ingin beranjak pergi namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika mendengar ucapan Ridwan
”Seperti nya mama sakit” ucap Ridwan membuat langkah Bagus terhenti dan memandang tak percaya dengan kata-kata kakaknya
"Loe lagi gak ngerjain gue kan kak? gimana mama? gimana kondisinya??" cacar Bagus lalu balik arah dan duduk di samping Ridwan.
Bagus mencari jawaban perkataan kakaknya, nampak wajah Ridwan yang tegang dan penuh keseriusan
”Loe tau untuk orangtua kita, gue gak akan pernah bercanda"ucap Ridwan menatap adiknya serius, ada guratan kesedihan terlihat di wajah Ridwan
”Bagaimana, maksud gue, mama gak kelihatan sakit beliau nampak sehat aja, ceria , ya walau gue lihat agak pucat, tapi gue pikir karena kelelahan seharian bermain dengan cucu-cucu nya"ucapan Bagus menerawang beberapa saat lalu saat mereka berkumpul.
Ia memang hanya melihat sekilas dan selebihnya ia sibuk mengurus istrinya yang sedang hamil tua.
Bagus merasa sangat bersalah, mengabaikan mamanya.
Namun sebagai seorang suami, ia juga harus memperhatikan istrinya , terlebih kehamilan Prapti sangat mengkhawatirkan dengan kondisi tubuhnya , ia harus membawa dua malaikat kecil dalam perutnya.
"Maaf kak, maafin gue"ucap Bagus serak, ia memang akan mudah terbawa suasana dan menangis jika berhubungan dengan mama angkat yang sudah ia anggap mamanya sendiri
”Ya Allah, lindungi mama hamba, beri beliau kesehatan” lirih Bagus mengusap wajahnya kasar
__ADS_1
"Loe harus tenang de, kita harus memastikan kondisi mama terlebih dahulu. Gue sama papa gak akan nyalahin loe, kami juga masih belum yakin.
Dari perkataan papa, mama sengaja menyembunyikan masalah kesehatannya karena mama takut membebani anak-anak serta cucunya.”
"Mama, Ya Allah, kenapa mama bisa berfikir begitu.
Kita sangat menyayangi mama kak”
"Itulah seorang ibu, beliau sanggup berjalan di atas bara api, menahan sakit dan derita hanya demi melihat anaknya bahagia"ucap Ridwan tercekat. rasanya hatinya amat sakit melihat mamanya seperti ini.
"Apa yang akan kita lakukan kak? kita bawa mama cek up saja" usul Bagus
namun Ridwan menggeleng pelan.
"Jika mama mau dia pasti sudah melakukannya, pastinya dia tak ingin kita khawatir"
"Kita harus bagaimana ????” ucap Bagus frustasi
"Aku mau bujuk mama untuk Cek up" ucap Bagus, namun Ridwan menarik tangannya sambil menggeleng pelan
”Ada apa ini malam-malam kaya film India main pegang-pegangan tangan, ckckck om-om gue gak sehat"ucap Satria yang datang membawa botol susu kotor untuk ia cuci.
Satria sangat menikmati kegiatan sampingannya itu.
"Ponakan gak ada akhlak" gerutu Ridwan sebal lalu buru-buru melepaskan tangan Bagus
"Bukan gak ada akhlak kak, ponakan kita kurang sekilo" ucap Bagus kembali duduk di samping Ridwan.
Keduanya lupa dengan kepanikan mereka, berganti kesal pada ponakan nya tersebut.
Namun Satria malah terkekeh mendengar cemoohan Om-omnya dengan memasang wajah tak bersalah.
ia nyengir kuda menyadari tatapan membunuh kedua om nya
”Sorry-sorry, lagi kalian pake pegang-pegangan tangan gitu hehehe"ucap Satria menggaruk kepalanya yang tak gatal
Suasana menjadi hening, Satria meneruskan mencuci botol susu anaknya, namun Bagus ma Ridwan terlihat masih terdiam
"Menurut kakak, apa yang harus kita lakukan” tanya Bagus memecah keheningan diantara mereka.
"Besok mama akan ke rumahku.
__ADS_1
Aku akan coba mengecek kesehatan mama disana.
Namun pertama-tama kesehatan Prapti untuk alibi saja.
Bagaimana? apa kau bisa membuat Prapti terlibat dalam rencana kita? "tanya Ridwan
"Beres itu kak" ucap Bagus mengacungkan jempolnya.
”Setelah kita tahu kondisi mama, tinggal bagaimana kita membujuk beliau untuk pengobatannya” ucap Ridwan
Satria menghentikan kegiatannya, sendok susunya menggantung di udara, ia mencerna kata-kata omnya tersebut
Lalu meletakkan kembali sendok susu dan berbalik arah menghadap Bagus dan Ridwan
"Tunggu, tunggu, apa yang kalian bicarakan? ada apa dengan nenekku? kalian tak mengajakku bicara? ayo lah , aku ini cucunya" ucap Satria tak senang.
Bagus dan Ridwan menatap Satria. mereka lupa akan keberadaan ponakannya itu.
"Mama sakit” ucap Ridwan pelan
"Memang nenek sakit tadi pagi ketika kami mau berenang, itulah kenapa nenek dan kakek tidak jadi ikut.
Kata nenek ia masuk angin dan kelelahan"ucap Satria dengan wajah polos
"Apa kau percaya hanya masuk angin? ketika kamu pergi, mama tidur dan tahu-tahu bangun karena tahu kami datang, ia berpura-pura sehat, namun menurut papa ia sangat lemah.
Satria, nenekmu itu menyembunyikan penyakitnya"ucap Bagus , membuat Satria terbengong memikirkan dan lalu wajahnya muram
"Apa karena ini kalian berdiskusi malam-malam begini? tanya Satria memandang Ridwan dan Bagus bergantian
keduanya mengangguk lemah.
”Kita bawa saja nenek berobat"ucap Satria, namun kedua omnya tersebut menggeleng
"Kenapa, apa kalian tidak sayang nenek?” Dengus Satria
”jelas nenek menyembunyikan penyakitnya. kita akan bujuk secara halus” jawab Bagus
"Aku ikut kalian saja baiknya bagaimana" ucap Satria.
ia segera menyerahkan botol susunya pada Anggi lalu segera kembali ke ruang makan di mana Bagus dan Ridwan menunggu, mereka bertiga merundingkan rencana mereka membawa Ayu berobat.
__ADS_1