
"Prapti gak usah, tolong buat kan juice alpukat saja buat Anggi, biar saya yang kekamar nya" ucap Satria melangkah menuju kamar Anggi
Satria membuka kamar Anggi, terlihat tubuh kurus Anggi meringkuk seperti bayi dengan wajah pucat.
Satria menghampiri istrinya tersebut dan membelai rambut nya, ia naik keatas tempat tidur dan berbaring di samping Anggi lalu memeluknya
menciumi wajah cantik Anggi
"Sayang maafin mas ya, belum bisa bahagiakan kamu"
Anggi menggeliat merasakan tubuhnya di dekap erat, perlahan ia membuka mata nya dan melihat Satria menciumi nya dengan penuh perasaan
""Mass"
"Pstttt, kamu pasti lelah menunggu mas ya, maaf mas telat bangun" ucap Satria meletakkan Jari telunjuknya di depan bibir Anggi yang merah merekah
"Mas udah makan? " tanya Anggi menyentuh wajah suaminnya
"Kamu disini saja ya, mas ambilkan makan, lihat wajahmu sampai pucat karena belum makan dari malam"
"Anggi tunggu mas tadi"
"Mas tahu sayang, kamu memang istri Sholeha, lain kali makan duluan gak kenapa-napa kok, yang penting mas makan kamu temani" ucap Satria mengecup kening istri nya
"Tunggu disini dan jangan turun" perintah Satria, ia lalu berjalan keluar kamar, tak lama kemudia kembali dengan membawa segelas juice alpukat dan air putih serta sepiring nasi lengkap dengan lauknya.
Satria menyodorkan juice alpukat pada Anggi, lalu ia mulai menyuapi Anggi dan dirinya.
Hati Anggi yang sempat kecewa kini berbunga-bunga karena perlakuan romantis suami nya.
Awal pernikahan Anggi mengira mereka akan hanya sebagai suami istri dalam kertas karena ia hanya istri kedua.
Terlebih lagi Satria pernah berkata ia hanya akan melindungi dan membahagiakan Anggu, namun jangan berharap ia akan mendapatkan cinta nya, namun kini ia merasakan kebahagiaan lengkap, Ia melihat Satria yang mencintainya.
Anggi bersyukur Allah telah mengabulkan doa-doa nya selama ini, melunak kan hati Satria dan bisa menerima nya sepenuhnya.
Sesunguhnya Allah maha membolak -balik hati manusia.
"Mas, apa kamu menyesal. menikahi aku? "
"mengapa kamu berkata demikian? "
"Aku hanya teringat dulu mas pernah bilang jangan berharap mendapat cinta mas, aku sangat takut mas tidak bisa menerimanku seutuhnya.
Apa sekarang mas belum bisa mencintaiku? "
"Bagaimana aku tidak Mencintaimu, kamu adalah wanita sholeha, mas Jatuh cinta padamu lagi dan lagi,Hanya lelaki bodoh yang tidak bisa melihat ketulusanmu.
maafkan perkataan mas dulu ya.
Walau mas belum bisa bersikap adil pada kalian, tapi mas Janji akan memperbaiki nya.
Kaliam berdua adalah istri mas yang paling mas sayang"
Anggi terenyu, ia bahagia hingga menangis
__ADS_1
"sayang mengapa kamu menangis? apa ada perkataan mas yang salah? "
Anggi menggelengkan kepala, ia membenamkan wajahnya dindada bidang Satria.
"Makasih, makasih sudah menerimanku dan mencintaiku.
Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk mas" ucap Anggi di sela-sela tangis nya
Satria membelai lembut rambut panjang Anggi.
"Kamu masih mau nambah? "tanya Satria yang melihat piring di meja sudah kosong mereka makan
"Aku sudah kenyang mas, mas mau aku gendut karena kebayakan makan?"
"Gendut atau kurus tetap mas cinta"
"Huh gombal" ucap Anggi memukul dada Satria.
Satria menarik tangan Anggi hingga wajah mereka sangat dekat.
Anggi merasakan nafas Satria menerpa wajahnya, Anggi menundukkan kepala, ia merasa kini wajahnya bersemu merah karena malu
"Mengapa sudah satu hampir dua bulan menikah, wajahmu selalu bersemu merah jika di dekatku? " tanya Satria mengankat dagu Anggi.
mata mereka bertemu, perlahan Satria memajukan wajahnya dan mencium Anggi dengan lembut, Sangat lembut dan manis membuat Anggi mengikuti permainan lidah Satria.
Nafas Anggi dan Satria memburu karena gairah. Tangan nya kini sudah bergerilya di tubuh Anggi.
Anggi memejamkan mata dan melingkarkan tangannya di leher Satria.
"Sayang aku masih lapar dan ingin memakanmu" bisik Satria lalu mulai melunat bibir Anggi penuh gairah lalu turun ke leher jenjanh milik Anggi.
Widya sudah bangun dan menuju meja makan karena ia merasa sangat kelaparan.
Ia tak melihat Anggi atau Satria
"Mba Prapti bapak sama Anggi kemana? Apa mereka sudah jalan? "
"Belum bu, bapak sama bu Anggi di kamar"
"Oh ya sudah"
"Perlu saya panggil bu? " tanya Prapti lagi
"Gak, gak perlu, saya hanya bertanya.
mereka penerbangan jam berapa? "
"Kalau gak salah jam lima sore nanti bu"
"Ok lah, kalau mereka jam dua belum keluar, baru kamu boleh ketok pintu kamarnya, takut mereka ketinggalan pesawat"
"Baik bu"
"Apa masih punya alpukat di kulkas? "
__ADS_1
"Ada bu, apa bu Widya mau saya buat kan juice? "
"Iya saya kok pengen yang segar-segar, tolong antar ke teras belakang ya mba, saya mau duduk membaca di sana"ucap Widya bangkit dan menuju teras belakang rumah
Sudah beberaoa bulan ini Widya memiliki hobby baru, ia senang membaca cara merawat anak dan beberpaa buku tentang tumbuh kembang anak.
Ia sangat bersemangat memperlajarinya, selain karena nantinyania harus merawat anak nya sendiri, ini merupakan pengalaman pertamanya sebagai seorang ibu.
Tak lama kemudian Prapri membawa nampan berisi segelas juice alpukat dan meletakkan nya di meja
"Terima kasih mba, oh iya.
Ini dari saya, semoga mba Prapti senang ya"
"Apa ini bu? " tanya Prapti bingung
"Buka aja"
Prapti membuka kotak yang di berikan Widya, isinya sebuah kalung berinisial "P"
"Bu? "
"Ini dari saya, saya harap kamu mau menerima nya, jangan melihat harga nya ya.
Kamu bisa pakai atau simpan jika sewaktu-waktu butuh kamu ada pegangan"
"Bu saya... "
"Saya gak mau kamu tolak.
ini sebagai ungkapan terima kasih saya karena kamu sudah baik pada saya walaupun saya bukan nyonya rumah ini, tapi kami tetap menghargai saya"
"Sudah seharusnya, bu Widya juga nyonya rumah ini"
"Terima kasih mba Prapti, kamu bisa istirahat, jika saya butuh nanti saya akan panggil kamu"
"Baik bu, saya permisi, makasih ya bu hadiahnya" ucap Prapti malu-malu.
Widya balas dengan Anggukan
Prapti memandang kotak perhiasan di tangannya, ia sangat senang sekali karena Widya ternyata perhatian dengannya, namun kata-kata Widya membuat Prapti sedikit heran
"mengapa kenang-kenagan? seperti mau pergi jauh saja. ah sudah lah.
Bu Widya memang baik dan perhatian.
Alhamdulillah memiliki majikan yang baik semua. semoga keluarga ini selalu bahagia dan harmonis" ucap Prapti menuju kamar nya.
Sementara Widya sedang bersitegang dengan seseorang di ujung telepon
"Aku bilang masih empat hark lagi, buat apa kamu menelponku? "~~Widya
"Aku hanya mengingatkanmu, aku takut kamu terlena dan lupa siapa dirimu"~~ Bobby
"Aku bukan kamu yang tak pernah bisa tepati janji" ~~Widya
__ADS_1
"Ya, ya babe, aku tunggu kamu"~~ bobby
panggilan berakhir