
setelah berunding dengan anak serta cucunya, akhirnya Putu mengumumkan jika ia dan Ayu akan menetap di Bali, rumah mereka yang sering kali mereka tinggalkan, semua atas permintaan Ayu.
mereka tidak akan bepergian lagi menjenguk anak serta cucu mereka di karenakan kondisi Ayu yang sudah tidka memungkinkan.
Namun mereka menerima kunjungan dari anak serta cucu mereka.
Putu juga sudah menyerahkan semua masalah perusahaan yang di milikinya pada Bagus, Satria dan Ridwan.Putu tak mau ikut campur lagi dengan dunia bisnis, i kan pensiun selamanya dan akan menikmati hari tuanya bersama Ayu, menikmati setiap detik kebersamaan mereka yang berharga.
Esok mereka akan bertolak ke Bali, sehingga Putu pamit untuk istirahat lebih awal, Sementara semua orang masih terdiam di ruang keluarga, tak tahu harus berkata apa, hanya kesedihan yang menggambarkan suasana hati mereka.
Hingga akhirnya mereka kembali ke kamar masih-masing, rasanya hari ini terasa begitu berat.
Keesokan harinya,....
Putu dan Ayu sudah siap, mereka berpamitan pada anak serta cucu mereka dan tak memperbolehkan mereka mengantarkan Putu hingga bandara, ia hanya mau terlihat tegar dan pergi dengan wajah tersenyum, walau ia tahu kedepannya semuanya akan sulit, namun ia harus terima.
Setelah berpamitan, mobil Putu meninggalkan kediaman Anggi, semua melambaikan tangan dengan air mata yang menetes, tak terkecuali Kinar yang melepas kepergian kakek dan nenek buyut ya dengan berat.
Satu persatu kembali ke rumah mereka, kini tinggal Satria dan keluarga kecilnya, kembali pada rutinitas harian mereka.
Lima tahun kemudian
Kesehatan Ayu kian hari kian memburuk, ia juga sudah tidak mengenali siapapun , tak terkecuali suaminya sendiri, Putu.
Hampir setiap bangun tidur ia akan berteriak marah karena mendapati Putu sedang memeluknya, setelah di beritahu jika ia adalah suaminya Ayu melembut dan meminta maaf, dan ia akan berlaku seperti biasa, namun ketika keesokan harinya kembali terulang dan terulang lagi, ia tak mengenali lagi suaminya itu.
Ayu juga sudah tak bisa berjalan lagi di karenakan tumbuh Tumor ganas lainnya di kepala Ayu yang menekan syaraf motoriknya, sehingga iya lumpuh tak bisa berjalan lagi.
Pernah suatu kali ia mencoba bunuh diri karena tak tega melihat suaminya yang menderita karena merawatnya, membuat Putu makin terpukul dengan kenyataan itu, sehingga ia tak pernah jauh sedikitpun dari Ayu
Putu terus memberikan motivasi pada Ayu dan terus membujuk ayu untuk melakukan operasi yang kedua kalinya, Putu tak tega melihat Ayu yang terus did era rasa sakit saat sakit di kepalanya datang.
Hingga pada titik putus asa, Putu bersimpuh di kaki Ayu, membuat hati keras Ayu luluh dan akhirnya ia bersedia di operasi
Tim dokter menyayangkan keterlambatan penanganan, walaupun Ayu dioperasi, ia hanya memiliki peluang kecil untuk sembuh, bahkan nyawa taruhannya
seluruh keluarga dilema antara mengizinkan Ayu menjalani operasi atau melihat penderitaan Ayu.
Satu Minggu sudah pasca scanning otak, Putu yang awalnya optimis diliputi keraguan, ia tak tahu apakah ia harus melanjutkan rencananya atau...., dua pilihan yang sulit.
__ADS_1
Ayu mendekati suaminya, ia memutar kursi rodanya,Putu yang hanyut dalam lamunan tak menyadari jika istrinya telah berada di sampingnya, hingga tepukan lembut membawanya kembali ke alam sadar
”Sayang apa yang kamu pikirkan? wajahmu terlihat sangat tidak enak di lihat"gurau Ayu membuat Putu berusaha tersenyum mendengar ucapan istrinya
”Aku hanya sedang memikirkan cicit-cicit kita"kilah Putu
"Aku tahu kamu merindukan mereka, aku sudah meminta Satria kemari”ucap Ayu tersenyum lebar, menggenggam tangan suaminya
”Kamu memang istri yang terbaik, terima kasih"ucap Putu mengecup kening Ayu
"Ah tidak, tidak, aku istri yang selalu merepotkan suaminya,maafkan ku sayang, aku selalu menyusahkan mu, membuatmu kelelahan” Ayu menunduk sedih
”Hei, aku tak pernah merasa di susahkan olehmu, semua sudah tanggung jawab dan kewajiban ku.
Kamu istriku, sudah tentu aku harus menjaga dan menyayangimu”
”Terima kasih, terima kasih kamu telah hadir dalam hidupku”isak Ayu membenamkan wajahnya di bahu suaminya
”Hapuslah air matamu, aku tak suka melihat istri yang paling aku cintai menangis" ucap Putu menghapus air mata Ayu dengan jarinya
”Aku mohon, lakukan operasi itu, aku tahu kamu bimbang setelah mendengar persentase kesembuhan ku?
Sayang, dokter bukan tuhan, mereka hanya menerka,Allah yang menentukan hidup mati kita.
Apa yang kamu takutkan, aku mencintaimu dan akan selalu ada di sini, di manapun kamu berada"tunjuk Ayu menyentuh dada suaminya
”Apa kamu yakin akan menjalani operasi tersebut?” tanya Putu ragu, Namun Ayu mengangguk mantab.
Putu memeluk istrinya erat seolah tak ingin dia lepaskan lagi
Keesokan harinya Satria dan Anggi serta anak-anak mereka tiba, Ayu dan Putu menyambut kedatangan cuci serta cicit mereka.
Suasana yang tadinya sepi kini ramai dengan suara tawa dan tangisan si kembar yang berebut botol susu, membuat siapapun yang melihatnya akan tertawa gemas dengan kelakukan mereka.
Kini Ayu tak pernah berteriak lagi ketika bangun tidur, ia akan langsung mengambil album foto keluarganya ynag sengaja Putu buat di sertai nama-nama mereka, sehingga Ayu berusaha mengingat mereka.
Lima hari sudah mereka berada di Bali, Besok adalah hari dimana Ayu akan menjalani operasi.
Pagi ini Ayu sudah bangun sebelum suaminya bangun, ia juga ke dapur membuatkan sarapan untuk suami, serta cucu dan cicitnya, dengan di bantu asisten rumah tangganya, ia sesekali bersenandung riang, menandakan suasana hatinya sedang bahagia.
__ADS_1
Anggi terkejut mendapati neneknya sudah menata nasi goreng seafood kesukaan seluruh keluarganya, ia bergegas menghampiri neneknya dan membantunya duduk di kursi makan , biasanya Ayu tetap duduk di kursi roda, namun pagi ini ia memberi tanda pada Anggi untuk membantunya duduk di kursi makan.
Kinar juga membantu nenek buyutnya juga, Kinar sangat dekat dengan Ayu, ia juga dengan telaten menyiarkan rambut nenek nya tersebut dan membuatkan juice kesukaan Ayu
akhirnya semua keluarga berkumpul di meja makan, awalnya Putu ingin memprotes istrinya yang turun membuatkan sarapan untuk mereka, namun Anggi menggeleng lemah, ia yakin neneknya sengaja ingin membuat semua orang bahagia dan ia melakukannya dengan senang hati, jika Putu memarahinya, Anggi takut mood Ayu menjadi down dan itu tak baik untuk kesehatannya, terlebih besok merupakan hari dimana ia akan menjalani operasi.
Setelah sarapan Ayu meminta Kinar mendorongnya ke kamar, ia ingin memberikan cicit kesayanga nya itu sesuatu.
”Sayang, tolong ambil kotak kayu diatas meja rias nenek buyut dan bawa kemari"perintah Ayu pada Kinar.
Kinar berjalan ke arah meja rias dan membawa kotak ukir cantik terbuat dari kayu, lalu menyerahkannya pada Ayu.
Ayu membuka perlahan kotak kayu itu, dan mengambil sebuah gelang tangan berbentuk unik, ada batu kecil yang berwarna ungu di tengahnya
”Mana tanganmu cah ayu?" tanya Ayu, Kinar masih dengan bingung menyodorkan tangannya, lalu Ayu memakaikan gelang tangan tersebut di tangan Kinar
"Nenek buyut, Kinar tidak pantas memakainya" tolak Kinar berusaha melepaskannya, namun dengan lembut Ayu melarangnya dan menggeleng
"Nenek buyut memberikan ini sebagai kenang-kenangan, ini tanda kasih sayang nenek buyut untuk kamu"ucap Ayu mencium kening Kinar
"Tapi nenek buyut, Aisya...”
"Tenang saja, nenek juga sudah mempersiapkan sesuatu untuk Aisya, nenek bangga padamu, kamu selalu perduli dengan saudara dan saudariku" Ayu mengelus rambut cicitnya itu yang kini sudah mulai menginjak remaja
”Kinar tidak bisa menerima pemberian nenek buyut.
Nenek dan kakek buyut, serta mama dan papa menyayangi Kinar, itu sudah cukup buat Kinar"
"Anak bodoh, tentu kami menyayangi kinar, kamu gadis paling manis dan penurut, cicit nenek buyut yang cantik.
mengapa kamu harus berkata itu???”
Kinar menundukkan kepalanya dalam, air matanya berurai
"Sebab Kinar bukan anak kandung papa dan mama, Kinar tahu semua nek....” ucap Kinar terisak hingga tubuhnya terguncang.
Ayu tak menyangka jika Kinar kecil mengetahui semuanya dan masih bersikap tenang,
”Stttt, jangan menangis sayang, Kinar membuat nenek buyut sedih, bagaimanapun Kinar tetap cicit nenek, anak papa dan mamamu, tak kan ada yang bisa merubah itu.
__ADS_1
Memang kamu tidak lahir dari rahim mamamu, tapi kamu lahir dari sini, dari hati kami, tak ada bedanya kamu atau saudara dan saudarimu, kami menyayangi kalian semua”ucap Ayu tersenyum sambil mengelus lembut rambut panjang Kinar.
Perkataan Ayu membuat Kinar makin menangis, tangis bahagia dan bersyukur ia berada di keluarga yang penuh kasih ini.