Suamiku Milik Wanita Lain

Suamiku Milik Wanita Lain
EPISODE 145 Kau sungguh menjijikkan


__ADS_3

Para pria sedang menunggu di depan ruang operasi Randy, sementara para wanita menunggu Rita yang masih tidak sadarkan diri.


Indra, pemilik toko roti tadi pamit undur diri setelah menjelaskan semua yang terjadi kepada Ilham. Ilham menyuruh Rei meminta nomor ponsel Indra untuk mengucapkan rasa terima kasih nya nanti setelah selesai dengan urusan Randy dan Vita.


Setelah menunggu cukup lama, akhir nya dokter yang menangani operasi Randy keluar dari ruang operasi.


Ilham langsung menghampiri dokter tersebut dan bertanya keadaan putera nya.


" Dokter, bagaimana dengan keadaan anak saya?, " tanya Ilham dengan raut wajah khawatir.


" Alhamdulillah, operasi berjalan dengan lancar dan keadaan pasien sekarang sudah lebih baik. Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap dan menunggu sampai pasien sadar, " jawab dokter tersebut.


" Alhamdulillah, " ucap mereka semua berbarengan.


" Dokter, tolong berikan perawatan yang terbaik untuk anak saya. Atau, bisa tidak anak saya di pindah kan ke rumah sakit saya saja? Maaf bukan meremehkan kemampuan para dokter dan fasilitas rumah sakit ini, tapi saya hanya ingin yang terbaik untuk anak saya, " ucap Ilham tidak enak hati.


Dokter tersebut tersenyum, Ia sadar siapa laki laki paruh baya di hadapan nya ini.


" Tidak apa apa tuan, kami paham kekhawatiran tuan. Tapi tuan tenang saja, kami akan mengusahakan yang terbaik untuk anak tuan. Untuk sekarang, lebih baik anak tuan di rawat di sini agar tidak banyak mengalami pergerakan, " balas dokter tersebut.


" Oh begitu. Baik lah dok, saya akan menuruti apa yang dokter katakan jika semua itu memang yang terbaik. Saya ucapkan terima kasih banyak dok, " ucap Ilham.


" Sama sama tuan. Kalau begitu, saya permisi, " pamit dokter tersebut dan di jawab anggukan kepala oleh Ilham.


Setelah dokter tersebut pergi, Ilham duduk di kursi yang ada di depan ruang operasi. Ia bisa bernafas sedikit lega karena putera nya baik baik saja. Sesaat kemudian, Ia teringat kembali tentang Vita, menantu nya yang tadi sempat terabaikan karena panik.


" Rei, apa sudah dapat info tentang Vita dari anak buah mu?, " tanya Ilham.


" Belum pi, mereka belum memberi kabar sama sekali, " jawab Rei.


" Coba hubungi mereka sekarang, " perintah Ilham.


" Baik pi, " jawab Rei patuh.


Rei pun menjauh sedikit dari mereka semua lalu menghubungi orang suruhan nya. Rei berteriak emosi karena orang suruhan nya masih belum mendapat informasi apapun. Ia mengancam jika dalam waktu setengah jam tidak mendapat kabar juga, maka nyawa mereka taruhan nya. (Seram amat ya Rei).


Rei kembali menghampiri Ilham dan yang lain nya dengan raut wajah lesu. Mereka yang sudah tau hasil nya hanya bisa diam dengan fikiran kalut memikirkan bagaimana nasib Vita dan kandungan nya.


****


Farrel yang baru saja pulang dari perjalanan bisnis nya langsung menuju ke kediaman keluarga Djaya. Sehari setelah Ia mengunjungi panti asuhan bersama Vita dan yang lain nya, Ia harus terbang ke New York untuk memantau kerja sama bisnis nya dengan salah satu perusahaan yang ada di kota tersebut.


Karena malam ini adalah malam minggu, Farrel berfikir pasti Vita dan yang lain nya sedang berkumpul, mengingat selama Vita hamil, jarang sekali Vita keluar rumah dan teman teman nya saja lah yang datang mengunjungi nya.


Mobil yang di kendarai supir Farrel telah tiba di halaman kediaman keluarga Djaya. Farrel sempat ragu untuk turun karena Ia tidak melihat satu pun kendaraan teman teman Vita ada di sana.


" Apa mereka semua sudah pulang dan Vita sudah tidur ya, " gumam Farrel.


" Coba turun saja tuan, dari pada menerka nerka, " ucap supir Farrel dengan sopan.


" Betul juga pak, " balas Farrel dan si supir tersenyum.


Farrel bergegas turun dari mobil dengan membawa beberapa paper bag, oleh oleh untuk Vita dan penghuni kediaman Djaya.


Setelah memencet bel dan menunggu beberapa saat, akhir nya pintu terbuka dan terlihat bi Ana dengan raut wajah sedih yang tercetak jelas.


" Tuan Farrel, " cicit bi Ana.


Kening Farrel berkerut melihat raut wajah bi Ana yang tidak seperti biasa nya, tetapi Ia menepis fikiran itu dan menanyakan langsung perihal Vita.


" Malam bi, maaf saya mengganggu malam malam begini. Apakah Vita dan Randy sudah tidur?, " tanya Farrel.

__ADS_1


" Itu tuan, em tuan muda dan nona muda, " jawab bi Ana tergagap dan raut wajah nya terlihat semakin sedih.


" Ada apa bi?, " tanya Farrel mulai khawatir.


" Tadi tuan besar mendapat kabar kalau tuan muda berada di rumah sakit setelah pulang makan malam dengan nona muda, " jawab bi Ana.


Farrel terkejut mendengar kabar yang di sampaikan oleh bi Ana. Semua paper bag yang ada di tangan nya jatuh ke lantai.


" Apa yang terjadi dengan mereka, bi?, " tanya Farrel.


" Bibi tidak tau pasti tuan. Tadi tuan besar hanya pamit untuk pergi ke rumah sakit, " jawab bi Ana.


" Di rumah sakit mana bi?, " tanya Farrel.


" Bibi juga tidak tau tuan. Coba tuan telepon tuan Rei karena tadi semua nya sedang berada di sini dan mereka pergi bersama sama, " jawab bi Ana.


" Baik bi, terima kasih, " ucap Farrel lalu langsung pergi ke mobil nya tanpa menunggu balasan dari bi Ana


Bi Ana mengambil semua paper bag yang jatuh ke lantai setelah Farrel pergi lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.


Setelah masuk ke dalam mobil, Farrel menyuruh supir nya untuk segera menjalankan mobil nya. Ia menghubungi Rei untuk menanyakan di rumah sakit mana Randy dan Vita di rawat. Setelah mendapat informasi nya, Ia langsung menyuruh supir nya melajukan mobil nya menuju ke rumah sakit xx.


Farrel bergegas turun dari mobil saat mobil yang membawa nya tiba di depan lobi rumah sakit, lalu berlari menuju ke ruangan yang di katakan oleh Rei.


Sesampai nya di dalam ruangan VVIP, Farrel melihat semua orang di sana dengan wajah tertunduk lesu. Di sana, Ia juga melihat Rita yang sedang menangis di dalam pelukan Ilham. Setelah sadar dari pingsan nya, Rita meminta untuk di bawa ke ruangan Randy.


Setelah memandangi semua orang, Kening Farrel berkerut karena tidak melihat Vita di sana. Yang ada, hanya Randy yang terbaring dengan kepala di balut perban.


Di mana Vita? Apa di rawat di ruangan lain? Tapi, kenapa tidak ada yang menjaga nya? Kenapa semua nya malah di sini?


Semua pertanyaan pertanyaan itu berputar di kepala Farrel. Tidak juga mendapat jawaban dari semua pertanyaan nya, akhir nya Farrel bertanya kepada Rei.


" Di mana Vita, Rei?, " tanya Farrel.


" Vita, dia di culik, " jawab Rei lirih.


" Aapaa, " pekik Farrel terkejut.


****


Di sebuah ruangan, seorang wanita meluapkan emosi nya kepada seorang pria yang sedang duduk santai di kursi kebesaran nya. Ia tidak bisa meredam emosi nya setelah mendapatkan sebuah kabar yang sangat mengejutkan diri nya.


" Kau sudah gila. Kenapa kau memukul kepala nya?, " Teriak wanita itu dengan emosi.


" Aku hanya memberi nya sedikit pelajaran karena berani menyentuh milik ku, " jawab pria itu dengan santai nya.


" Kau benar benar gila. Bagaimana kalau dia mati, " teriak wanita itu tidak terima.


" Berarti dia sungguh lemah. Hanya terkena pukulan seperti itu, dia mati, " jawab pria itu dengan nada sedikit mengejek.


" Kau menyuruh anak buah mu memukul nya dengan balok. Itu sungguh keterlaluan. Sekarang, dia sedang menjalani operasi. Ingat, kalau dia kenapa napa, aku tidak akan segan segan membunuh wanita jal*ng itu, " ancam wanita itu.


Mendengar ancaman wanita itu, pria itu begitu emosi. Rahang nya mengetat dan mengepalkan kedua tangan nya dengan erat. Ia bangkit dan berjalan mendekat ke arah wanita itu.


Wanita itu menelan saliva nya susah payah melihat pria yang ada di hadapan nya berjalan mendekati nya dengan raut wajah yang menyeramkan.


Grepp.


Pria itu mencengkram pipi wanita itu dengan keras dan menyeringai.


" Jika kau berani menyentuh milik ku seujung rambut nya saja, maka kau akan mendengar berita kematian pria bodoh itu. Lalu setelah itu, aku akan memberikan kematian yang sangat menyakitkan untuk mu, " ancam pria itu.

__ADS_1


Wanita itu meringis ketakutan. Ia lupa siapa pria yang ada di hadapan nya saat ini. Siapa diri nya sampai berani mengancam pria itu seperti tadi. Ia pun mengangguk, lalu pria itu melepaskan cengkraman nya dengan kasar.


Saat pria itu ingin mengingatkan kembali ancaman nya, pintu ruangan nya di ketuk dari luar membuat nya mengurungkan niat nya itu.


" Masuk, " perintah pria itu dingin.


Pintu ruangan terbuka dan terlihat seorang pelayan wanita masuk ke dalam ruangan dengan takut takut.


" Ada apa?, " tanya pria itu dengan nada dingin dan mengintimidasi.


" Ma..maaf tuan. Saya ingin memberitahukan kalau nyonya telah sadar dan sekarang Ia memberontak ingin pergi, " jawab pelayan itu takut takut.


Mendengar wanita nya telah sadar, pria itu bergegas pergi ke kamar nya di mana wanita nya berada.


Sesampai nya di depan kamar nya, Ia langsung membuka pintu kamar nya dan melihat kamar tidur nya sudah tidak berbentuk lagi. Ini pasti ulah wanita nya yang mengamuk, Ia hanya tersenyum.


Pria itu masuk di susul oleh wanita yang tadi bersama dengan nya. Ia melihat wanita nya meringkuk di sudut kamar nya dengan memeluk kedua lutut nya.


Pria itu berjalan menghampiri wanita nya lalu berlutut di depan wanita nya.


" Kenapa kamu melakukan hal ini? Itu bisa membahayakan bayi kita, " ucap pria itu dengan lembut.


Wanita itu mendongak kan kepala nya lalu menatap pria itu dengan sinis.


" Kau sungguh menjijikkan, " ucap wanita itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.


***Hayoo hayoo, penasaran gak siapa pria dan wanita itu??


Episode selanjutnya akan mengungkapkan siapa mereka.

__ADS_1


Tunggu kelanjutannya ya akak akak semua.


Jangan lupa like, comment ant vote yang banyak ya akak***.


__ADS_2