
PARIS, PERANCIS.
Clara terbangun di pagi hari di dalam sebuah kamar yang sangat mewah. Ia melihat ke arah samping nya, ranjang itu kosong. Clara duduk dan menyandarkan tubuh polos nya yang terbalut selimut di punggung tempat tidur.
Clara mengingat kembali kegiatan panas nya kemarin malam bersama Alex. Alex benar benar memuaskan nya. Ia tak pernah merasakan sepuas ini saat berhubungan dengan pria lain, apalagi mendapatkan nya dari Randy.
Clara benar benar merasa kesal dan emosi saat mengingat Randy menolak berhubungan intim dengan nya. Padahal, saat itu Clara telah membuka seluruh pakaian nya. Bukan nya mendapatkan apa yang di inginkan, Randy malah meninggalkan Clara sendirian di dalam kamar Apartemen Clara.
Sebuah kecupan mesra mendarat di kening Clara, membuat Clara sadar dari lamunan nya. Ia melihat Alex yang baru saja selesai mandi dan keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan handuk kecil melilit di pinggang nya.
" Sayang, kamu melamun?, " tanya Alex.
" Ah, kamu mengagetkan ku, " jawab Clara yang telah sadar dari lamunan nya.
" Maaf sayang telah mengagetkan mu. Lalu apa yang membuat kekasih ku melamun?, " tanya Alex yang sudah duduk di samping Clara.
" Tidak ada, hanya mengingat betapa buas nya diri mu kemarin malam saat memakan ku. Bahkan, kamu membuat ku baru bisa tidur pukul tiga dini hari, " jawab Clara tersenyum menggoda.
" Mau bagaimana lagi, kamu begitu nikmat sehingga aku tidak rela melepaskan mu begitu cepat, " balas Alex yang kini sudah menarik Clara ke dalam pelukan nya dan memeluk Clara dengan erat.
Clara merasa senang karena Alex begitu tergila gila pada nya. Sesaat, Ia bisa melupakan kekesalan nya terhadap Randy yang bahkan sampai sekarang belum memberikan nya kabar.
" Sayang, tinggal lah di sini dengan ku. Aku ingin saat pulang dari kantor, kamu menyambut ku dengan senyum indah milik mu itu, " pinta Alex.
" Baiklah, jika itu keinginan mu, " jawab Clara.
" Benarkah?, " tanya Alex dan Clara mengangguk mengiyakan.
" Oh, aku sungguh sangat bahagia sayang karena setelah hari ini aku akan terus melihat senyum indah mu, " ucap Alex yang semakin mempererat pelukan nya.
" Justru aku yang sangat bahagia karena bisa tinggal di penthouse semewah ini. Dan mungkin, aku tak akan pernah mendapatkan nya dari Randy. Laki laki itu begitu pengecut untuk bisa memberontak dari orang tua nya, " gumam Clara dalam hati dengan senyum sinis nya dan yang pasti Alex tidak melihat senyuman sinis nya itu.
Alex melepaskan pelukan nya dan menatap dalam wajah Clara, lalu mencium kilas bibir Clara.
" Mandi lah, lalu kita turun ke bawah untuk sarapan. Setelah itu, aku akan mengantar mu pulang ke apartemen untuk mengganti baju mu sebelum pergi melakukan pemotretan, " ucap Alex lembut.
Clara mengiyakan ucapan Alex lalu turun dari tempat tidur dengan selimut yang membalut tubuh polos nya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Alex bangkit dan berjalan menuju lemari mengambil pakaian kerja nya lalu memakai nya. Sambil menunggu Clara selesai mandi, Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ponsel nya.
Clara telah selesai mandi dan keluar dengan menggunakan bathrobe. Ia memungut pakaian nya yang berserak di lantai, lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai pakaian nya.
Selesai berpakaian, Clara keluar dari kamar mandi dan mengajak Alex untuk turun ke bawah.
Setelah selesai sarapan, Alex mengantar kan Clara pulang ke apartemen milik Clara. Alex mendudukkan diri nya di sofa yang ada di ruang tamu Clara, sementara Clara pergi ke kamar nya untuk ganti baju.
Selesai berganti baju, Alex kembali mengantar Clara pergi ke tempat kerja Clara untuk melakukan pemotretan. Setelah mengantar Clara, Alex kembali melajukan mobil nya menuju kantor nya.
__ADS_1
****
JAKARTA, INDONESIA.
Kediaman keluarga Djaya yang tenang, kini riuh dengan suara tawa dan canda dari teman teman sekelas Vita.
Kini mereka sedang duduk di meja makan, menikmati hidangan yang telah di masak bi Ana sambil saling melontarkan candaan membuat Ilham dan Rita gak bisa menahan tawa mereka.
Awal nya, mereka begitu takut saat menginjak kan kaki mereka di kediaman keluarga Djaya. Mengingat, tatapan mengintimidasi dari Randy serta aura menakutkan dari Ilham, membuat mereka begidik ngeri saat masuk ke dalam kediaman keluarga Djaya.
Namun, sambutan hangat dari Ilham dan Rita membuat ketakutan mereka hilang. Mereka tidak merasakan lagi aura menakutkan yang keluar dari tubuh Ilham, seperti saat kemarin mereka datang menjenguk Vita.
Setelah selesai makan siang, Vita dan teman teman nya pamit untuk belajar bersama di gazebo yang ukuran nya cukup besar untuk menampung mereka semua yang ada di taman belakang kediaman Djaya. Di sana, telah tertata meja meja belajar kecil serta sebuah papan tulis putih yang sebelum nya telah di siapkan oleh Randy agar Vita dan teman teman nya nyaman saat belajar.
Mereka terlihat belajar dengan serius.Terutama Fabian, Ia mendengar kan dan menyimak dengan serius setiap penjelasan yang di lontarkan oleh Vita. Penjelasan dari Vita lebih mudah untuk di pahami Fabian, dari pada penjelasan yang di berikan guru nya. Sehingga, dengan mudah Fabian langsung paham dan mengerti.
Dua jam telah mereka habis kan untuk belajar. Kini, saat nya mereka merelakskan otak dan tubuh mereka.
" Momsky, gitar lo ada di sini atau di rumah lama lo?, " tanya Reno.
" Ada di sini. gue juga membawa nya saat pindah ke rumah ini. Memang nya kenapa?, " tanya Vita balik.
" Ambil dong, kita nyanyi nyanyi menghilangkan ketegangan setelah belajar selama dua jam, " pinta Reno.
" yaudah, sebentar gue ambil di kamar, " ucap Vita lalu bangkit dan berjalan menuju kamar nya.
Selang berapa lama, Vita kembali dengan membawa gitar di tangan nya. Vita menyerah kan kepada Reno dan Reno langsung mengambil gitar itu dari tangan Vita.
Bila yang tertulis untuk ku adalah yang terbaik untuk mu,
Kan ku jadi kan kau kenangan yang terindah dalam hidup ku.
Namun tak kan mudah bagi ku meninggalkan jejak hidup mu,
Yang tlah terukir abadi sebagai kenangan yang terindah.
Sontak saja sebuah pukulan mendarat di kepala Reno. Reno menoleh ke arah seseorang yang mendaratkan pukulan di kepala nya. Ia melihat Alfian menatap tajam ke arah nya, membuat nya menalan saliva dengan susah payah.
Fabian yang paham akan situasi mengambil alih gitar di tangan Reno. Kemudian, Ia duduk di depan Ririn dan menyanyikan lagu cinta untuk Ririn.
Pipi Ririn merona merah karena merasa malu. Ia gak menyangka, Fabian akan menyanyikan lagu cinta untuk diri nya di depan semua teman teman sekelas.
Selesai bernyanyi Fabian menyerahkan gitar kepada Alfian, lalu menggenggam erat kedua tangan Ririn. Fabian menarik nafas nya lalu membuang nya perlahan. Ia lakukan itu sampai beberapa kali sampai kegugupan di diri nya sedikit menghilang.
" Rin, gue bukan lah seseorang yang baik, bukan lah seseorang yang pintar dan bukan pula lah seseorang yang hebat.Tapi, gue akan berusaha untuk terus bisa menjadi seseorang yang baik untuk bisa mendampingi diri lo, bisa membahagiakan lo. Gue berjanji akan belajar keras dan nanti nya gue juga akan bekerja keras untuk bisa membuat diri gue pantas duduk berhadapan dan berjabat tangan dengan papa lo di depan penghulu. Namun, saat gue sedang berusaha menggapai semua itu, Apakah lo mau menunggu dan menjadi penyemangat gue?, " tanya Fabian dengan gugup.
Ririn gak menyangka Fabian akan mengatakan semua itu di depan teman teman nya. Ia memang tau, jika selama ini Fabian sering mengganggu nya karena laki laki itu memiliki perasaan untuk diri nya. Namun, Ia gak menyangka Fabian akan mengutarakan semua nya saat ini.
__ADS_1
" Jika lo menolak, gue berjanji persahabatan kita akan tetap seperti dulu dan gak akan pernah berubah. Gue gak mau, lo terpaksa dan terbebani karena takut merusak persahabatan dan kekeluargaan yang udah terjalin. Jadi, apapun keputusan lo, gue akan menerima nya dengan ikhlas, " ucap Fabian mantap.
Ririn menghela nafas nya dengan berat sebelum menjawab dan membuat Fabian berfikir bahwa Ia akan di tolak oleh Ririn.
" Gue akan menunggu lo dan akan selalu menjadi penyemangat di hidup lo. Sampai waktu di mana lo akan duduk berhadapan dan menjabat tangan papa gue di depan penghulu dan para saksi, " jawab Ririn mantap.
Fabian yang sudah kalut akan fikiran nya yang di pasti akan di tolak oleh Ririn, membuat nya gak fokus dan menyauti asal jawaban Ririn.
" Gue ngerti lo nolak gue, dan gue gak akan marah. Gue ikhlas, jika lo hanya menganggap gue sebagai sahabat seumur hidup lo, " ucap Fabian lesu.
Reno memukul kepala Fabian dengan keras membuat Fabian meringis dan menatap marah kepada Reno. Sudah di tolak cinta nya, kini Ia harus merasakan pukulan dari sahabat nya, begitu lah fikir nya.
" Woi bodoh, lo gak dengar Ririn menjawab kalau dia terima cinta lo?, " tanya Reno kesal karena bisa bisa nya sahabat nya itu error tiba tiba.
" Hah? Serius?, " tanya Fabian gak percaga lalu menatap wajah Ririn meminta jawaban kembali.
Ririn mengangguk dan tersenyum. Fabian langsung memeluk Ririn dengan perasaan yang teramat bahagia. Ia gak menyangka cinta nya akan di terima oleh Ririn.
Fabian terpaksa melepaskan pelukan nya bersama dengan Ririn karena mendapat omelan panjang dari Reno yang meminta mereka menghentikan aksi mesra mesraan mereka.
Ririn tersenyum lalu mengelus lembut lengan Fabian saat melihat Fabian yang cemberut. Ririn mengatakan untuk gak perlu marah dan cemberut, dan Fabian menuruti perkataan Ririn.
Mereka kembali bernyanyi dan terkadang saling melontarkan candaan, membuat mereka tertawa bahagia.
Alfian memberikan candaan yang membuat Vita tertawa terbahak bahak sampai mengeluarkan air mata.
Tanpa mereka semua sadari, seorang laki laki di kejauhan sedang mengepalkan kedua tangan tangan nya menahan emosi. Kemudian, Ia lepaskan kepalan tangan kanan nya dan meletakkan tangan kanan nya di atas dada kiri nya.
" Sakit sekali hati ini, melihat mu tertawa karena laki laki itu. Ternyata, hati ini telah mencintai diri mu, " ucap laki laki itu yang tak lain adalah Randy.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa like and vote nya yang banyak ya akak. Jangan cuma comment "lanjut" aja ya.