
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Kandungan Vita kini sudah memasuki usia sembilan bulan dan menurut perkiraan dokter, Ia akan melahirkan dalam beberapa hari lagi.
Randy telah mengambil cuti lebih awal untuk menemani Vita di rumah. Terlebih, Ia ingin berada di dekat Vita jika Vita sudah mulai merasakan kontraksi. Jadi, Ia bisa cepat membawa Vita ke rumah sakit. Randy ingin menggantikan waktu yang terlewatkan saat Queen lahir dulu, di saat Ia tidak ada di samping Vita saat itu.
" Bunda, Queen pulang, " teriak Queen saat masuk ke dalam rumah. Ia berlari mencari bunda nya yang tidak terlihat menyambut nya pulang sekolah.
" Ya Allah, anak nya bunda bukan nya ucapin salam saat masuk ke rumah, ini malah teriak teriak, " omel Vita menghampiri puteri nya sambil membawa spatula di tangan nya karena Ia sedang memasak di dapur.
" Hehehe maaf bunda, Queen ulangi lagi ya, " jawab Queen lalu berlari keluar rumah dan berdiri di depan pintu utama. Vita tersenyum gemas melihat tingkah puteri nya, begitu juga dengan Peter yang hari ini bertugas menjemput Queen.
" Assalamualaikum, Queen pulang, " ucap Queen dengan nada sedikit keras agar terdengar sampai ke dalam rumah lalu berjalan masuk mendekati bunda, ayah, grandma, dan grandpa yang baru saja turun dan menghampiri Vita yang sedang berdiri di ruang tamu.
" Waalaikumussalam, " jawab semua orang serempak.
Queen bergantian mencium punggung tangan semua orang lalu berpamitan pergi ke kamar nya untuk berganti pakaian. Sejak masuk sekolah, Vita sudah mengajarkan kepada Queen untuk mandiri. Seperti mandi, memakai atau mengganti pakaian nya serta menata sendiri tempat tidur nya setelah bangun tidur. Ia tidak ingin puteri nya manja meskipun terlahir sebagai puteri seorang sultan.
" Mi, Vita pamit ke dapur lagi ya. Vita belum selesai masak, " pamit Vita. Namun saat ingin melangkahkan kaki nya, Randy menahan tangan Vita.
" Biar bibi saja yang melanjutkan masak nya, kamu istirahat saja. Aku tidak ingin kamu kelelahan. Apa lagi kalau sampai ada apa apa dengan kandungan kamu, " ucap Randy.
" Ya ampun sayang, aku tidak akan kenapa napa. Lagi pula saat ini aku memang harus lebih banyak berjalan atau bergerak supaya lebih mudah saat melahirkan nanti. Aku masih berharap bisa melahirkan secara normal, meskipun kemungkinan nya sangat kecil, " balas Vita gemas karena Randy selalu melarang nya untuk melakukan apa pun.
" Tapi tetap saja, aku takut kamu kenapa napa. Biar bibi saja yang memasak, " keukeh Randy.
" Sudah turuti saja ucapan suami mu, Vit. Kalau tidak, dia akan terus berdebat dengan mu dan kamu juga tidak akan bisa melanjutkan masak, " ucap Rita menghentikan perdebatan putera dan menantu nya.
Vita menghela nafas nya lalu mengangguk pasrah. Ia meminta tolong kepada Peter untuk memberikan spatula yang Ia bawa kepada bibi.
" Kamu mau nonton drama Korea atau film India?, " tanya Randy sambil menuntun Vita duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
Vita duduk menyandar di sofa lalu berfikir sejenak " Drama Korea saja sayang. Kemarin aku belum selesai nonton drama yang berjudul The World of Married. Itu, kaset nya ada di laci, " jawab Vita.
Randy mengangguk lalu memutar kaset drama Korea yang judul nya tadi di sebut Vita. Rita dan Ilham juga ikut bergabung nonton karena sejak awal Vita menonton drama itu, mereka juga ikut dan sudah terlanjur penasaran dengan kelanjutan nya.
" Bunda nonton apa? " tanya Queen yang kini sudah bergabung di ruang keluarga dan duduk di samping bunda nya.
" Nonton drama Korea, sayang, " jawab Vita menatap sebentar ke arah Queen lalu kembali menatap layar televisi.
Queen menatap layar televisi " Bunda, ini kan yang kemarin kita tonton bareng grandma, grandpa dan aunty Manda. Ihh Queen benci banget deh sama laki laki itu, dia jahat karena dekat dekat sama tante genit, " teriak Queen kesal sambil menunjuk ke layar televisi.
Randy memandang puteri dan istri nya secara bergantian lalu menepuk kening nya pelan " Ternyata anak gue tontonan nya begini, pantas saja dia dewasa sebelum waktu nya, " gumam Randy dalam hati.
__ADS_1
****
Vita merasa tidak nyaman dalam tidur nya. Ia terbangun dan duduk menyandar di ranjang sambil meringis dan mengelus perut nya.
" Seperti nya sudah waktu nya mereka lahir, " gumam Vita lalu mengatur nafas nya agar tetap merasa relaks.
" Sayang, bangun, " panggil Vita sambil menggoyang lengan Randy.
Randy terbangun lalu duduk bersandar di ranjang dengan mata masih terpejam.
" Sayang, ayo bangun siapkan mobil. Si kembar seperti nya sudah ingin lahir, " panggil Vita lagi karena Randy malah kembali tertidur.
Kedua mata Randy terbuka sempurna lalu menoleh ke arah Vita. Ia melihat Vita meringis sambil terus mengelus perut nya. Tiba tiba saja, Ia meloncat dari atas ranjang lalu berlari keluar kamar dan berteriak dengan sekencang kencang nya untuk membangun kan semua orang lalu kembali lagi masuk ke dalam kemar nya.
" Sayang, aku harus gimana sekarang, " panik Randy menghampiri Vita.
" Tenang sayang, tarik nafas lalu keluarkan, lakukan beberapa kali, " perintah Vita karena melihat suami nya panik luar biasa.
Ya ampun Rand, kok malah kamu yang di tenangin sih bukan nya menenangkan Vita. Terbalik ini nama nya, Rand.
Randy melakukan apa yang di perintahkan Vita sampai Ia merasa lebih tenang. Semua orang masuk ke dalam kamar Randy dan Vita saat mendengar teriakan Randy.
" Alfian, siapkan mobil, " perintah Ilham karena melihat keadaan Randy yang terlihat panik dan bingung. Alfian dengan segera keluar kamar untuk menyiapkan mobil
" Kamu masih kuat berjalan, nak?, " Vita mengangguk menjawab pertanyaan Rita.
" Rand, bantu Vita turun dari ranjang dan tuntun dia ke mobil, " ucap Rita dan di jawab anggukan oleh Randy lalu membantu Vita turun dari ranjang dan menuntun nya perlahan keluar kamar dan turun ke bawah.
Vita di bawa ke rumah sakit dengan Alfian yang mengemudikan mobil nya. Vita duduk di bangku penumpang di apit oleh Rita dan Randy. Sementara, Ilham duduk di bangku penumpang di samping Alfian.
Mobil yang di kendari Alfian melaju dengan di kawal ketat beberapa mobil pengawal pribadi keluarga Djaya dan juga pengawal pribadi Vita. Bagian depan di pimpin oleh Felix, sementara di bagian belakang di kawal oleh mobil yang di kendarai oleh Peter.
Amanda berada tepat di belakang mobil Alfian bersama dengan Queen, bi Ana dan bi Asih dengan mobil yang di kendarai oleh mang Ujang.
" Sayang, kamu ngompol?, " tanya Randy saat melihat cairan mengalir di kedua paha Vita.
" Ya Allah, Fian bawa mobil nya lebih cepat lagi. Ketuban Vita sudah pecah dan akan segera melahirkan, " teriakan Rita membuat Randy semakin panik dan Fian jadi ikutan panik.
" Tetap konsentrasi bawa mobil nya, Fian, " ucap Ilham mengingatkan Alfian.
Alfian menarik nafas nya lalu mengeluarkan nya, Ia lakukan itu berulang kali sampai merasa lebih tenang. Papi nya benar, Ia harus tetap tenang dan konsentrasi dalam situasi ini.
__ADS_1
" Fian, lebih cepat lagi, " teriak Randy semakin panik karena mendengar ringisan Vita yang mengalami kontraksi.
Alfian menambah kecepatan nya karena Randy terus berteriak menyuruh nya untuk lebih cepat lagi.
" Jangan ngebut ngebut juga Fian, nanti malah nabrak lagi, " ucap Vita mengingatkan karena Alfian semakin melajukan mobil nya dengan kencang karena perintah Randy.
Alfian menggerutu kesal " Begini banget ya mengantar kan orang yang mau melahirkan, serba salah. Yang satu menyuruh cepat, yang satu bilang jangan ngebut ngebut. Gue harus apa coba, " Alfian meringis kesakitan karena Randy memukul belakang kepala nya.
" Jangan banyak protes, " omel Randy.
Alfian mendengus kesal " Sabar Fian, sabar, " gumam nya dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, comment and vote yang banyak ya akak.