
Vita ikut duduk di sofa yang sama dengan Randy. Ia masih terus mencoba merayu Randy supaya mau memaafkan nya.
" Mas, maaf. Jangan marah lagi, yah yah, " bujuk Vita sambil memegangi lengan Randy.
Namun, Randy gak bergeming. Ia malah memalingkan wajah nya dari Vita.
Vita bingung harus berbuat apa, supaya Randy memaafkan nya. Sesaat, sebuah ide terlintas di fikiran nya.
Vita mengecup pipi Randy, lalu bergelayut manja di lengan Randy supaya Randy luluh. Randy terkejut saat mendapat kecupan di pipi nya. Namun, Ia berusaha menguasai diri supaya gak luluh dengan rayuan Vita.
" Babang, maafkan istri mu ini ya. Tadi, aku fikir ada laki laki kurang ajar yang mencium ku. Jadi, refleks deh aku dorong dan tendang, " ucap Vita manja.
" Seharusnya, kamu bangga dong karena istri kamu ini mempertahankan harga diri nya supaya gak di lecehkan. Ini malah marah begini, " ucap Vita lagi.
Randy menoleh ke arah Vita dengan tatapan tajam yang menakutkan, membuat Vita langsung melepaskan tangan nya dari lengan Randy.
" Kamu bilang mempertahankan harga diri karena di lecehkan? Cihh, tadi aja kamu membalas ciuman itu sampai mengeluarkan desahan. " ucap Randy kesal.
Vita terdiam karena apa yang di bilang Randy benar. Sesaat, Ia memang membalas ciuman itu. Lalu, sekarang harus bagaimana lagi untuk membujuk Randy agar memaafkan nya.
" Babang, tadi aku membalas ciuman itu, karena saat tidur aku bermimpi kamu mencium aku. Jadi, aku balas deh. Aku fikir hanya mimpi, tau nya nyata, " ucap Vita.
" Ooo, jadi kamu mimpi yang jorok jorok ya, " ucap Randy dengan menaikkan sebelah alis nya.
" Ihhh, gak kok, " Elak Vita.
" Babang, udah dong jangan marah lagi. Maafkan istri mu yang cantik ini ya, " pinta Vota dengan mengatupkan kedua tangan nya.
" Cihh, " cibir Randy.
Vita menghembuskan nafas nya secara kasar.Ia udah kehabisan kata kata dan gak tau lagi mau berbuat apa supaya Randy bisa memaafkan nya.
" Sayang, maafin ya. Janji deh, kalau kamu maafin, aku kasih apapun yang kamu mau, " ucap Vita manja.
Randy menatap Vita lalu tersenyum genit dan menaik turun kan kedua alis nya. Vita menelan saliva nya saat melihat reaksi Randy.
" Mati deh. Minta apa lah suami gue ini?, " batin Vita.
Randy menyentuh bibir nya.
" Ciuman yang lebih mesra seperti tadi pagi. Tapi, harus kamu yang memulai, " ucap Randy.
" Ogah. Dasar mesum, " balas Vita lalu memalingkan wajah nya.
" Ooo, gak mau ya? Yaudah, aku gak akan maafin kamu dan kita gak jadi pergi ke bandara, antar papah andy dan yang lain nya, " ancam Randy.
Vita langsung menoleh ke arah Randy karena mendengar ancaman dari Randy.
" Haiss, bisa nya mengancam. Nyebelin, " ucap Vita kesal.
" Biarlah. Sekarang, mau gak di maafkan?, " tanya Randy dengan menaikkan sebelah alis nya.
Vita merasa kesal. Bisa bisa nya, Randy mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti ini. Rasa nya, Ia ingin sekali meremas remas wajah Randy sampai gak berbentuk.
__ADS_1
Vita menarik nafas dan membuang nya perlahan. Ia lalukan itu sampai tiga kali.
" Baiklah. Tapi, janji dimaafin ya, " ucap Vita.
" Iya istri ku yang cantik dan menggemaskan, " balas Randy gemas.
Vita mendekatkan tubuh nya dengan Randy. Perlahan, tangan kanan nya mengelus pipi kiri Randy. Lalu, mendekatkan bibir nya dengan bibir Randy. Namun, belum sempat mencium bibir Randy, handphone Randy berdering. Vita pun menghentikan aksi nya.
Randy mengambil handphone nya yang terselip di saku celana nya, lalu melihat nama yang tertera di layar. Terlihat, nama Clara yang ada di sana.
Vita melihat nama Clara muncul di sana, refleks membuang muka. Mood nya menjadi hancur.
" Sebentar ya, aku angkat telepon dari Clara, " ucap Randy.
" Terserah, " balas Vita dengan nada ketus.
Vita langsung mengambil tas nya dan berjalan keluar ruangan Randy. Rasa nya, saat ini emosi nya udah di ubun ubun. Vita gak menoleh dan terus berjalan meskipun Randy memanggil nya.
****
Vita terus berjalan dengan mulut yang tak henti henti nya menggerutu. Bahkan, para staff yang berpapasan dengan nya gak ada yang berani menyapa nya.
Setelah sampai di depan gedung, baru lah Vita berhenti sejenak. Ia mengatur nafas nya yang sedikit tersengal, karena berjalan dengan cepat dan mengomel sepanjang perjalanan dari ruangan Randy hingga ke depan gedung.
Vita memperhatikan sekitar, gak ada taxi yang lewat. Ia berjalan kembali agak jauh dari kantor Randy, setelah itu Ia memesan ojol. Vita menunggu sebentar dan tak berapa lama ojol pun datang. Vita langsung naik dan motor melaju mengarah rumah nya sendiri. Saat ini, Ia malas pulang ke rumah keluarga Djaya.
Setelah mengangkat telepon dari Clara, Randy langsung menyusul Vita tapi gak ketemu. Bahkan, Ia mencari sampai ke luar gedung namun Vita juga gak bisa Ia temukan.
Randy bertanya kepada satpam yang sedang bertugas, apakah melihat vita atau tidak. Satpam pun menjawab melihat nya keluar dan berjalan sedikit jauh dari kantor dan naik ojol. Randy yang mendengar itu, langsung menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil nya untuk mengejar Vita.
Sesampai nya dihalaman rumah Djaya, Randy memarkirkan mobil nya dan keluar dari mobil. Ia langsung masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar nya.
Randy gak menemukan Vita di kamar. Ia memeriksa kamar mandi, namun Vita juga gak ada di sana. Randy langsung kembali ke bawah dan mencari bi Ana, karena semua orang yang lain udah berangkat ke bandara.
Saat udah bertemu bi Ana di dapur, Randy langsung bertanya apa Vita udah pulang kerumah atau belum. Namun, bi Ana menjawab belum ada yang kembali sejak semua berangkat ke bandara.
Randy frustasi karena gak menemukan Vita. Ia langsung kembali ke mobil dan mengendarai mobil nya menyusuri ke setiap jalanan.
Randy berfikir, kira kira ke mana Vita pergi. Gak mungkin kan, Ia pergi ke rumah teman nya atau langsung ke bandara. Tiba tiba, terlintas di fikiran nya rumah Vita yang di tinggali sebelum menikah. Randy langsung melajukan mobil nya menuju rumah lama Vita.
****
Vita telah sampai dirumah nya sejak tadi. Ia langsung mengganti seragam sekolah nya dengan baju tidur.
Vita memang gak membawa semua baju nya ke Rumah randy. Ia berfikir, jika suatu saat ingin menginap, gak perlu membawa baju lagi.
Vita merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur. Ia merasa rindu dengan kamar nya dan gak butuh waktu lama, Ia udah berada di alam mimpi.
Randy tiba di depan rumah Vita. Ia langsung mematikan mesin mobil dan keluar dari mobil. Begitu di depan pintu rumah Vita, Randy mengetuk pintu berharap Vita ada di dalam rumah.
Vita terbangun karena suara ketukan pintu yang tiada henti. Takut di marahi tetangga, Vita bangun dan berjalan keluar kamar untuk membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Randy langsung memeluk erat Vita. Rasa nya, Ia begitu lega karena udah menemukan Vita.
__ADS_1
Vita terkejut karena tiba tiba Randy memeluk nya. Ia lupa kalau sedang merajuk dengan Randy.
" Kamu kenapa, tadi pergi tiba tiba sambil marah marah? Aku cari kemana mana gak ketemu. Aku takut kamu kenapa napa, " ucap Randy khawatir.
Vita mendorong tubuh Randy sampai pelukan mereka terlepas. Ia baru sadar sekarang, sedang merajuk. Karena baru bangun dan buru buru buka pintu, sampai lupa kekesalan nya tadi terhadap Randy.
" Untuk apa cari gue, urus aja kekasih lo itu, " ucap Vita emosi lalu langsung menutup pintu rumah.
Randy terus mengetuk pintu sambil memanggil manggil Vita untuk dibukakan pintu.
" Vit buka pintu nya. Kita bisa bicarakan baik baik semua ini. Please vit, " pinta Randy
" Udah sana lo pulang. Gue gak mau ketemu lo lagi, " ucap Vita emosi.
" Aku minta maaf dan tolong buka pintu nya. Kita bicarakan baik baik yah, " rayu Randy
Vita membuka pintu dan membiarkan Randy masuk. Sebenar nya, Ia masih sangat kesal. Tapi, dari pada nanti tetangga datang karena keributan yang mereka buat, lebih baik Vita menyuruh Randy masuk.
Setelah pintu terbuka, Randy masuk dan menggenggam tangan Vita lalu mengajak nya untuk duduk di sofa. Vita menurut dan duduk, namun Ia memalingkan wajah nya kesembarang arah. Vita malas untuk memandang wajah Randy.
" Vit, maaf. Aku tau kamu marah karena aku mengangkat telepon dari Clara. Tapi, aku juga gak bisa mengabaikan nya, " ucap Randy yang terus menggenggam tangan Vita.
" Please, kamu ngertiin aku, " ucap Randy.
Vita menoleh ke arah Randy. Wajah nya memerah karena menahan amarah.
" Gue selalu ngertiin lo, tapi lo yang gak pernah ngertiin gue. Apa susah nya kalau saat sedang bersama gue, lo abaikan dia. Gue istri sah lo, tapi selalu gak lo anggap. Yang selalu lo fikirin cuma dia. Kurang gue apa coba dari dia? bisa gak kalau hanya ada gue di hidup lo, "ucap Vita emosi.
" Maaf, " hanya itu yang bisa Randy ucapkan.
Menurut Randy, Vita memang cukup sempurna untuk hidup nya. Terlebih, keluarga nya sangat menyayangi Vita. Tapi hanya satu kurang nya, Randy gak mencintai Vita dan hanya mencintai Clara. Itu yang membuat Randy gak bisa menjadikan Vita satu satu nya di hidup nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Maaf ya akak akak kalau bosan dengan cerita nya dan minta vita cepat cepat tamat sekolah. Jujur, saya membuat cerita ini dengan alur yang lambat. Kalau vita nya cepat tamat sekolah, cepat habis deh cerita nya.
__ADS_1
Jadi, saya harap akak akak sabar aja ya dan ikuti terus kisah kisah mereka.
Terima kasih 🙇🙇.