Suamiku Milik Wanita Lain

Suamiku Milik Wanita Lain
EPISODE 171 Sungguh Aku Sangat Kecewa


__ADS_3

Sesuai dengan rencana tadi malam setelah sholat subuh dan sarapan, Randy bersiap siap berangkat ke bandara. Meskipun menggunakan pesawat pribadi, tetap saja jalanan ibu kota yang selalu padat mengharuskan nya berangkat lebih pagi agar tidak telat.


Saat ini, Vita dan Randy sudah duduk di bagian penumpang belakang mobil. Sementara, Felix duduk di bagian penumpang di samping supir.


Alfian, Rita dan Ilham, menyusul dengan mobil keluarga di belakang mobil yang membawa Randy dan Vita. Serta satu mobil pengawal yang akan mengawal keberangkatan mereka ke bandara.


" Sayang, nanti sampai di hotel kamu langsung kabari aku ya, " ucap Vita sambil menyandarkan kepala nya di bahu Randy.


" Iya sayang, nanti setiba di hotel aku kabari kamu. Ingat, selama aku pergi kamu jangan ke mana mana. Makan dan tidur yang teratur, jangan terlalu lelah juga, " peringat Randy.


" iya kamu juga di sana makan dan tidur yang teratur. Jangan karena ingin menyelesaikan masalah di sana, kamu malah memforsir semua nya, " balas Vita.


" Siap bos, " ucap Randy.


" Oh iya Felix, tolong jaga Vita selama aku tidak ada. Ingat, jangan biarkan dia pergi ke mana mana, " ucap Randy.


" Baik tuan muda, " balas Felix.


" Randy, panggil saja aku Randy tanpa embel embel tuan muda, " ucap Randy.


" Maaf tuan muda, saya tidak bisa karena anda adalah atasan saya, " tolak Felix halus.


" Saya bukan atasan kamu, atasan kamu itu uncle Blakes. Di sini, kamu sebagai sahabat ku dan juga kakak angkat Vita. Jadi, hilang kan panggilan tuan dan nona, " ucap Randy.


Saat Felix ingin menjawab, Randy kembali melanjutkan ucapan nya " Jika kamu tetap menganggap kami atasan mu, maka ucapan ku tadi adalah perintah. Jadi, kamu tidak bisa membantah perintah yang sudah aku berikan. Mulai sekarang, panggil aku dan Vita dengan nama saja, ".


Felix menghela nafas nya lalu perlahan mengangguk kan kepala nya " Baik lah tuan ahh maksud ku Randy, " balas Felix.


Jika memang ini perintah, maka harus lah Ia turuti. Dan beruntung nya Ia karena setelah beberapa bulan bersama, akhir nya Randy bisa menganggap nya sebagai sahabat. Mengingat bagaimana masa lalu mereka dulu yang pasti sangat tidak mungkin jika mereka bersahabat. Jangan kan bersahabat, dengan keadaan yang sekarang saja, sejujurnya juga sangat mustahil karena sebelum nya mereka adalah musuh.


Keputusan Tuan besar Blakes sudah sangat tepat karena memutuskan untuk mengikhlaskan kepergian David dan menjadikan Vita sebagai puteri angkat nya. Dengan begitu, permusuhan di antara keluarga Djaya dan Blakes berakhir, berganti dengan hubungan keluarga.


" David, kamu tidak marah kan jika aku bersahabat dengan Randy? Meskipun saat ini aku menemukan sahabat baru, kamu akan tetap menjadi sahabat ku yang terbaik, " gumam Felix dalam hati dengan pandangan lurus ke depan.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama karena jalanan macet, akhirnya mobil yang membawa rombongan keluarga Djaya tiba di bandara. Mereka bergegas turun dan berjalan masuk ke dalam bandara.


Para bodyguard telah siap siaga mengawal, serta Peter yang sudah membawa koper Randy. Setelah pertimbangan di antara Felix dan Ilham, mereka memutuskan Peter akan ikut mengawal Randy beserta dua bodyguard lain nya.


Rei yang melihat rombongan keluarga Djaya langsung menghampiri dan bergantian mencium punggung tangan Ilham dan Rita.


" Rei, ikut aku sebentar, " ucap Randy lalu berjalan menjauh sedikit dari keluarga nya.


Rei yang di panggil bergegas mengikuti Randy dan berhenti setelah mereka cukup jauh dari semua orang.


" Ada apa Rand?, " tanya Rei.


" Tolong selama aku tidak ada di sini, kamu urus semua nya. Selain perusahaan, aku minta kamu bantu aku jaga Vita. Meskipun ada Felix di sini sekarang, tetapi aku tetap merasa tidak tenang, " jawab Randy memohon.

__ADS_1


" Kamu tenang saja Rand, tanpa kamu minta pun aku akan tetap melakukan nya. Kamu fokus saja dengan masalah di Bali. Tapi ingat, kamu tetap harus selalu waspada karena aku tidak yakin ini hanya sekedar masalah biasa, " ucap Rei.


" Akan aku ingat, " balas Randy.


" Ya sudah, ayo kembali ke sana. Pesawat kamu juga akan segera berangkat, " ajak Rei.


Randy mengangguk kan kepala nya lalu mereka berjalan beriringan menuju kearah keluarga nya.


" Mi, pi, Randy titip Vita ya. Doakan Randy, semoga semua urusan di sana bisa Randy selesaikan dengan cepat dan bisa segera pulang, " ucap Randy.


" Tentu Rand, pasti kami semua akan selalu mendoakan kamu, " balas Ilham sambil menepuk pelan pundak Randy.


" Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup. Sering sering kasih kabar kalau memang ada kesempatan supaya semua yang di sini merasa tenang terutama mami dan Vita yang pasti sangat khawatir dengan kamu, " timpal Rita.


" Iya mi, nanti Randy usahakan sering kasih kabar, " ucap Randy lalu memeluk mami nya.


Randy melepas pelukan nya bersama mami nya lalu beralih kepada istri tercinta nya " Sayang, " panggil Randy lembut sambil menangkup kedua pipi istri nya dan mengangkat wajah Vita karena sedari tadi Vita tertunduk sedih.


Kedua mata Vita sudah berkaca kaca dan jika sekali saja berkedip, sudah bisa di pastikan air mata itu akan menetes.


Randy menggelengkan kepala nya seraya berucap supaya istri nya jangan sedih dan menangis. Ia tidak sanggup melihat air mata istri nya, dan Ia takut akan membatalkan keberangkatan nya jika istri nya terus menangis.


" Ikhlasin aku pergi ya. Aku janji secepat nya akan pulang dan kita akan merayakan acara tujuh bulanan baby kita bersama sama, " ucap Randy.


Vita hanya bisa mengangguk lemah, Ia tidak sanggup lagi untuk menjawab. Lalu, Ia menubruk kan wajah nya ke dada bidang suami nya dan melingkar kan kedua tangan nya ke pinggang suami nya.


Randy membalas pelukan istri nya lalu mengusap lembut punggung istri nya yang masih menangis sesegukan.


" Iya sayang, doakan semua nya lancar supaya aku bisa cepat pulang, " balas Randy.


" Sudah nak jangan sedih lagi, Randy pasti cepat pulang. Kamu juga jangan terlalu sedih begini, kasihan baby, " ucap Rita yang juga mengelus punggung menantu nya agar bisa lebih tenang.


" Sebaik nya sekarang kamu masuk ke pesawat, Rand. Sudah waktu nya kamu berangkat, " timpal Ilham mengingatkan.


Randy mengangguk lalu perlahan melepas pelukan Vita dan menghapus sisa air mata di pipi istri nya.


" Aku pergi, " pamit Randy lalu perlahan berjalan menjauh dari keluarga nya di ikuti dua bodyguard di belakang nya.


Saat Peter akan mengikuti Randy, Felix menarik tangan Peter menjauh dari semua orang secara diam diam dan membisikkan sesuatu ke telinga Peter. Peter mengangguk paham lalu pamit kepada semua orang dan bergegas mengikuti Randy.


Ilham mengajak semua orang untuk pulang karena Vita harus lebih banyak istirahat dan mereka masih harus mengurus persiapan acara tujuh bulanan Vita.


Mobil yang membawa rombongan keluarga Djaya sudah tiba kembali di kediaman Djaya. Mereka turun dan masuk ke dalam rumah namun Vita masih di luar bersama Felix karena ada yang ingin Ia tanyakan.


" Kak Felix, " panggil Vita.


" Ada apa Vit?, " tanya Felix.

__ADS_1


" Aku mau tanya sesuatu, boleh?, " tanya Vita balik.


" Tentu boleh, apa itu?, " jawab Felix.


" Aku melihat kak Felix menarik Peter secara diam diam dan membisikkan sesuatu saat Peter akan naik ke pesawat. Kalau boleh tau, apa yang kakak bisik kan? Apa sebegitu rahasia nya sampai kakak harus membisikkan nya di telinga Peter dan itu pun harus menjauh dari kami semua, " tanya Vita penasaran.


Felix terkejut karena ternyata Vita mengetahui jika tadi Ia menarik Peter dan melihat nya membisikkan sesuatu ke telinga Peter. Namun, sedetik kemudian raut wajah terkejut nya kembali berubah datar.


" Tidak ada Vit, kakak hanya menyuruh nya untuk terus menjaga Randy di mana pun Randy berada, " jawab Felix tenang dan santai.


Vita memicingkan kedua mata nya, Ia merasa Felix menyembunyikan sesuatu dari nya. Karena, jika hanya menyuruh untuk menjaga Randy, kenapa harus menjauh dan berbisik bisik.


" Yakin hanya itu?, " tanya Vita memastikan.


Felix mengangguk kan kepala nya " Iya, hanya itu, " jawab Felix.


Felix lega karena melihat Vita mengangguk kan kepala nya, namun sedetik kemudian kedua mata nya membulat sempurna setelah mendengar ucapan Vita selanjut nya.


" Aku tidak percaya, ternyata kak Felix bisa berbohong kepada ku. Sungguh aku sangat kecewa, " ucap Vita lalu pergi meninggalkan Felix yang berdiri mematung di halaman.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa like, comment and vote yang banyak ya akak.

__ADS_1


__ADS_2