
Suasana hening saat penghuni kediaman Djaya menikmati sarapan mereka pagi ini, namun pandangan mereka semua tertuju kepada Vita yang saat itu sudah berpakaian sangat rapi.
" Kamu mau pergi ke mana nak pagi pagi seperti ini?, " tanya Ilham memecah keheningan.
Vita menghentikan aktivitas nya lalu mengangkat kepala nya dan menatap mertua nya " Vita mau ke rumah Ayu, pi, " jawab Vita.
" Dengan baju seperti itu?, " tanya Ilham dengan kening berkerut karena saat ini Vita bukan nya memakai pakaian santai seperti ingin bertemu dengan sahabat nya, melainkan memakai pakaian semi formal.
" Iya pi, Vita akan menemani Ayu untuk bertemu dengan rekan bisnis nya. Papi kan tau sendiri, sekarang Ayu mulai sedikit demi sedikit terjun ke bisnis daddy nya Ayu, " jawab Vita dengan santai membuat semua orang yakin akan jawaban nya.
Memang tidak sepenuh nya bohong sih, karena kemarin sore Ayu meminta diri nya untuk menemani gadis cantik itu bertemu client daddy nya. Namun, setelah itu Ia akan bersenang senang.
" Sayang, apa tidak bisa kamu tolak? Aku tidak ingin kamu dan baby kita kelelahan. Kemarin kamu sudah berjam jam mengelilingi mall, dan hari ini kamu akan pergi lagi, " Randy sekali lagi membujuk Vita agar mau di rumah saja, setelah tadi Ia gagal membujuk Vita saat masih di dalam kamar.
" No, aku dan baby baik baik saja. Kamu tenang saja sayang, pertemuan itu sebentar saja kok, kamu gak usah khawatir, " tolak Vita dengan nada pasti untuk meyakinkan Randy jika diri nya dan baby baik baik saja.
" Sudah lah Rand, biarkan saja. Lagi pula, ada Felix yang menjaga nya. Mami yakin Vita akan baik baik saja, " kini Rita angkat bicara dan membuat Randy terpaksa mengizinkan istri nya pergi dengan Ayu.
Senyum bahagia terukir indah di bibir Vita kala Ia mendapat dukungan dari mertua tersayang nya.
" Tapi ingat, ketika kamu sudah merasa lelah, kamu harus segera pulang ke rumah dan beristirahat, " nasehat Rita kepada Vita dan langsung di jawab anggukan kepala oleh Vita.
Setelah itu, Randy pamit pergi ke kantor kepada semua orang dan tak lupa Ia kembali mengingat kan istri kecil nya itu untuk tetap hati hati dan jangan terlalu lelah. Dan tentu nya, Randy tak lupa mengingat kan Felix untuk selalu extra menjaga Vita.
Vita juga berpamitan selang beberapa saat kepada Rita, Ilham dan Alfian karena tidak ingin terlambat menemui Ayu. Ia pun mengajak Felix untuk bergegas berangkat ke rumah Ayu.
Felix membukakan pintu mobil untuk Vita dan ucapan terima kasih di dapat nya setelah Vita masuk dan duduk sempurna di bangku penumpang bagian belakang. Hari ini, Felix sendiri yang akan menyetir mobil nya. Ia pun bergegas masuk ke kursi pengemudi setelah menutup pintu mobil untuk Vita.
Mobil yang di kendarai Felix mulai melaju meninggalkan kediaman Djaya di susul satu mobil bodyguard di belakang dan sebelum nya sudah ada satu mobil berisi bodyguard di depan mobil Felix dan Vita yang melaju terlebih dulu.
Hari ini, Felix membawa lebih banyak bodyguard untuk antisiapasi jika nanti akan ada yang mengganggu kesenangan nona muda nya itu.
****
Pertemuan dengan client Ayu cukup mengesankan untuk Vita. Ia berfikir jika client yang akan di temui sahabat nya itu adalah om om dengan perut buncit, kepala botak dan berwajah jelek. Tapi ternyata, Client Ayu adalah seorang pemuda tampan, berkulit putih, memiliki rahang yang tegas, alis mata yang tebal, bulu mata yang lentik dan jangan lupakan wajah oriental nya yang menambah kadar ketampanan pemuda itu.
Mereka mengobrol santai selepas membahas kerja sama bisnis dan menandatangi berkas kesepakatan kerja sama.
" So, sudah berapa bulan kandungan anda nona Djaya?, " tanya pemuda itu.
" Alhamdulillah, kandungan saya sudah memasuki usia empat bulan, tuan Zhang, " jawab Vita sambil mengelus lembut perut nya yang sudah membuncit.
" Panggil aku Wei saja. Kita sedang tidak membahas bisnis sekarang, " ucap pemuda tadi yang ternyata bernama Zhang Wei dengan kekehan di akhir kalimat nya.
" Kalau begitu, kamu bisa panggil aku dengan Vita saja, " balas Vita ramah.
" Tentu saja. Dan, bisa tidak saya memanggil anda dengan nama Sasya saja, terdengar lebih akrab, " ucap Wei lalu bertanya kepada Ayu, ahh lebih tepat nya seperti permohonan, terlihat dari nada suara dan wajah nya.
" Iya tu.. ah Wei, anda bisa memanggil saya dengan Sasya, " balas Ayu kikuk karena selama ini hanya keluarga nya dan para anak buah nya yang memanggil nya dengan sebutan itu, bahkan Vita pun tidak memanggil nya begitu.
" Oh iya Sasya, bisa kah kamu menemani ku untuk berkeliling kota Jakarta selama aku masih di sini?, " pinta Wei.
" Tentu bisa, Ayu juga tidak ada kegiatan karena kuliah nya belum mulai, " Vita dengan cepat menjawab permintaan Wei sebelum jawaban keluar dari mulut Ayu.
" Vit, lo apa apaan sih, " geram Ayu sambil menatap tajam ke arah Vita.
Vita membalas tatapan tajam Ayu dengan senyum manis nya. Oh ayolah, Vita tak akan pernah takut dengan tatapan tajam Ayu. Sudah biasa, hahaha.
Wei melihat gestur tubuh ayu yang seperti nya tidak nyaman dengan permintaan nya. Sejujur nya, Ia hanya ingin mengenal Ayu lebih dalam karena Ia merasa tertarik sejak saat pertama kali melihat Ayu.
" Jika, kamu tidak mau juga tidak apa apa, aku tidak memaksa mu, Sya, " ucap Wei lirih.
Ayu mengalihkan pandangan nya ke arah Wei saat mendengar ucapan pemuda itu. Ia melihat kekecewaan terpancar di kedua mata Wei saat mengetahui jika Ia keberatan menemani pemuda itu berkeliling Jakarta.
Bukan karena tidak nyaman dengan pemuda di depan nya itu, hanya saja Ia tidak ingin nanti nya Rei salah paham jika Ia terus pergi dengan Wei tanpa ada sangkut paut nya dengan urusan bisnis.
__ADS_1
Wei adalah pemuda yang ramah, supel dan asyik di ajak berbincang bincang. Pengetahuan nya juga luas membuat mereka tidak pernah kehabisan bahan obrolan.
" Baik lah, saya akan menjadi tour guide anda selama berada di sini, " putus Ayu setelah mempertimbangkan nya beberapa saat.
" Benar kah? Terima kasih Sya dan aku akan sangat menikmati waktu ku yang singkat di sini, " ucap Wei dengan mata berbinar.
Ayu hanya membalas ucapan Wei dengan senyum tulus nya. Demi melancarkan kerja sama bisnis mereka, Ia harus merelakan waktu nya untuk menjadi tour guide Wei selama pemuda itu berada di Jakarta.
" Maaf nona, sudah waktu nya, " ucap Felix mengingat kan Vita di saat nona nya itu asyik berbincang bincang.
" Ahh benar. Maaf, aku harus pergi sekarang karena ada urusan lain yang harus aku kerjakan, " ucap Vita tak enak hati karena harus pamit di saat masih asyik berbincang bincang.
" Lo mau ke mana?, " tanya Ayu. Pasal nya, sahabat nya itu tidak bilang akan pergi lagi setelah menemani nya.
" Menyelesaikan sesuatu yang harus di selesaikan, " jawab Vita ambigu.
Kening Ayu berkerut mendengar jawaban Vita yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan nya itu. Namun, sebelum sempat Ia membuka mulut nya kembali, Vita sudah lebih dulu bangkit dan pamit kepada Wei dan mengabaikan tatapan Ayu yang masih menuntut jawaban pasti dari nya.
" Aku pamit ya dan aku titip sahabat ku ini. Tolong jaga dia ya, " pamit Vita kepada Wei.
" Tentu saja, Vit, " jawab Wei.
Vita menepuk pelan bahu Ayu sebelum Ia melangkah kan kaki nya menuju ke pintu luar restoran.
****
Felix mengendarai mobil nya menuju ke kantor Randy dengan Vita yang duduk santai di kursi penumpang bagian belakang sambil bermain dengan ponsel nya.
" Suami ku itu sedang apa di kantor?, " tanya Vita kepada Felix tanpa mengalihkan pandangan nya dari layar ponsel yang menampilkan drama Korea terbaru.
" Tuan Randy sedang meeting nona dengan tuan Rei dan para petinggi perusahaan, " jawab Felix dengan pandangan tetap fokus pada jalanan di depan.
" Bagus. Sampai kapan meeting itu akan selesai?, " tanya Vita.
Tak ada pertanyaan nya lagi dari Vita, Ia fokus dengan drama Korea yang ada di ponsel nya sedangkan Felix fokus pada jalanan di depan nya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, mobil yang di kendarai Felix akhir nya tiba di lobi perusahaan Randy.
Felix segera turun dari mobil dan berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil untuk Vita.
" Terima kasih, " ucap Vita saat Ia telah turun dari mobil dan Felix membalas nya dengan senyum manis nya dan anggukan kepala.
Vita berjalan masuk ke dalam kantor Randy di ikuti Felix dan para bodyguard di belakang Vita. Ia hanya membalas sapaan para karyawan yang berlalu lalang dengan senyuman tipis nya.
" Selamat pagi, nyonya Djaya, " sapa Anita ramah. Ia merasa harus memanggil Vita dengan sebutan nyonya Djaya karena melihat dari aura yang di keluarkan Vita.
" Pagi, " balas Vita menoleh ke arah Siska lalu tersenyum tipis setelah Itu kembali melanjut kan langkah nya ke lift khusus.
" Vita kenapa ya, aura nya beda sekali hari ini. Aura nya membuat bulu kuduk berdiri. Dia kelihatan sama menyeramkan nya dengan Tuan Randy jika sedang mode garang. Dan lagi, kenapa dia membawa banyak bodyguard ya, " gumam Anita dalam hati.
Vita, Felix dan beberapa bodyguard berada di lift yang sama. Sementara, sisa bodyguard lain nya berada di lift karyawan.
" Langsung ke aula perusahaan, " perintah Vita.
" Baik nona, " jawab Felix lalu menekan tombol lantai 14 di mana lantai itu khusus untuk aula perusahaan, tepat satu lantai di bawah lantai ruangan Randy dan Rei.
Vita berjalan dengan sangat anggun saat keluar dari lift dan berjalan masuk ke dalam aula. Ia terus berjalan ke arah podium dan duduk di kursi yang sudah di sediakan khusus untuk diri nya di ujung belakang podium.
" Sudah kamu pastikan tidak akan ada kesalahan?," tanya Vita saat sudah duduk di kursi.
" Sudah nona dan saya pastikan tidak akan ada kesalahan sekecil apapun, " jawab Felix yakin dan dengan nada tegas.
" Bagus, " puji Vita.
Vita mengambil ponsel nya yang berada di dalam tas lalu mencari nomor Rei dan mendial nya.
__ADS_1
Satu kali panggilan nya tidak terjawab, Vita pun mencoba lagi untuk menghubungi Rei. Ia tau pasti Rei mengabaikan panggilan nya karena sedang meeting. Panggilan nya yang kedua juga tidak di jawab. Sekali lagi Vita menghubungi Rei dan panggilan ketiga ini lah baru Rei menjawab nya.
" Hallo Vit, ada apa menghubungi ku? Aku sedang meeting bersama Randy dan staf lain nya. Apa kamu ingin berbicara dengan Randy?, " tanya Rei saat sambungan mereka terhubung.
" Tidak, aku ingin berbicara dengan mu. Sekarang, perintah kan seluruh staf dan karyawan untuk berkumpul di aula tanpa terkecuali. Aku kasih waktu paling lama lima belas menit seluruh nya sudah berada di aula. Jika tidak, maka aku akan membuat gedung ini rata dengan tanah, " jawab Vita dengan suara datar namun sangat mengintimidasi lawan bicara nya.
" Hah, memang nya ada apa, Vit?, " tanya Rei bingung bercampur panik.
" Lakukan saja perintah ku, tanpa banyak bertanya. Waktu di mulai dari sekarang, " jawab Vita lalu mengakhiri panggilan mereka.
Vita tersenyum miring setelah panggilan mereka berakhir lalu Ia kembali memutar drama Korea yang tadi sedang di tonton nya di dalam mobil dengan santai.
Sementara di ruangan meeting, Rei terlihat pucat setelah panggilan nya berakhir bersama Vita.
" Rei, ada apa dengan Vita?, " tanya Randy khawatir. Pasal nya, setelah menerima panggilan dari Vita, Rei terlihat linglung dan pucat.
" Rei, " panggil Randy setengah berteriak sambil memukul bahu Rei sedikit keras agar tersadar.
" Ehh Rand, anu itu Vita, " jawab Rei tergagap sambil menatap Randy.
" Iya, ada apa dengan Vita?, " tanya Randy tak sabaran.
" Vita, dia seperti nya sedang dalam kondisi yang sangat buruk, " jawab Rei ambigu.
" Kondisi yang sangat buruk? Hei, ada apa dengan nya?, " kini Randy sangat panik mendengar jika istri nya itu dalam kondisi yang sangat buruk.
" Rand, apa yang sudah kamu lakukan pada nya? Kamu tidak melakukan hal buruk kan?," Rei malah bertanya balik membuat Randy panik bercampur bingung.
" Apa maksud mu yang sebenar nya, brengs*k, " umpat Randy kesal karena Rei sangat berbelit belit.
" Dia meminta untuk mengumpul kan seluruh staf dan karyawan tanpa terkecuali di aula sekarang juga dan dia memberikan waktu lima belas menit untuk kita berkumpul. Jika tidak, dia mengancam akan meratakan gedung ini dengan tanah, " jawab Rei.
" Hah?, " pekik semua orang karena tidak hanya Randy yang terkejut tetapi para staf yang ada di ruangan meeting juga terkejut karena sejak tadi mereka mendengar kan pembicaraan Rei dan Randy.
" Rand, apa yang telah kamu lakukan sampai membuat singa betina terbangun dan mengamuk?, " tanya Rei sambil memegang kedua bahu Randy dan menatap kedua mata Randy.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa like, comment and vote yang banyak ya akak.
__ADS_1