Suamiku Milik Wanita Lain

Suamiku Milik Wanita Lain
EPISODE 99


__ADS_3

PARIS, PERANCIS.


Clara sedang berada di ruang meeting bersama dengan CEO dan para dewan di direksi yang lain nya.


Hari ini, Clara akan mendengar kan keputusan dari mereka semua tentang permintaan nya waktu itu.


" Selamat siang. Hari ini kita semua berkumpul di sini untuk menyampaikan keputusan yang telah kita ambil untuk nona Clara, " ucap Stella tegas.


Jantung Clara berdegub kencang, Ia harap harap cemas menunggu keputusan yang akan dia dengar sebentar lagi.


Stella menghela nafas nya dengan berat lalu berucap.


" Nona Clara, kami semua telah berbicara dan mempertimbangkan segala hal. Kami semua dan terutama saya sendiri memohon maaf karena tidak bisa mengabulkan permintaan anda. Kami telah mengambil keputusan untuk memberhentikan anda dari agensi kami. Sebagai ganti rugi dari pemutusan kontrak kerja secara sepihak, perusahaan akan memberikan kompensasi kepada anda, " ucap Stella.


Jedeer.


Bagai petir di siang bolong, harapan Clara benar benar sudah hancur. Air mata nya mengalir deras setelah mendengar keputusan diri nya.


" Apa tidak bisa di fikirkan ulang kembali?, " pinta Clara.


" Maaf nona Clara, keputusan kami sudah bulat. Kami tidak bisa mengambil resiko ke depan nya jika publik mengetahui ada model kami yang melakukan operasi plastik. Itu akan berakibat buruk untuk saham perusahaan, " ucap salah satu dewan direksi.


" Tapi, jika kalian membuat keputusan seperti ini, hidup saya akan hancur. Saya tidak memiliki masa depan lagi, " ucap Clara sambil menyeka air mata nya, namun percuma karena air mata nya terus mengalir.


" Kami mohon maaf sebesar besar nya. Kami tidak bisa mengambil resiko besar itu. Banyak orang yang menggantungkan hidup nya pada perusahaan ini, kami tidak bisa mengorbankan mereka semua hanya karena satu orang. Kami harap anda bisa mengerti, " ucap dewan direksi.


Clara tidak tau lagi harus berbicara apa, semua nya sudah hancur dan tidak ada lagi harapan untuk masa depan nya.


" Nona Clara, kami mengerti keadaan anda saat ini. Tapi, kami juga harus memikirkan seluruh orang yang ada di perusahaan ini. Keputusan kami sudah bulat, anda kami berhentikan dari agensi kami. Dan uang kompensasi akan langsung di transfer ke rekening anda, " ucap Stella.


Setelah mengucapkan keputusan akhir untuk Clara, Stella pamit undur diri dan di susul oleh seluruh dewan direksi, meninggalkan Clara sendiri di ruang meeting.


Clara semakin menangis sejadi jadi nya dan air mata nya semakin deras mengalir. Hidup nya, masa depan nya sudah benar benar berakhir.


Alex juga sampai sekarang masih tidak bisa di hubungi, dan tidak bisa di temui di kantor nya. Sementara, Ia takut untuk menghubungi Randy dan mengatakan keadaan nya saat ini.


Jika Clara menghubungi Randy, maka hubungan gelap nya dengan Johan akan terbongkar. Bagai si buah simalakama, itu lah yang saat ini di rasa kan Clara.


Clara bangkit dari kursi dan berjalan keluar ruang meeting dengan langkah gontai. Ia tidak lagi memiliki semangat hidup.


Clara terus berjalan keluar meninggalkan kantor tempat nya bernaung. Ia memanggil taksi dan menaiki nya. Ia meminta supir taksi untuk mengantar kan nya menuju ke apartemen nya.


****


JAKARTA, INDONESIA.


Vita menuruni anak tangga dengan perlahan dan satu tangan nya memegang pegangan tangga.


Ia terus berjalan melewati Ilham dan Rita dengan langkah perlahan dan terlihat sangat lemah.


Vita membantu bibi menyusun makanan di atas meja makan. Namun saat diri nya melihat dan mencium makanan yang ada di atas meja makan, Vita langsung mual dan berlari ke dalam kamar mandi yang ada di dekat dapur.


Bi Ana yang khawatir menyusul Vita ke kamar mandi. Bi Ana, mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil Vita berulang kali. Namun Vita tidak merespon dan pintu kamar mandi masih tertutup rapat.


Ilham dan Rita yang sedang berada di ruang keluarga bergegas menghampiri bi Ana yang sedari tadi berteriak memanggil nama menantu mereka.

__ADS_1


" Ada apa bi? " tanya Rita panik.


" Bibi juga gak tau nyonya. Nona muda tiba tiba mual dan berlari ke kamar mandi saat membantu bibi menyiapkan makan siang, " jawab bi Ana.


Ilham dan Rita semakin panik dan khawatir. Ilham mengetuk pintu kamar mandi dan meminta Vita membuka pintu nya.


Tak berapa lama, pintu kamar mandi terbuka dan terlihat Vita yang wajah nya sudah pucat.


Rita langsung menuntun Vita untuk duduk di meja makan. Bi Ana mengambil kan air putih dan memberikan nya kepada Rita.


Rita membantu Vita untuk minum lalu meletakkan gelas ke atas meja makan.


" Sayang kamu kenapa?, " tanya Rita.


" Vita tidak apa apa mi. Vita hanya mual tadi saat mencium aroma masakan bibi. Mungkin Vita hanya pusing dan terlalu stres memikirkan ujian seminggu ini, " jawab Vita.


" Kita ke rumah sakit ya sayang, mami khawatir sama keadaan mu, " ajak Rita.


" Tidak usah mi, Vita baik baik saja, " tolak Vita.


" Tuan nyonya, maaf bibi menyela. Bibi ingin bertanya, apa nona muda sering merasa pusing dan mual di pagi hari? Kalau hanya lelah tidak mungkin nona muda mual saat mencium aroma masakan?, " tanya bi Ana.


" Vita sering pusing saat bangun pagi beberapa hari ini. Mungkin karena efek terlalu lama belajar, " jawab Vita.


Bi Ana tersenyum mendengar jawaban Vita membuat Ilham dan Rita kebingungan.


" Ada apa bi? Kenapa bibi malah senyum senyum?, " tanya Rita.


" Begini nyonya, setau bibi yang di alami nona muda saat ini adalah gejala awal kehamilan, " jawab bi Ana.


Ilham dan Rita saling memandang, lalu beralih memandang Vita. Refleks Rita memeluk Vita dengan erat.


" Sayang, kamu hamil nak?, " tanya Rita memastikan setelah pelukan mereka terlepas.


" Hah hamil? Gak lah mi, mana mungkin Vita hamil. Vita cuma lelah saja mi, " jawab Vita.


" Gak mungkin gimana? Kamu kan sudah punya suami, kalau hamil ya bisa saja terjadi, " ucap Rita.


" Iya memang Vita sudah punya suami. Tapi kalau sekarang gak mungkin Vita hamil, Vita cuma lelah saja mi, " balas Vita.


" Sudah sudah jangan berdebat, lebih baik kita periksa ke dokter kandungan supaya lebih pasti, " lerai Ilham.


" Tidak usah pi, Vita gak hamil kok, " tolak Vita.


" Kamu jangan membantah lagi sayang, sekarang kita akan pergi ke dokter. Bi, tolong suruh mang Ujang siapkan mobil sekarang " ucap Rita.


" Baik nyonya, " balas bi Ana lalu berjalan keluar rumah mencari mang Ujang.


Vita menghela nafas nya dengan berat.


Rita menyuruh Vita untuk duduk dan menunggu saja di meja makan. Ia bergegas pergi ke kamar nya untuk mengambil tas. Setelah itu, Ia kembali turun ke bawah dan mengajak Vita dan Ilham keluar menuju mobil.


Selama perjalanan ke rumah sakit, Vita mencoba merayu mertua nya agar kembali ke rumah dan tidak perlu periksa ke dokter. Tapi, Rita tidak menggubris rayuan Vita dan menyuruh Vita untuk duduk tenang di dalam mobil.


Dengan terpaksa Vita menuruti perintah mertua nya, Vita diam dan tidak berbicara satu kata pun sampai mobil yang membawa mereka sampai di lobi rumah sakit.

__ADS_1


Ilham dan Rita langsung membawa Vita ke ruang dokter kandungan karena saat perjalanan tadi, Ilham telah menghubungi pihak rumah sakit terlebih dahulu.


Rita dengan semangat nya meminta dokter memeriksa Vita. Ia bertanya sudah berapa minggu usia kandungan puteri nya.


Dokter mengernyitkan kening nya, Ia heran melihat seorang ibu begitu antusias menanyakan kehamilan puteri nya, padahal kalau di lihat lihat puteri nya masih remaja dan bisa di pastikan masih sekolah.


Dokter menyuruh Vita untuk berbaring dan perawat membantu untuk menaikkan sedikit baju Vita ke atas.


Perawat mengoleskan gel ke atas perut Vita, lalu dokter mengarahkan sebuah alat ke atas perut Vita dan menggerak gerak kan alat itu di atas perut Vita.


Dokter menghela nafas nya, seperti dugaan nya tadi, hasil pemeriksaan pun sama dengan dugaan nya. Untuk lebih memastikan, dokter meminta Vita untuk membuka celana nya dan memeriksa melalui organ intim Vita.


Vita meringis saat dokter memasukkan alat ke dalam **** ********** nya. Setelah selesai memeriksa, dokter meminta perawat membantu Vita untuk membereskan pakaian nya.


Setelah Vita kembali duduk bergabung dengan Ilham dan Rita, dokter menyampaikan hasil pemeriksaan nya tadi.


Ilham dan Rita harap harap cemas menunggu hasil dari dokter. Kalau memang belum hamil, tidak apa apa lah, mungkin saat ini masih belum rezeki.


" Selamat bapak ibu puteri kalian, " ucapan dokter terhenti karena Rita sudah histeris duluan dan langsung memeluk Vita.


Dokter dan perawat di dalam ruangan itu sampai terkaget mendengar teriakan histeris Rita.


Ilham pun juga sudah tidak sabar ingin mendengar lanjutan tentang keadaan kehamilan puteri nya.


" Jadi, puteri saya sudah hamil berapa minggu dok? Kandungan nya sehat kan dok?, " tanya Ilham dengan senyum bahagia di bibir nya.


Dokter mengernyitkan kening nya. Ia semakin bingung dengan sikap Ilham dan Rita.


" Tuan nyonya, puteri anda tidak hamil. Selamat, karena puteri kalian masih perawan, " ucap dokter sambil tersenyum.


Rita refleks melepaskan pelukan nya bersama Vita dan memandang ke arah dokter. Begitu juga dengan Ilham, senyum di bibir nya pudar setelah mendengar hasil pemeriksaan dokter.


" Jadi, puteri kami masih perawan?, " tanya Ilham dan Rita berbarengan dan dokter mengangguk mengiyakan.


Vita hanya menunduk dan tidak berani menatap wajah kedua mertua nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like and vote yang banyak ya akak.


__ADS_2