
"Jaga kesehatanmu dan jangan terlalu lelah. Ingat, usia kehamilanmu masih sangat muda dan rentan terjadi masalah," pesan Rumi pada sang putri yang hendak kembali kekota. "Jaga dan layani suamimu dengan baik, kau pasti akan mendapatkan pahala yang banyak dan kasih sayang yang melimpah darinya," lanjut Rumi lagi.
Gadis itu hanya mengangguk dengan menahan air matanya. Sementara sang suami terlihat tengah berbincang dengan Jamil dan para pengawal yang sudah bersiap.
"Ayo sayang. Kita akan pulang sekarang." Arka menatap Rumi dengan tatapan hangat kemudian menyalami tangan ibu mertuanya itu. Begitu pun Zara, ia pun melakukan hal yang sama pada Ibu dan Ayahnya.
Selepas mempastikan semua benar-benar siap, rombongan itu pun kini mulai melakukan perjalanan kembali kekota. Rumi dan Jamil melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.
Lagi-lagi, Zara harus merasakan sesak di dada. Harapan untuk selamanya bisa menjaga kedua orangtuanya, kini pupus sudah, bersama dengan kembalinya ke ibukota.
"Aku tau kau sangat sedih sayang, tetapi ingin bagaima lagi," Pria itu pun tak mampu memaksa kehendak mertuanya.
"Itu memang sudah menjadi keinginan mereka, sayang. Aku pun juga tidak bisa memaksanya lagi." Zara memilih untuk bersandar di dada bidang suaminya. Sesekali mengusap roti sobek yang berbalut kemeja itu lembut dengan tatapan kosong.
Pria itu pun menundukan pandangan guna menatap wajah sang istri. Menciumi puncak kepalanya dan kian mengeratkan dekapan.
"Sayang, aku ingin kita seperti ini untuk selamanya. Tak ada kesedihan atau pun halangan, yang ada hanya rasa bahagia dan saling menyayangi seperti ini." Mengusap wajah sang istri, Arka bahkan mengacuhkan keberadaan supir di antara mereka. Semua atas luapan rasa bahagia selepas sempat berpisah dengan sang istri.
"Aku pun demikian sayang. Menginginkah kebahagiaan senantiasa memayungi perjalanan hidup kita." Keduanya saling mendekap erat. Tanpa ragu, Arka mulai membenamkan bibirnya pada bibir ranum sang istri ********** lembut untuk sesaat dan melepaskanya saat kedua sadar jika tengah berada di sebuah mobil dengan sopir yang sedang mengatur kemudi.
Arka mengusap bibir kemerahan itu dengan jemarinya, saat pertautan itu terlepas.
"Aku menunggu kelanjutannya setelah sampai di rumah sayang," goda Arka dengan mengedipkan satu netranya.
"Nakal," jawab Zara dengan malu-malu dan lekas mengalihkan pandangan kesegala arah.
Arka pun tertawa puas saat berhasil menggoda sang istri hingga wajahnya merona merah. Seolah tak ingin terpisah, pria tampan itu bshkan tang mengizinkan sang istri untuk melepas dekapannya. Zara pun hanya bisa pasrah meski terkadang merasakan sesak sebab suaminya itu terus menghimpit tubuhnya.
Lelahnya perjalanan membuat gadis mungil itu pun terlelap dalam pelukan suaminya. Ia terlelap kian dalam kala Arka dengan lembut mengusap puncak kepala dan menepuk pelan punggungnya. Meski jalanan terbilang cukup rusak, namun sekuat tenaga Arka menjaga keseimbangan tubuh agar istrinya dapat terus terlelap dengan nyaman tanpa ganguan.
Beberapa jam berlalu rombongan mulai memasuki ibukota dan kini memasuki gerbang utama. Para pengawal dan pelayan tergopoh menyambut. Melihat sang istri tetap terlelap, Arka pun menggendongnya dan membawanya langsung kelantai atas di mana kamarnya berada.
__ADS_1
Mendaratkan tubuh sang istri di atas ranjang dengan hati-hati, Arka bahkan mengusap lengannya saat pemilik tubuh mungil itu sedikit bergerak agar kembali terlelap.
"Kau terlihat sangat menggemaskan sayang," gumam Arka sembari menatap wajah sang istri yang terlelap damai.
"Aku tidak bisa membayangkan segemas apa bayi ku kelak, jika dia berjenis kelamin perempuan." Pria itu tergelak lirih, merasa tergelitik dengan bayangan yang ia imajinasikan sendiri. Mendaratkan satu kecupan di bibir, pria itu pun beranjak pergi dengan mengengam sebuah ponsel di tangannya.
Arka menghela nafas dalam dan memijat leher belakangnya yang terasa menegang. Mengusap layar ponsel dan memerika beberapa pesan dan pangilan yang sempat terabaikan. Menekan icon kontak pada benda berbentuk pipih itu, Arka terlihat berbincang dengan seseorang dengan nada bicara cukup serius.
Setelah panggilan terputus, Arka menuju walk in closet untuk mengganti pakaian. Kemeja dan cela bahan sudah ia tanggalkan. Berganti dengan atasan tanpa lengan dan celana berwarna hitam selutut.
Merasakan jika tubuhnya mulai cepat lelah, ia pun lekas menuju salah satu ruangan di mana ia bisa melatih kebugaran seperti sedia kala.
Berada tak jauh dari kamarnya, ada sebuah ruangan cukup luas dengan dipenuhi berbagai macam alat fitnes. Seluruh dinding di penuhi dengan kaca hingga memantulkan seisi ruangan di dalamnya.
Arka mulai melakukan pemanasan selama beberapa menit dengan gerakan ringan. Semenjak menikah dengan Zara, ia sama sekali tak menyentuh alat-alat ini. Hingga akhir-akhir ini, dirinya merasa kurang berstamina seperti biasanya.
Melatih otot tubuh dan dadanya, Arka mendekati sebuah alat dan mulai mengendalikannya. Peluh mulai membanjir, hingga atasan tanpa lengan yang melekat pas di tubuh atletisnya itu mulai basah oleh keringat.
"Huft... Aku rasa sudah cukup."
Arka meraih botol air mineral, membuka, kemudian meneguknya. Nafasnya masih terenggah. Ia pun melepaskan pakaian bagian atasnya hingga nampaklah lekuk otot perut dengan kilatan keringat yang membuatnya kian terlihat seksi. Ia bisa bebas melakukan apa pun di ruangan ini, mengingat tak ada orang lain yang bisa memasuki tempat ini terkecuali dirinya dan...
Arka menatap pantulan tubuh seseorang di balik pintu yang terbuka samar dari kaca. Bibirnya membentuk senyum miring. Tubuh seseorang itu terlihat mungil, lalu siapa lagi jika bukan..., fikir Arka dalam hati.
Pria itu pun berjalan pelan nyaris tanpa suara menuju kearah pintu. Bibirnya terkunci rapat, meski sekuat tenaga tengah menahan tawa. Kemudian..
"Sayang," ucap Arka dengan suara cukup keras sementara keduanya menarik gagang pintu hingga terbuka lebar.
Seseorang di balik pintu itu pun terkejut dan spontan berteriak.
"Aaaaa......" Kemudian lekas membekap mulut selepas berhasil mengumpulkan kesadarannya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan, sayang." Arka yang tinggi menjulang itu berdiri tegap tepat di hadapan Zara yang hanya setinggi dadanya dengan menyerigai tipis.
Astaga, kenapa suami terlihat sangat keren seperti ini.
"Ti-tidak tidak, aku hanya sedang mengi---, eh bukan-bukan. Maksudnya aku hanya sedang ingin mencari udara segar, ya benar. Aku sedang mencari udara segar," jawab Zara setengah terbata dan berputar-putar mengingat semua itu hanya alasan yang sengaja ia tutupi, mengingat sebenarnya gadus itu tengah mengintip aktifitas sang suami.
"Benarkah?" tanya Arka lagi sembari bersedekap dada, yang mana membuat otot dada dan lengannya terlihat semakin menonjol.
Alamak.
Zara menelan salivanya susah payah sementara tatapannya tertuju pada bagian depan tubuh sang suami yang terpahat indah.
"Be-benar, benar sekali." Gadis itu hanya bisa meringis dan menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal.
Arka pun tergelak kencang dan menundukan pandangan untuk menjangkau wajah sang istri.
"Kau sudah bangun?"
Gadis itu hanya mengangguk.
"Tidak ingin tidur lagi?" Pria itu melangkah maju, namun Zara justru bergerak mundur.
"Tidak," jawab Zara dengan mengantisipasi.
"Aku bisa membuatmu kelelahan dan tertidur kembali jika kau ingin." Arka terus bergerak maju.
"Tidak. Terimakasih, sayang." Sementara Zara terus mundur.
"Kita bisa memulainya sekarang, sayang."
"Tidak! Terimakasih." Zara yang setengah ketakutan itu membalikan badan dan berlari tunggang langgang. Sementara Arka yang terus menggoda, terbahak tak percaya jika sang istri masih saja gelagapan dan ketakutan saat melihatnya tanpa pakaian.
__ADS_1