Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Dia Hanya Mencintaimu


__ADS_3

Kondisi jalanan yang cukup sepi membuat dua perempuan yang tengah bersitegang dalam kendaraan yang sama itu cukup leluasa untuk melampiaskan segala emosi yang sempat terpendam dengan berbagai ucapan.


Anastasya tau perasaan gadis yang tengah bersamanya itu. Zara bukanlah gadis jahat yang pandai memanfaatkan keadaan. Justru dialah yang paling tertekan dan serba salah dalam rumitnya pernikahan yang gadis itu jalani.


"Jika kau masih tak percaya dengan semua ucapanku, akan kubawa kamu kesuatu tempat. Sudah saat kamu tau siapa aku sebenarnya, Zara."


"Ma-maksud, Nona," tanya gadis itu terbata.


Enggan untuk menjawab, Anastasya mulai menghidupkan mesinnya dan melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan Anastasya hanya memilih diam hingga mobil tersebut menepi di suatu tempat.


"Nona, bukankah ini tempat---


"Iya, tentu kamu masih ingat. Di tempat inilah pertama kali kita bertemu."


Anaatasya membawa Zara kearea pemakaman, dimana untuk pertama kalinya keduanya dipertemukan.


"Ikutlah denganku," titah Anastasya yang sudah hendak membuka pintu mobil.


Zara hanya menganguk dan pasrah. Kemudian mulai mengekori langkah Anastasya yang sudah memasuki gerbang pemakaman yang tinggi menjulang. Ini bukanlah pemakaman orang biasa, begitulah gumaman Zara sepanjang mengamati beberapa makam yang begitu bersih dan terawat.


Kaki gadis itu berhenti melangkah kala Anastasya mendekati pusara berukuran mungil dan duduk bersimpuh di sana. Ia pun mendekat dan ikut duduk di samping Anastasya.


"Asalamualaikum Nak," ucap Anastasya lirih sementara tanganya mengusap pusara itu lembut. "Seperti yang pernah Ibu janjikan, Ibu akan membawa seseorang untuk menjumpaimu," sambungnya lagi.


Gadis di sampingnya hanya diam membisu, namun saat netranya menemukan pusara bertuliskan Abigail Surya Atmadja, itu sudah menjawab semua pertanyaanya.


Benarkah ini makam putra Nona Anastasya yang pernah Ibu ceritakan padaku waktu itu.


Seolah tak ingin menggangu suasana haru yang tercipta, Zara membiarkan Anastasya mencurahkan rasa rindu dan tangisnya pada sang putra yang sudah lebih dulu menghadap sang pencipta.


Tak terasa, buliran bening mulai menitik di sudut netranya. Untuk kali pertamanya Anastasya terlihat serapuh ini di mata Zara. Seolah mendiang bayi kecil itulah sang pengendali hidup Anastasya.

__ADS_1


"Begitu banyak kalimat dan doa terucap dari bibir Anastasya untung mendiang sang putra. Kemudian mencium dan mengusap pusara itu sebelum bangkit dan meninggalkannya.


*******


Diluar agenda, keduanya kini justru menepikan kendaraan dan melangkahkan kaki pada sebuah kursi kayu di bawah pohon rindang yang berada di taman kota. Taman tersebut cukup sepi mengingat bukan hari libur atau pun akhir pekan.


Anastasya menyodorkan sebotol air mineral dingin pada Zara yang duduk bersandar menunggunya. Perempuan itu pun mendaratkan tubuhnya di tempat kosong, di bagian sisi kanan Zara. Kemudian membuka tutup kemasan dan meneguk air dingin yang terasa segar menguyur tenggorokan.


"Minumlah," ucap Anastasya kala Zara masih tak berniat untuk meminum air mineral pemberianya.


Tanpa menjawab, Zara kemudian membuka penutup dan meminumnya.


"Ada banyak cerita tentang hidupku yang perlu kau ketahui, Zara. Dan Aku rasa, inilah waktu yang tepat." Anastasya menunduk, jemari lentiknya mulai memainkan botol minuman di tanganya seolah menetralisis ketegangan.


"Katakan saja, Nona. Saya pun ingin mendengarnya."


Anastasya mulai menarik nafas dalam sebelum memulai ucapanya. Sempat dilanda keraguan, akan tetapi tidak selamanya ia mampu menyimpan prahara hidupnya seorang diri.


"Aku bukanlah perempuan baik-baik yang selama ini kau fikirkan."


"Aku gemar mengunjungi klab malam dan bermabuk-mabukan. Apa kau tau semua itu?"


Gadis mungil itu terkesiap, kedua netranya membulat seketika. Akan tetapi kepalanya menggeleng seakan tak percaya begitu saja akan kebenaran dari ucapan tersebut.


"Tidak, Nona. Katakan pada saya jika semua itu tidaklah benar," desak Zara pada Anastasya.


Perempuan cantik yang kini mengenakan dres berwarna biru muda tersenyum penuh ironi sementara tangannya sibuk memainkan botol minuman dingin yang mulai berembun.


"Kau pasti bertanya-tanya, tentang siapa pemilik pusara yang kita kunjungi beberapa waktu lalu."


Zara menganguk. Meski dirinya sudah mampu menebak, tetapi tak ada salahnya jika mendengarnya langsung dari Anastasya.

__ADS_1


"Itu makam putra kecilku. Anak yang sudah bertumbuh di dalam rahimku meski tak mendapatkan pengakuan dari Ayah kandungnya sendiri. Beruntungnya aku bertemu dan pria sebaik Arka, yang justru mempertaruhkan nama baik dan masa depannya untuk menikahiku. Gadis malang yang hamil di luar nikah."


Sejujurnya Anastasya engan untuk membuka kembali luka lama yang sekuat tenaga ia balut dan tutupi. Akan tetapi, jika ia biarkan semuanya berlarut-larut tanpa adanya kejelasan, justru Zaralah yang paling dibuat tertekan. Mengingat, Arka pun tidak akan mengatakan kebenaran jika bukan Anastasyalah yang memulainya lebih dulu.


"Pernikahan kami pun terbilang rumit dan penuh liku. Dua tahun aku hidup bersama Arka, membuatku semakin aku sadar jika aku bukanlah perempuan yang pantas untuk bisa bersanding dengan pria sebaik dia."


Anastasya mulai mengurai babak hidup diawal pernikahannya dengan Arka hingga detik ini.


"Aku tau jika dia menikahiku karna rasa iba, bukannya cinta. Setelah malam pertama, bahkan sampai detik ini, kami belum pernah tidur di ranjang yang sama dan bahkan bergemul layaknya pasangan suami istri pada umumnya."


Zara yang tengah menenguk air minum dalam botol minumnya pun seketika tersedak dan menyemburlah cairan bening dari mulutnya itu kesegala arah.


"Apa?" Sorot netra Zara menyiratkan ketidakpercayaan.


Ternyata benar dugaan Anastasya selama ini. Gadis di sampingnya ini benar-benar tak mengerti dengan kondisi pernikahannya bersama Arka dengan keterkejutan yang terpampang nyata dari wajah cantik gadis mungil itu.


"Bagaimana bisa."


Anastasya menarik selembar tisu dari dalam tasnya dan menyeka sudut bibir Zara yang masih basah dengan lembut.


"Kami sengaja menyimpan rapat tentang ini semua. Itu prifasi yang harus kami jaga. Kami tidak ingin saling memaksakan satu sama lain, dan kami pun tak keberatan. Aku menghormati Arka sebagai seorang suami, begitu pun sebaliknya."


Zara menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bagaimana bisa keduanya sama sekali tak melakukan hubungan dalam pernikahan yang sudah menginjak dua tahun lamanya.


"Zara, aku tau jika kau belum bisa mempercayainya. Akan tetapi percayalah, memang seperti itulah kenyataanya."


"Bu-bukan begitu Nona. Hanya saja--


"Suami kita adalah pria yang baik. Tak mengenal judi, minuman beralkohol, atau pun wanita penggoda. Sangat jauh sekali denganku. Setelah menikah pun Arka meminta maaf kepadaku karna belum bisa untuk menggauliku karna sesuatu hal. Aku pun memahami hal itu, dan berlanjut hingga dua tahun lamanya."


Anastasya memberi sedikit jeda pada penjelasannya. Sadar jika selama dua tahun ini Arka belum bisa untuk mencintainya tanpa paksaan. Hingga muncullah sebuah ide, untuk mencarikan seorang gadis yang membuatnya jatuh cinta.

__ADS_1


"Percayalah Zara. Semenjak kau hadir dalam kehidupan kami. Aku mampu melihat pancaran keteduhan dan percikan cinta yang Arka tunjukan untukmu. Meski dulu kau sempat menolak, namun aku melihat jika Arka justru ingin mempertahankanmu. Dan kini tergambar jelas, semenjak menikah Arka selalu tidur dalam kamar yang sama denganmu. Semua itu sudah cukup membuktikan jika dia hanya mencintaimu seorang."


Semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi, menciptakan kesejukan. Seperti kalimat terakhir yang diucap Anastasya, terdengar begitu syahdu di telinga Zara. Apakah ia tak salah dengar, jika Arka kini benar-benar mencintainya, ataukah bayangan semu yang dapat diragukan kebenarannya.


__ADS_2