Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Oh Anastasya


__ADS_3

Anastasya menatap pasangan berbahagia itu dari kejauhan sembari melambaikan tangan sebagai ucapan perpisahan. Misi untuk menyatukan mereka telah terselesaikan dan kini sudah saatnya bagi Anastasya untuk menjalani keinginannya, hidup di kampung halaman.


Mengekori langkah Surti menuju salah satu kendaraan yang akan membawanya kekota. Akan tetapi sebuah tangan kokoh, menarik dan menahan langkahnya.


Anastasya menatap sosok pemilik tangan yang sudah berani menahan langkahnya. Namun pemilik tangan itu pun sepertinya tak ingin melepaskan gengamannya meski sang gadis memperingatkan dengan sebuah tatapan nyalang.


"Lepaskan tanganku."


"Tidak," ucap pria itu dengan percaya diri.


"Berhenti menahanku. Aku ingin pulang."


"Maka pulanglah bersamaku," jawab pria itu tak mau kalah.


"Tidak!"


Surti yang berjalan lebih dulu, membalikkan badan saat mendengar keributan. Akan tetapi sebuah tatapan tajam ia dapatkan dari sosok pria yang menarik tangan Anastasya.


"Pulanglah, Anastasya akan ikut bersamaku," titah Rangga yang seketika diangguki oleh Surti dan mengajak yang lain untuk pergi meninggalkan Anastasya.


Gadis itu terbelalak saat semua kendaraan mulai berjalan dan hanya menyisakan dirinya bersama Rangga.


"Hei, apa-apaan ini. Kenapa kalian meninggalkanku," ucap Anastasya gusar. "Lepaskan tanganku," sambung gadis itu lagi, saat Rangga masih belum melepaskan cengkeraman tangannya.


Pria itu pun melepaskannya dan bergegas memasuki kendaraan miliknya.

__ADS_1


"Ayo, apa kau akan tetap berada di sini dan menggangu sepasang suami istri yang tengah melepas rindu itu," tunjuk Rangga pada Arka dan Zara yang masih berdiri di teras rumah dan saling bersenda gurau.


Anastasya memandang kearah mereka sebentar, kemudian memutar kembali pandangannya. Memanyunkan bibir, Anastasya pun mulai melangkah menuju mobil, namun membuka pintu bagian penumpang.


"Hei, gadisku. Kenapa kau malah duduk di belakang dan tidak di sampingku," protes Rangga dengan terus menatap kearah Anastasya.


Tak sudi menjawab, gadis itu hanya diam dan mengatur posisi duduknya senyaman mungkin.


"Astaga, apa wajah tampan yang kumiliki ini lebih mirip seperti seorang supir," gumam Rangga sembari menatap pantulan wajahnya dari sebuah kaca. "Aku rasa, masih tetap tampan seperti dulu, dan tidak ada yang berubah," sambung rangga setengah menggembungkan pipinya.


"Sampai kapan mobil ini akan berjalan. Lebih baik aku jalan kaki, dari pada tertingal rombongan dan tersesat di kampung ini." Anastasya sudah hendak menarik handle pintu mobil, namun seketika dicegah oleh Rangga.


"Baiklah baiklah, jangan marah. Redam sebentar amarahmu. Kita akan mulai berjalan sekarang." Rangga mulai menghidupkan mesin mobil dan mengatur kemudi dengan kecepatan sedang mengingat kondisi jalan yang cukup rusak.


Untuk beberapa saat pria itu membawa Anastasya pada jalan yang seharusnya namun setelah lima belas menit kemudia, Rangga justru membawanya pada jalan yang berbeda dan Anastasya menyadarinya.


"Tenanglah. Aku hanya akan mengajakmu kesuatu tempat." Rangga mulai memasuki sebuah jalan di mana terlihat pasir putih dan pantai yang membentang luas.


Mobil pun terhenti dan berpijak diatas pasir kering. Pria itu pun turun dan keluar. Menyandarkan tubuhnya di bagian depan mobil sembari menatap kearah laut lepas.


Anastasya menghela nafas dalam, dan menatap punggung lebar itu dari belakang.


"Keluarlah. Apa kau tak ingin melihat pemandangan seindah ini? Huh sayang sekali."


Gadis itu mengertakkan gigi. Sungguh malas mengikuti keinginan pria tak tau diri ini.

__ADS_1


"Kau bisa kepanasan di dalam sana," ucap Rangga terus mempfrofokasi.


Teramat geram, Anastasya pun mulai turun dari mobil dan berjalan sembari menghentakkan kaki. Ia memilih berdiri di arah berlawanan dan engan bergabung dengan Rangga.


Dia benar-benar nakal.


Rangga berinisiatif mendekat, namun Anastasya terus mengabaikannya.


"Anastasya berhentilah! Sampai kapan kita akan kucing-kucingan seperti ini?" Rangga yang lelah mengikuti langkah Sang gadis itu, melemparkan ucapan pedasnya.


Tak terima, Anastasya hanya tersenyum sinis kemudian berbalik badan menatap pria yang tengah bersamanya itu.


"Apa, siapa yang ingin bermain kucing-kucingan denganmu. Jika seperti ini saja kau sudah marah, lalu di mana hati nuranimu saat kau terang-terangan pergi meninggalkanku. Aku yakin, kau pasti sudah mati bunuh diri, jika berada di posisiku."


Rangga terhenyak, mengapa hanya mendengarnya saja sudah terasa sakit seperti ini, apalagi sampai merasakannya.


"Sayang, aku mohon maafkan aku. Aku memang sangat bersalah kepadamu. Maka dari itu aku kembali untuk meminta pengampunanmu, aku harap kau yang baik hati ini bisa memaafkan kesalahanku di masa lalu."


Gadis cantik tinggi semampai itu menatap kedua netra sang pria lekat. "Tapi sayangnya, tidak semudah itu aku bisa memaafkanmu. Luka yang kau torehkan terlalu dalam hingga sampai saat ini pun masih menyisakan rasa sakit. Aku harap kau bisa mengerti dan berhenti untuk memangilku sayang," ucap Anastasya memperingatkan.


Rangga menghela nafas dalam saat gadis itu mulai berjalan meninggalkannya.


"Anastasya, apakah aku sudah tak memiliki harapan lagi untuk bisa bersamamamu seperti dulu lagi?"


Anastasya menghentikan langkah, kemudian berbalik dan berucap, "Berjuanglah. Aku ingin lihat sejauh mana usahamu untuk bisa mendapatkan cintaku lagi." Ia pun memutar tumit dan berlalu pergi menuju mobil yang terparkir di atas pasir putih.

__ADS_1


Rangga tersenyum simpul, setidaknya Anastasya masih memberinya kesempatan untuk berjuang. Meskipun terasa sulit, namun akan tetap dijalani sebagai penebus dosa atas semua kesalahannya.


__ADS_2