
"Apa? Kedua orang tuamu datang?" Sontak pria muda itu dibuat terkejut. Terlebih Kiara, gadis itu bahkan sudah tertunduk dalam dan menggengam tangannya sendiri yang bertautan.
Aku yakin jika Kak Sam akan mengurungkan niatnya, saat tau jika ayah dan ibu sudah ada di kosan.
Akan tetapi, gadis itu terperanjat dan menggangkat dagu saat Sam tiba-tiba menariknya.
"Tunggu apa lagi," ucap Sam sembari melangkah.
"Ka." Gadis itu punggung sang kekasih yang berusaha menarik tangannya. Akan tetapi tidak untuk kembali, melainkan melangkah kedepan, menyusuri jalanan menuju arah kosan.
Pria itu berhenti sejenak, menatap kearah belakang di mana Kiara tampak ragu untuk mengikuti langkahnya.
"Kenapa? Bukankah kau bilang jika orang tuamu ada di kosan?"
Gadis itu mengangguk samar.
"Lalu kenapa kau tak membawaku pada mereka dan seperti ingin mecegahku?" Tanpa alasan pria itu mengucapnya. Terlebih akan wajah sang kekasih yang sedari tadi terlihat cemas dan menunduk.
Kiara dibuat gelagapan. Rupanya, Sam sudah salah sangka.
"Bu-bukan begitu Kak, aku kira jika Kak Sam tidak ingin ke kosan untuk bertemu dengan orang tuaku," lirih gadis manis itu berucap.
Sam menghela nafas dalam, kemudian tersenyum lembut kearah gadis yang ia cintai itu.
"Kau ini aneh. Bukankah ini seperti momen yang tepat. Mereka bahkan sudah datang sebelum aku sempat berkunjung ke kampung."
Benarkah.
"Ayo, tunggu apa lagi." Sam kini menarik tangan sang kekasih lebih kuat, agar gadis itu lekas bergerak.
Begitu sampai di depan kosan, gadis manis itu cukup ragu untuk menutup pintu yang kini tertutup rapat.
Bagaimana ini, aku takut.
Kiara menoleh kearah samping, di mana pria tampan itu juga tengah menatapnya.
"Ayo ketuk," ucap Sam.
Kiara pun mengangguk. Diarahkan empat ruas jemari lentiknya guna mengetuk pintu bercat putih gading itu.
Setelah beberapa kali ketukan, pintu itu pun terbuka perlahan. Kemudian muncul seorang perempuan paruh baya dari balik pintu.
"Nak, bukankah kau meminta izin untuk keluar. Kenapa kembali cepat sekali? Apa tidak jadi?" ucap perempuan paruh baua itu pada sang putri.
__ADS_1
"Assalamualaikum, bu."
Perempuan paruh baya itu terkejut, dan mundur beberapa langkah saat sesosok pria tampan dengan postur tubuh tinggi menjulanglah yang justru memjawab ucapannya.
"Ibu!" pekik Kiara saat tubuh ibuhnya terhuyung dan nyaris terjatuh. Akan tetapi, dengan sigam Sam menahan tubuh ibu Kiara agar tak terjatuh.
"Ibu kenapa?" tanya sang putri cemas.
Untuk sejenak pandangan sang ibu tak beralih pada sosok Sam yang masih memegangi tubuhnya.
"Nak, pemuda ini siapa? Kenapa datang bersamamu?" Ibu Kiara kini mulai bisa mengatur keseimbangan tubuhnya. Ia pun duduk di lantai berlapis karpet, disusul pula oleh Kiara dan juga Sam.
Begitu mendengar kegaduhan, ayah Kiara yang berada di dapur pun keluar. Pria paruh baya dengan kaos oblong dan sarung itu tampak melongo sesaat. Cukup kebingungan, begitu ada tamu pria yang menyambangi kosan sang putri.
"Ibu, Kia ada apa?" Ayah Kiara pun menyusul duduk, memilih mendaratkan tubuh di samping sang istri namun menatap tajam kearah putrinya.
"Maaf, ibu, bapak. Perkenalkan, nama saya Samudra. Dan Insyaallah saya akan menjadi menantu ibu dan bapak jika diperkenankan." Sam memperkenalkan diri serta mengulurkan tangan, dan mencium punggung tanggan kedua orang tua Kiara.
Sepasang suami istri itu dia. Keduanya kompak, mengarahkan padangan kearah sang putri untuk meminta penjelasan.
"Kiara, apa maksud ucapan Nak Samudra ini. Apakah benar jika kalian memiliki hubungan?"
Gadis itu menelan ludahnya kasar.
Ya tuhan. Apa yang harus aku katakan pada ibu dan ayah. Sedangkan aku sendiri masih bingung pada kisah cintaku sendiri. Walau cincin pertunangan sudah dipesan, tetapi akan lebih baik jika Kak Sam lah yang wajib menjabarkan hubungan kita kepada ibu dan ayah.
"Maaf sebelumnya kepada ibu dan Ayah. Sebenarnya saya ingin mengunjungi kediaman ibu dan ayah di kampung untuk membicarakan hubungan saya dan juga Kiara untuk kedepannya. Hanya saja, saya belum sempat hingga justru ibu dan ayah yang lebih dulu datang ke kota," papar Sam.
Begitu mendengar ucapan Sam. Wajah sang ayah yang semula santai, kini mulai terlihat serius.
"Sudah sejauh apa hubungan kalian? Apakah Nak Sam sudah sering mengunjungi kosan putri saya seperti saat ini?"
Bukanlah Sam, tetapi Kiaralah yang gelagapan.
"Ayah bicara apa. Hubungan kami terjalin belum terlalu lama. Lagi pula Kak Sam hanya beberapa kali saja memasuki kosan Kiara, selebihya kami selalu mengobrol di teras depan." Gadis itu bersungut tak terima.
"Wajar jika ayah menanyakannya nak. Kau hanya hidup sendiri di kota, tanpa kami. Kami selaku orang tua hanya takut jika putri yang ayah sayangi berbuat hal tak senonoh yang dilarang oleh agama." Ayah Kiara mengungkap isi hatinya.
"Ayah, tolong. Aku mengerti akan kekhawatiran kalian, tetapi percayalah, Kiara pasti tidak akan berbuat macam-macam dan selalu menjunjung tinggi kepercayaan yang sudah Ayah dan ibu berikan. Dan percayalah, Ka Sam adalah pria yang sangat baik. Selalu menjagaku dan melindungiku. Lagi pula aku sengaja memilih kos yang khusus diperuntukan untuk kaum perempuan. Jadi ayah dan ibu tak perlu khawatir."
Kini pandangan kiara tertuju pada Sam.
"Kak Sam, maaf atas ucapa Ayah yang terkesan memojokkan. Sungguh, aku benar-benar minta maaf." Kiara berwajsh pias. Bagaimana jika Sam merasa tersinggung akan ucapan yang terlontar dari mulut sang ayah begitu saja. Padahal ia tahu benar, jika Sam bukanlah pria seperti yang ayahnya tuduhkan.
__ADS_1
Pria itu pun menggeleng samar.
"Tidak apa-apa kiara. Wajar jika ayahmu berucap demikian. Kau memang hidup sendiri di kota, tentu orang tuamu merasa was-was dan takut jika putrinya tak bisa menjaga kehormatannya sendiri."
Kini sang ibulah yang menatap Sam secara intens. Bagaimana pria muda itu terlihat berwibawa dan juga terlihat dari keluarga berada, namun kenapa justru menyukai putrinya yang berasal dari kampung dengan penampilan yang apa adanya.
"Maaf nak Sam. Bolehkah ibu bertanya?" Kekaguman yang sang ibu tunjukan saat pertama bertemu dengan Sam, kini diubah sedikit datar.
"Tentu bu."
"Ibu memang berasal dari kampung, tetapi ibu bisa melihat jika nak Sam berasal dari keluarga berada. Yang menjadi pertanyaan ibu adalah, apakah Nak Sam benar-benar mencintai putri saya baik dari perbuatan, tutur kata, kepribadian, bahkan latar belakang keluarganya. Apakah Nak Sam tau jika kami hanya berasal dari keluarga kurang mampu. Ayah kiara hanya seorang buruh, sementara saya hanya ibu rumah tangga biasa tanpa penghasilan. Apakah nak Sam sudah merasa yakin, dan tidak menyesal jika kelak menikahi putri kami yang tak sepadan dengan nak Sam?" Saat melirik sang putri, sejujurnya ibu Kiara tak sanggup untuk menanyak hal demikian. Kiara sudah tertunduk dengan sepasang netra memerah menahan tangis. Tetapi mau bagai mana lagi. Lebih baik mengetahuinya sekarang sebelum pernikahan itu benar-benar terjadi.
Sam lebih dulu menghela nafas dalam, dan menetralkan nafas. Tanpa melihat pun, pria itu tau jika sang kekasih tengah menahan tangis, dan itu membuat perasaanya hancur.
Sam pun menatap kedepan. Kearah pasangan paruh baya yang juga menatapnya.
"Ibu, ayah. Jika kita berbicara masalah kasta, maaf saya bukanlah orang kaya. Saya hidup biasa saja seperti orang lain pada umumnya. Jika berbicara soal perasaan, saya memang mengenal Kia belum lama ini. Akan tetapi waktu singkat yang dijalani, membuat kami sudah bisa merasakan nyaman satu sama lain. Saya tidak pernah membawa kasta dalam sebuah hubungan. Jika saya nyaman dengan seseorang, saya pun tidak bisa berbohong. Terlebih Kiara adalah gadis baik yang mampu membuat hari-hari saya kian berwarna. Maka dari itu, saya minta kepada Ayah dan Ibu untuk merestui hubungan kami, supaya kami bisa untuk melangkah kejenjang hubungan yang lebih serius untuk kedepannya."
Ibu Kiara justru ternganga. Bibirnya setengah terbuka mendengar calon mantu bertutur kata. Hingga membuat sang ayah menyenggol bahu, barulah sang ibu gelagapan dan spontan mengusap air liur yang nyaris menetes dari mulutnya.
Ya tuhan. Kenapa aku dibuat terpesona dengan calon mantuku sendiri seperti ini.
"Jika begitu tunggu apa lagi. Sok atuh, halalin anak saya." Ibu Kiara bahkan tersenyum secerah mentari pagi hingga menampakkan bagian gigi depannya.
Sang ibu dan juga Kiara dibuat terkejut. Tak menyangka jika sang ibu akan mengambil keputusan begitu cepat.
"Benar Bu?" tanya sang Ayah dan juga kiara bersamaan.
"Heem. Apa kurang meyakinkan jawaban Nak Sam yang segitu panjangnya. Untung aja ga keselek, orang dari tadi ga disuguhin minuman." Sang ibu tersenyum manis kearah Sam. Dan sang ayah hanya bisa pasrah. Lagi pula, sedari awal melihat, Sam seperti sudah mampu menghipnotis dari tutur kata dan juga pembawaannya yang tenang. Hingga tidak ada celah untuk menolaknya.
Toh ini semua sejujurnya hanyalah akal-akalan darinya yang sengaja ingin bermain-main lebih dulu dengan sang calon menatu. Ya, hitung-hitung pemanasan.
"Jadi, ibu dan ayah sudah bisa menerima saya sebagai calon menantu?" ucap Sam untuk lebih meyakinkan.
"Ya," jawab pasangan itu bersamaan.
Sam pun tersenyum senang. Ia memandang kearah Kiara, meraih jemari tangan gadis itu, lantas menggenggamnya.
"Hei, tapi jangan lebih dari pegang tangan sebelum kalian berdua halal," sentak ibu Kiara dengan netra setengah melotot kearah tangan yang sudah saling bertautan itu.
Sam dan Kiara spontan melepasnya. Kemudian terbahak dalam hati, menahan malu sebab ketahuan. Akan tetapi, di dalam hati jelas Sam merutuki diri.
Huh, tidak ada cara lain. Aku harus cepat-cepat menikahimu sebelum aku tak mampu menahan diri.
__ADS_1
Sementara itu, Kiara hanya tersenyum tipis. Begitu mendapati Sam mengusap wajahnya. Tetapi ia juga bersyukur, sebab orang tuanya sudah memberi lampu hijau atas hubungannya dengan seorang pria yang ia cintai.
Bersambung...