Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Keterkejutan


__ADS_3

Tubuh mungil itu sama sekali tak menunjukan pergerakan, meski mobil yang mereka kendaraai sudah mencapai halaman rumah.


"Tuan, apakah anda membutuhkan bantuan?" tanya Sam begitu mesin mobil dimatikan. Dirinya memutar kepala kearah belakang, di mana nonanya masih terlelap dalam gendongan sang tuan.


"Tidak usah," tolak Arka. "Aku bisa mengendong istriku sendiri."


Sam bergerak cepat untuk membuka pintu bagi tuannya. Para pelayan yang sudah berdiri menyambut saling tak berani untuk bertanya barang sepatah kata pun, terkecuali Surti.


Perempuan paruh baya itu mendekat, dengan wajah cemas.


"Tuan, apa yang terjadi dengan nona?"


Arka hanya tersenyum dan menundukan pandangan menatap wajah cantik sang istri yang masih tertidur pulas.


"Tidak apa-apa, Bi. Zara hanya tertidur saat perjalanan pulang. Mungkin dia kelelahan."


Surti menghela nafas lega, ia pun hanya mengikuti langkah tuannya menuju lantai teratas di mana kamarnya berada. Dengan cekatan, Surti membuka gagang pintu dan memberi jalan tuannya untuk masuk.


"Adakah yang bisa saya bantu, tuan." Surti masih berdiri di depan pintu, menunggu aba-aba dari Arka. Mungkin saja jika tuannya itu membutuhkan bantuannya.


"Tidak, terimakasih Bi." Arka merebahkan tubuh mungil istrinya di ranjang dan melepaskan sepatu yang masih berada di kaki Zara dengan hati-hati. "Biarkan istriku istirahat, dan bibi bisa kembali bekerja."


Surti cukup faham, perempuan paruh baya itu pun menundukan kepala sebelum keluar ruangan dan menutup rapat kembali pintunya.


Selepas kepergian Surti, Arka mulai melepaskan jas beserta sepatunya. Ia berniat untuk membersihkan tubuh, selepas itu dirinya akan mencari tau tentang siapa pria yang sudah berani menggangu istrinya.


Apakah dia hanya seorang preman yang tengah mencari mangsa, atau seseorang yang memang mengenal, kemudian sengaja ingin menyakiti istrinya? Entahlah.


Saat kaki panjang itu mulai melangkah, tiba-tiba sesuatu dari atas ranjang mengurungkan niatnya. Zara yang semula terlelap dengan damai, tiba-tiba sekujur tubuhnya bergetar. Peluh pun mulai menitik diiringi igauan yang keluar dari bibir mungilnya.


"Pergi, pergi! Jangan gangu aku. Pergi!"


Tubuhnya mulai bergerak tak beraturan sementara kedua netranya masih terkatup rapat.


Tak kuasa melihat, Arka bergerak cepat untuk mendekat kemudian mendekap tubuh yang terguncang itu supaya lebih tenang.


"Tenang, sayang. Kau akan baik-baik saja bersamaku." Arka mengusap peluh di wajah dan kening Zara serta memberikan usapan di punggungnya.


Gadis itu pun tersentak, berusaha untuk lepas dari dekapan Arka. Akan tetapi setelah netranya terbuka dan menatap wajah seseorang yang tengah menenangkannya, ia pun spontan mendekap dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Jangan pergi. Saya mohon, temani saya di sini," ucap Zara masih menyembunyikan wajahnya layaknya bocah yang ketakutan.


"Tidak, sayang. Aku berjanji, untuk tidak beranjak dari tempat ini dan meninggalkanmu. Maka tidurlah kembali, kau akan aman bersamaku."

__ADS_1


Zara mengangguk dan kian mengeraatkan dekapannya. Sesekali dirinya menghirup aroma tubuh sang suami yang membuatnya nyaman. Wangi tubuh itu masih tercium selepas seharian penuh beraktivitas.


Keadaan seperti ini begitu menguntungkan bagi Arka. Saat sang istri bergantung dan menempel padanya. Direngkuhnya tubuh mungil yang sangat pas untuk didekap itu, kemudian dengan leluasa menciumi bagian tubuh Zara yang ia suka.


*****


Kali ini Sandy tak ingin bertindak gegabah. Ia sudah melancarkan beberapa serangan, namun semuanya gagal.


"Tidak ada salahnya jika aku mencari pekerjaan, sementara otakku mengatur rencana berikutnya."


Sandy bangkit dari ranjangnya. Menuju kekamar mandi guna membersihkan diri. Memilah kemeja dan celana bahan yang tersimpan di lemari untuk di pakai.


Dirinya menatap pantulan di cermin. Wajahnya yang cukup tampan serta postur tubuh yang cukup tinggi, membuatnya terlihat cocok menggunakan pakaian apa pun. Pilihannya tertuju pada kemeja berwarna krim dengan bawahan celana kain berwarna gelap.


Semoga saja dirinya mendapatkan kabaar baik hari ini. Dirapiikannya beberapa map berisi lamaran pekerjaan di meja kamarnya dan memasukannya kedalam sebuah tas.


"Tidak ada yang tak mungkin di dunia ini, selama kita ttetap berusaha mewujudkannnya." Sandy menyemangati dirinya sendiri. Kali ini, otaknya mampu ia kontrol dengan baik. Berusaha membuang fikiran jahat dan mengisinya dengan aura positif.


"Akan lebih baik jika aku mengenakan ini," ujar Sandy sembari meraih sebuah masker di laci lemari lantas memakainya.


"Bisa hancur wibawaku jika salah satu kekasihku bisa melihatku sedang melamar pekerjaan seperti ini."


Sandy yang gemar bergonta ganti pacar itu mengaku jika mempunyai pekerjaan mapan serta kehidupan nyaman. Alhasil, banyak gadis yang rela mengantri untuk menjadi kekasihnya atau sekedar teman kencannya.


Dengan kijang hitam hasil sewaan, rencananya Sandy akan mengunjungi beberapa perusahaan yang sudah menjadi incarannya. Dimulai dari sebuah perusahaan yang berada tak jauh dari kediamannya. Berharap akan ada lowongan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.


Sandy dengan semangat dan penuh keyakinan mulai melangkah memasuki gedung brrlantai empat tersebut. Separuh wajahnya masih ia sembunyikan dengan menggunakan masker. Ia tetap tak mau sesuatu yang tak diinginkan terjadi.


Seorang resepsionis perempuan menyambutnya. Sedikit menanyakan perihal tujuan kedatangannya. Pria itu pun dengan percaya diri menjawab apa tujuannya dan meminta bertemu dengan atasannya. Niat hati keinginannya akan mendapatkan sambutan baik, resepsionis perempuan itu dengan cepat menolaknya, mengingat sama sekali lowongan pekerjaan yang tersisa di perusahaan tersebut.


Sandy merasa geram, makiannya terlontar begitu saja saat dirinya melangkah keluar gedung. Pihak keamanan yang mendengar pun lantas menyeret dan membawanya ketempat aman, takut jika pria itu tak bisa dikontrol dan berbuat nekat.


"Stop! Hentikan!" Sandy tak terima tubuhnya diseret dengan paksa. "Aku bisa keluar dari tempat laknat ini tanpa kalian paksa," sambung Sandy lagi.


"Kami hanya memastikan jika kamu tak akan membuat keributan di tempat ini. Maka dari itu, pergilah, dan jangan kembali lagi," usir seorang penjaga keamanan berbadan tegap dengan pistol tersimpan di pinggangnya.


Tak ingin berbuntut panjang akan ulahnya, Sandy lekas memasuki mobil dan tancap gas meninggalkan perusahaan yang sudah menolaknya secara mentah-mentah.


Di dalam mobil pun Sandy tak hentinya memaki. Kepalanya kini terasa panas dan terbawa emosi. Ia pun melaju kencang dengan tak tentu arah tujuan. Cukup lama pria itu menyusuri jalanan, hingga sampai kepusat kota.


Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Sandy menatap gedung tinggi menjulang, yang ia yakini sebagai perisahaan terbesar di kota itu. Bagaikan sesuatu yang menginginkannya mendekat, Sandy tanpa fikir panjang memasuki area parkir perusahaan tersebut yang sangatlah luas.


Tak hentinya Sandy berdecak penuh kekaguman. Gedung megah dengan rancangan khusus itu, sungguh berbeda dengan gedung-gedung lain. Terlihat mewah dan elegan. Dihiasi pepohonan hias dan taman bunga mini, semua area depan gedung pun terlihat bersih dan terawat.

__ADS_1


"Tidak ada salahnya jika aku mencari pekerjaan di sini. Jadi tenaga pembersih pun tak apa. Aku yakin, gajinya pun pasti cukup besar mengingat semegah apa perusahaannya."


Menuruni mobil dengan suka cita, tak lupa Sandy memakai masker dan meneteng tas berisi data diri dan berkas lamaran pekeraannya.


Mendapati seorang penjaga keamanan yang sedang bersiaga, pria itu pun berinisiatif untuk mendekat.


"Permisi, bapak. Bisa saya menanyakan sesuatu?"


Penjaga berpakaian lengkap itu pun mendekat dan menyambut Sandy dengan ramah.


"Bisa mas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya si penjaga.


Belum lagi Sandy menjawab, tiba-tiba sebuah mobil mewah yang datang mengegerkan beberapa karyawan yang terlihat dan para penjaga keamanan yang bersiaga.


Sandy pun mengalihkan pandangan, saat mobil itu terhenti di depan pintu masuk perusahaan. Kedua orang penjaga keamanan mendekat. Membuka pintu depan dan pintu belakang mobil.


Seseorang pria tampan keluar dari kursi kemudi sebelum tugasnya digantikan oleh seorang penjaga.


Sandy menegang. Sepertinya ia merasa tak asing dengan seraut wajah tampan itu. Kemudian pintu penumpang di buka oleh penjaga keamanan lain. Seorang pria luar biasa tampan nan berkharisma muncul dengan stelan jas lengkap yang membalut tubuh tinggi sempurnannya.


Sandy kian menelan salivanya berat. Tak salah lagi. Kedua pria itulah yang sudah mengagalkan rencanannya. Tetapi siapa mereka. Kendaraan yang mereka tunggangi pun masih sama seperti malam itu saat dirinya berusa menculik Zara namun gagal.


Beruntung posisinya kini cukup berjauhan sementara wajahnya tertutup masker. Kedua pria itu pun sudah menghilang di balik pintu masuk gedung.


"Maaf mas. Bukankah anda ingin menanyakan sesuatu. Tetapi kenapa tetap diam sedari tadi?" Tanya seorang penjaga yang sedari tadi menunggu Sandy yang masih tak mengucapkan kalimat apa pun.


"Ma-aaf, pak. Kalau saya boleh tau, kedua pria berjas itu siapa?" Sandy menunjuk tempat yang tadinya menjadi tempat turunnya kedua pria berjas itu dari kendaraannya.


Walau mereka sudah tak terlihat, namun penjaga itu tau akan maksud dari pria bermasker di depannya ini.


"Itu Tuan Arkana dan Tuan Sam. Mereka petinggi di perusahaan ini."


Apa? Jadi pria yang sudah menghamili Zara adalah salah satu petinggi di perusahaan sebesar ini.


Sandy tetap tak habis fikir. Bagaimana Zara yang terbuang di kota justru dipertemukan dengan orang-orang hebat seperti mereka.


"Petinggi? Apa dia manager di sini?"


Penjaga itu tergelak dan mengelengkan kepalanya.


"Bukan mas. Beliau adalah CEO, sekaligus pewaris perusahaan Atmadja Group."


Ingin rasanya Sandy pingsan di tempat. Merasa dirinya tak cukup nyali, ia pun lari tergopoh menghampiri mobilnya yang terparkir cukup jauh darinya.

__ADS_1


Penjaga keamanan itu pun mengerutkan dahinya saat pria bermasker itu lari tunggang langgang selepas mendengar jawaban dari pertanyaan pria bermasker itu sendiri. Ia pun mengangkat bahu dan menyebikkan bibir, seolah mengatakan jika ia tak mengerti akan maksud pria itu. Memutar tumit dan berbalik badan, penjaga itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya kembali.


__ADS_2