
Selepas kepergian Rangga dari kediamannya, Arka menghampiri sang istri yang masih berada di kamar. Membuka pintu dengan perlahan, pria itu tersenyum lebar saat tatapan keduanya bertemu. Posisi gadis itu setengah berbaring di atas ranjang, dengan sebuah buku di pangkuan.
"Tamu kita sudah pulang?" tanya Zara seketika saat suaminya itu mulai mendekat kearahnya.
"Ya, baru saja," jawab Arka dan langsung merebahkan tubuhnya di samping kanan sang istri. Menghimpit, kemudian mengusap perut buncit Zara. "Kenapa kau justru bersembunyi di sini, dan tidak bergabung bersama kami?"
Gadis itupun menggeleng samar. "Tidak, sayang. Aku yakin jika Tuan Rangga datang kerumah ini, pasti bukan tanpa tujuan, bukan?"
Arka mengangguk, kemudian menggengam tangan sang istri, dan mendaratkan banyak ciuman di sana.
"Dia mencari Anastasya."
Aku sudah menduganya.
"Apa kau mengatakan di mana saat ini Nona Anastasya berada?"
"Tidak," ucap Arka sembari menghela nafas dalam. "Aku tidak ingin jika Anastasya murka saat Rangga nekat untuk menemuinya di apartemen," sambungnya lagi.
Keduanya terdiam, tengah sibuk dengan fikiran masing-masing. Hingga pandangan Arka tertuju pada perut sang istri yang semakin terlihat.
"Sayang, bagaimana jika nanti sore kita ke Rumasikit untuk melihat kondisi bayi kita?" Arka terus mengusap perut itu yang semakin membuatnya gemas. "Perutmu sudah terlihat membesar, sayang. Bukankah, ini masih bulan ketiga kau mengandung?"
Gadis mungil yang tengah mengusap surai sang suami itu membenarkan. Memang, saat ini usia kandungannya baru tiga bulan. Akan tetapi perutnya yang rata itu sudah terlihat membesar. Ia yang sempat mengalami morning sickness layaknya perempuan hamil pada umumnya, kini justru semakin banyak makan. Bahkan dengan porsi lebih banyak dari pada sebelumnya.
"Mungkin berat badanku juga terus bertambah. Mengingat kedua pipiku yang terlihat semakin menggembung." Zara bahkan mencubit pipinya sendiri. Di ikuti oleh Arka yang menusukkan jari telunjuknya kepipi gembul sang istri.
"Kau terlihat semakin menggemaskan. Membuatku tak tahan untuk melahapmu terus menerus," goda Arka diselingi gelak tawa.
Zara memanyunkan bibirnya, sedikit jengkel pada ulah sang suami yang kerap kali menggoda dan mengejeknya.
"Istirahatlah dulu, sore nanti kita akan mengunjungi rumasakit. Ingat! Jangan banyak fikiran dan jalani kehamilanmu dengan senyaman mungkin," tegas Arka memperingatkan, yang mana spontan diangguki oleh istrinya itu.
******
Arka tak pernah melepaskan gengaman tangan saat melewati koridor rumasakit hingga menuju ruangan Dokter Bram. Tak ada sambutan yang berlebihan, mengingat Arka tak lebih dulu mengabarkan kedatangannya di tempat tersebut untuk memeriksakan kandungan sang istri.
__ADS_1
Bahkan keduanya rela duduk di kursi tunggu saat Bram masih berkutat dengan tanggung jawabnya di pusat kesehatan tersebut. Saat seorang perawat mengatakan jika Arka sudah berada di depan ruangan dan tengah menunggunya, pria itu dibuat gelagapan dan segera berlari dari ruang perawatan pasien menuju ruang kerjanya.
"Kenapa tidak mengabariku lebih dulu jika akan datang," ucapnya dengan nafas terengah sehabis berlari.
Arka hanya tersenyum tipis dan menikmati kepanikan wajah Dokter Bram saat ini.
"Aku sengaja ingin mengejutkan kalian. Sudah lama aku tidak melihat kepanikan di wajah Ka Bram, saat aku datang. Contohnya, seperti saat ini," goda Arka, yang mana sekerika membuat Bram tersenyum masam.
"Itu sama sekali tidak lucu," celoteh Bram sedikit geram, sementara tangannya bergerak untuk membuka pintu ruang kerjanya.
"Tidak usah Ka. Aku hanya ingin melihat calon bayiku di dalam perut. Dan lebih baik jika kita memanggil dokter kandungan secara langsung sebab aku tak ingin istriku akan kelelahan menunggu." Arka tersenyum lembut dan mengeser pandang kearah Zara yang berada di sampingnya.
"Baiklah jika seperti itu maumu." Tanpa menunggu lama, Bram lekas meminta pada seorang staf medis untuk mengosongkan ruang USG serta meminta dokter spesialis kandungan senior untuk mendampinginya.
Dokter spesialis itu tergopoh saat seorang perawat memangilnya. Mendengar jika istri pewaris Atmadja group yang datang, perempuan paruh baya itu mendadak gemetar. Takut jika sampai melakukan kesalahan hingga berimbas pada karir kedokterannya kelak.
Begitu ruangan terbuka, dirinya seketika disambut oleh Dokter Bram yang berdiri seraya memberi tatapan tajam padanya seolah memintanya untuk lekas bekerja. Ia pun bergerak cepat menuju kursi di mana sepasang suami istri sudah menunggunya.
"Maaf, sudah membuat Tuan dan Nona menunggu." Dokter perempuan itu masih menunduk, namun saat ia mendongak, ia justru terkejut bukan main.
Ia pun menelan ludahnya kasar, namun ia lekas membuang fikiran buruk yang sempat bersemayam di otaknya.
Tak berselang lama, Dokter perempuan itu pun meminta pada Zara untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Berbagai macam pemeriksaan menyangkut kesehatan janin dalam perut pun dilakukan.
Hingga cairan semacam gel yang terasa sejuk itu mulai menyentuk kulit perutnya. Dokter itu mengarahkan sebuah alat di tangannya dengan perlahan di atas perut Zara, sementara semua tatapan beberapa orang yang ada di dalam ruangan tertuju pada layar USG, di mana sebuah banyangan tergambar di dalamnya.
Bram yang merupakan dokter umum sama sekali tak mengetahui arti gambar dari layar itu. Tetapi ia telah menyerahkan semuanya pada Dokter spesialis yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia seperti ini.
Untuk sesaat, dokter itu meneliti gambar di layar dengan sedetail mungkin. Sementara Arka, tampak menggengam erat tangan sang istri beserta merapalkan berbagai doa terbaik di dalam hati.
Dokter perempuan itu tersenyum, dan mulai menjelaskan seperti apa kondisi sang bayi. Meski masih sangat kecil, namun calon bayi itu telah terbentuk sempurna dan sehat. Akan tetapi, beberapa detik kemudian dokter itu justru menemukan satu hal lagi yang berada di dalam rahim Zara. Membuat dokter paruh baya itu menelan salivanya berat, sementara pandangannya tertuju pada Bram seolah meminta pertolongan.
"Dokter, bayi kami sehat kan?" tanya Zara dengan antusias, begitu pun Arka.
"Te-tentu Tuan, nona. Semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Sang dokter dengan sefikit terbata.
__ADS_1
Arka dan Zara saling bersitatap dan tersenyum bersamaan, yang mana justru membuat dokter itu semakin khawatir. Dan raut kecemasan itu bisa dilihat oleh Bram, kemudian ia meminta pada dokter tersebut untuk menyudahi pemeriksaan.
Saat sepasang suami istri itu duduk kembali kekursinya, Bram lekas menarik Dokter perempuan itu untuk berbicara empat mata.
"Kenapa kau terlihat begitu cemas, apakah ada sesuatu hal yang menghawatirkan pada kehamilan nona?" tanya Bram saat sudah berhasil membawa dokter itu keluar dari ruangannya.
Dengan terbata dokter itu menjelaskan semua hasil yang terlihat dari layar USG. Entah ini kabar menyedihkan atau justru sebaliknya. Akan tetapi, ia masih tidak berani untuk mengatakannya secara langsung pada Arka.
Bram pun dibuat syok dan ternganga tak percaya. Ia hanya berdoa, semoga Arka dan Zara bisa melewati semua ini hingga bayi itu terlahirkan.
Mereka berdua kembali keruangan, namun sebisa mungkin untuk membuang rasa cemas dan menggantinya dengan senyum di bibir mereka.
"Nona, tenang saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Bram pada Zara. "Dan Arka, bisakah kita bicara sebentar, dan hanya berdua saja?"
Arka menautkan kedua alisnya, berfikir keras sama Bram justru hanya meminta padanya untuk berbicara tanpa adanya Zara. Akan tetapi, yang Zara tunjukan justru berbeda. Gadis itu mulai bangkit dan sudah hendak meninggalkan ruangan. Namun seorang perawat lekas menuntunya untuk menuju ruang tunggu yang sudah dipersiapkan secara khusus.
"Ka, ada apa ini?" Arka merasakan ketidak nyaman. Apakah bayinya sedang tidak baik-baik saja, hingga para dokter menutupi hasil sebenarnya dari Zara.
Bram menghela nafas dalam, ragu untuk mengucapnya.
Bagaimana ini.
"Ini menyangkut bayi yang tengah dikandung oleh istrimu."
"Iya, tetapi ada apa?" Arka mulai meninggikan nada bicara saat Bram terkesan berbelit-belit dalam menyampaikan sesuatu yang baginya sangat penting itu.
"Ini belum pernah terjadi dalam keturunan keluarga Atmadja. Aku sendiri bahkan ragu untuk mengatakanya pada istrimu langsung."
Arka mengetatkan rahang, ia mulai geram.
"Iya, tapi ada apa kak. Bicaralah yang jelas!" teriak Arka.
"Istrimu tengah mengandung bayi kembar dan kau harus tau itu," jawab Bram spontan.
Seketika Arka menegang, bibirnya sedikit terbuka namun lidahnya terasa kelu.
__ADS_1
Apa, kembar?