
Sepanjang perjalanan pulang Zara diliputi rasa mencekam. Ketakutan akan pertemuanya dengan sosok pria yang mampu membangkitkan kenangan buruk yang pernah ia alami hingga membuat sekujur tubuhnya melemah.
Bagaimana jika Ka Sandy nekat untuk mencari tempat tinggalku. Pria itu pasti tidak akan menyerah begitu saja. Tapi kenapa gadis sebaik Kiara justru mencintai pria brengsek seperti Ka Sandy.
Zara masih menebak, di mana kiranya awal sepasang kekasih itu bertemu.
Apa mereka sudah memiliki hubungan bahkan sebelum Ka Sandy membawaku kekota.
Hanya sebuah teka teki tanpa jawaban yang gadis itu dapatkan. Ia hanya bisa berharap jika kedepannya Sandy tidak lagi mengganggunya atau pun mencampuri urusan pribadinya. Sesekali Zara memijat kepala yang terasa pusing dan perutnya yang mendadak seperti diaduk.
Kenapa setiap mengingat wajah Ka Sandy membuatku perutku mual seperti ini.
Taksi menepi di gerbang utama kediaman Arkana Surya Atmadja. Beberapa pengawal berbadan tegap seketika tergopoh membuka gerbang tinggi menjulang kala mendapati sang Nonalah yang menuruni taksi tersebut.
"Maaf, Nona. Seharusnya Nona menghubungi salah satu dari kami untuk bisa menjemput anda," ucap salah seorang pengawal dengan wajah ketakutan kalau-kalau Tuannya muncul tiba-tiba dan mendapati istrinya pulang menggunakan angkutan umum. Pasti semuanya akan runyam, dan kemungkinan besar akan berimbas pada pekerjaan mereka.
"Tidak apa, aku hanya sedang ingin naik kendaraan umum saja," jawab Zara dengan memasang senyum hambar mengingat tengah menahan rasa mual di perutnya.
"Nona, duduklah lebih dulu. Akan ada seseorang yang akan mengantar anda," pengawal itu pun menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Nonanya untuk duduk. Letak antara gerbang dan rumah utama cukup jauh. Melewati pepohonan buah dan taman bunga yang cukup luas. Akan melelahkan jika dilalui dengan berjalan kaki.
"Kenapa kalian begitu berlebihan? Aku ingin jalan kaki saja," tolak Zara yang tak menginginkan dilayani segala sesuatunya dengan berlebihan.
"Tidak, nona!" ucap pengawal itu dengan cepat sebelum semua terlambat. "Saya mohon nona. Anda hanya tinggal duduk dengan nyaman sementara kami menyiapkan kendaraan," sambungnya lagi dengan wajah mengiba.
Tuan pasti akan langsung memecatku jika melihat anda berjalan kaki seorang diri.
"Baiklah." Akhirnya Zara pasrah mengalah dan mendaratkan tubuhnya pada kursi nyaman yang sudah dipersiapkan. Tak lupa, pengawal pun menyuguhkan beberapa botol minuman dingin yang di dapatkan dari lemari pendingin pos penjagaan.
Tak berapa lama sedan hitam dari tampak terhenti, berjarak beberapa meter dari posisi duduk Zara kini. Seorang supir turun dan membuka pintu penumpang.
"Silahkan, Nona," ucap sopir tersebut.
Zara pun mengangguk. "Untuk bapak-bapak, terimakasih banyak atas pelayanan dan minuman segarnya. Sungguh saya mengucapkan banyak-banyak terimakasih." Zara menundukan kepala kearah pria-pria bertubuh gempal yang kini menatapnya tak percaya. Kemudian memesuki kendaraan yang sudah disiapkan menuju rumah utama.
__ADS_1
Pengawal dan penjaga keamanan masih terpaku di tempatnya. Ekspresi yang mereka tunjukan nyaris sama. Merasa tak percaya dengan apa yang sudah mereka saksikan dengan mata dan kepala masing-masing.
Benarkah aku sedang tak salah melihat. Dulu aku sempat mengecap buruk Tuan Arka atau pun gadis yang sudah rela menjadi istri keduanya. Aku sempat mengira jika di dalam fikirannya hanyalah harta. Sementara kini, yang kulihat justru kehahagian yang terpancar dari wajah Tuan Arka selepas menikahi gadis kecil itu. Apakah tutur kata dan sopan santunya yang membuat Tuan memilih jalan pernikahan seperti ini.
Salah seorang pengawal yang sudah cukup lama mengabdi terlihat diam, fikirnya jauh menerang kejadian beberapa bulan belakangan ini. Ini untuk kali keduanya selepas acara ijab kabul itu dirinya bisa melihat sosok Zara dari dekat. Gadis itu tak jauh berbeda dari gadis lainya. Hanya saja, sifat rendah hati dan kesopanan saat bertutur kata, membuat kecantikannya naik berkali-kali lipat dari gadis-gadis lainya. Membuat senyum tulus terulas dari bibir keriputnya serta untaian doa dari dalam hatinya.
Semoga, rintangan seberat apa pun yang akan di lewati. Anda tetap akan tetap bertahan untuk hidup bersama Tuan.
*****
Zara bergegas memasuki kediaman mewahnya menuju kamar, akan tetapi ia sempat bertemu dengan Surti dan perempuan paruh baya itu pun mendapati wajah pucat nonanya.
"Nona, apakah anda sakit?" Surti mencondongkan tubuhnya, untuk memandang Nonanya lebih dekat.
"Tidak, Bi. Aku hanya sedikit pusing saja." Karna tak mampu menahan gejolak di dalam perutnya, Zara pun mengabaikan Surti dan berlari menuju kamarnya. Lagi-lagi, ia pun memuntahkan isi perutnya. Akan tetapi, tak ada lagi yang bisa ia keluarkan.
"Aku harus cepat-cepat mandi dengan air dingin supaya lebih segar," gumam Zara pada dirinya sendiri.
Disela aktivitasnya, Zara sempat mendengar suara Surti dari arah kamarnya. Ia pun lekas bangkit dan memakai handuk piyama untuk menemui Surti.
"Maaf saya menggangu Nona. Saya mempersiapkan minuman hangat dan beberapa camilan kesukaan Nona," tunjuk Surti nampan yang berada di atas meja kaca.
"Terimakasih banyak, bi." Zara tersenyum senang, meski pun makanan yang disajikan Surti tampak tak membuatnya berselera.
"Apakah ada sesuatu lainya yang nona butuhkan?"
Zara menggeleng. Pasalnya tak ada lagi yang ia ingin selain tidur di kasur yang empuk untuk memulihkan energi yang hampir terkuras habis.
Surtipun menundukan kepala dan hendak keluar ruangan. Disaat bersamaan Arka muncul dari ambang pintu hingga mengejutkan Surti.
"Maaf, Tuan," ucap Surti seketika kala tubuhnya nyaris berbenturan dengan sang Tuan.
"Tidak apa bi." Arka menatap perempuan paruh baya itu, kemudian sang istri hingga berakhir pada nampan berisi makanan di atas meja. "Apa yang bibi bawa?" tanya Arka begitu melihat banyak makanan ringan yang surti hidangkan untuk sang istri.
__ADS_1
"Nona mungkin sedang tidak enak badan, hingga wajahnya terlihat pucat. Saya membuatkan minuman hangat dan beberapa camilan kesukaan nona."
Penuh dengan kecemasan, secepat kilat Arka melangkah menghampiri Zara. Surti pun faham, perempuan itu pun menundukan kepala dan meraih gagang pintu kemudian menutupnya rapat.
"Sayang, apa yang terjadi denganmu? Apa kau sakit?" Menempelkan punggung tangan kedahi dan pipi berulang kali.
panas. mungkin istriku deman.
"Duduklah," titah Arka hingga mendorong pelan tubuh istrinya untuk duduk di sofa. "Akan aku panggilkan dokter. Tunggu sebentar." Arka meraih ponsel dan hendak menekan satu nomor kontak yang seketika direbut paksa oleh Zara.
"Sayang, tidak perlu. Aku hanya sedikit pusing. Tidak perlu memanggil seorang dokter," tolak Zara dengan lirih.
"Tapi suhu tubuhmu sedikit tinggi, sayang. Apa kau yakin akan baik-baik saja?" Mengecek ulang dahi dan pipi kembali di selingi pijatan ringan dikedua bahu. Hingga menyentuh surai Zara yang masih basah. "Lihatlah, kau bahkan membiarkan rambutmu tetap basah. Ini akan membuatmu masuk angin," pekik Arka sembari mengusap surai sang istri dengan handuk kering agar cepat kering.
"Maaf, aku baru saja selesai mandi saat Bi Surti masuk hingga belum sempat mengeringkannya."
Arka tak ingin mendengarkan Alasan Zara. Ia pun merapatkan tubuhnya guna menjangkau seluruh surai sang istri. Hingga tanpa sengaja ia menundukan pandangan dan bertemu dengan bagian tubuh Zara yang ia sukai sedikit mengintip dari handuk piyamanya yang menyingkap.
"Astaga, kau ingin menggodaku? Kenapa tidak pakai baju?" Arka belum mengalihkan pandangannya dari bagian tubuh yang sedikit terbuka itu.
Zara pun mendongak, tak mengerti akan ucapan sang suami. Hingga pandangan mereka bertemu dan beberapa detik kemudian gadis itu tersadar kemana arah pembicaraan Arka. Ia pun menarik dan membenarkan piyama handuknya hingga kembali tertutup.
Ya Tuhan, aku sampai lupa jika belum sempat memakai pakaian.
Arka lekas mengalihkan pandangannya. Kembali pada aktivitas semula untuk mengeringkan surai. Usap-usap lembut dan pijatan ringan di bahu dan tengkuk membuat Zara merasa nyaman. Arka pun mampu menangkap sensasi nyaman yang dirasakan Zara dari pijatannya. Pria itu pun tersenyum bangga.
"Apakah nyaman?"
"Sangat nyaman sekali," jawab Zara hingga sesekali memejamkan netranya.
Arka meraih bantal dan menaruhnya dipangkuan. "Tidurlah di sini. Pasti akan membuatmu lebih nyaman." Pria itu memposisikan kepala sang istri untuk tidur di pangkuannya beralaskan bantal. Zara pun tak menolak. Sentuhan tangan Arka serasa membiusnya. Rasa pusing mulai mereda, dan mualnya pun perlahan sirna, yang ia rasa hanyalah kenyamanan dan membiarkan sang suami memanjakan dirinya dengan caranya sendiri. Tanpa terasa ia pun terlelap. Akan tetapi Arka tak menyudahi pijatannya. Ciuman bertubi-tubi yang ia daratkan pun tak membuat istrinya terbangun. Membuatnya gemas dan segera memindahkan tubuhnya keranjang.
Arka menatap tubuh mungil yang terbaring itu sembari bersedekap dada. Wajah cantik dan segala yang ada pada diri sang istri, begitu ia gilai. Ia sendiri tak menyangka jika hidupnya akan tak bisa dipisahkan pada gadis sesederhana Zara. Akan tetapi ia yakin, jika jodoh yang sengaja tuhan siapkan, pastilah yang terbaik untuk dirinya.
__ADS_1