
Ratih yang menguap lebar itu tak mampu lagi menahan kantuknya dan hendak merebahkan diri di atas tikar yang berada di ruang tamu. Adanya banyak kendaraan yang terparkir di jalanan tak membuatnya bergerak untuk mendekat. Baginya menunggu Zara yang tengah terlelap akan lebih baik dari pada menyaksikan sesuatu yang tidak pasti.
Akan tetapi, belum lagi kedua netranya terkatup rapat, lagi-lagi tangisan Rumi sang kakak ipar kembali terdengar. Ratih pun spontan bangkit dan hendak berlari keluar, namun ia pun tak tega untuk meninggalkan Zara seorang diri dalam keadaan terlelap.
Perempuan paruh baya itu pun mengurungkan niat dan merebahkan tubuhnya kembali. Beberapa detik kemudian ia pun bangkit kembali saat terdengar Rumi semakin keras mengeluarkan tangisnya.
Mengepalkan kedua tangan, Ratih pun nekat menemui sang kakak dan meninggalkan Zara untuk sejenak. Ia mengendap-endap dan melewati pintu belakang sekedar untuk mencuri dengar percakapan orang-orang di dalam.
Cukup lama Ratih berdiri di balik pintu dapur. Ia mendengar dengan seksama ucapan orang-orang asing pada kedua kakaknya. Tak ada masalah lain yang mereka bahas selain tentang sang keponakan yang tengah bersembunyi di rumahnya.
Hingga Ratih pun sengaja memotong percakapan dan mengatakan jika Zara sedang bersamanya.
"Di mana Zara sekarang, Bi?" tanya Arka setelah Ratih mendekat.
"Ikutlah bersama bibi. Maka kau akan menemukan istrimu." Ratih membawa Arka untuk berjalan menuju rumahnya yang berada di seberang jalan.
__ADS_1
Melewati tanah yang berlumpur dan becek, Arka berjalan mengekor di belakang ratih yang berjalan lambat. Andai seorang diri, mungkin Arka sudah akan berlari sekencangnya untuk bisa bertemu dengan istri yang sudah lama dirindukannya. Namun ia juga harus menghormati Ratih yang lebih tua darinya dengan tak asal main serobot saja.
Sudah sampai di serambi rumah, Ratih membuka pintu dengan perlahan.
"Zara ada di kamar itu nak," ucap Ratih seraya menunjuk satu pintu ruangan yang tertutup tirai berwarna biru. "Masuklah, dan bangunkan dia. Zara sedang beristirahat di dalam." sambung perempuan paruh baya itu lagi.
Arka mengangguk seraya tersenyum simpul sebagai jawaban. Ia pun bergegas menuju ruangan yang di tunjuk Ratih tanpa membuang waktu.
Menyibak tirai dengan perlahan, seketika Arka menangkap sesosok tubuh mungil yang tengah meringkuk di bawah selimut tipis yang menutup tubuhnya hingga keleher dengan beralaskan ranjang sempit dan usang.
Pria tampan itu mengusap wajah dan tak tahan menatap keadaan. Bagaimana istrinya harus berada dalam kondisi seperti dengan perut mulai membuncit. Ia pun mendekat dan berlutut menghadap wajah sang istri yang masih terlelap.
Gadis itu sama sekali tak bergerak dan masih terbuai dengan rasa kantuknya.
"Sayang," ulang pria itu lagi, namun kini diiringi dengan kecupan di bibir merah si gadis.
__ADS_1
Menggeliat pelan, Zara masih tetap setia memejamkan netra. Akan tetapi, saat merasakan usapan di wajah, membuat gadis itu pun perlahan mengerjap dan membuka kedua netranya.
"Kau sudah bangun sayang," ucap Arka lagi.
Gadis itu pun terlonjak saat mendapati wajah sang suami ada di hadapannya. Menggeser tubuhnya kebelakang, Zara berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya.
"Sa-sayang, anda datang kemari?" tanya gadis itu tak percaya. Ia pun merasa ketakutan saat melihat majah sang suami.
"Iya sayang. Aku datang. Datang untuk menjemputmu pulang." Pria itu merangkup wajah sang istri yang masih terlihat ketakutan.
"Ma-maaf." Gadis itu menunduk, tak berani menatap mata elang sang suami. Ia benar-benar takut, jika suaminya itu murka atas kepergiannya tanpa pamit.
"Ti-tidak sayang. Jangan menangis." Dengan penuh kelembutan pria tampan itu menyeka bulir bening di kedua pipi Zara. "Aku lah yang seharusnya meminta maaf karna tidak peka akan keinginanmu," sambung Arka lagi.
Pria itu membawa tubuh mungil sang istri dalam dekapan. Menghadiahi bertubi-tubi ciuman di seluruh bagian wajah.
__ADS_1
"Berjanjilah untuk tidak akan pernah pergi dari hidupku lagi. Ingat! Tidak ada yang boleh memisahkan kita berdua kecuali maut. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari sisiku saat aku berada di rumah." Terucap janji suci yang keluar dari bibir Arka, yang mana seketika diangguki pula oleh istri cantiknya.
Keduanya saling mendekap, dan berusaha mencurahkan kerinduan setelah beberapa saat sempat terpisah.