
Cukup lama Arka membuka pintu sebuah kamar dan hanya terdiam menatap seisi ruangan itu yang akhir-akhir ini serasa menghipnotisnya dan membuat sikap dinginnya dulu kian meleleh.
Kamar luas tersebut berada di lantai dasar rumahnya. Ya, semenjak kehamilan sang istri yang kian membesar membuatnya harus rela berpindah kamar, mengingat Zara yang terkadang ceroboh, bisa saja terjatuh pada saat menaiki tangga nenuju lantai tiga tempat kamarnya dulu berada, dan Arka tak menginginkan hal buruk itu terjadi hingga membuat istri dan calon bayi mereka terluka.
Apakah rasanya semenghangat ini jika di dalam rumah tangga dihadirkan buah hati?
Arka masih berdiri terpaku. Memindai ruang kamarnya yang semakin penuh. Selain kamarnya, dua boks bayi pun berada di sana. Hal inilah yang diinginkan Arka dan Zara. Berada dalam ruangan yang sama, agar lebih cepat menjangkau saat bayi itu menangis karna pipis atau pun kehausan.
Cat ruangan yang semula berwarna abu-abu itu, kini berganti dengan warna pastel. Kombinasi warna cat rumah mint dengan kontras hijau lembut untuk memberikan keseimbangan interior yang sederhana namun tetap memukau.
Dalam sifatnya, Zara tidak ingin berlebih-lebihan dalam hal apa pun. Baginya, kesederhanaan itu lebih menyenangkan dan juga memiliki banyak manfaat dari pada menghamburkannya untuk sesuatu yang di luar dari kebutuhan.
"Sayang."
Arka terkesiap saat sepasang tangan mungil menelus ke pinggangnya dan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Kau dari mana sayang?" tanya Arka pada seseorang di belakang yang tak lain adalah Zara, istrinya.
"Aku hanya berjalan-jalan sebentar di taman. Kenapa tadi tak memanggilku?" Zara masih asik dengan aktifitasnya. Memejsmkan netra dan mengendus aroma parfum ditubuh suaminya yang masih menggunakan stelan jas lengkap itu. Walau bekerja seharian, namun aroma parfum dari tubuh suaminya itu tak menghilang, hingga Zara dibuat mabuk kepayang dan sulit untuk melepaskan pria itu saat pulang bekerja.
Arka mengembangkan senyum di bibir. Akhir-akhir ini, Zara yang polos dan lugu menjadi lebih agresif dan tak ingin jauh darinya.
"Sayang, apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Arka masih pada posisi yang sama. Menikmati dekapan hangat dari seseorang tersayang yang memeluk dari belakang.
"Ya," jawab Zara dengan masih memejamkan netra. "Aku ingin, selsmanya kita akan hidup bahagia seperti ini," sambung gadis itu lirih.
Karna tak tahan, Arka pun membalikan tubuh hingga keduanya saling berhadapan. Zara terkesiap, namun beberapa detik kemudian ia tersenyum malu-malu saat pria itu tengah menatapnya lekat.
"Kau sangat menggemaskan." Arka mencubit puncak hidung mbangur sang istri dan mencium kedua pipinya, hingga berakhir pada bibir mungil nan menggoda dan menyesapnya cukup lama.
"Apa kabar bayi-bayi kecil ayah." Arka mengusap perut buncit Zara, kemudian bersimpuh untuk mensejajarkan wajahnya pada perut sang istri. "Apa yang sedang kalian lakukan di dalam? Tidur atau bermain?" Pria itu mengembangkan senyuman hingga menampakkan jajaran gigi putihnya. "Berbuat baiklah dan jangan sakiti ibu kalian. Jagalah ia, seperti ia menjagamu selama sembilan bulan, hingga kelak kalian akan dilahirkan." Beberapa ciuman hangat mendarat di perut itu. Zara seperti tak mampu menahan euforia kebahagiaan yang selalu melingkupi kebahagiaannya.
Dulu, jauh dari mimpi bahkan bayangan jika hidupnya akan berubah seratus delapan puluh derajat seperti hari ini. Memiliki suami baik hati dan penyayang, hidup bergelimang harta, serta dua bayi kembar yang akan melengkapi kebahagiaan rumah tangga mereka. Sungguh sangat sempurna, hingga Zara tak mampu berkata-kata, selain mengucap syukur tiada henti pada sang pemilik kehidupan.
*****
__ADS_1
"Segar bukan?"
"Tentu."
Zara mengeringkan rambut suaminya dengan handuk. Sesekali ia memberikan pijatan ringan, yang membuat Arka memejamksn netra karna rasa nyaman.
"Apa ingin langsung makan malam?"
"Tidak sayang. Aku ingin menemui Sam lebih dulu. Ada sesuatu hal yang akan aku tanyakan padanya."
"Baiklah, apa mungkin lama?" tanya Zara sekali lagi.
"Tidak, sayang. Mungkin hanya sebentar."
"Baiklah, aku akan kedapur membantu bi Surti untuk mempersiapkan makan malam." Zara menyisir rambut suaminya sebelum keluar ruangan.
"Jangan terlalu lelah sayang. Ingat! Kesehatanmu adalah segalanya bagiku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu hal padamu," ucap Arka memperingatkan.
Gadis itu tersenyum tipis. Kedua telapak tangannya menangkup pipi suaminya dan mencium bibir itu sekilas.
"Baiklah istriku yang pintar, kini biarkan suami yang tampan dan berkharisma ini untuk keluar sebentar. Jika kau merindukannku, berteriaklah. Maka aku akan berlari dengan cepat untuk mendatangimu."
Zara hanya menahan tawa dan menatap punggung sang suami yang berjalan meninggalkannya. Sementara ia sendiri lekas menuju arah dapur, untuk membantu para pelayan mempersiapkan makan malam.
*****
Arka berjalan menyusuri taman untuk mencari keberadaan Sam. Ia sendiri tau jika pada jam seperti ini, asisten pribadinya itu masih bergelut dengan banyak tugas yang menjadi tugasnya.
Benar saja, Sam terlihat memimpin para barisan para pengawal yang mendapatkan jadwal sift malam.
Arka menatapnya dan menunggu Sam di sebuah kursi hingga pria itu memubarkan barisan. Selepas itu pun Sam masih sibuk menerima beberapa panggilan dari ponselnya, hingga pria itu sadar pada keberadaan sang tuan, yang mungkin saja tengah menunggunya.
Sam berlari kecil selepas memutuskan panggilan seseorang di seberang, kemudian menghampiri tuannya yang sedang duduk di kursi taman.
"Tuan." Sapa Sam kemudian ikut duduk di samping kanan tuannya.
__ADS_1
"Sudah selesai?"
"Sudah tuan. Apa ada sesuat yang anda butuhkan?" Tentu saja ini kejadian langka, saat Arka menemuinya di tempat seperti ini.
Arka tersenyum tipis seolah meng-iyakan, tetapi juga tersirat keraguan di sana.
"Satu minggu lagi istriku berulang tahun. Aku ingin sekali membuat pesta kejutan. Tetapi aku tak yakin dengan ideku ini, sebab Zara sendiri tak menyukai hal berbau pesta mewah dan menghambur-hamburkan uang tanpa jelas tujuannya."
Sam mendengarkan dengan seksama ucapan sang tuan, dan juga berisaha untuk mencari solusinya.
"Benar tuan. Sepertinya nona sendiri tak menyukai pesta. Tetapi tidak ada salahnya jika sesekali dilakukan. Toh, bukankah ini kejutan. Pasti nona tidak akan tau bagaimana prosesnya. Jadi tidak mungkin nona akan menolak, jika pesta itu sendiri sudah disiapkan."
Arka menganguk samar, tetapi ia juga menghela nafas dalam.
"Kau benar juga, tetapi jika mengelar pesta, pasti akan banyak orang yang datang. Termasuk keluarga dan teman dekat, tetapi dengan keadaan Zara yang hamil besar seperti sekarang ini, aku yakin jika itu pasti akan menguras banyak tenaga dan membuat istriku kelelahan." Sebenarnya disitulah letak kecemasan Arka. Lagi-lagi kehamilan Zaralah yang membuat niatnya urung.
"Iya tuan. Pemikiaran anda ada benarnya. Nona pasti akan kelelahan."
Dua pria itu kini terdiam, namun juga memikirkan kejutan semacam apa yang membuat Zara akan merasa terkesan pada pertambahan usianya yang ke sembilanbelas tahun ini.
Arka terbelalak. sepertinya pria itu mendapatkan satu ide yang tepat. Ia pun memukul bahu Sam cukup keras hingga pria itu berjingkat.
"Tuan!" ucap Sam disela keterkejutannya.
"Bukankah kau punya kekasih. Sebagai seorang perempuan, pastinya selera mereka tak jauh berbeda. Coba tanyakan pada kekasihmu itu. Kiranya pesta kejutan sederhana semacam apa yang berkesan namun tetap romantis."
Apa?
Sam menelan ludahnya kasar.
"Coba tanyakan padanya. Ingat! Aku menunggu ide brilian itu seminggu dari sekarang." Selepas berucap, Arka bangkit dari posisinya. Memutar tumit dan berlalu pergi.
Sam menatap nanar tubuh tuannya hingga menghilang di pintu depan rumah.
"Apa? Pesta kejutan yang sederhana namun tetap romantis dan berkesan? Bukankah tuan lebih berpengalaman, kenapa justru bertanya padaku? Dan apa tadi, aku harus menanyakannya pada Kiara dan tuan hanya memberi waktu selama satu minggu? Gila, ini benar-benar gila. Dan gadis sepolos Kiara apa paham dengan hal semacam ini?" Sam mengacak rambutnya frustrasi. Pekerjaan ini bahkan lebih sulit dari pada memimpin seribu prajurit di medan peperangan. Hingga Sam hanya bisa berpasrah, dan berharap jika Kiara bisa meringankan pekerjaannya.
__ADS_1
Bersambung..