Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Satu Hari Bersamamu Part 2


__ADS_3

Terdiam. Kedua insan yang duduk di sebuah taman bunga yang terletak di area belakang rumah, sepakat untuk diam. Baik Rangga atau pun Anastasya kini sibuk dengan isi fikiran masing-masing selepas melihat keadaan Siska dari dekat.


Terlihat Anastasya menghela nafas dalam berulang-ulang. Berusaha menguatkan diri sekaligus menguasai diri. Ia bukanlah gadis angkuh yang tak mengenal rasa iba, akan tetapi ia pun tak bisa semudah itu luluh dan menyanggupi permintaan ayahanda Rangga untuk kembali bersama putranya.


"Kau sudah berhasil membawaku ketempat tak terduga ini tanpa penolakan, dan bisakah kau juga bersedia jika aku membawamu kesuatu tempat, tentunya tanpa penolakan darimu juga?" Sebuah rencana yang datang secepat kilat di benak Anastasya, seketika dilontarkan gadis itu dengan lantang.


Rangga menyipitkan netra, memindai ekspresi wajah Anastasya yang terlihat datar tanpa senyum.


"Kemana?"


"Ikutlah bersamaku, maka akan kutunjukan jalannya padamu." Selepas berucap, gadis itu bangkit dan mulai melangkah. Rangga yang masih dibuat bertanya-tanya pun lekas nengekor di belakang langkah sang gadis. Anastasya lebih dulu memasuki kendaraan, dan disusul Rangga yang berada di kursi kemudi.


Deru mesin mobil terdengar mulai meninggalkan halaman rumah Rangga. Anastasya masih bungkam, ia hanya bicara seperlunya dan menunjuk arah jalan yang akan menjadi tujuan. Rangga kini berwajah pias, entah menggapa perasaanya menjadi tak nyaman. Namun ia tetap diam, dan memilih untuk tak mengusik ketenangan gadis yang duduk di sampingnya.


"Berhenti," ucap Anastasya spontan saat ia yakin jika sudah berada di tempat yang diinginkan.


Rangga spontan menginjak rem mobil hingga suara decitan terdengar cukup nyaring. Pria itu menarik nafas dalam dan mengatur nafas akibat rasa terkejutnya. Saat kuda besi itu terhenti, Rangga lekas memindai pandang kesegala penjuru. Keningnya berkerut dalam saat mobil berhenti di tepi trotoar dan sepertinya tak ada sesuatu yang menarik pada tempat itu.


"Sayang, kita di mana?" Pria itu masih mengamati keadaan sekitar yang masih asing baginya.


"Turunlah, maka kau akan tau jawabannya." Tanpa menunggu persetujuan, Anastasya lebih dulu menuruni mobil dan berjalan kearah gerbang nan tinggi menjulang itu.


Pria tampan itu menarik nafas dalam. Ia masih bingung, namun tetap mengikuti langkah gadisnya. Pada menit pertama perjalanan, Rangga masih terlihat santai dan tak ambil pusing dengan tempat yang menjadi tujuan mereka. Akan tetapi, beberapa menit kemudian ia terlihat kebingungan saat mendapati banyak makam yang berada di dalamnya.


Pria itu pun coba mengingat kembali akan tempat ini.


Sebentar, sebentar. Bukankah ini pemakaman mewah milik..

__ADS_1


Rangga menepuk dahinya berulang, ini adalah makam keluarga besar Atmadja. Memang sudah cukup lama ia tak mengunjungi tempat ini sekedar untuk berziarah, jadi ia benar-benar tak menyadarinya di awal mereka memasuki tempat ini.


Kemana Anastasya akan membawaku.


Anastasya tetap melangkah, hingga terhenti tepat di hadapan pusara berukuran mungil dengan berhiaskan bunga kamboja sebagai peneduh.


"Asalamualaikum, sayang," ucap Anastasya lembut dengan mendaratkan satu kecupan pada batu nisan bertuliskan nama seseorang di sana.


Rangga yang masih berdiri di belakang tubuh Anastasya masih bertanya-tanya, kiranya siapa pemilik makam mungil tersebut.


"Duduklah," titah Anastasya pada Rangga yang masih diam mematung.


Tanpa membantah, pria itu pun mengikutinya dan duduk di samping kanan gadis itu.


"Sayang, ini makam milik siapa?" Rangga yang luar biasa penasaran, langsung melempar tanya.


"Luar biasa, kau bahkan tak mampu mengenali makam milik putramu sendiri." Anastasya tak mampu membendung rasa kecewa pada pria yang dulu dicintainya. Ia memang tidak tau atau sengaja menutup mata.


Tubuh Rangga menegang seketika. Kemudian ia menemukan nama Abigail Surya Atmadja tertulis pada batu nisan tersebut.


"Abigail? Inikah makam Abi putra kita?"


Anastasya bungkam, ia memilih untuk diam.


Kini Ranggalah yang paling merasa bersalah. Ia pun kemudian duduk bersimpuh di hadapan pusara sang putra dan menangis tersedu. Arka memang pernah memberi kabar jika buah hatinya dengan Anastasya meninggal selepas beberapa jam dilahirkan, dan baru saat inilah ia sempat mengunjungi makam putra kecilnya karna Anastasyalah yang membawanya.


Pemandangan yang tersaji sungguh membuat hati Anastasya hancur lebur. Ia seharusnya tak ingin menyalahkan Rangga atas masalah ini. Tetapi kepergian dan menghilangnya pria itu yang tanpa kabar, membuatnya menyimpan rasa benci sebab berusaha menelantarkan Anak dan seorang perempuan yang sudah dibuahinya.

__ADS_1


"Kenapa baru saat ini kau menangis?" Anaatasya sengaja melemparkan kata-kata pedas yang khusus ia tujukan kepada Rangga.


"Apa maksudmu, dia putraku. Kenapa aku tak boleh menangisinya?"


"Terlambat jika kau menangisinya sekarang. Abi bahkan sudah meninggal satu setengah tahun yang lalu." Sungguh ucapan telak yang mampu menembus jantung seorang pria seperti Rangga.


"Anastasya, aku tau aku salah. Maka dari itu aku meminta satu kesempatan padamu untuk bisa memperbaiki semuanya." Tetap mengiba, pria itu terlihat lemah dan tanpa daya.


"Tetapi sepertinya sudah terlambat."


"Anastasya, aku mohon. Kau gadis terbaik yang pernah kukenal. Setidaknya berikanlah rasa ibamu untuk bisa menerimaku lagi."


Beruntunglah tak ada orang lain di dalam makam terasebut. Hingga berdebatan keduan insan itu tak terlihat oleh siapa pun.


"Jika Abi masih hidup, mungkin aku masih bisa memaafkanmu. Tetapi setelah dua hari ini aku menimang semua yang sudah terjadi, dan ini menjadi keputusan final yang kupilih. Sepertinya kita harus berjalan masing-masing, tanpa perlu menggengam. Kau dengan hidupku, dan diriku dengan kehidupanku."


Rangga yang masih bersimpuh di pusara sang putra kian terisak. Kini ia bangkit dan menguncang tubuh Anastasya cukup keras, dia tetap tak terima.


"Anastasya, apa kau yakin dengan keputusanmu?"


"Aku benar-benar yakin," ucap gadis itu lantang. "Setelah semua yang sudah terjadi aku benar-benar yakin," sambungya lagi.


"Kenapa kau lakukan hal seperti ini kepadaku, Anastasya?"


"Justru akulah yang sepatutnya bertanya kepadamu, kenapa kau melakukan hal sekejam ini kepadaku? Aku tau cinta kita hanya terhalang pada restu orang tuamu, tapi tindakanmu yang memilih untuk menghilang dan lepas dari tanggung jawab itu merupakan pilihan yang salah. Lihatlah nisan itu," Anastasya menuju batu nisan berwarna putih tersebut. "Justru Arkalah yang sudah merelakan namanya untuk anak kita. Arka yang hanya menjadi tumbal atas kehamilan seorang gadis di luar ikatan pernikahan."


Rangga menatap nanar nisan tersebut. Ia memang memohon pada sahabat karibnya itu untuk menolong Anastasya bagaimana pun caranya. Tetapi ia justru menikahi dan membubuhkan namanya pada bayi yang dilahirkan Anastasya. Bukanya menjadi mudah, masalah ini justru kian rumit sebab membuat Rangga kian terpojok.

__ADS_1


"Sudahlah Rangga. Lebih baik kita meniti jalan takdir masing-masing. Jangan hanya kembali karna merasa iba padaku. Lihatlah, aku baik-baik saja, Dan kau bebas dari diriku mulai sekarang. Tak ada lagi ikatan yang membelengu di antara kita berdua. Biarlah semua menjadi kenangan yang tak perlu lagi untuk diulang." Selepas memberi salam perpisahan pada sang putra, Anastasya memutar tumit dan berlalu pergi. Meninggalkan Rangga yang mengganga tak percaya akan jalan pilihan yang sudah ditentukan oleh Anastasya.


__ADS_2