
Adakalanya sesuatu yang kita inginkan, tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Gadis cantik bersurai hitam legam menggoreskan pena di atas lembaran kertas putih ditemani cahaya mentari. Buku harian bersampul biru tua menjadi wadah untuk menuliskan semua perjalanan kisah hidupnya selama bertahun-tahun. Buku yang cukup tebal itu nyaris terisi penuh hingga menyisakan beberapa lembar saja.
Anastasya, gadis cantik sejuta pesona namun bernasib kurang beruntung itu tengah menikmati kesendiriannya. Duduk di sebuah kursi yang menatap langsung kearah bibir pantai, membuatnya sedikit melupakan permasalahan pelik dalam jalan hidup yang tengah membelenggunya.
Anastasya menutup buku bersampul biru itu selepas rampung menuliskan semua beban fikirnya. Kemudian membawanya dalam pelukan.
"Apakah aku sudah yakin dengan keputusan yang akan aku ambil." Gadis itu bergumam seraya menatap sendu laut lepas.
Selama beberapa hari menenangkan diri dan berfikir dengan kepala dingin. Gadis itu memantapkan hati untuk berniat menggugat cerai sang suami.
Mungkin ini lebih baik dari pada harus bertahan lebih lama lagi.
Masih ada bayangan indah masa depan di pelupuk netra gadis tinggi semampai itu. Pulang kembali kekampung halaman, berkumpul dengan paman, bibi, beserta keponakan dan membangun usaha kecil-kecilan untuk menyambung hidup dengan uang hasil keringatnya sendiri. Keinginan sederhana yang mungkin masih bisa Anastasya raih selepas meninggalkan kehidupan mewah bersama Arka.
Takdir hidup manusia, tiada yang tau. Kita hanyalah wayang dimana sang pencipta lebih berkuasa sebagai dalang yang sudah mengatur jalan hidup manusia bahkan sebelum pemilik nasib tersebut dilahirkan kedunia.
Dari sisi Anastasya, hidup bersama Arka membuatnya semakin tersiksa. Memiliki, namun tak pernah dicintai. Sungguh malang. Akan tetapi Anastasya tak pernah menyesal pada perasaan yang sempat bersarang di relung jiwanya.
Arka adalah sosok pria yang tanpa sadar ia kagumi, namun juga harus ia lupakan. Sebab, kini ada sosok Zara yang mampu membuat Arka perlahan namun pasti mulai mengabaikan keberadaannya.
__ADS_1
Ini bukan salah Arka, apalagi Zara, melainkan dirinya sendiri. Dulu dirinya sempat membuat keputusan gila dengan cara meminta paksa seorang gadis untuk mau menikah dengan suaminya. Awalnya gadis itu menolak, hingga ia nekat ingin mengakhiri hidup jika gadis itu atau pun suaminya tidak menuruti kemauannya.
Akan tetapi bukan tanpa alasan ia melakukan semuanya. Tak sehari atau dua hari ia mengenal sosok sang suami. Dirinya melihat sebuah tatapan hangat yang terpancar dari sang suami saat tengah mencuri pandang pada gadis polos tersebut, yang mana sebuah tatapan hangat yang tak pernah ia sendiri rasakan.
Dan semua yang terucap di bibir, tak selamanya mampu diterima oleh hati. Bibir bisa tersenyum, namun hati remuk redam.
Anastasya sempat mengingat kejadian disuatu malam. Sebagai wanita normal tentunya dia tak mampu selamanya menahan gejolak pada apa yang dimiliki pria sesempurna Arka. Wajah tampan, tubuh atletis yang mampu membuat siapa pun tergiur untuk menyentuhnya.
Gadis cantik itu sengaja memasuki ruang kerja Arka untuk menggodanya. gaun malam tipis nan tembus pandang ia tutup dengan jubah agar tak membuat para pelayan curiga.
Arka masih sibuk dengan setumpuk pekerjanan yang belum terselesaikan meski waktu menunjukan hampir tengah malam. Anastasya membuka pintu pelan, Arka pun menyadarinya. Mendongak sebentar kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Aku belum mengantuk. Kau sendiri, bukankah tidak lelah bekerja hingga selarut ini." Anaatasya mendekat dan semakin mendekat. Bersandar di meja kerja dengan mencondongkan tubuhnya tepat di hadapan Arka.
Arka pun menautkan kedua alisnya. Selama menikah memang mereka tak pernah tidur di kamar yang sama, namun kenapa tiba-tiba Anastasya terlihat berusaha mendekatinya.
"Bukankah sudah menjadi kebiasaanku seperti ini, dan aku yakin kau sudah mengetahuinya."
Anastasya tak terkejut dengan ucapan dingin pria tampan berstatus suaminya itu. Ia pun memutar otak untuk mencari alasan lain.
"Apa kau lelah, biar aku memijatmu." Anastasya bergerak cepat menuju bahu Arka dan mulai memijatnya lembut.
__ADS_1
Arka merasa risih dan berusaha menghindar. "Anastasya, tidak usah. Aku tidak lelah." Mengoyangkan bahu dan menghempas tangan Anastasya sedikit kasar. "Maaf, aku sedang tak ingin diganggu," sambung Arka saat menangkap ekspresi kecewa dari istrinya.
"Tak masalah, aku bisa tetap di sini untuk menunggumu dan tidak akan mengganggu." Anastasya memang beralih dari belakang punggung Arka, namun gadis itu kembali bersandar di meja dan melepas jubah yang menutup tubuhnya di lantai hingga gaun malam tipis itu terpampang nyata.
Anastasya mendudukan tubuhnya di meja dengan gaya menggoda. Gaun berwarna maron terlihat menyatu di kulitnya yang putih mulus, bahkan lekukan tubuhnya yang aduhai terlihat jelas dari pantulan gaunnya yang transparan. Belahan dada rendah membuat kedua bukit ranum itu menjembul yang mampu membuat pria mana pun tak berkedip.
"Arka, sudah sangat lama aku mendambakannya. Apakah kau tau itu," ucap Anastasya sementara jemari lentiknya bergerak mengusap jambang tipis di area rahang kokoh Arka. Belaian tangan gadis seksi nan menggoda yang akan membuat pria mana pun tak mampu menolaknya, bahkan untuk melakukan hal lebih.
Akan tetapi bukan Arkana Surya Atmadja namanya jika ia mudah tergoda. Entah mengapa setiap melihat Anastasya, membuatnya teringat akan sosok Rangga, sahabat karibnya. Membuatnya sama sekali tak bergairah untuk menyentuh, apalagi bercinta dengannya.
Pria tampan itu menepis tangan Anastasya agar tak lagi menyentuh wajahnya. "Maaf Anastasya. Sudah kukatakan jika aku tak akan pernah bisa menuruti kehendakmu untuk melakukan hal itu, dan aku tau kau pasti mengerti apa alasannya. Mulai sekarang, berhentilah untuk menggodaku." Arka memungut jubah Anastasya di lantai kemudian memakaikannya kembali.
"Ingatlah satu hal Anastasya, aku memang suamimu. Tapi aku mohon, jangan memaksaku untuk menuntaskan gairahku padamu. Tanpa kau paksa, aku pun sudah pasti akan melakukannya jika sudah benar-benar yakin pada keinginanku sendiri. Tentunya bukan paksaan darimu."
Anastasya terdiam. Inilah penolakan yang teramat menyakitkan baginya. Ia terlalu gegabah untuk melakukan hal sebodoh ini. Seorang Arka bukanlah pria hidung belang yang mudah tergoda dengan kenikmatan duniawi. Dia sosok pria terhormat dan bertanggung jawab. Selalu bijak dalam mengambil setiap keputusan, ia pun tak ingin gegah dalam menentukan pilihan.
"Maaf, Anastasya. Hingga detik ini, aku masih belum bisa mencintaimu."
Ucapan telak yang terucap dari bibir Arka membuat Anastasya tak pernah melupakannya hingga detik ini. Bahkan suara lantang itu masih seperti nyata bak sambaran petir yang terdengar di telinga gadis yang kini tak kuasa menahan tangis meski kejadian itu sudah cukup lama terjadi.
Seharusnya aku sadar, jika Arka mencintaiku hanya merasa iba dan tak pernah bisa lebih dari itu
__ADS_1