Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Saksi Hidup


__ADS_3

Anastasya menatap nanar ruangan luas bercat pastel lembut yang beberapa tahun menjadi tempat terfavoritnya. Rasanya enggan untuk meninggalkan kamar yang menjadi tempat istirahatnya selama dinikahi oleh seorang Arkana surya atmadja. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan, begitu banyak kisah dan impian yang terukir, namun ia sadar jika semua hanyalah bayangan semu yang tak kan mungkin tergapai.


Vonis perceraian sudah dijatuhkan. Tak ada alasan lagi baginya untuk bertahan lebih lama di rumah mewah ini. Arka bukan lagi suaminya, dan dia pun sudah tak berhak menikmati fasilitas yang bukan lagi menjadi haknya.


Mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang, gadis bersurai hitam legam itu merebahkan setengah tubuhnya dengan kaki dibiarkan menjutai menyentuh lantai. Menatap kearah langit-lagit kamar dengan hiasan lampu kristal, Anastasya sejenak memejamkan kedua netra, sekedar untuk melepas rasa penat.


Mengapa aku harus ada, sementara tak ada seorang pun yang menginginkan hidupku bahagia.


Merasa lelah dengan keadaan,namun gadis itu tak pernah merasakan putus asa. Sempat berada pada satu titik, di mana ia merasa jika hidupnya tak lagi berguna. Akan tetapi, setiap kali ia merasakan jatuh dan terpuruk, disitu pulalah dirinya selalu dipertemukan pada sosok-sosok malaikat yang menginginkannya untuk tetap hidup.


Semenjak itu, Anastasya berubah menjadi seseorang yang lebih tegar dan kuat untuk bisa menyemangati hidupnya sendiri.


Pintu kamar diketuk seseorang dari luar.


"Masuk," ucapnya. "Tidak dikunci," sambung Anastasya lagi.


Pintu bercat putih gading terbuka perlahan tanpa suara. Muncullah sesosok tubuh munggil di balik pintu itu.


Anastasya yang masih dalam posisi setengah terbaring, spontan bangkit kala mendapati Zaralah yang sudah berdiri di depan pintu.


"Zara!" pekik Anastasya setengah terkejut.


"Maaf." Zara yang memilin tangannya yang saling bertautan itu menundukan kepala. Ia mengira jika Anastasya tak menyukai kedatangannya.


"Tak masalah. Ayo, kemarilah." Mengulurkan tangan, Anastasya meminta pada gadis itu untuk memasuki kamarnya.

__ADS_1


Tak menolak, Zara terlebih dulu menutup pintu rapat sebelum berjalan mendekat, kemudian ikut mendaratkan tubuh di ranjang, berada di sisi kiri Anastasya.


Rasa canggung melanda saat kedua gadis itu duduk bersama dan tak saling berbicara. Zara sibuk memilin jemarinya, sementara Anastasya pun tengah berperang dengan perasaannya.


"Apakah ada sesuatu yang kau butuhkan, hingga mencariku kemari?" Gadis cantik mantan model itu membuka suaranya lebih dulu.


Zara masih terdiam, ia menunduk dalam sembari mengumpulkan keberanian. Ia pun mendongak, sementara kedua netra sudah berkaca-kaca.


"Nona, maafkan aku. Demi tuhan, ini bukan keinginanku." Zara yang tak mampu lagi menahan, lekas mengengam kedua tangan Anastasya dan menangis sejadi-jadinya.


"Aku bersalah, nona. Anda berhak untuk membenciku. Seharusnya akulah yang lebih pantas pergi dari tempat ini, dan bukan nona." Isak tangis terus terdengar. Inilah suara hati yang selama ini Zara simpan. Tidak dipungkiri, dirinya lah yang membuat Anastasya angkat kaki. Meski semua juga Atas keinginan Anastasya, tetapi jika dirinya tak hadir, maka semua itu pun tidak akan terjadi.


Anastasya gelagapan. Sekuat tenaga dirinya berusaha menenangkan Zara yang berada di puncak rasa bersalah, yang tentunya bukan atas kesalahannya.


"Zara, tenang. Aku mohon tenanglah." Menguncang bahu Zara lembut, gadis itu berusaha mengusap dan mengengam tangan mungil itu kalo bukan dirinyalah yang harus disalahkan.


"Zara, tenanglah!" Anastasya meninggikan suara dan mencengkeram bahu Zara cukup keras hingga gadis itu terdiam, meski masih sesegukan.


"Sudah berapa kali kukatakan untuk tidak menyalahkan dirimu atas masalah ini. Kau pasti masih ingat, jika akulah yang sudah memaksamu untuk hadir ditengah pernikahan kami. Itu pun bukan tanpa alasan aku melakukannya, Zara, dan kau pun tau apa alasannya."


Anastasya sedikit naik pitam.


"Aku mohon, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Mungkin, kami sudah ditakdirkan untuk berpisah, dan aku pun sudah bisa menerimanya dengan lapang dada."


Netra yang mulai membengkak itu mendongak, menatap kedua netra nonanya.

__ADS_1


"Nona tidak sedang berbohongkan? Atau berpura-pura tegar dihadapan saya. Selepas ini nona bahkan tak menginginkan apa pun dari pemberian Tuan Arka. Apa nona juga berniat untuk meninggalkan toko bunga yang nona rintis dari bawah?"


Kata-kata telak yang mampu menancap kedalam relung hati Anastasya. Dirinya memang sempat menggantungkan keinginan pada toko bunga yang di bangun. Toko bunga yang ia bangun karna rasa cintanya pada tanaman tersebut, juga berharap bisa mengembangkannya dan kelak akan mewariskannya pada putra ataupun putrinya.


"Zara, adakalanya sesuatu yang sudah kita bangun dengan susah payah, tidak selamanya akan terus kita gengam. Seperti setiap manusia yang tidak akan pernah abadi, di situlah kita harus siap melepaskan sesuatu yang pernah kita miliki."


Apa kau tau Zara. Bukan karna Arka aku membangun bisnis itu dengan susah payah, tetapi karna seseorang pria yang sudah membuatku terluka.


"Saya tau benar nona. Tapi setidaknya jangan menolak keinginan Tuan Arka untuk memberikan salah satu rumah atau apa pun itu untuk anda. Agar kami bisa memastikan jika nona di luar akan baik-baik saja meski tanpa kami." Zara berusaha terus meyakinkan Anastasya, agar gadis itu bisa berubah fikiran.


Gadis berkulit putih bersih itu tetap menggeleng, dan sesekali merapikan surai gadis didepannya yang sedikit berantakan.


"Setelah ini, aku akan kembali kekampung bersama paman dan bibiku. Aku tidak membutuhkan benda atau barang apa pun yang ada di sini. Aku yakin, di sana pasti terasa damai, terlebih berada di antara orang-orang yang menyayangi kita." Anastaya tetap kokoh pada pendirian. Tak akan berubah, meski iming-iming datang menghadang.


"Apa nona merasa yakin?"


"Tentu aku sangat yakin?" Bibiku punya usaha menjahit. Aku bisa banyak belajar darinya untuk bisa menjahit pakaian. Setidaknya itu akan menjadi pekerjaanku di kampung nanti." Jawaban enteng yang udah sekenanya oleh Anastasya. Tentu agar Zara tak melulu mencemaskan tentang kehidupannya kedepan.


Gadis mungil itu terdiam. Sudah merasa tak mampu untuk mencegah atau pun mengejar gadis di depannya dengan banyak pertanyaan.


"Zara, aku hanya berpesan kepadamu. Jaga toko bunga itu seperti kau menjaga saudaramu sendiri. Rawatlah dan berikanlah kasih sayang. Hanya itu satu-satunya tempat berharga yang bisa kuberikan padamu. Anggap saja, jika kita masih tetao bersama-sama untuk terus mengurusnya." Tak kuasa menahan sesak, Anastasya mendekap erat tubuh Zara hingga keduanya berpelukan diiringi tangis.


Seperti Zara yang tak ingin kehilangan Anastasya, begitu pula sebaliknya. Keduanya sudah terbilang sangat dekat, dan begitu sulit untuk bisa melepaskan. Akan tetapi apalah daya, tak akan mungkin dua cinta berada di bawah atap yang sama untuk bisa menjalani hidup. Anastasya sudah ikhlas, dan Zara pun harus bisa menerimanya.


Sementara itu, seseorang yang berdiri di balik pintu, seakan ikut tenggelam dalam kdsedihan. Tangis kedua gadis itu begitu terdengar dari luar kamar yang tak kedap suara itu.

__ADS_1


Surti menangis lirih dan meremas ujung pakaiannya sendiri. Hatinya ikut hancur, seliruh tubuhnya bagai disayat sembilu, menyaksikan kedua nonanya yang masih ingin bersama namun terpisah oleh keadaan. Surti tak pernah menyalahkan siapa pun. Baik sang tuan, atau kedua istrinya. Dirinya saksi hidup dari hubungan pernikahan yang rumit ini. Hingga dirinya sendiri, tak mampu untuk menunjuk siapa yang harus disalahkan, diantara ketiganya.


__ADS_2