Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Hingga Akhir Waktu


__ADS_3

"Makanlah yang banyak, kedua bayimu butuh nutrisi cukup untuk menjaganya tetap sehat." Rumi menyuapkan potongan buah segar kedalam mulut putrinya, dan hup... satu piring buah segar tanpa terasa tandas dilahapnya.


"Anak pintar," puji Rumi pada Zara seolah menggoda. Layaknya tengah menyuapi putrinya yang masih berusia lima tahun.


Ibarat kata, setiap tuhan memberi cobaan maka selalu ada hikmah di belakangnya. Sepeninggal Jamil beberapa waktu lalu, rupanya mampu mengubah pendirian Rumi untuk tetap tinggal di kampung. Kini perempuan paruh baya itu berjanji untuk bisa menjaga dan mendampingi putrinya di kota selama kehamilan dan untuk selamanya.


Zara tersenyum senang. Baginya, momen seperti ini terbilang langka. Didampingi oleh orang tua, selama menjalani proses kehamilan yang tak mudah.


Zara mungkin satu dari sebagian calon ibu yang beruntung. Meski diawal kehamilan dilanda mual dan muntah, namun semua itu tak berlangsung lama. Bahkan ia menyukai jenis makanan apa saja yang disajikan pelayan tanpa menolaknya.


"Lihatlah. Perutmu sudah mulai membesar. Apa kau tau?"


Zara yang mendengarkan ucapan sang ibu dengan seksama, lantas menggeleng.


"Mungkin bayi kembarmu akan lahir lebih cepat dari usia kandungan bayi tunggal pada umumnya."


"Benarkah?"


Rumi mengangguk, meng-iyakan.


"Benar, sama seperti ibu melahirkanmu dulu." Momen itu masih tergambar jelas di benaknya. Bagaimana Zara dan saudara kembarnya dilahirkan saat kandungan masih menginjak sembilan bulan.


"Tetapi kembali lagi. Setiap proses kehamilan dan melahirkan setiap ibu itu berbeda-beda, namun yang terpenting ialah kesiapan mental kita untuk menjalani proses persalinan itu sendiri."


Zara tersenyum tipis. Tatapannya mengarah kearah perut buncit yang ia elus. Seberat apa pun prosesnya, maka ia pun harus kuat demi kedua buah hati yang akan dilahirkan.


"Ibu, pastinya tidak mudah saat mengandung, melahirkan dan membesarkanku hingga seperti ini." Memandang Rumi dengan tatapan sendu, Zara mengarahkan tangannya untuk menggengam kedua tangan ibunya, lantas mencium punggung tangan itu lembut.


Proses kehamilannya ini memang terkadang mencampur aduk emosinya. Kerap kali ia menangis diam-diam saat suaminya bekerja, ketika dirinya merindukan ibu dan Ayahnya di kampung. Zara kini tak sekuat dan setegar dulu, sebelum proses kehamilan.


Rumi tersenyum tipis, saat melihat gurat kesedihan di wajah putrinya. Apakah gadis itu merasa bersalah? begitu fikir Rumi. Tetapi Zara adalah putri satu-satunya yang ia miliki dan sayangi di dunia. Sedari kecil, gadis itu jarang menyusahkan dan hidup mandiri semenjak sang ayah mulai sakit-sakitan.


Tak ada lagi rasa malu, saat tubuh kecilnya menenteng keranjang plastik berisikan kue buatannya yang ia jajakan keliling kampung dan di area sekolahnya. Zara tumbuh tanpa harus bergantung padanya. Setiap lembar rupiah hasil pemberiannya dari berjualan kue, gadis itu kumpulkan untuk biaya sekolah dan uang sakunya.


Jadi, untuk saat ini pun ketika ucapan semacam itu dilontarkan sang putri, tentu tak semudah itu ia terima.


"Zara putriku. Semua proses itu memang tidak mudah. Tapi ibu sangat menikmati saat mengandung, melahirkan dan membesarkanmu. Begitu pun para ibu lainnya yang berjuang untuk melahirkan dan membesarkan putra putrinya."

__ADS_1


"Maaf, jika selama ini Zara terlalu banyak menyusahkan ibu. Merepotkan, atau tanpa sadar sudah menyakiti perasaan ibu." Gadis itu mendekat, mendaratkan tubuh disamping sang ibu dan mendekap tubuh perempuan baya itu erat. Rasa haru tercipta saat ibu dan anak itu saling berpelukan. Berusaha menunjukan rasa sayangnya satu sama lain.


"Jangan berkata seperti itu nak. Kau putri terbaik yang pernah ibu miliki. Tak pernah menyusahkan dan justru kaulah yang begitu banyak membantu ibu." Rumi melabuhkan bibirnya di puncak kepala sang putri. Menyadari jika sesosok bayi mungil yang dulu ia lahirkan, merupakan anugerah terbesar yang tuhan berikan untuknya.


Sore hari di ruang tengah itu mereka habiskan berdua tanpa siapa pun yang menggangu. Rumi serasa menemukan kebahagiaannya kembali setelah separuh jiwanya pergi. Hanya Zaralah obat terampuh yang sejenak mampu mengalihkan kesedihannya.


"Asalamualsikum," sapa seseorang yang baru saja muncul.


"Waalaikumsalam," jawab kedua perempuan itu bersamaan.


"Sayang, di sini rupaya kau bersembunyi." Arka langsung mendekat. Mencium punggung Ibu mertuanya, kemudia mencium kedua pipi istrinya.


Mengusap lembut perut bucit Zara, kemudian berucap, "Selamat sore bayi-bayi ayah. Tentu kalian senang, bukan. Memeluk dan bersama ibu kalian seharian penuh."


Gadis itu tersenyum lembut saat suaminya itu mencubit gemas puncak hidungnya.


"Maaf sayang. Tadi aku sedang menghabiskan waktu dengan ibu di sini. Ruangan ini cukup tenang, jadi kami bisa leluasa untuk melepas kerinduan."


Arka tersenyum meng-iyakan ucapan sang istri. Rumi yang terlihat seperti obat nyamuk itu berfikir sejenak untuk bisa pergi dari tempat itu.


Bukannya menjawab, sepasang suami istri itu justru saling melempar pandang satu sama lain.


"Maaf, ibu sedikit lelah. Ibu akan beristirahat lebih dulu di kamar." Rumi tersenyum kearah putri dan menantunya sebelum melangkahkan kaki keluar dari ruangan.


Tatapan keduanya mengikuti jejak rumi hingga menghilang di balik pintu. Arka pun mengulas senyum miring di bibir yang ia tujukan untuk istrinya.


"Sayang, apa kau dengar?"


"Dengar apa?" ulang Zara tak mengerti.


"Ibu menyuruhmu untuk memandikanku dengan air hangat." Arka berbinar dengan wajah berbinar.


Gadis itu mengerutkan dahi, coba mengingat lagi kalimat yang tadi sempat diucap Rumi.


"Tidak, ibu hanya menyuruhku menyiapkan air hangat untuk kau mandi. Bukan memandikanmu dengan air hangat."


Arka berdecak sebal saat kepolosan sang istri masih belum seutuhnya ia kontaminasi.

__ADS_1


"Jadi kau menolak untuk memandikan suamimu yang tampan dan gagah ini?" Bersedekap, Arka bahkan pura-pura memalingkan wajah.


"Bu-bukan be-begitu." Gadis itu gelagapan. "Aku tidak akan pernah bisa menolak, jika kau menginginkannya," sambungnya kemudian.


Arka menyerigai penuh kemenangan. Tanpa menunggu lama ia pun menarik lembut tangan sang istri dan membawanya ke kamar.


******


"Rasanya nyaman sekali." Sembari memejamkan kefua netra, Arka terus bergumam sebagai ungkapan rasa nyamannya. Pijatan lembut di kepala membuatnya ketagihan. Hal semacam inilah yang selalu ia tunggu dari istrinya. Perlakuan lembut dan dengan sepenuh hati.


Zara berperan layaknya tenaga pemijat profesional. Jemarinya bergerak lincah memberikan sentuhan di kepala dan bahu suaminya yang terbaring di bathup.


"Benarkah?" ucap gadis itu menggoda.


"Heem. Seharusnya kau sudah mengerti hanya dengan melihat ekspresi wajahku." Arka mendumal kesal, yang mana membuat istri mungilnya itu tergelak.


Arka menghela nafas dalam. Entah mengapa raut wajahnya sedikit berbeda.


"Kau masih bisa tertawa rupanya."


"Kenapa? Aku sudah lelah menangis, dan kini saatnya aku tertawa." Masih memijat-mijat kepala Arka dengan diselipi senyum di bibirnya.


Pria itu membalikan tubuh, yang membuat Zara terkesiap dengan posisi keduanya yang kini saling berhadapan.


"Bukan seperti itu maksudku sayang." Arka menatap lembut perut istrinya yang kini duduk di sebuah kursi mungil. Kemudian mengusap perut buncit itu penuh sayang. "Sebentar lagi kita akan memiliki dua bayi. Kau bilang jika ingin mengurusnya sendiri. Aku yakin jika sebagian besar waktumu tercurah untuk kedua bayi kita. Dan aku, mungkin momen seperti tidak pernah lagi aku rasakan." Arka seolah kehilangan semangat hidup. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuatnya sendu, apalagi harus merasakannya.


Zara menghela nafas dalam. Lengkung tipisnya mengulas senyum dan mengarahkan bibirnya untuk mengecup bibir suaminya lembut.


"Aku memutuskan untuk merawat mereka sendiri, bukan berarti tanpa menggunakan jasa perwat. Aku juga butuh istirahat dan juga memanjakan suami tercintaku ini nanti, meski bayi-bayi kita sudah dilahirkan. Jadi, jangan pernah berfikir jika selepas aku melahirkan nanti, waktuku hanya terkuras untuk kedua malaikat kita. Sebab aku juga pinya bayi besar yang memiliki kadar kemanjaan lebih besar dari pada kedua bayi kecilku," goda Zara dengan mengedipkan sebelah netranya.


"Mulai nakal ya." Arka bangkit dan bergerak cepat menyergap tubuh mungil istrinya. Tanpa kata ia ******* bibir Zara dengan lembut dan sepuas hati. Kebahagiaanya sungguh meluap-luap.


"Teruslah bersamaku hingga akhir waktu nanti sayang. Jangan pernah berfikir untuk lari apalagi pergi dari kehidupanku. Aku bisa gila jika tanpamu, sayang." Bisikan di telinga terasa lembut selepas pertautan bibir itu terlepas.


Zara tak keberatan meski pakaiannya menjadi basah akibat ulah spontan suaminya. Selepas aksi kaburnya beberapa waktu lalu, rupanya menjadi trauma tersendiri bagi Arka. Di dalam hati, gadis mungil itu berjanji, jika tidak ada siapa pun yang akan memisahkan mereka, terkecuali maut. Seperti keinginan Arka yang memintanya terus bersama hingga akhir waktu, begitu pula dengan dirinya yang tak akan membiarkan siapa pun merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2