
"Apa nona yakin tuan tidak akan marah, jika kita sampai ketahuan." Takut-takut Bi Surti memasuki mobil yang sudah hendak dikemudikan salah seorang supir keluarga Atmadja.
"Tidak akan, jika bibi tak mengadu." Zara menjawab cepat sementara tubuh mungilnya meringsek masuk kedalam kursi penumpang. Kendaraan itu pun melesat cepat meninggalkan kediaman Arka. Sementara Zara tengah menjalankan misi untuk mencari keberadaan Anastasya dan meninggalkan bayi kembarnya pada sang pengasuh, tentunya tanpa sepengetahuan Arka.
Surti yang berada di samping Zara, tampak berwajah cemas. Sang nona terbilang nekad dalam misinya kali ini. Bukan hanya tak meminta izin, tetapi juga mengabaikan keselamatan dirinya sendiri.
Pergi tanpa pengawalan, tentunya membuat Surti cemas bukan kepalang. Sang tuan sudah pasti tak kan melemparkan kesalahannya pada sang nona jika sesuatu hal terjadi, tapi sudah pasti pada dirinya yang ikut dilibatkan dalam misi sang majikan.
"Kita akan kemana Nona?" tanya sang Supir dengan tubuh yang mulai gemetar.
Ya tuhan, tolong selamatkan aku.
Jika saja sang nona tidak memintanya dengan memohon dan berderai airmata, tentu sang supir yang sudah mengabdi pada keluarga Atmadja cukup lama itu akan menolak. Akan tetapi, bagaimana lagi. Alasan sang nona yang ingin mencari keberadaan sang mantan majikan, tentu membuat hatinya terenyuh. Bagaimana tidak, kedua perempuan itu sama baiknya, hanya saja dipermainkan oleh takdir.
Surti mengulurkan selembar kertas berisikan alamat.
"Pak, saya mohon untuk tidak mengatakan apa pun pada tuan Arka. Sekekeh apa pun dia bertanya, jangan pernah menjawab jika saya mencari di mana keberadaan Kak Anastasya."
Supir itu pun mengangguk, meski dalam hati ia meragukan.
Menempuh perjalanan beberapa jam, kendaraan pun menepi disebuah alamat rumah yang tertera.
"Nona, sepertinya di rumah inilah selama ini Nona Anastasya tinggal." Surti memastikan kembali alamat yang tervantum dengan plank alamat rumah yang tertera di pintu depan rumah tersebut.
Sepertinya Sama.
Tak menunggu lama, Zara pun bergegas turun.
Gamang menyergap. Tubuhnya bagai teriris perih, menatap sebuah rumah mungil sederhana yang menurut Surti sebagai rumah milik Anastasya. Ingin rasanya menangis sekencang-kencangnya, dan memaki pada takdir yang seakan turut andil dalam membolak balik keadaan.
Ka, aku mohon maafkan aku. Bukan kau yang seharusnya menempati rumah semavam ini, tetapi aku.
Bulir bening itu menitik seakan tak mampu dibendung. Berkali coba berdamai dengan keadaan, namun seakan sia-sia. Penyesalan, tak mampu merubah keadaan.
Jika bisa memilih, maka aku tak ingin terjerat dua cincin di antara pernikahan kalian. Andai saja waktu itu kita tidak pernah bertemu, Kak Anastasya. Pasti rumahtangga kalian masih berjalan sewajarnya. Semua karna aku, karna aku yang tak sengaja datang hingga memporak porandakan biduk rumahtangga yang sudah kalian bangun susah payah. kau memang jahat Zara.
Tertunduk. Zara puas memaki dirinya dalam hati. Ia kembali mendongak, menatap kearah pintu rumah yang masih tertutup rapat.
Aneh. Rumah ini sepi seperti tak berpenghuni.
"Nona, biar saya yang mengetuknya." Selepas meminta izin, surti mendekati pintu rumah berbahan kayu itu. Setelah beberapa kali ketukan bahkan panggilan, namun tetap tak menunjukan keberadaan seseorang dari dalam rumah mungil itu.
"Nona, Nona Anastasya. Tolong buka pintunya. Ini Bibi, Bi Surti nona."
Senyap. Lagi-lagi tak ada sahutan. Hingga kedatangan seseorang, membuat keduanya terkesiap.
"Maaf, cari siapa," tanya seseorang dari luar gerbang.
Bi Surti dan Zara spontan menoleh kearah sumber suara.
"Kami sedang mencari pemilik rumah. Kami keluarganya. Tetapi sepertinya rumah terlihat sepi dan berpenghuni." Surti mendekat kearah seseorang itu. Mungkin saja ia bisa mendapatkan informasi perihal mantan nonanya itu.
Seseorang itu tampak menatap sekilas kearah rumah milik Anastasya.
"Memang terlihat sepi, dan sepertinya sudah tak ditempati lagi."
Zara dan Surti saling pandang.
"Maaf, maksud anda?" tanya Zara lebih memastikan.
"Sebenarnya kami bertetangga, hanya saja kami tidak pernah saling menyapa. Setelah dijual oleh pemilik lama, memang rumah ini dibeli oleh seseorang perempuan cantik yang sepertinya masih sendiri. Tetapi entahlah, sudah beberapa bulan rumah ini terlihat sepi seperti ditinggal pergi oleh pemiliknya."
Zara dan Surti hanya bisa menelan saliva. Memang pernyataan seseorang itu belum tentu kebenarannya. Akan tetapi jika dilihat dari kondisi rumah yang berdebu dan tak terurus, bisa dipastikan jika rumah tersebut benar-benar sudah ditinggalkan pemiliknya.
Menatap nanar kearah jalanan, tujuan kedua mereka ialah restoran di mana Anastasya bekerja.
"Apa bibi yakin?" Zara bahkan tak menatap Surti saat bertanya. Pandangannya masih tertuju kearah luar jendela mobil, namun fikirnya melanglang buana.
"Yakin nona. Selain memberikan alamat rumah, Nona Anastasya juga memberi alamat tempat kerjanya, andai saya ingin datang berkunjung."
Bulir bening kembali menitik tanpa bisa dicegah. Surti dan Anastasya begitu dekat. Hingga dalam pelarian pun Anastasya masih tak melupakan Surti.
Kau memang jahat Zara.
Rasanya tak pernah puas Zara memaki dirinya sendiri. Bahkan sesekali mengumpat kesal pada takdir yang sudah dengan mudahnya mempertemukannya dengan Anastasya.
Namun sayangnya justru kaulah yang memilih mundur Kak.
*****
Dit empat inikah Kak Anastasya bekerja.
__ADS_1
Menggigit bibir bawahnya kelu, Zara bahkan tak mampu berkata-kata lagi. Bayangan wajah Anastasya yang terlihat cantik dengan pakaian mahal dan surai yang tergerai indah berkelebatan.
Ya tuhan. Benarkah ini?
"Nona, mari kita masuk."
Ucapan Surti seketika membuat Zara tersentak. Ia pun hanya mengangguk dan mengikuti langkah Surti yang mendahuluinya.
Sebagai dalih, Zara dan Surti berlagak layaknya pengunjung resto pada umumnya. Akan tetapi, pandangan mereka tampak menyapu seluruh ruangan guna mencari keberadaan Anastasya.
Tak berapa lama seorang pramusaji datang mendekat dengan membawa nampan berisi pesanan. Surti yang seperti mendapatkan angin segar pun lantas menjalankan aksinya.
"Maaf mba, bolehkah kami bertanya?" tanya surti pada pramusaji tersebut.
Pramusaji itu pun menautkan alisnya setengah berfikir.
"Silahkan. Tentang apa nyonya?" jawab sang pramusaji lembut.
"Apakah pramusaji direstoran ini ada yang bernama Anastasya?"
Pramusaji perempuan itu sejenak berfikir sebelum menjawabnya.
"Anastasya? Apa dia perempuan berambut panjang dengan kulit putih dan tubuh yang cukup tinggi?"
Surti dan Zara serempak mengangguk. Agar mempermudah pencarian, Surti mengambil satu lembar foto dari kantung pakaiannya.
"Nah, ini dia. Apakah anda mengenalnya. Jika iya, tolong panggilkan dia dan katakan jika kami ingin bertemu." Surti menyerahkan selembar fito tersebut pada sang pramusaji. Selepas menerima, terlihat jika pramusaji perempuan itu menatap seksama gambar foto tersebut.
"Maaf, sepertinya gadis ini sudah tak lagi bekerja di tempat ini." jawab perempuan itu penuh keyakinan. Tetapi tidak bagi Zara dan Surti. Keduanya tak akan percaya begitu saja.
"Tapi mba, saya dengar jika Anastasya masih bekerja di tempat ini. Atau mungkin anda salah orang," kekeh Surti.
"Maaf sebelumnya nyonya. Jika benar orang yang anda cari adalah gadis difoto ini, maka seperti itulah jawaban saya. Dia sudah tak lagi bekerja di tempat ini kurang lebih dua bulan yang lalu. Dan jika nyonya tidak percaya, maka bisa menanyakan langsung pada manajer restoran ini."
Ditengah kegaduhan, rupanya ada sepasang netra yang sedari tadi tampak memperhatikan mencuri dengar dari jarak cukup dekat. Seseorang itu pun mendekat, berusaha mencari tau agar perkara tersebut tak berbuntut panjang hingga timbul kekacauan.
"Maaf, saya manajer sekaligus pemilik restoran ini. Apakah ada yang bisa saya bantu?" tawar Wisnu dengan nada bicara cukup tenang.
Surti dan Zara yang terkesiap kini memutar badan kearah pria yang datang secara tiba-tiba itu.
"Apakah ada sesuatu yang bisa saya bantu?" ulang Wisnu lagi.
"Ma-maaf tuan. Saya hanya mencari orang ini, menurut kabar jika dia bekerja direstoran milik tuan ini." Surti menunjukan satu lembar foto Anastasya pada Wisnu.
Anastasya. Bukankah dia gadis yang sudah dinikahi oleh Ken? Lalu apa hubungan kedua wanita ini dengan gadis itu? Apa mungkin mereka kerabat Mia yang menyamar dan berusaha mencari tau tentang gadis yang sudah nikahi oleh Ken. Jika itu benar, maka aku tak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Ken lagi.
"Lalu apa hubungan kalian dengan seseorang difoto ini?" tanya Wisnu setengah mengintrogasi.
"Kami keluarganya. Saya bibi dari Anastasya dan ini adik angkatnya." Surti setengah berekting untuk lebih mempermudah.
"Tetapi maaf, apakah kalian benar-benar keluarga dari Anastasya dan bukan orang luar yang berpura-pura menjadi saudaranya untuk memuluskan rencana?"
Ucapan Wisnu sontak membuat Zara dan Surti membulatkan netra.
"Maksud tuan?"
"Mari ikut keruangan saya. Saya ingin tau lebih banyak tentang anda berdua, jika semua menyangkut Anastasya." Dengan langkah lebar Wisnu berjalan menuju ruangannya. Sadar jika pria tersebut adalah kunci dari keberadaan Anastasya, maka Zara dan Surti hanya bisa mengikuti tanpa menolak.
******
Ka Anastasya sudah menikah? Apakah itu benar?
Kalimat semacam itu terus berputar diotak. Layaknya kaset rusak yang terus berputar mengulang sesuatu yang sama.
Ditempat inilah akhirnya mereka berada. Sebuah rumah mewah dengan gerbang nan tinggi menjulang.
Alamat rumah itu pun tak mereka dapatkan begitu saja. Wisnu yang merupakan sahabat baik Ken, rupanya terlebih dulu menginterogasi Zara dan Surti secara mendalam sebelum akhirnya mengungkapkan informasi tentang Anastasya secara menyeluruh.
Anastasya sudah menikah. Kalimat tersebutlah yang membuat Surti juga Zara tak mampu percaya begitu saja sebelum menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.
Zara yang sudah diliputi rasa penasaran yang mendalam itu bergegas mendekati pagar, di mana terdapat pos penjagaan dan beberapa satpam yang berdiri bersiaga.
"Nona, biar saya saja," cegah Surti setengah memperingatkan sang nona.
Zara hanya mengangguk pasrah, sementara fikirnya sudah melayang kemana-mana.
Seperti apa kehidupan Anastasya? Dan dengan siapa ia menikah? Kalimat semacam itulah yang sedari tadi berputar di otaknya.
Zara menatap punggung Surti yang mulai mendekati pagar. Seseorang penjaga keamanan nampak mendekat, tanpa membuka pintu pagar tersebut. Kefuanya terlibat pembicaraan. Entah apa yang sang penjaga itu katakan, hingga raut wajah surti berubah murung.
Surti berbalik arah, melangkah gontai meninggalkan penjaga keamanan yang masih terdiam di tempatnya.
__ADS_1
"Bibi, ada apa? Apa yang mereka katakan? Apa benar ini alamat rumah suami Kak Anastasya?" Bertubi pertanyaan Zara lemparkan, akan tetapi tak ada jawaban yang keluar dari bibir Surti terkecuali sebuah gelengan.
Apa yang terjadi pada bi Surti.
Zara yang mulai gusar, memilih mendekati pagar, dari pada bertanya pada Surti yang memilih untuk diam. Penjaga keamanan yang masih berdiri ditempatnya semula itu, kini menatap kearah Zara juga memindai penampilannya dari ujung kepala hingga kaki.
"Maaf, apa lagi yang nyonya-nyonya ini perlukan. Bukankah sudah saya katakan jika Nona Anastasya dan Tuan Ken sudah tak lagi menempati rumah ini."
Deg..
Bagaikan terhujam batu besar. Lagi-lagi, kenyataan pahitlah yang di dapat.
"Pak, saya mohon. Saya hanya ingin sebentar saja bertemu dengan Kak Anastasya. Tolong katakan jika saya dan bi surti yang datang. Dia pasti tak akan menolak dan mau menemui kami." Tak patah arang. Mungkin saja itu hanya akal-akalan para penjaga yang engan memberinya iZin untuk bisa bertemu dengan Anastasya.
Terlihat penjaga itu menghela nafas dalam.
"Nyonya, bukankah sudah saya katakan jika tuan dan nyonya sudah tidak ada lagi di rumah ini. Saya tidak berbohong."
"Tetapi kemana? Tolong pak, kami ingin bertemu." Ratap Zara dengan wajah mengiba dan deraian air mata.
Penjaga itu pun tak sampai hati. Terlebih dengan raut wajah Zara yang tak dibuat-buat.
"Tadi pagi, bersama seorang pelayan Tuan dan nyonya meninggalkan rumah. Tetapi kemana tujuannya, maaf saya tidak bisa mengatakannya," ucap penjaga itu tegas.
"Pak, saya mohon." Zara bahkan menangkupkan kedua telapak tangan.
"Maaf nyonya, ini menyangkut nyawa saya. Jadi mohon tinggalkan tempat ini, sebelum saya usir." Masih berdiri siaga, pria berbadan tegap itu bahkan melemparkan tatapan tajam kearah Zara.
Tak berdaya. Zara yang seluruh tubuhnya terasa lunglai itu lekas berbalik badan. Surti yang sigap, lekas memapah tubuh sang Nona sebelum ambruk menyentuh tanah.
Seorang supir yang sedari tadi hanya berjaga tanpa ingin terlibat, kini terbirit-birit menuju kearah sang nona, kemudian mengendong tubuh munggilnya menuju mobil.
*******
Di dalam kamar Zara tak banyak bicara. Ia hanya diam, sembari menatap kedua bayinya yang terbaring di dalam boks bayi.
Apakah semua akan berakhir seperti ini?
Ditatapnya kedua bayi tampan yang tengah terlelap itu lekat. Ada sesuatu yang menghangat di sana. Kedua bayi tanpan dosa itu ialah wujud rasa cintanya pada Arka.
Berawal dari pernikahan yang dipaksakan, hingga seiring berjalannya waktu benih-benih cinta itu muncul dengan sendirinya. Saat cinta itu mulai tumbuh dan merekah indah, sepasang insan itu terbuai, hingga kehidupan baru bertumbuh di rahimnya. Kini, Bayi Erich dan Ernesh-lah bukti cinta yang sesungguhnya.
Tuhan. Mungkin semua sudah menjadi takdirku.
Berfikir hendak berontak, dan berkubang dalam rasa sesal. Tetapi apalah daya, semua terjadi dan mengalir layaknya air.
Derap langkah samar terdengar, tak membuat Zara yang tengah melamun itu membalikkan badan. Tanpa menoleh pun, ia tau siapa sosok yang tengah berjalan kearahnya.
"Sayang, apa yang sedang kau lakukan?" Suara bariton itu menyapa indra pendengaran. Kedua tangan kokohnya pun merengkuh pinggang ramping Zara, sementara dagunya bertumpu di pundak sang wanita.
"Hem." Zara menoleh. Hingga pipinya menyentuh bibir sang suami dengan lembutnya.
"Kau melamun?" tanya Arka lembut.
Gadis itu menggeleng samar.
"Tidak. Aku hanya sedang memperhatikan si kembar," elak Zara.
Pandangan Arka kini tertuju pada kedua bayi kembarnya. Lengkung merah sedikit tebalnya mengulas senyum menghangatkan.
"Sayang, hidupku terasa sangat sempurna saat bersamamu dan juga bayi-bayi kita." Pria tampan yang masih menggunakan stelan jas itu kini memutar tubuhnya hingga saling berhadapan dengan sang istri.
"Apa kau juga merasakan hal yang sama denganku?" Berusaha mencari tau, Arka kini melayangkan pertanyaan pada Zara yang sedari tadi lebih banyak diam.
"Tentu," jawab Zara singkat.
"Tentu, maksudmu? Apa sesingkat itu?" Arka memandang sang istri dengan tatapan tajam. Suasana hatinya bahkan mulai berubah saat jawaban sang istri yang terdengar biasa saja.
Zara tersenyum samar, wajah garang Arka justru membuatnya gemas.
"Tentu, sayang. Hiduku terasa sempurna saat bersamamu dan putra-putra kita. Apa kau masih meragukan ucapanku?" Zara berpura-pura marah dengan menekuk wajah. Yang mana membuat Arka gemas dan memeluknya erat.
"Sayang, berjanjilah. Berjanji untuk tetap bersamaku dan jangan pernah pergi dariku."
Dalam dekapan Zara mengangguk.
"Kemana lagi aku akan pergi, jika semua hidupku ada di sini," jawab Zara penuh keyakinan dan tepat di telinga sang suami.
Tak ada kata yang mampu menggambarkan segalanya. Arka begitu senang saat kalimat itu terucap dari bibir seorang istri yang teramat ia cinta. Akan tetapi tanpa pria itu sadari, Zara yang tengah memeluknya erat, rupanya menumpahkan bulir bening yang sejatinya ia tujukan bagi Anastasya sebagai permintaan maaf.
Bersambung...
__ADS_1
🤧🤧🤧🤧🤧
Yang berharap supaya Zara dan Anastasya dipertemukan. Maaf, memang untuk saat ini sepertinya belum bisa terwujud. Tapi doakan saja mereka masih bisa bertemu di masa depan.