Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Keputusan


__ADS_3

"Keputusanku sudah bulat Arka, dan tidak dapat diganggu gugat lagi." Anastasya meremas kuat jemarinya yang terpaut di bawah meja. Ia sudah tak ingin lagi menunda keinginanya untuk berpisah.


"Apakah tidak ada jalan lain, Anastasya. Bagaimana dengan kehidupanmu setelah kita berpisah." Inilah yang sejujurnya Arka takutkan. Jika keduanya berpisah, maka ia pun harus membiarkan gadis itu pergi dari hidupnya, bahkan jangkauannya.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Aku bisa mempergunakan tenagaku untuk mencari pekerjaan. Setidaknya aku bisa menjadi pelayan untuk bisa menyambung hidup."


Arka menegang, ini tidak boleh terjadi. Bagaimana jika Anastasya benar-benar nekad menja seorang pelayan selepas berpisah darinya. Lalu bagaimana tanggung jawabnya dan sebuah janji yang sudah ia ucap untuk tetap menjamin kehidupan Anastasya.


Kini sepasang suami istri itu tengah berada di sebuah cafe. Keduanya sengaja bertemu di luar rumah, sebab tak ingin kembali dipergoki oleh Zara.


"Jadikan toko bunga itu untuk usaha tetapmu. Aku juga akan mempersiapkan rumah beserta isinya yang bisa kau tinggali."


Anastasya mengigit bibir bawahnya kelu, bukan ini semua yang ia harapkan.


"Maaf, Arka. Aku tidak menginginkan itu semua. Kau tidak perlu repot-repot mempersiapkan rumah untukku, dan untuk toko bunga, aku ingin memberikannya pada Zara. Hitung-hitung, sebagai ucapan terimakasihku padanya."


Arka tak bisa menerimanya, bagaimana bisa Anastasya berfikiran semacam itu. Pria tampan itu meraih dan menggengam tangan gadis yang sudah dua tahun ini menjadi istrinya.


"Anastasya, aku mohon. Jangan menolak pemberianku dan biarkan toko bunga tetap menjadi milikmu. Aku bisa membangun toko bunga lainya untuk Zara. Kau tidak perlu harus memberikannya."


Gadis cantik berhidung mancung itu menatap gengaman tangan Arka di jemarinya. Tangan kokoh, yang hanya bisa ia rasakan sentuhannya saat mencium tanggannya disaat hendak bekerja. Tangan yang tak selalu ada saat dirinya mengharapkan belaian.


"Aku berencana untuk memulai hidup baru di kampung bersama paman dan bibiku. Aku menginginkan kehidupan yang tenang dan jauh dari hingar bingar perkotaan. Aku pun ingin melepaskan kehidupan mewahku di sini, dan hidup sederhana di kampung halamanku."


Mungkin inilah salah satu impian yang mungkin Anastasya gapai. Kehidupan percintaan yang rumit membuatnya lelah, dan serasa enggan untuk menjalin hubungan dengan siapa pun selepas perpisahannya dengan Arka. Terlalu dalam luka yang dirasa, hingga tak urung membuatnya trauma.


"Apa kau tak berniat untuk melanjutkan karirmu yang sempat terhenti?" Bukan ingin mengorek luka lama, hanya saja jika Anastasya berkeinginan, pria itu pun akan dengan mudahnya mewujudkan impian Anastasya untuk menjadi model terkenal kembali.


Anastasya tersenyum penuh ironi, ia bahkan tak ingin mendengar kata-kata tentang karir lagi.


"Untuk apa? Karirlah yang membuatku hancur berantakan. Aku bahkan tak ingin mengingat itu lagi, walau hanya lewat mimpi."

__ADS_1


"Maaf," ucap Arka menyesali perkataanya.


"Sudahlah Arka. Aku ingin hidup tenang di kampung, tidak akan ada sia pun yang bisa mencegah keinginanku," kekeh Anastasya akan keputusan yang akan ia pilih.


"Apa kau tak ingin menunggu sampai Rangga kembali?" Arka menatap Anastasya dengan pandangan tajam. Ingin melihat seperti apa istrinya itu saat nama Rangga disebut.


Ra-rangga. Arka menyebut nama Rangga.


Bibir tipis itu bergetar. Ada sesuatu tak kasat mata yang terasa meremas sebongkah merah di dada. Rasanya begitu sakit, namun terselip rindu.


"Untuk apa? Dia bahkan sudah meninggalkanku bertahun-tahun lamanya. Tidak mungkin dia akan kembali lagi." Gadis itu melepaskan pandangannya kesegela Arah. Enggan menatap pria di depannya. Sesekali ia meminum jus nanas yang ia pesan untuk mengendalikan suasana hatinya yang tak karuan.


"Lalu bagaimana jika dia kembali untuk berniat menjalin bungan kembali denganmu? Tidakkan kau masih menyimpan perasaanmu untuk ayah dari Abigail?"


"Arka! Berhenti menyebut nama pria itu lagi. Apalagi dengan mengatakan jika dia Ayah dari putraku." Anastasya meninggikan nada bicaranya. Dirinya benar-benar enggan jika Rangga disangkutkan dengan putranya.


Gadis itu berniat bangkit dan ingin pergi dari hadapan Arka. Akan tetapi, dengan cepat Arka mencegahnya.


"Anastasya, aku mohon. Duduklah, dan kita coba bahas segala kemungkinan yang terjadi." Pria itu menarik lembut tubuh sang istri untuk kembali duduk ditempatnya.


"Tapi berhentilah memahas tentang pria itu."


Pria dengan stelan jas berwarna abu-abu itu hanya menghela nafas dalam. Akan tetapi ia juga tidak bisa menyalakan Anastasya atas sikapnya. Perasaan istrinya mungkin teramat sakit saat begitu saja dicampakan oleh pria yang sudah membuatnya berbadan dua. Dan setelah beberapa tahun berlalu, nama itu justru diungkit kembali. Bukankah seperti mengorek luka lama yang sudah mulai mengering.


"Anastasya, ini hanya sebuah gambaran. Jika Rangga kembali dan berusaha mengejar cintamu, apa kau akan menerimanya?" Dengan pelan-pelan Arka berucap.


"Tidak!"


Jawaban padat yang membuat Arka menelan salivanya susah payah.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Di mana dia saat aku terpuruk? Di mana dia saat aku kehilangan arah dan mencoba bunuh diri? Di mana dia saat aku mengandung darah dagingnya, dan di mana dia saat aku melahirkan? Hah, jawab. Justru kau lah yang mengantikan peranya sebagai seorang suami dan Ayah yang seharusnya menjadi bagiannya." Anastasya menggeram kesal bagaimana is harus mengungkit kejadian itu lagi.


Arka faham, ia tau seperti apa kesalahan Rangga, meski ia tak sepenuhnya salah. Memang ada beberapa hal yang sahabatnya itu simpan dari Anastasya. Hingga terkesan Arka memilih kabur dari pada bertanggung jawab Atas kehamilan gadis tersebut.


"Aku tau itu, Anastasya. Tapi apakah pernah kau berfikir tentang bagaimana perasaan Rangga. Dia pasti merasakan hal yang sama denganmu."


Gadis itu tak menjawab.


"Andaikan Rangga benar-benar kembali, apakah kau mau memaafkannya? Katakan Anastasya."


Terdiam beberapa saat, Anastasya menimang bagaimana isi hatinya sendiri.


"Aku masih butuh waktu untuk bisa memaafkan semua kesalahannya. Luka yang ia buat terlalu dalam, hingga aku begitu sangnsi jika luka itu bisa tersembuhkan atau tidak." Begitulah kiranya perasaan Anastasya untuk Rangga. Bagaimana rasa cintanya yang dulu teramat besar, kini berubah kekecewaan dan merasa dikhianati.


"Baiklah, aku tidak ingin membahasnya lagi. Bagaimana dengan proses perceraian kita. Jika kau sibuk, maka tidak masalah jika aku yang akan mengurusnya."


Lagi-lagi pria berjambang tipis itu menghela nafas dalam.


"Apa kau benar-benar tak ingin merubah keputusanmu?" Arka menatap iba gadis yang tengah duduk di depannya. Bagaimana pun, sudah dua tahun mereka bersama.


"Tidak Arka. Ini sudah menjadi keputusanku. Lagi pula, aku mendengar jika Zara mulai mengandung. Aku tak ingin terjadi apa pun pada kandungannya. Mungkin dia juga merasakan tertekan, hidup di dalam pernikahan yang rumit seperti ini. Jadi aku putuskan, sebelum semuanya terlambat. Maka akulah yang akan mengakhirinya."


Arka menangguk samar. Sejak semula, saat Anastasya memintanya untuk menikahi Zara, ia sadar jika gadis itu tengah mengatur sebuah cara, yang mana akan berusaha melepaskan diri darinya.


"Aku akan meminta salah satu pengacara keluarga untuk mengurus perceraian kita. Kau tidak perlu repot-repot melakukannya. Akan tetapi aku minta satu hal darimu."


"Apa?"


"Selama kita belum resmi bercerai, tetaplah berada di rumahku dan melakukan aktivitasmu seperti biasanya. Bagaimana?"


Tanpa beban Anastasya menyanggupinya. Mungkin permintaan Arka supaya Zara tak menaruh curiga dan tetap mengira semua baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2