
...Dua minggu lagi, bawalah istrimu kemari. Kita akan melakukan tes kehamilan untuk memastikan....
Arka tersenyum, sementara jemarinya mengusap cincin pernikahan yang tersemat di jari manis.
Semoga hasilnya akan sesuai harapan.
Mobil memasuki garbang utama. Malam sudah semakin larut saat pria itu kembali. Beberapa pelayan berjajar menyambut, namun ia tak mendapati wajah sang istri menunggunya.
Mungkin dia sudah tidur.
Arka menghela nafas dalam, akan tetapi ia juga memahami sang istri yang tak harus menunggunya hingga tidur sampai larut malam.
Seperti biasa, Surti menerima tas kerja beserta jas tuanya dengan kedua tangan dan penuh kehati-hatian.
"Bi, apakah Zara sudah tidur?" Arka duduk sementara pelayan lainya melepaskan sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah.
"Sepertinya sudah, tuan. Saya tidak berani membangunkan, sebab selepas makan malam nona tidak terlihat keluar dari kamar."
Arka pun menggangguk dan mulai meninggalkan lantai dasar menuju kamar. Ia membuka pintu sangat pelan agar tak menimbulkan suara. Akan tetapi didetik yang bersamaan, pria itu justru dibuat terkejut setengah mati dengan penampakan gadis bersurai panjang yang dibiarkan tergerai begitu saja menghadap pada kaca meja rias.
Dan bukan hanya Arka, seseorang di depan meja rias itu pun tak kalah terkejut saat wajah seorang pria terpantul jelas dikaca. Gadis itu pun kemudian berbalik.
"Sayang, anda sudah pulang?" Zara pun mendekat, menghampiri sang suami, kemudian mencium punggung tangannya.
Arka tersenyum senang. Segera ia mendaratkan ciuman di seluruh wajah istrinya dan berakhir di puncak pala sang gadis.
"Sudah, sayang. Apa aku membuatmu lama menunggu?" Arka mencupit kedua pipi Zara yang terlihat merona.
Gadis itu pun mengangguk malu-malu sebagai jawaban.
"Benarkah?" Netra bening pria tampan itu berbinar terang. Benarkah Zara menunggunya sampai selarut ini.
"Ingin mandi sekarang?" tawar Zara, dan masih menundukan wajahnya.
Arka yang dibuat gemas dengan tingkah laku sang istri hanya bisa tersenyum tipis, namun hatinya berbunga-bunga.
"Boleh."
__ADS_1
"Tunggu sebentar, akan saya siapkan air hangatnya." Zara bergegas menuju kamar mandi. Mengisi bathup dengan air hangat dan beberapa tetes aroma terapi. Dia juga mempersiapkan handuk dan jubah.
Saat hendak keluar, tiba-tiba Arka sudah berdiri di depan pintu.
"Air sudah siap," ucap Zara kemudian mengulurkan jemarinya keara kerah pakaian Arka, guna melepas dasi yang masih terlilit. "Biar saya bantu." Tangan mungilnya bergerak lincah. Selesai dengan dasi, jemari itu pun merambat kearah kancing dan berusaha untuk membuakanya.
Bibir pria itu bergetar. Menikmati sentuhan ringan jemari sang istri serasa bagaikan sengatan listrik yang mampu membuat sesuatu dalam dirinya menegang, namun dengan sekuat mungkin ia tahan.
Ekspresi dan gerakan yang kaku tergambar jelas. Jika baru kali pertamanya Zara melakukan hal semacam ini. Arka tak hentinya tersenyum dan menatap wajah sang istri lekat, sementara gadis itu sendiri masih di sibukan dengan kancing baju dan mengatur detak jantung yang terus berpacu dengan cepatnya.
Rupanya kau habis merias wajahmu, dan model pakaian yang kau gunakan pun berubah.
Arka menatap penampilan istrinya dari puncak kepala hingga kaki. Memang cukup terlihat berbeda antara malam ini dari malam-malam sebelumnya. Surai hitam legam sepinggang itu terlihat rapi dan terawat. Wajah yang senantiasa polos kini tampak terpoles bedak tipis dan lipstik warna lembut. Piyama yang kerap melilit tubuhnya saat tidur, kini berganti dengan gaun malam tipis selutut dan bagian bahu yang cukup terbuka, hingga nampaklah leher jenjang putih mulus yang mana membuat Arka menelan ludah.
"Sayang, malam ini kau terlihat merias diri. Apakah semua itu untuk ku, untuk menyambutku pulang?" Tanpa ragu Arka merangkup kedua pipi Zara, agar gadis yang tertunduk itu sudi membalas tatapanya. "Katakan?" sambung pria itu lagi.
"Iya, sayang. Kata-kata yang terucap dari bibir mungil itu seketika membuat sebongkah merah di dada Arka bergetar hebat tak terkendali. Ia pun lekas meraup bibir mungil itu dan ********** lembut. Pria berpostur tinggi menjulang itu menunduk beberapa saat sementara tangannya meraih tengkuk untuk memperdalam ciuman.
Cukup lama kedua bibir itu terpaut. Arka yang sadar sang istri mulai kehabisan nafas, seketika mengakhiri aktifitas panas mereka.
"Sayang, mandilah lebih dulu. Itu akan membuat tubuh anda lebih segar." Gadis itu sengaja mengalihkan sang suami dari kabut gairah yang sudah tampak menyelimuti. Ia tau jika pria itu sudah bernafsu dan ingin langsung menerkamnya akibat luapan rasa bahagiannya.
"Perlu saya bantu?" pancing Zara, pura-pura menawarkan jasanya.
"Tidak usah, sayang. Siapkan saja pakaianku, dan aku janji tidak akan lama." Arka meninggalkan Zara menuju kamar mandi dengan kancing kemeja yang keseluruhan sudah terbuka. Memperlihatkan bagian dada bidang dan perut yang berotot.
Selepas pria itu menghilang di balik pintu kamar mandi, Zara menarik nafas dalam dan mengusap dadanya pelan.
Jantungku, kau masih aman bukan.
Zara kini mulai bisa beradaptasi dengan hati dan fikirannya. Gadis itu sadar, jika kini dirinya sudah menikah dan menjadi seorang istri. Sudah menjadi kewajiban jika seorang istri menyenangkan hati suaminya. Termasuk dari masakan, penampilan, dan tentunya kesenangan batin.
Percakapannya dengan Anastasya membuatnya sadar. Terlebih, kemungkinan kini dirinya tengah mengandung, dan itu adalah hasil buah cintanya dengan Arka.
Ia berjalan menuju walk in closet. Membuka pintu kaca yang berisikan pakaian santai suaminya. t-shirt berwarna putih dan celana santai semata kaki menjadi pilihan gadis itu. lantas ia menariknya dari lipatan dengan hati-hati agar tak merusak tatanan yang sudah pelayan atur susah payah.
Zara menatap kursi mungil yang berada tak jauh darinya. Sebuah kursi yang membuatnya jatuh terjerembab hingga tertimbun pakaian itu. Gadis itu pun tersenyum, mengingat kembali kenangan yang membuat hatinya tergelitik.
__ADS_1
Untuk pertama kali netra perawanya disuguhi tubuh bagian atas sang suami yang terbuka. Ia terbelalak sebelum akhirnya jatuh terjungkal.
Biarkan aku menikmati peranku sebagai istri yang baik mulai saat ini. Karna entah sampai kapan, aku bisa tetap bertahan dan menjadi Nyonya Arka di rumah ini. Nona Anastasya mungkin menginginkan untuk pergi dari kehidupan tuan Arka, namun tidak mustahil juga jika malah diriku yang akan tersisih dan keluar dari rumah ini. Jika itu benar terjadi, maka izinkan aku untuk bisa menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, sebelum benar-benar keluar dari rumah ini.
"Sayang." Sebuah suara muncul dari arah pintu ruangan dan muncul Arka yang menutupi tubuhnya dengan jubah.
Gadis itu berbalik, menatap kearah sumber suara. Akan tetapi ia bernafas lega saat tubuh sang suami kali ini tampak tertutupi.
Syukurlah
Pria itu mendekat.
"Tenang sayang. Aku sudah memastikan tubuh ini tertutup hingga tak akan membuatmu terjungkal untuk yang kedua kalinya."
Serigai kemenangan tercetak dari bibir seksi Arka. Ia sengaja ingin menggoda sang istri dengan kejadian diawal pernikahan mereka.
"Biasakan dirimu untuk lebih terbiasa melihat pemandangan semacam itu. Kau tau sayang, kita sudah menikah. Aku bahkan sudah melihat setiap inci dari tubuhmu, apa kau yakin untuk melewatkan tubuh indah suamimu ini," goda Arka tiada hentinya, yang mana membuat wajah Zara berubah pias.
Tanpa Zara sadari Arka tergelak dalam diam. Dia tau istrinya adalah seorang gadis polos yang sama sekali tak berpengalaman. Sedang dirinya seorang pria dewasa yang tentunya menginginkan sesuatu yang lebih dan lebih. Pria itu mendaratkan tubuhnya di kursi yang menatap langsung dengan kaca besar hingga menampakan seluruh tubuhnya yang masih berbalut jubah.
"Sayang, kemarilah," titah Arka pada sang istri.
Gadis itu pun mendekat, dengan satu kali rengkuhan di pinggang, gadis itu jatuh terduduk di pangkuan sang suami, kemudian pria itu mengeratkan pelukan di tubuh sang istri.
"Kau lihat itu." Arka menunjuk pantulan tubuh sepasang suami istri itu di cermin.
"Sangat manis bukan. Tubuh mungilmu, dan tubuh besarku seperti sebuah satu kesatuan. Seakan tubuh besar ini diciptakan untuk melindungi tubuh mungilmu dari siapa pun yang berusaha menjamah ataupun menyakitinya."
Zara terdiam, dan menatap netra sang suami lekat.
"Kau tidak perlu berpakaian terbuka atau pun memperlihatkan lekuk tubuhmu untuk menggodaku. Kau tidak perlu seperti itu untuk menggodaku, sayang. Apa kau tau? Dengan melihatmu tersenyum saja sudah membuatku tergila-gila. Jadi kau tidak perlu bersusah payah melakukan sesuatu yang seharusnya tak ingin kau lakukan. Tetap jadilah dirimu seperti yang dulu. Zara yang sederhana dan apa adanya, itu saja sudah membuatku sangat menggilaimu. Kau tau? Jika kau tetap nekat menggodaku seperti ini, akan kupastikan untuk mengurungmu di dalam kamar dan tak kuizinkan kau untuk keluar selama satu bulan. Apa kau mau?"
Seketika gadis itu mengeleng kuat dengan wajah ketakutan.
"Maka dari itu. Tetaplah menjadi istriku yang apa adanya. Aku sudah mencintai semua yang ada pada dirimu. Kau tidak perlu untuk menjadi orang lain untuk menyenangkanku. Kau faham?"
Gadis itu mengangguk sebagai jawaban. Arka mendaratkan sebuah ciuman dipuncak kepala dan mengeratkan pelukannya. Zara layangnya bayi besar yang berada dalam pangkuannya. Akan tetapi Arka menyukai setiap kali istrinya ingin bermanja.
__ADS_1
Sayang, aku tau jika ini imbas dari ucapan Anastasya tempo hari. Apa kau mengira aku seorang pria yang menggilai kesenangan duniawi. Kau salah sayang. Aku hanya mencintaimu, kau tak perlu ragukan itu. Walau banyak gadis yang lebih darimu menawarkan kesenangan padaku, percayalah. Aku tetap akan setia padamu.